- Kucing kuwuk atau kucing hutan punya peran penting menjaga keseimbangan ekosistem hutan dan pertanian.
- Melalui konsep koeksistensi, masyarakat dan satwa liar diharapkan bisa hidup berdampingan dengan memahami peran masing-masing. Interaksi antara manusia dan kucing kuwuk tidak harus berujung konflik, selama masyarkat paham untuk mengurangi risiko dan menjaga keberadaan satwa di habitatnya.
- Dari sisi ekologi, keberadaan kucing kuwuk punya fungsi penting. Mereka memangsa berbagai hewan kecil, termasuk, rodensia, sehingga berpotensi menjadi pengendali alami tikus.
- Penggunaan racun untuk membasmi tikus, punya risiko terhadap satwa nontarget. Tikus yang terpapar racun berpotensi dimangsa predator seperti kucing kuwuk.
Apa yang terjadi bila masyarakat tidak memahami bahwa kucing kuwuk atau kucing hutan merupakan satwa liar yang punya peran penting di alam?
Ketidaktahuan terhadap Prionailurus bengalensis ini bisa menimbulkan dampak ekologis lebih luas. Termasuk, kematian akibat racun dan jerat yang sebenarnya ditujukan untuk satwa pengganggu tanaman.
Erwin Wilianto, Independent Conservation Practisioner sekaligus anggota IUCN-SSC Cat Specialist Group, mengatakan kondisi negatif keberadaan kucing hutan sering kali berawal dari dua hal yang dianggap sederhana, yakni ketidaktahuan dan pengabaian.
“Beberapa kejadian umumnya lebih karena ketidaktahuan,” jelas Erwin, yang juga pendiri SINTAS, yayasan yang berfokus pada konservasi satwa liar, Jum’at (25/9/26).
Jika kondisi tersebut terus berlangsung, upaya menjaga populasi kucing liar dilindungi ini akan semakin sulit. Penggunaan racun untuk membasmi hama seperti tikus atau bajing, ketika hama tersebut mati maka bangkainya berpotensi dimakan kucing kuwuk. Hal serupa terjadi pada penggunaan jerat yang tidak bisa memilih satwa sasaran.
Padahal, kucing yang hidupnya bergantung pada upaya konservasi ini punya peran menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.
“Akibatnya, menimbulkan konsekuensi ekologis.”

Lantas, bagaimana cara mengenalkan kucing kuwuk pada masyarakat tanpa mendorong mereka untuk menangkap atau memelihara?
Erwin katakan, edukasi konservasi bukan pekerjaan sederhana. Perubahan pola pikir manusia membutuhkan proses dan pendekatan berbeda, karena setiap kelompok masyarakat punya karakter serta kondisi beragam.
“Upaya ini mesti dilakukan sesuai target sasaran dan konsisten.”
Pendekatan edukasi pada masyarakat urban tidak bisa disamakan dengan masyarakat yang tinggal di tepian hutan. Pesan konservasi perlu disesuaikan dengan konteks kehidupan masyarakat sasaran.
Ada satu konsep yang menurut Erwin penting ditekankan, yakni koeksistensi.
Melalui konsep tersebut, masyarakat dan satwa liar diharapkan bisa hidup berdampingan dengan memahami peran masing-masing. Interaksi antara manusia dan kucing hutan tidak harus berujung konflik, selama masyarkat paham untuk mengurangi risiko dan menjaga keberadaan satwa di habitatnya.
“Setiap makhluk punya peran dalam ekosistem, baik terlihat secara langsung maupun tidak.”
Cara terbijak adalah tidak mengganggu kucing hutan. Tidak perlu mengambil tindakan yang tidak tahu apa konsekuensi dan risikonya.
“Hutan adalah amanah, menjaganya adalah ibadah,” jelas Erwin, mengutip semangat masyarakat di kawasan Muria, Kudus dalam menjaga satwa dan habitatnya.

Peran penting kucing kuwuk
Meidi Yanto, Manajer Konservasi In-Situ Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu (YCKT), menjelaskan perjumpaan kucing kuwuk dengan manusia merupakan hal wajar.
Sebab, satwa tersebut tak hanya hidup di kawasan hutan yang jauh dari manusia, namun juga bisa menggunakan kawasan nonlindung dan habitat terfragmentasi.
Namun, Cikananga belum punya pencatatan sistematis terkait jumlah kasus kucing kuwuk yang jadi korban penangkapan, pemeliharaan, kena jerat, maupun racun akibat ketidaktahuan masyarakat.
“Jadi, kami belum bisa sebut angka karena belum benar-benar mendokumentasikan,” terangnya, Kamis, (25/9/26).

Menurutnya, masyarakat menangkap atau memelihara kucing kuwuk karena berbagai alasan. Salah satunya saat menemukan anak kucing kuwuk sendirian dan menganggapnya ditinggal induknya. Rasa kasihan kemudian mendorong masyarakat membawa kucing tersebut pulang.
Padahal, anak kucing kuwuk yang ditemukan sendirian belum tentu memerlukan pertolongan. Bisa jadi induknya sedang mencari makan.
“Bila kondisinya terluka, sebaiknya hubungi petugas BKSDA terdekat yang menangani satwa liar ketimbang memeliharanya sendiri.”

Kemiripan fisik kucing kuwuk dengan kucing domestik juga bisa memunculkan anggapan bahwa satwa liar tersebut bisa dipelihara seperti kucing biasa. Selain itu, kucing kuwuk pernah terdokumentasi dalam perdagangan satwa liar di Indonesia, termasuk untuk kebutuhan peliharaan eksotik.
Dari sisi ekologi, keberadaan kucing kuwuk punya fungsi penting. Mereka memangsa berbagai hewan kecil, termasuk, rodensia, sehingga berpotensi menjadi pengendali alami tikus.
Penggunaan racun untuk membasmi tikus, kata Meidi, punya risiko terhadap satwa nontarget. Tikus yang terpapar racun berpotensi dimangsa predator seperti kucing kuwuk.
“Bukan berarti setiap penggunaan racun akan meracuni kucing kuwuk, namun ada risiko yang perlu diperhitungkan terhadap satwa nontarget.”
*****