- Masyarakat Enggano sebagian besar bergantung dari laut, seperti di Desa Kaana. Saat ini nelayan disana pakai aplikasi GeoEnggano, sebagai sarana pencatat data dan informasi keseharian saat melaut. Dari mencatat lokasi penangkapan dan hasil tangkapan hari sebelumnya. Kebiasaan yang dulu terasa asing itu kini mulai menjadi bagian dari rutinitas.
- Arie Vatresia, anggota tim pengembang aplikasi itu dari Universitas Bengkulu, GeoEnggano mengatakan. tidak sekadar menjadi aplikasi pencatat data. Mereka ingin membangun satu sistem yang berguna bagi desa. Data nelayan, potensi wilayah, layanan konseling, hingga informasi kebencanaan berada dalam satu platform hingga masyarakat dan pemerintah desa memiliki dasar yang lebih kuat ketika mengambil keputusan.
- Berbeda dengan banyak aplikasi yang bergantung pada jaringan internet stabil, GeoEnggano mengikuti kondisi Enggano. Sistem tetap dapat mereka pakai secara luring (offline), lalu menyingkronkan ketika jaringan tersedia.
- Selama ini, banyak desa memiliki data, tetapi tidak pernah benar-benar menggunakannya. Data hanya menjadi laporan administrasi. Di Desa Kaana, data untuk membantu warga mengambil keputusan sehari-hari, kapan waktu melaut paling produktif, bagaimana perkembangan usaha nelayan, siapa warga yang perlu pendampingan psikososial, hingga potensi ekonomi.
Beberapa nelayan mulai memenuhi dermaga kecil di Desa Kaana, Pulau Enggano, pagi itu. Di atas papan-papan dengan kayu mulai lapuk, mereka menggelar gulungan jaring baru sepanjang 30 meter. Beberapa orang menarik ujungnya perlahan, memastikan simpulnya tidak kusut sebelum mereka bawa melaut.
Tak jauh dari situ, di atas perahu kayu, seorang nelayan mengeluarkan telepon genggam dari saku celananya. Dia membuka aplikasi, mencatat lokasi penangkapan dan hasil tangkapan hari sebelumnya. Kebiasaan yang dulu terasa asing itu kini mulai menjadi bagian dari rutinitas.
Para nelayan ini pakai aplikasi GeoEnggano, sebagai pencatat data dan informasi.
Pulau Enggano seluas sekitar 400 kilometer persegi, berada hampir 100 kilometer di lepas pantai Bengkulu. Untuk mencapai daratan Sumatera, warga harus menempuh penerbangan sekitar satu jam atau perjalanan laut hingga 18 jam jika cuaca bersahabat. Ketika ombak tinggi, kapal tidak berlayar.
Masyarakat Enggano sebagian besar hidup bergantung laut. “Bagi kami, kalau tidak melaut ya tidak ada pemasukan,” kata Khairin Anwar, nelayan Enggano.
Di bawah Pulau Enggano, membentang pertemuan dua jalur megathrust besar, Mentawai-Pagai dan Enggano, yang menjadikan kawasan ini salah satu wilayah paling aktif secara tektonik di Indonesia.
Gempa bukan lagi peristiwa luar biasa bagi warga. Getaran kecil datang begitu sering hingga banyak orang tak lagi menghitungnya. Setiap guncangan tetap membawa ingatan pada gempa-gempa besar yang pernah meluluhlantakkan pulau itu.
Gempa 2000, masih membekas dalam ingatan warga. Puluhan warga Enggano kehilangan nyawa. Rumah-rumah roboh. Dua dekade kemudian, rangkaian gempa kembali merusak ratusan rumah dan memaksa warga meninggalkan tempat tinggal mereka untuk sementara waktu.
Bagi masyarakat Desa Kaana, Enggano, ancaman tidak berhenti ketika bumi berhenti berguncang. Sekitar 85% penduduk desa menggantungkan hidup pada laut.
Hampir setiap keluarga memiliki anggota yang menjadi nelayan. Ketika cuaca buruk datang atau gempa membuat mereka memilih tidak melaut, penghasilan langsung berhenti. Tidak banyak pilihan pekerjaan lain di pulau ini.
Khairin memahami situasi itu. Sejak 2015, dia memimpin Kelompok Nelayan Sinar Makmur, terbesar di Desa Kaana dengan anggota dari tiga dusun.
Bertahun-tahun mereka menangkap ikan dengan perahu kecil dan alat tangkap sederhana. Sebagian besar hanya berani mencari ikan di sekitar pesisir karena keterbatasan peralatan dan daya jelajah. Hasil tangkapan pun tidak menentu. Dalam sekali melaut, mereka kadang hanya membawa pulang beberapa kilogram ikan.
Sebagian besar hasil tangkapan langsung dijual dalam keadaan segar kepada pengepul. Ketika pasokan ikan melimpah, harga turun. Ketika kapal pengangkut terlambat datang akibat cuaca buruk, ikan yang tidak segera terjual kehilangan nilai ekonomi.
“Kami sebenarnya punya hasil laut yang bagus. Selama ini belum tahu bagaimana mengolahnya supaya nilai jualnya lebih tinggi.”

GeoEnggano
Pada sisi lain kampung, anak-anak muda menyimpan persoalan yang tidak selalu tampak. Gempa yang terus berulang meninggalkan rasa cemas. Setiap kali bumi berguncang, sebagian warga spontan berlari keluar rumah. Sebagian lain memilih diam, tetapi membawa ketakutan itu berhari-hari.
Agustian, Ketua Ikatan Remaja Masjid Desa Kaana, mengatakan, selama ini organisasi mereka lebih banyak bergerak dalam kegiatan keagamaan.
“Kami belum pernah membayangkan bisa ikut membantu masyarakat menghadapi trauma setelah bencana,” katanya.
Perubahan mulai terjadi ketika sejumlah akademisi, peneliti, dan mahasiswa datang ke Kaana untuk tinggal bersama masyarakat selama beberapa bulan.
Mereka tidak memulai dengan membawa solusi yang sudah jadi, melainkan mendengarkan cerita warga, tentang laut yang makin sulit diprediksi, gempa yang tak pernah benar-benar pergi, dan tentang anak-anak muda yang ingin berbuat lebih banyak untuk kampungnya.
Dari percakapan-percakapan itulah lahir sebuah sistem informasi yang kemudian mereka kenal sebagai GeoEnggano.
Menurut Arie Vatresia, anggota tim pengembang aplikasi itu dari Universitas Bengkulu, GeoEnggano tidak sekadar menjadi aplikasi pencatat data.
“Kami ingin membangun satu sistem yang benar-benar berguna bagi desa. Data nelayan, potensi wilayah, layanan konseling, hingga informasi kebencanaan berada dalam satu platform hingga masyarakat dan pemerintah desa memiliki dasar yang lebih kuat ketika mengambil keputusan,” katanya.
Berbeda dengan banyak aplikasi yang bergantung pada jaringan internet stabil, GeoEnggano mengikuti kondisi Enggano. Sistem tetap dapat mereka pakai secara luring (offline), lalu menyingkronkan ketika jaringan tersedia.
“Teknologi seharusnya menyesuaikan kebutuhan masyarakat, bukan masyarakat yang dipaksa mengikuti keterbatasan teknologi,” ujar Arie.
Baginya, data bukan sekadar angka yang tersimpan di komputer. Ketika nelayan mencatat lokasi tangkapan, mereka sedang membangun pengetahuan tentang wilayah tangkapnya.
Ketika remaja melakukan asesmen psikologis sederhana, mereka sedang menciptakan sistem dukungan yang sebelumnya tidak pernah desa miliki.
GeoEnggano kemudian berkembang menjadi lebih dari sekadar aplikasi. Ia menjadi ruang bersama yang mempertemukan informasi tentang ekonomi, kebencanaan, potensi desa, hingga pelayanan sosial dalam satu sistem yang masyarakat maupun pemerintah desa gunakan.
Nelayan tidak lagi sekadar menghitung berapa kilogram ikan yang mereka bawa pulang. Mereka mulai mencatat biaya operasional, lokasi tangkapan, hingga memilih sebagian hasil laut untuk diolah menjadi produk bernilai tambah.
Ikan asin, kerupuk ikan, emping melinjo, keripik pisang, sale pisang, dan berbagai produk rumahan mulai dipasarkan dengan kemasan yang lebih baik.
Khairin mengatakan, perubahan terbesar justru terjadi pada cara berpikir anggotanya.
“Dulu, selesai melaut ya selesai. Sekarang kami mulai belajar mengelola usaha. Kami mencatat hasil, menghitung biaya, memikirkan pemasaran. Ternyata itu sama pentingnya dengan mencari ikan.”

Belajar mengenal persoalan desa
Di desa itu juga ada rumah konseling. Agustian sering menjadi orang pertama yang diajak berbicara dalam rumah itu.
Ruang tidak besar. Dinding sederhana. Hanya ada beberapa kursi, satu meja, komputer, dan sudut kecil untuk relaksasi. Bagi anak-anak muda Kaana, tempat itu menghadirkan sesuatu yang sebelumnya nyaris tidak pernah ada, ruang aman untuk bercerita.
Mereka mulai memahami bahwa dampak gempa tidak selalu terlihat dari rumah yang roboh atau jalan yang retak. Ada rasa cemas yang menetap jauh setelah getaran berhenti. Ada anak-anak yang sulit tidur ketika hujan turun karena mengira suara gemuruh adalah gempa.
Juga orang tua memilih tidur di luar rumah selama beberapa malam setelah bumi berguncang.
“Kami belajar bahwa membantu orang bukan selalu dengan tenaga,” kata Agustian. “Kadang cukup dengan mendengarkan.”
Bersama teman-temannya di Ikatan Remaja Masjid Al-Mukhsinin, dia mengikuti pelatihan dasar mengenai asesmen psikologis, konseling sebaya, hingga pendekatan keagamaan dalam pendampingan trauma.
Mereka juga belajar menggunakan perangkat digital yang menyimpan hasil asesmen secara sederhana hingga perkembangan setiap konseling dapat terpantau.
Bagi Arie, teknologi dalam konteks seperti ini bukanlah tujuan, melainkan jembatan.
“Yang ingin kami bangun bukan aplikasi yang rumit. Kami ingin masyarakat memiliki alat yang memudahkan mereka mengenali persoalan di desanya sendiri. Ketika informasi tersusun dengan baik, keputusan juga akan menjadi lebih baik.”
Selama ini, katanya, banyak desa memiliki data, tetapi tidak pernah benar-benar menggunakannya. Data hanya menjadi laporan administrasi.
Di Kaana, pendekatan mereka balik. Data untuk membantu warga mengambil keputusan sehari-hari, kapan waktu melaut paling produktif, bagaimana perkembangan usaha nelayan, siapa warga yang perlu pendampingan psikososial, hingga potensi ekonomi.
“Itulah mengapa sistem ini kami rancang berbasis spasial dan temporal. Setiap informasi memiliki konteks lokasi dan waktu. Dengan begitu, desa bisa melihat perubahan, bukan hanya menyimpan angka.”
Nelayan tidak lagi menganggap telepon genggam sekadar alat komunikasi. Ia menjadi buku catatan yang selalu berada di saku.
Setiap perjalanan melaut meninggalkan jejak data yang suatu hari dapat membantu mereka memahami pola tangkapan dan mengelola usaha dengan lebih efisien.
Sisi lain, para remaja mulai memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan. Mereka mendokumentasikan kegiatan ekonomi masyarakat, membuat konten digital tentang Pulau Enggano, membantu memasarkan produk lokal, sekaligus mengelola informasi desa.
Organisasi yang sebelumnya hanya aktif saat kegiatan keagamaan perlahan menemukan peran baru sebagai penggerak literasi digital dan kesiapsiagaan masyarakat.
Khairin mengingat masa ketika anggota kelompoknya hanya mampu membawa pulang lima hingga 10 kilogram ikan dalam sekali melaut.
Dengan armada dan peralatan lebih baik, daya jelajah mereka bertambah. Mereka mulai berani menuju wilayah tangkap yang sebelumnya sulit terjangkau.
“Hasilnya sekarang bisa beberapa kali lipat dibanding dulu,” katanya.
Sebagian ikan mereka jual segar, sebagian lain mulai menjadi produk bernilai tambah. Di rumah-rumah warga, ikan asin, kerupuk ikan, sale pisang, keripik pisang, emping melinjo, hingga kerupuk jengkol mereka produksi dengan pengemasan lebih baik.
Produk-produk yang sebelumnya hanya beredar di sekitar kampung mulai orang luar Enggano kenal.

Lebih dari sekadar manfaat ekonomi
Di kalangan remaja, manfaatnya tidak selalu terukur dengan angka. Sebagian anggota mulai memperoleh penghasilan tambahan melalui usaha kecil yang mereka bangun bersama. Yang lebih penting, katanya, mereka memiliki rasa percaya diri untuk mengambil peran di tengah masyarakat.
Mereka tidak lagi hanya menjadi peserta ketika kegiatan desa berlangsung, tetapi ikut merancang, mendokumentasikan, dan menggerakkannya.
Yanmesli, Peneliti Universitas Prof. Dr. Hazairin SH, perubahan seperti itu jauh lebih penting daripada sekadar capaian statistik.
“Tujuan akhirnya bukan membuat masyarakat bergantung pada pendamping. Yang kami harapkan justru sebaliknya, masyarakat mampu menjalankan semua ini secara mandiri,” katanya.
Karena itu, sejak awal, merancang setiap kegiatan agar perlahan diambil alih warga sendiri. Libatkan pemerintah desa dalam pengelolaan sistem informasi, kelompok nelayan mengatur usaha mereka secara kolektif, dan rumah konseling oleh para remaja.
“Yang paling penting adalah memastikan masyarakat memiliki kapasitas untuk terus mengembangkan sistem ini. Teknologi akan berubah, tetapi kemampuan warga untuk mengelola pengetahuan mereka sendiri harus tetap tumbuh.”
*****