Selat Drake, perairan sepanjang sekitar 800 kilometer yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Atlantik di antara Tanjung Horn, Chili, dan Kepulauan Shetland Selatan, dikenal luas sebagai salah satu jalur laut paling ganas di dunia, dengan ombak besar yang oleh pelaut disebut Drake Shake. Reputasi ini terbentuk selama berabad-abad, sejak kapal-kapal layar pertama mencoba melintasi ujung selatan Amerika untuk berpindah antara Samudra Pasifik dan Atlantik, jauh sebelum Terusan Panama dibangun sebagai jalur alternatif. Posisinya yang berada di titik pertemuan dua samudra sekaligus berbatasan langsung dengan perairan Antartika membuat selat ini tidak pernah benar-benar lepas dari perhatian ahli kelautan maupun pelaut komersial.

Namun di balik reputasi itu, selat ini juga menjadi tempat mengalirnya Arus Lingkar Antartika, satu-satunya arus laut yang mengelilingi bumi tanpa terhalang daratan benua. Dasar laut di selat ini bahkan menyimpan rekaman sedimen berusia 140.000 tahun yang membantu ilmuwan merekonstruksi bagaimana arus ini berubah dari masa ke masa, dan bagaimana perubahan itu berkaitan dengan penyerapan karbon oleh Samudra Selatan. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Climate Change pada November 2025 baru saja mengungkap bagaimana arus ini tetap bertahan stabil di tengah perubahan pola angin global, temuan yang memperkuat posisi Selat Drake sebagai salah satu penjaga iklim bumi.
Mengapa Arusnya Sekuat Itu
Posisi Selat Drake di jalur Arus Lingkar Antartika menciptakan kondisi yang dikenal sebagai infinite fetch, yang memungkinkan angin dan ombak menumpuk energi sepanjang ribuan kilometer sebelum akhirnya dipaksa melewati celah selebar 800 kilometer antara Amerika Selatan dan Semenanjung Antartika. Penelitian menggunakan model laut resolusi tinggi mencatat volume transpor arus ini berada di kisaran 141 hingga 173 juta meter kubik per detik, tergantung metode pengukuran yang digunakan, menjadikannya salah satu arus dengan volume terbesar di planet ini.

Selat ini juga berada di zona lintang 50 hingga 60 derajat selatan yang oleh pelaut disebut Furious Fifties dan Screaming Sixties, wilayah tempat badai bertekanan rendah bergerak dari barat ke timur hampir tanpa halangan daratan. Tanpa benua yang memotong jalurnya, sistem badai di kawasan ini bisa terus menguat sepanjang perjalanannya mengelilingi Antartika, sehingga kapal yang melintas kerap berhadapan dengan badai yang sudah mengumpulkan energi penuh sebelum tiba di lokasi. Topografi dasar laut yang tidak rata menambah turbulensi ini. Punggungan bawah laut yang dikenal sebagai Shackleton Fracture Zone membentang dari Tanjung Horn hingga Kepulauan Shetland Selatan, memaksa arus dalam yang mengalir di kedalaman ribuan meter untuk naik mendekati permukaan begitu bertemu penghalang ini, memicu pusaran dan gelombang tidak beraturan.
Meski demikian, data dari operator kapal ekspedisi ke Antartika menunjukkan gambaran yang lebih berimbang. Kurang dari satu dari empat penyeberangan tergolong benar-benar ganas, sisanya relatif tenang, kondisi yang oleh para pelaut disebut Drake Lake. Kapal ekspedisi modern juga sudah dilengkapi stabilizer yang mengurangi guncangan, sehingga pengalaman melintasi selat ini kini jauh berbeda dibanding beberapa dekade lalu.
Temuan Baru soal Stabilitas Arus dan Perannya bagi Iklim
Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Climate Change pada November 2025 menemukan bahwa transpor ACC melalui Selat Drake tetap stabil selama tiga dekade terakhir, meskipun angin barat di Samudra Selatan justru menguat dan bergeser ke arah kutub pada periode yang sama. Dengan menggunakan data altimetri satelit, tim peneliti mendapati batas utara ACC bergeser ke selatan hingga 1,1 derajat per dekade, terutama di kawasan Pasifik tenggara. Pergeseran ini mengalihkan sebagian aliran yang menguat ke pusaran subtropis, sehingga volume transpor yang melewati Selat Drake tidak ikut meningkat seperti yang sebelumnya diperkirakan berdasarkan penguatan angin.
Temuan ini melengkapi riset sebelumnya yang menganalisis sedimen dasar laut di Selat Drake untuk merekonstruksi kecepatan Arus Lingkar Antartika sepanjang 140.000 tahun terakhir. Data sedimen ini menunjukkan bahwa arus mengalir lebih cepat pada periode interglasial terakhir dibanding kondisi sekarang, sebuah pola yang menurut para peneliti bisa menjadi gambaran masa depan jika pemanasan global terus berlanjut, dengan kapasitas Samudra Selatan menyerap karbon dioksida berisiko menurun.
Turbulensi di Selat Drake sendiri diketahui membantu proses pengadukan vertikal yang menarik air permukaan kaya karbon ke kedalaman laut, sekaligus membawa nutrisi dari kedalaman ke permukaan lewat proses upwelling yang menopang populasi fitoplankton dan krill Antartika, dasar rantai makanan bagi paus, anjing laut, dan berbagai jenis burung laut di kawasan tersebut.
Di sisi lain, jumlah manusia yang melintasi Selat Drake terus bertambah. Pada musim wisata 2025-2026, diperkirakan sekitar 120 ribu wisatawan menyeberangi selat ini menuju Antartika, dibandingkan dengan 57 penumpang pada ekspedisi wisata pertama enam dekade lalu, sebuah peningkatan yang turut mendorong lebih banyak data lapangan untuk memperbaiki model iklim di masa depan.
**
Referensi:
Wu, S., Lembke-Jene, L., Lamy, F., Arz, H. W., Nowaczyk, N., Xiao, W., Zhang, X., Hass, H. C., Titschack, J., Zheng, X., Liu, J., Dumm, L., Diekmann, B., Nürnberg, D., Tiedemann, R., & Kuhn, G. (2021). Orbital- and millennial-scale Antarctic Circumpolar Current variability in Drake Passage over the past 140,000 years. Nature Communications, 12, 3948. https://doi.org/10.1038/s41467-021-24264-9
Xie, C., Shi, J.-R., Li, D., et al. (2025). Southward shift of the Antarctic Circumpolar Current upstream of Drake Passage maintains a stable circumpolar transport. Nature Climate Change, 15, 1324-1332. https://doi.org/10.1038/s41558-025-02478-9