- Lutung jawa bukan hanya satwa liar yang terlihat di hutan mangrove di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Melainkan, bagian sejarah panjang bentang alam tersisa di pesisir utara Jawa.
- Ancaman terbesar datang dari menyempitnya habitat. Kawasan mangrove yang dulu jadi rumah berbagai satwa perlahan menjadi tambak. Sementara, bantaran Sungai Citarum di kawasan muara mulai disesaki permukiman.
- Sebagian besar masyarakat Desa Pantai Ceria, Kecamatan Muara Gembong, memandang lutung sebagai identitas desa. Gangguan memang sesekali dirasakan warga yang tinggal di sekitar habitat satwa itu, namun secara umum masyarakat berupaya menjaga keberadaannya.
- Belum ada lembaga yang secara khusus melakukan pemantauan jangka panjang lutung di Muara Gembong.
Kemana lutung jawa akan pergi saat hutan tempat mereka hidup menyusut?
Pertanyaan ini jadi kegelisahan masyarakat di Desa Pantai Ceria, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Bagi mereka, Trachypithecus auratus bukan hanya satwa liar yang terlihat di hutan mangrove. Melainkan, bagian sejarah panjang bentang alam tersisa di pesisir utara Jawa.
Beberapa tahun terakhir, isu perburuan primata ini juga mencuat.
Ahmad Qurtubi (48), Sekretaris Desa Pantai Ceria, mengatakan perburuan secara khusus menyasar lutung jawa sudah tak ditemukan lagi.
“Hal yang kami ketahui sejak 10 tahun terakhir sudah tidak ada perburuan. Namun, bukan berarti aman. Eksistensi mereka sekarang terganggu aktivitas manusia,” katanya, Sabtu (1/8/26).
Ancaman terbesar datang dari menyempitnya habitat. Kawasan mangrove yang dulu jadi rumah berbagai satwa perlahan menjadi tambak. Sementara, bantaran Sungai Citarum di kawasan muara mulai disesaki permukiman.
“Lutung biasanya mencari air tawar di lantai hutan atau sungai. Disaat kemarau sumber air mengering sehingga beberapa kali mereka masuk ke permukiman warga untuk mengambil air. Sebagian masyarakat membantu ketimbang mengusir budeng ini, agar tidak terjadi konflik.”

Praktik perburuan
Sekitar dua tahun lalu, warga memergoki sekelompok pemburu menggunakan perahu dan kendaraan patroli. Mereka mengaku berburu biawak (Varanus). Namun, setelah diperiksa, karung yang mereka bawa berisi berbagai jenis Aves, termasuk jenis yang dilindungi seperti elang bondol (Haliastur indus).
“Warga menghalau mereka, karena curiga yang diburu bukan hanya burung biasa.”
Bagi masyarakat Muara Gembong, primata yang dilindungi undang-undang ini hanyalah satu dari sekian banyak satwa yang pernah menghuni pesisir tersebut.
Berbagai satwa seperti rusa, kijang, babi hutan, hingga berbagai jenis primata perlahan menghilang, seiring pembukaan hutan jadi tambak.
“Lutung dan monyet ekor panjang adalah penghuni asli kawasan ini. Mereka sudah ada jauh sebelum manusia membuka kawasan tersebut. Awal 1980-an, suara lutung terdengar hampir setiap pagi bersamaan kicau burung.”

Ikon desa
Bagi warga Pantai Ceria, kata Ahmad, lutung kini justru jadi kebanggaan.
Sebagian besar masyarakat memandang lutung sebagai identitas desa. Gangguan memang sesekali dirasakan warga yang tinggal di sekitar habitat satwa itu, namun secara umum masyarakat berupaya menjaga keberadaannya.
Pemerintah desa pun rutin memberikan pemahaman pada warga agar tidak menggunakan senapan angin, ketapel, maupun petasan untuk mengusirnya.
“Lutung sudah jadi satwa ikonik di tempat kami.”
Bahkan, jelas Ahmad, Pemerintah Kabupaten Bekasi sempat menggagas lutung jawa sebagai ikon satwa daerah, karena keberadaannya yang unik di pesisir utara Jawa.
“Pemerintah Desa Pantai Ceria sebenarnya telah merancang peraturan desa terkait perlindungan satwa tersebut. Namun, belum terealisasi,” jelasnya.

Avveroes Oktaliza (41), Pendiri Aspera Madyasta Indonesia Foundation, menjelaskan kesadaran masyarakat tumbuh seiring meningkatnya pemahaman mereka mengenai fungsi hutan mangrove. Selain rumahnya satwa liar, mangrove juga memiliki kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah besar, sehingga berperan penting dalam mitigasi krisis iklim.
“Bila mangrove berkurang, ruang hidup lutung juga akan mengecil,” paparnya, Jum’at (31/8/26).
Hasil survei lapangan Aspera Madyasta akhir 2025 menunjukkan, populasi lutung jawa di Muara Gembong diperkirakan masih berkisar 50-80 individu, yang tersebar dua kelompok.
Angka ini bukan hasil sensus populasi, melainkan estimasi berdasarkan perjumpaan selama survei satwa lain, yakni kucing bakau (Prionailurus viverrinus) dan berang-berang (otter).
“Selama satu pekan penelitian, kami hanya bertemu lutung pada tiga hari pengamatan.”
Kondisi ini menunjukkan, satwa endemik Pulau Jawa ini makin sulit dijumpai dan hanya bertahan di sejumlah kantong habitat yang relatif aman.
Hingga kini, belum ada lembaga yang secara khusus melakukan pemantauan jangka panjang lutung di Muara Gembong.
“Padahal, konsistensi data sangat dibutuhkan untuk mengetahui dinamika populasi, kondisi habitat, hingga efektivitas upaya perlindungannya,” ujarnya.
*****