Semakin tinggi kita mendaki gunung, semakin jarang pepohonan yang kita temui. Pada ketinggian tertentu, hutan berganti menjadi padang rumput, semak pendek, dan lumut. Garis peralihan ini disebut batas pohon atau treeline, dan letaknya berbeda-beda di setiap pegunungan. Di banyak wilayah, udara yang terlalu dingin dan musim tumbuh yang pendek membuat pohon tidak sanggup tumbuh lebih tinggi lagi.
Di Pegunungan Andes, ada satu jenis pohon yang tumbuh jauh di atas batas itu. Namanya Polylepis tarapacana, dan warga setempat menyebutnya queñua atau keñua. Di lereng Nevado Sajama, gunung tertinggi di Bolivia dengan puncak 6.542 meter di atas permukaan laut (mdpl), pohon ini tumbuh mulai sekitar 4.200 hingga 5.200 mdpl. Belum ada spesies pohon lain yang diketahui hidup setinggi itu. Selain di Bolivia, queñua juga tumbuh di dataran tinggi Altiplano yang masuk wilayah Chile, Argentina, dan Peru.
Dua Cara Menghadapi Malam yang Membeku
Pada ketinggian seperti ini, suhu malam bisa turun jauh di bawah titik beku. Bagi tumbuhan, kondisi tersebut berbahaya karena air di dalam jaringan dapat membentuk kristal es yang merusak sel. Pertanyaan tentang bagaimana queñua bertahan dalam kondisi itu diteliti oleh tim yang dipimpin Fermín Rada dari Universidad de Los Andes, Venezuela.
Tim tersebut mengukur dua hal pada bagian-bagian pohon, yaitu suhu saat jaringan mulai rusak dan suhu terendah yang bisa dicapai jaringan sebelum membeku. Pengukuran dilakukan pada dua musim, yaitu musim kering yang dingin dan musim basah yang lebih hangat. Hasilnya lalu dibandingkan dengan suhu udara minimum yang tercatat di dekat permukaan tanah di Sajama.

Hasil penelitian yang terbit di jurnal Plant, Cell & Environment menunjukkan bahwa queñua memakai strategi yang berbeda di tiap musim. Pada musim kering, pohon ini mengandalkan toleransi terhadap pembekuan. Artinya, jaringannya mampu menahan terbentuknya es tanpa mengalami kerusakan berarti. Menurut para peneliti, pada musim ini kemampuan menghindari pembekuan saja tidak cukup untuk melindungi pohon dari suhu malam yang sangat rendah.
Pada musim basah, strateginya berubah. Kandungan gula terlarut dan prolin, sejenis asam amino, di dalam jaringan pohon meningkat tajam. Peningkatan ini membuat cairan di dalam jaringan tetap cair meski suhu sudah di bawah nol, kemampuan yang dikenal sebagai supercooling. Jaringan pohon dapat bertahan tanpa membeku hingga kisaran minus 7 sampai minus 10 derajat Celsius, sehingga pada sebagian besar malam di musim ini, pembekuan tidak terjadi sama sekali.

Kombinasi dua strategi ini membedakan queñua dari kerabatnya, Polylepis sericea, yang tumbuh di pegunungan Venezuela. Menurut tim peneliti, P. sericea hanya mengandalkan cara menghindari pembekuan, antara lain dengan menyesuaikan kadar zat terlarut di jaringannya setiap hari. Kondisi malam di habitat P. sericea memang tidak seekstrem di Sajama.
Tumbuh Pelan dan Berumur Panjang
Hidup di lingkungan seberat itu membuat queñua tumbuh sangat lambat. Penelitian lain di lereng Sajama menemukan bahwa pohon ini semakin pendek seiring bertambahnya ketinggian. Di lokasi pengamatan tertinggi, tidak ada pohon yang tingginya lebih dari 3,5 meter.
Batangnya yang sering berkelok ditutupi kulit kemerahan yang mengelupas berlapis-lapis. Dari ciri inilah nama Polylepis berasal, yang dalam bahasa Yunani berarti “banyak sisik”. Pohon ini termasuk famili Rosaceae, satu kelompok dengan mawar dan apel, dan tidak menggugurkan daunnya sehingga tetap hijau sepanjang tahun.

Meski pertumbuhannya pelan, umurnya bisa sangat panjang. Batang queñua membentuk lingkaran tahunan yang jelas, dan salah satu pohon yang diteliti di lereng gunung api Tata Sabaya, Bolivia, diperkirakan berumur sekitar 500 tahun. Lingkaran-lingkaran itu kini dipakai ilmuwan untuk membaca riwayat curah hujan di Altiplano sejak sekitar tahun 1300.
Catatan dari lingkaran pohon ini penting karena data curah hujan dari alat ukur di kawasan tersebut hanya mencakup beberapa dekade terakhir. Dengan rentang waktu yang jauh lebih panjang, para peneliti dapat melihat pola kekeringan dan musim basah yang terjadi berabad-abad lalu. Informasi ini membantu memahami perubahan iklim di wilayah yang sangat bergantung pada air hujan.
Pertumbuhan yang lambat juga berarti satu pohon tua butuh waktu sangat lama untuk tergantikan. Di sejumlah tempat, kayu queñua diambil warga sebagai kayu bakar. Sebagian hutan tertingginya kini berada di Taman Nasional Sajama, kawasan lindung yang mencakup lereng gunung tempat pohon ini tumbuh.
**
Referensi:
Morales, M. S., Christie, D. A., Villalba, R., Argollo, J., Pacajes, J., Silva, J. S., Alvarez, C. A., Llancabure, J. C., & Soliz Gamboa, C. C. (2012). Precipitation changes in the South American Altiplano since 1300 AD reconstructed by tree-rings. Climate of the Past, 8(2), 653–666. https://doi.org/10.5194/cp-8-653-2012
Rada, F., García-Núñez, C., Boero, C., Gallardo, M., Hilal, M., González, J., Prado, F., Liberman-Cruz, M., & Azócar, A. (2001). Low-temperature resistance in Polylepis tarapacana, a tree growing at the highest altitudes in the world. Plant, Cell & Environment, 24(4), 377–381. https://doi.org/10.1046/j.1365-3040.2001.00685.x