- Trimeresurus insularis merupakan jenis ular berbisa yang jago berkamuflase di hutan maupun bebatuan pinggiran sungai. Spesies ini punya variasi warna menarik. Selain hijau yang umum dijumpai di Jawa, Bali, NTB, terdapat pula populasi berwarna biru di kawasan Pulau Komodo serta kuning di wilayah Alor dan Wetar.
- Ciri khas spesies ini adalah persebarannya yang terbatas di wilayah Indonesia bagian timur. Ular ini bisa dijumpai di Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, hingga Nusa Tenggara Timur, tetapi tidak ditemukan secara alami di Kalimantan, Sumatera, maupun Jawa bagian barat.
- Meski dikenal sebagai ular berbisa, Trimeresurus insularis bukanlah spesies paling mematikan di Indonesia. Tingkat fatalitas akibat gigitan spesies ini relatif lebih rendah dibandingkan kobra (Naja spp.) maupun welang (Bungarus spp,).
- Dalam ekosistem, Trimeresurus insularis berperan sebagai predator tingkat menengah. Mangsanya beragam, mulai tikus, burung kecil, katak, hingga kadal. Di sisi lain, ular ini juga dimangsa predator lebih besar, seperti king kobra, biawak, burung pemangsa, hingga mamalia karnivora.
Warnanya menyatu dengan dedaunan dan bebatuan di tepian sungai. Tanpa kejelian mata seorang peneliti, keberadaan ular hijau itu, akan terlewat begitu saja.
Momen itu yang dialami Annisa Ramdani (29), biodiversity surveyor yang telah menyelesaikan studi Magister Biologi di Universitas Nasional (UNAS).
Saat survei herpetofauna di kawasan konservasi Tatar Sepang, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, dia bersama tim berhasil mendokumentasikan Trimeresurus insularis. Ular berbisa ini dikenal punya kemampuan kamuflase sangat baik.
Perjumpaan itu terjadi pukul 21.00 malam, tidak lama setelah hujan reda. Kawasan yang mereka telusuri berupa hutan lebat dengan aliran sungai tenang. Menurut Annisa, individu pertama yang ditemukan di atas batu, sekitar 100-200 meter dari sungai.
“Awalnya kami tidak sadar jika ular tersebut di atas batu,” ujarnya, Senin (20/7/26).

Tiga puluh menit kemudian, tim kembali menemukan individu lain dari spesies yang sama. Lokasinya di tepian sungai. Meski terbiasa survei keanekaragaman hayati, Annisa mengaku tetap gugup ketika berhadapan langsung dengan ular berbisa.
Dia memilih mengamati dan memotret dari jarak aman, sementara rekan-rekannya yang punya pengalaman menangani ular memastikan seluruh proses dokumentasi dilakukan sesuai prosedur keselamatan.
“Saya senang karena bisa mendokumentasikan ular berbisa langsung di habitat alaminya.”

Daya tarik
Menurut Annisa, daya tarik reptil berdarah dingin ini adalah warna tubuhnya yang hijau cerah dengan ujung ekor kemerahan. Di habitat alaminya, warna tersebut justru jadi kamuflase efektif, sehingga sulit dikenali di antara vegetasi.
Untuk memastikan identitas spesies, tim tidak hanya mengandalkan penampilan fisik. Identifikasi dilakukan bersama anggota yang memiliki keahlian di bidang herpetologi, dengan mempertimbangkan karakter morfologi serta persebaran alami spesies di Pulau Sumbawa.
Selama survei, data yang dicatat meliputi jenis satwa, jumlah individu, waktu perjumpaan, dan kondisi cuaca. Informasi ini bagian dari pendataan keanekaragaman hayati yang bisa digunakan sebagai dasar penelitian, maupun pengelolaan kawasan konservasi.
Selama survei berlangsung, Annisa belum melihat adanya kerusakan habitat berarti. Kawasan konservasi tersebut masih relatif terjaga. Namun, dia menyimpan kekhawatiran masa depan spesies ini apabila tutupan hutan terus berkurang.
“Bila hutan hilang atau berubah fungsi, kemungkinan besar populasinya ikut menurun.”
Menurutnya, keberadaan hutan yang utuh sangat penting karena spesies ini bergantung pada lingkungan yang lembab dengan vegetasi alami.
Selama di lapangan, tim bertemu warga yang berburu satwa. Meski tidak diketahui pasti jenis apa yang jadi target buruan, aktivitas mereka tetap perlu mendapat perhatian.
“Meski tidak tahu berburu apa, tapi kegiatan seperti ini tentu perlu dipantau.”

Variasi warna
Meski dikenal sebagai ular berbisa, Trimeresurus insularis bukanlah spesies paling mematikan di Indonesia.
Maulana Hakul Dafa, praktisi herpetologi, peneliti, sekaligus Skill Trainer Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Yayasan Sioux Ular Indonesia, menjelaskan bahwa tingkat fatalitas akibat gigitan spesies ini relatif lebih rendah dibandingkan kobra (Naja spp.) maupun welang (Bungarus spp,).
“Jauh lebih rendah, di bawah 10 persen. Namun, bukan berarti gigitannya dianggap sepele. Ini tetap ular berbisa dan memerlukan penanganan medis,” jelasnya, Senin (20/7/26).
Menurut Dafa, ciri khas spesies ini adalah persebarannya yang terbatas di wilayah Indonesia bagian timur. Ular ini bisa dijumpai di Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, hingga Nusa Tenggara Timur, tetapi tidak ditemukan secara alami di Kalimantan, Sumatera, maupun Jawa bagian barat.
Persebaran itulah yang melatarbelakangi nama spesies insularis, yang merujuk pada pulau-pulau kecil.

Dalam ekosistem, Trimeresurus insularis berperan sebagai predator tingkat menengah. Mangsanya beragam, mulai tikus, burung kecil, katak, hingga kadal. Di sisi lain, ular ini juga dimangsa predator lebih besar, seperti king kobra, biawak, burung pemangsa, hingga mamalia karnivora.
“Posisinya ada di tengah rantai makanan. Keberadaannya penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem.”
Ditambahkan Dafa, spesies ini punya variasi warna menarik. Selain hijau yang umum dijumpai di Jawa, Bali, NTB, terdapat pula populasi berwarna biru di kawasan Pulau Komodo serta kuning di wilayah Alor dan Wetar.
Hingga kini, penyebab variasi warna masih menjadi bahan kajian ilmiah, meski diduga berkaitan dengan kamuflase maupun mekanisme peringatan (aposematism) terhadap predator.
Meski populasinya hingga kini dinilai masih relatif aman, Dafa mengingatkan bahwa Trimeresurus insularis tetap menghadapi sejumlah ancaman. Selain rusaknya habitat, perdagangan satwa liar juga harus menjadi perhatian, terutama untuk individu yang variasi warnanya langka.
*****