- Bekantan merupakan primata endemik Pulau Kalimantan dengan ciri khas hidung unik dan perut agak besar. Bekantan memiliki peran serius yaitu arsitek utama rimbunnya hutan mangrove Kalimantan.
- Peran bekantan sebagai arsitek ekosistem paling jelas terlihat dari cara mereka makan. Bekantan adalah pemakan daun dan biji-bijian dari puluhan jenis pohon mangrove dan rawa, mulai dari Rhizophora, Bruguiera, hingga Sonneratia. Proses makan yang tampak sepele ini ternyata punya konsekuensi ekologis besar bagi regenerasi hutan.
- Bekantan tidak sembarangan memilih tempat tinggal. Ketersediaan sungai, pepohonan tinggi untuk tidur, dan kelimpahan pakan seperti daun muda, buah, dan kulit pohon mangrove menjadi penentu utama di mana kelompok bekantan bisa bertahan hidup.
- Riset pemodelan habitat terbaru menggunakan pendekatan machine learning juga mengonfirmasi bahwa kesesuaian habitat bekantan di Pulau Kalimantan sangat ditentukan oleh keberadaan hutan mangrove, jarak dari sungai, dan tingkat gangguan aktivitas manusia.
Bekantan merupakan primata endemik Pulau Kalimantan dengan ciri khas hidung unik dan perut agak besar. Di balik penampilannya yang jenaka, bekantan memiliki peran serius: ia adalah arsitek utama rimbunnya hutan mangrove Kalimantan.
Bekantan (Nasalis larvatus) adalah satwa yang habitatnya berada di hutan mangrove, rawa gambut, dan hutan riparian di sepanjang sungai. Selain hidungnya yang mencolok, satwa ini gampang dikenali dari warna rambut punggung cokelat kemerahan yang berpadu dengan warna putih keabuan di bagian perut.
Bekantan tidak sembarangan memilih tempat tinggal. Ketersediaan sungai, pepohonan tinggi untuk tidur, dan kelimpahan pakan seperti daun muda, buah, dan kulit pohon mangrove menjadi penentu utama di mana kelompok bekantan bisa bertahan hidup. Kondisi ini membuat mereka sangat bergantung pada kualitas ekosistem lahan basah yang meliputi hutan mangrove dan rawa air tawar di sepanjang aliran sungai.
Sebagai pemakan daun sekaligus buah, bekantan menggigit, memangkas, dan mengunyah dedaunan mangrove setiap hari. Kebiasaan makan yang intensif ini secara perlahan mengubah struktur tajuk hutan, mempengaruhi pola pertumbuhan cabang baru, dan bahkan menggeser persaingan antarjenis pohon mangrove dalam memperebutkan cahaya matahari.
Peran bekantan sebagai arsitek ekosistem paling jelas terlihat dari cara mereka makan. Bekantan adalah pemakan daun dan biji-bijian dari puluhan jenis pohon bakau, mulai dari Rhizophora, Bruguiera, hingga Sonneratia. Proses makan yang tampak sepele ini ternyata punya konsekuensi ekologis besar bagi regenerasi hutan.
Penelitian sebelumnya dalam studi ilmiah bertajuk “Seed dispersal by proboscis monkeys: the case of Nauclea spp” secara khusus membuktikan bahwa biji tumbuhan yang dikonsumsi dan dikeluarkan melalui kotoran bekantan, memiliki tingkat keberhasilan germinasi (perkecambahan) jauh lebih tinggi dibandingkan biji biasa. Studi ini menegaskan peran nyata bekantan sebagai agen penebar biji (seed disperser).

Mangrove langka
Bulan Mei 2026, tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam siaran pers, menemukan populasi spesies mangrove langka yang terancam punah, yakni Camptostemon philippinensis, di kawasan Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Penemuan ini mengungkap adanya hubungan ekologis erat antara tumbuhan pesisir tersebut dengan habitat satwa endemik dilindungi, yakni bekantan.
Keterkaitan bekantan teridentifikasi melalui temuan tanda bekas gigitan primata pada daun tumbuhan pesisir yang terancam punah ini. Para peneliti mendokumentasikan sekitar 527 individu Camptostemon philippinensis di wilayah Pantai Lango. Keberadaan bekantan di ekosistem tersebut dinilai memiliki peran ekologis penting, terutama dalam mendukung keberlangsungan hidup dan regenerasi populasi mangrove melalui interaksi langsung terhadap vegetasi hutan.
Hubungan timbal balik ini menjadi krusial di tengah meningkatnya ancaman kerusakan habitat akibat konversi lahan, alih fungsi hutan pesisir, aktivitas pembalakan liar, dan dampak pengembangan infrastruktur. Guna menjaga kelestarian habitat tersebut, BRIN menekankan pentingnya riset mendalam mengenai keragaman genetik serta peran ekologis dari jenis Camptostemon philippinensis.
Strategi konservasi jangka panjang sangat mendesak untuk diimplementasikan agar salah satu varietas mangrove paling langka di Indonesia beserta primata endemik yang bergantung padanya tetap dapat bertahan dari tekanan lingkungan pesisir.
Riset pemodelan habitat terbaru menggunakan pendekatan machine learning juga mengonfirmasi bahwa kesesuaian habitat bekantan di Pulau Kalimantan sangat ditentukan oleh keberadaan hutan mangrove, jarak dari sungai, dan tingkat gangguan aktivitas manusia. Dengan kata lain, memantau bekantan sama saja dengan memantau denyut nadi hutan mangrove itu sendiri.

Penelitian yang dilakukan oleh Sakti et al., 2024, mempublikasikan hasil studi mendalam bertajuk “Modeling Proboscis monkey conservation sites on Borneo using a multi-machine-learning approach”. Riset ini berfokus pada penyusunan peta sebaran indeks kesesuaian habitat guna menyelamatkan populasi bekantan dari ancaman kepunahan akibat kerusakan ekosistem pesisir.
“Kerapatan dan kesehatan vegetasi hutan, khususnya kawasan pesisir dan tepian sungai seperti mangrove, merupakan parameter biotis paling krusial dalam menentukan indeks kesesuaian habitat bagi populasi bekantan,” ungkap para peneliti.
Mangrove tidak sekadar menjadi tempat tinggal, melainkan sebuah “restoran alami” yang menyediakan pasokan daun muda, tunas, bunga, dan buah-buahan spesifik melimpah yang menjadi makanan pokok harian bekantan. Ketika ekosistem mangrove di suatu wilayah pesisir mengalami kerusakan atau beralih fungsi menjadi kawasan industri, wilayah jelajah serta populasi bekantan dipastikan akan langsung merosot tajam akibat kehilangan sumber kehidupan utama mereka.
Secara umum, status bekantan tetap mengkhawatirkan. Badan konservasi dunia IUCN masih memasukkan bekantan dalam kategori Genting atau Endangered dalam Daftar Merah spesies terancam punah. Ancaman terbesarnya jelas: hilangnya hutan mangrove akibat alih fungsi lahan menjadi tambak, perkebunan sawit, dan kawasan tambang, ditambah perburuan liar yang masih terjadi di sejumlah wilayah.
Referensi:
Sakti, A. D., Adillah, K. P., Santoso, C., Al Faruqi, I., Hendrawan, V. S. A., Sofan, P., Rustam, Fauzi, A. I., Setiawan, Y., Utami, I., Zain, A. F. M., & Kamal, M. (2024). Modeling proboscis monkey conservation sites on Borneo using ensemble machine learning. Global Ecology and Conservation, 54, e03101. https://doi.org/10.1016/j.gecco.2024.e03101
*****
Camptostemon philippinensis, Mangrove Langka Habitat Bekantan