- Mangrove Muaragembong, Kabupaten Bekasi terus tergerus akibat abrasi dan alih fungsi lahan yang terus meningkat. Penyusutan habitat ini mengancam keberadaan lutung jawa dan satwa lainnya. Populasi lutung jawa masuk dalam kategori terancam punah. Di habitatnya, mereka semakin sulit memperoleh pakan dan air tawar.
- Di tengah ancaman kerusakan hutan mangrove dan perburuan datang, situasi mulai berubah sejak masyarakat membentuk kelompok relawan penjaga habitat. Sosialisasi mengenai status perlindungan lutung jawa juga membuat perburuan mulai berkurang. Di Muaragembong, upaya menjaga habitat justru lebih banyak bergantung pada masyarakat.
- Bagi masyarakat pesisir, mangrove bukan hanya pelindung pantai dari abrasi, tetapi juga tempat berkembang biak satwa langka seperti lutung jawa, ikan, kepiting bakau, udang, hingga berbagai jenis burung air.
- Pemerintah menyebutkan sebagian kawasan Muaragembong ke dalam program revitalisasi tambak yang akan dilakukan rehabilitasi
Di pesisir utara Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, ada kawasan mangrove tersisa dan menjadi habitat lutung jawa (Trachypithecus auratus). Lokasinya berada di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong, sekitar 70-an kilometer dari pusat Jakarta, ibu kota Indonesia.
Setibanya di pesisir Kampung Desa Pantai Bahagia, pengunjung harus menyebrang menggunakan perahu menuju Kawasan Konservasi Satwa karena jalur darat sudah terputus akibat abrasi. Suara mesin perahu meraung pelan saat menyusuri muara Sungai Citarum. Tampak hamparan tambak dan sisa-sisa mangrove yang bertahan di tengah abrasi dan alih fungsi lahan.
Saat mendekati di kawasan itu, rimbun bakau mulai menutup pandangan. Dari jauh terlihat empat ekor lutung melompat antar dahan pohon. Saat, kami mendekat, lutung melompat cepat ke dalam hutan. Kawasan ini, Daman menghabiskan sebagian besar waktunya.
“Lutung itu pemalu,” kata Daman, warga Kampung Desa Pantai Bahagia yang menjaga wilayah itu Sabtu, (9/7/26).
Baginya, hutan bakau telah menjadi rumah kedua. Tiap hari, sepulang mencari kepiting bakau, biasa dia memasuki hutan untuk memantau lutung jawa.
Tak hanya lutung jawa, wilayah ini juga terdapat kera ekor panjang, trinil pantai, dara laut jambul, tiram dan benggala, kuntul kecil, cangak besar dan abu, bangau bluwok, cekakak sungai, kokokan laut dan blekok sawah.

“Dulu, saya nyari kepiting bakau di sini, lama-lama diajak organisasi masyarakat untuk jaga daerah sini sejak 2012,” cerita Daman. Dia menjalani rutinitas itu sebagai relawan.
Berdasarkan data pemerintah Kabupaten Bekasi, penetapan kawasan hutan lindung di wilayah ini awalnya mencapai 10.000 hektar, namun 2.338,85 hektar wilayah daratannya hilang akibat abrasi, 1.700 hektar mengalami penggenangan air (inundasi) dan hampir 90% kawasan hutan beralih fungsi menjadi tambak.
Sejalan dengan data itu, penelitian Suryono, dkk, (2023) menyebutkan, pesisir Muaragembong mengalami degradasi akibat faktor manusia, seperti pencemaran dan aktivitas pertambakan. Padahal, wilayah ini dulu merupakan ekosistem mangrove alami yang mengalami abrasi. Desa Pantai Bahagia menjadi salah satu desa dalam kondisi kritis dan mengalami laju penurunan mangrove mencapai 255,22 hektar per tahun.
Penelitian ini juga menyebutkan ada potensi keanekaragaman hayati sekitar 32 spesies, seperti lutung jawa yang menjadi satwa langka dan dilindungi. Tak hanya itu, biota laut seperti udang dan kepiting pun berdampak. Penurunan produksi ini akibat degradasi ekosistem selama 66 tahun (1943-2009), sekitar 16,27% meski begitu angka awal dan akhir tak tersebut dalam penelitian tersebut. Penelitian ini hanya menyebutkan luas mangrove yang tersisa pada 2003 seluas 386,21 hektar.
“Saat ini, lutung jawa menghadapi ancaman kepunahan karena populasinya cenderung menurun akibat perburuan dan degradasi habitat,” ujar penelitian itu.

Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
Hutan mangrove terus tergerus
Menurut IUCN, lutung jawa masuk dalam kategori terancam punah. Ancaman utama karkehilangan habitat, fragmentasi hutan, perburuan dan perdagangan ilegal, konflik dengan manusia dan laju reproduksi lambat.
Mereka menghabiskan waktu di pepohonan dan tidak berpindah-pindah pulau. Habitat aslinya berada di Pulau Jawa dan sebagian kecil Pulau Bali. Beberapa populasinya masih bertahan di Taman Nasional Ujung Kulon, TN Gunung Halimun Salak, dan TN Meru Betiri.
Di Jawa Barat, lutung jawa juga berada di wilayah pesisir Muaragembong. Jumlah kini sekitar 70 individu. Luas kawasan yang tak sampai 10.000 hektar ini terus tergerus karena setengahnya merupakan wilayah hutan produksi. Daman bercerita, jika dulu hutan mangrove membentang sepanjang pesisir dan beralih fungsi menjadi tambak ikan dan udang.
Penelitan Nugraha, dkk menyebutkan, luas mangrove di Muaragembong menyusut hingga 55% dalam empat dekade terakhir, sejak 1976-2018. Laju perubahannya rata-rata 23 hektar per tahun.
“Luas tambak meningkat sekitar 35% Desa Pantai Bahagia menjadi wilayah yang mengalami abrasi paling parah dengan kehilangan daratan mencapai 482,94 hektar,” tulis penelitian itu.

Ganggu pasokan pakan dan air, lutung makin terancam
Penyusutan mangrove itu tidak hanya mengubah lanskap pesisir, juga perilaku lutung jawa, antara lain pada pakan dan air minum bagi mereka.
Daman bilang, lutung jawa sangat menyukai daun jeruju. Jika mangrove hilang, pakan pun terus menipis. Begitu juga saat musim kemarau datang, air di sekitar muara Sungai Citarum itu berubah menjadi payau karena intrusi air laut.
“Saya sempat mikir, kenapa lutung lari ke rumah warga? Ternyata mereka mau minum air tawar,” katanya saat melihat beberapa lutung jawa mendekati permukiman.
Saat kemarau datang, Daman rajin membawa jeriken berisi air ke dalam hutan.
Selain habitat menyusut, populasi lutung jawa di kawasan mangrove Muaragembong pun terancam karena perburuan makin masif. Sekitar 10 tahun lalu, dia menyaksikan satu lutung ditembak hingga jatuh dari pohon.
Akses yang terbuka, membuat masyarakat umum bisa menuju wilayah ini hanya dengan menyusuri Muara Sungai Citarum. Tak hanya lutung jawa, burung bangau bluwok dan burung air, kuntul dan anak kera ekor panjang menjadi sasaran juga.
Kajian Perhimpunan Pemerhati Primata Indonesia (Perhappi) menyebutkan, perburuan menjadi salah satu ancaman bagi kelompok spesies ini, selain akibat alih fungsi lahan dan fragmentasi habitat.
Didik Prasetyo, Ketua Perhappi mengatakan, makin sempitnya habitat mereka hingga lutung keluar hutan dan mendekati permukiman warga untuk mencari makanan atau sekadar air tawar.
“Gangguan habitat itu berdampak langsung terhadap dinamika populasi. Ukuran kelompok dapat mengecil, satwa menjadi lebih rentan terserang penyakit, serta lebih mudah diburu karena harus berpindah ke area yang terbuka atau mendekati aktivitas manusia,” katanya, Jumat, (24/7/26).
Kondisi ini bisa berdampak juga pada kepunahan lokal, seperti yang terjadi pada bekantan di Pulau Kaget, Kalimantan Timur. Dia bilang, habitat yang berubah bisa mengakibatkan menghilangkan lutung yang sangat bergantung daun-daun muda sebagai sumber pakan utama.
“Kalau daun yang menjadi sumber pakan tidak tersedia, kelompok lutung akan berpindah atau tidak mampu bertahan,” kata Didik.
Sejak 2022, berdasarkan SK 287/Menlh/Setjen/PLA.2/4/2022, kawasan hutan di Muaragembong jadi Kawasan Hutan dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK). Melalui kebijakan itu, pengelolaan kawasan tidak lagi berada di bawah Perum Perhutani, melainkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan–sekarang Kementerian Kehutanan– untuk mendukung program perhutanan sosial.
Didik berharap, perubahan status itu bisa membuka ruang pengelolaan hutan yang lebih berpihak kepada masyarakat sekaligus menjaga fungsi ekologis kawasan. Salah satu upaya adalah rehabilitasi mangrove di sejumlah titik pesisir Muaragembong baik pemerintah dan masyarakat.
Mongabay mengupayakan konfirmasi Laksmi Wijayanti, Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari Kementerian Kehutanan dan Achmad Basuki Kepala Divisi Regional Jawa Barat Banten pada 20 Juli 2026 tetapi tidak mendapat balasan.

Didik menyebutkan, di tengah tekanan ancaman ekosistem alami ini, habitat sempit menjadi salah satu harapan terakhir bagi keanekaragaman hayati. Perlindungan habitat menjadi prioritas dalam upaya konservasi. Meskipun wilayah kawasan ini kecil, katanya, habitat ini dapat menjadi sumber daya kritis bagi spesies ini, terutama mereka yang memiliki ketergantungan tinggi pada ekosistem spesifik atau memiliki persebaran yang terbatas.
“Tantangan perlindungan habitat sempit saat ini semakin kompleks. Degradasi habitat, penurunan kualitas ekosistem, dan isolasi ekologis menghambat kemampuan spesies untuk bertahan hidup,” katanya.
Dia bilang, strategi perlindungan habitat ini tak cukup hanya restorasi dan pemeliharaan habitat tetapi perlu peningkatan konektivitas lanskap.
“Perlindungan habitat sempit tidak hanya bertujuan untuk menjaga kawasan itu sendiri, juga untuk mempertahankan konektivitas ekologis dalam skala lanskap yang lebih besar,” ujarnya.

Menjaga satwa bersama masyarakat
Di tengah ancaman kerusakan hutan mangrove dan perburuan datang, Daman bilang, situasi mulai berubah sejak masyarakat membentuk kelompok relawan penjaga habitat. Sosialisasi mengenai status perlindungan lutung jawa juga membuat perburuan mulai berkurang.
“Kalau sekarang sudah enggak seperti dulu. Orang sudah tahu lutung dilindungi.”
Di Muaragembong, upaya menjaga habitat justru lebih banyak bergantung pada masyarakat. “Secara yuridis memang ada perlindungannya. Tapi secara faktual, yang menjaga kawasan ini justru masyarakat sendiri. Kami belum melihat adanya upaya perlindungan yang benar-benar dilakukan pemerintah di lapangan,” kata Ahmad Qurtbi, Sekretaris desa Muaragembong, Sabtu, (9/7/26).
Dia menilai perlindungan habitat tidak cukup hanya dengan menetapkan status kawasan atau melarang perburuan. Penegakan hukum, pendanaan konservasi, hingga pemenuhan kebutuhan dasar satwa, seperti penyediaan air tawar saat musim kemarau, juga harus menjadi perhatian pemerintah.
“Selama ini yang menyediakan air minum untuk lutung justru Mang Daman. Seharusnya kebutuhan dasar satwa seperti itu menjadi bagian dari pengelolaan kawasan.”

Didin Hernadi, Penyuluh Kehutanan Provinsi Jawa Barat, mengatakan, rehabilitasi mangrove dalam beberapa tahun terakhir melalui kolaborasi pemerintah daerah, perusahaan, dan kelompok masyarakat.
Pada 2023, sekitar 190.000 bibit mangrove mereka tanam di sejumlah desa pesisir. Setahun kemudian jumlah meningkat menjadi sekitar 450.000 bibit.
Bagi masyarakat pesisir, mangrove bukan hanya pelindung pantai dari abrasi, tetapi juga tempat berkembang biak ikan, kepiting bakau, udang, hingga berbagai jenis burung air. Bagi lutung jawa, mangrove merupakan rumah yang menyediakan pakan, tempat berlindung, sekaligus jalur berpindah antarkelompok.
Pemerintah memasukkan sebagian kawasan Muaragembong ke dalam program revitalisasi tambak. Didin menjelaskan, sekitar 4.158 hektar kawasan hutan menjadi bagian dari rencana itu. Di dalamnya terdapat sekitar 20 hektar mangrove hasil rehabilitasi yang telah ditanam sejak 2024.
*****
Lutung Jawa di Muara Gembong, Minim Data dan Bertahan di Hutan Mangrove