- Pasemah merupakan lanskap dataran tinggi, sebuah peradaban megalitikum pernah berkembang di Sumatera Selatan. Sebagian besar situs-situs megalitik ditemui tidak jauh dari sumber air, baik itu sungai, tebat atau danau.
- Ini menggambarkan kehidupan masyarakat di masa itu sangat dekat air atau sungai. Mereka bahagia hidup di tepi aliran sungai, ditandai sejumlah coretan atau lukisan dekat aliran sungai.
- Sejumlah arca manusia bersama satwa seperti gajah, harimau, ular, kerbau, dan buaya juga menggambarkan kedekatan masyarakat kala itu dengan lingkungan mereka. Satwa dihormati dan disegani.
- Keberadaan megalitik Pasemah menjadi penting, harus dilindungi, diteliti, dan dikembangkan, sebab menyimpan banyak potensi pengetahuan leluhur yang arif terhadap lingkungan.
Perjalanan menuju Situs Tinggi Hari membawa kita masuk perlahan ke lanskap perbukitan Gumay, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Jalan berkelok dan menanjak, meninggalkan kawasan permukiman yang lebih padat.
Di kejauhan, bentang Bukit Barisan terlihat. Gunung Dempo berdiri sebagai penanda terbesar lanskap Pasemah, sementara lembah-lembah di bawah perbukitan dialiri Sungai Liem yang terhubung Sungai Lematang.
Di tengah bentang alam inilah, manusia ribuan tahun lalu meninggalkan jejaknya.
Kawasan Tinggi Hari terdiri tiga situs utama, yakni Tinggi Hari I, II dan III, tersebar di bentang perbukitan sekitar 400 meter di atas permukaan laut. Di dalamnya terdapat arca manusia, menhir, batu tegak, batu datar, lumpang, lesung, tetralith dan berbagai tinggalan batu lainnya.
Situs Tinggi Hari merupakan bagian kecil dari lanskap peradaban Megalitikum Pasemah –yang luas totalnya mencapai 8.000 hektar. Membentang dari Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam, hingga Kabupaten Empat Lawang.
Tercatat, sekitar 1.165 benda megalitik. Di antaranya 85 arca, 25 bilik batu, serta ratusan lesung batu, lumpang batu, dan lainnya.

Hidup dekat air
Megalitik Pasemah mempunyai 15 ragam bentuk, seperti arca, arca menhir, menhir, monolith, trilith, tetralith, batu datar, dolmen, lesung batu, lumpang batu, batu bergores, batu temu gelang, bilik batu, lukisan di bilik batu, dan tempayan kubur.
“Situs-situs megalitik di bumi Pasemah, banyak ditemukan atau terletak tidak jauh dari sumber air, baik itu sungai, tebat, atau danau,” kata Mario Andramartik, anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Lahat, kepada Mongabay Indonesia, Senin (8/6/26).
“Ini mencerminkan kearifan atau pemilihan permukiman masyarakat prasejarah yang tidak jauh dari air. Karena air merupakan sumber kehidupan, yang tentunya mereka jaga,” kata Mario, yang sudah mengeksplorasi megalit Pasemah sejak 2009.
Di Pasemah, manusia megalitik tidak memilih satu bentuk lanskap untuk hidup. Sebagian tinggal di punggungan bukit, sebagian di lembah, dan sebagian meninggalkan jejak di koridor Sungai Lematang. Namun, berbagai lokasi itu memiliki satu kesamaan, air selalu menjadi bagian dari lanskap kehidupan.

Sondang M Siregar, arkeolog dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), mengatakan hal menarik dari peradaban megalit Pasemah adalah kedekatan mereka dengan air.
Dalam perjalanannya ke sejumlah titik megalit, Sondang melihat guratan-guratan atau lukisan-lukisan di tepian sungai.
“Dari situ, kita bisa melihat bahwa sebenarnya kehidupan mereka sangat dekat sungai. Bisa dibayangkan, mereka melakukan aktivitas di sungai sembari melakukan coretan-coretan atau lukisan-lukisan di tepian sungai, di batu-batu itu. Mereka menikmati kehidupan di tepi aliran sungai,” tuturnya, Kamis (16/7/26).

Menghormati satwa liar
Arca-arca megalit Pasemah tidak menggambarkan manusia saja, tetapi juga manusia bersama hewan. Misalnya, ada yang bersama harimau atau macan, gajah, kerbau, ular, dan juga buaya.
Letak hewan ada yang disamping, ditunggangi, dan dibopong.
“Ini mencerminkan, menggambarkan, bahwa manusia pada masa itu, sudah sangat harmonis hubungannya dengan satwa,” kata Mario.
Menurut Sondang, inti arca-arca manusia di Pasemah adalah penghormatan kepada nenek moyang. Mereka yakin, nenek moyang masih memiliki kekuatan magis untuk mempengaruhi hidup mereka.
“Jika mereka ibadah, mereka yakin bahwa nanti mereka akan mendapatkan kesuburan, keberhasilan pekerjaan, dan juga terhindar dari segala bencana.”
Hal menarik adalah arca ibu menggendong anak yang menunjukkan tokoh penting, tokoh yang menjaga keluarga, dan menjaga generasi penerus.
“Ibu menjadi sosok penting di kehidupan masyarakat Pasemah.”
Arca satwa bersama manusia menunjukkan, satwa saat itu sangat disegani, dipuja, atau dihormati. Jika mereka juga melakukan ritual kepada arca binatang itu, mereka merasa nyaman bila satwa tersebut tidak akan menganggu masyarakat dan desa mereka.
“Dahulu, masyarakat Pasemah sangat dekat dengan lingkungannya,” tutur Sondang.
Menjaga lanskap
Sondang dan tim pernah melakukan dating atau mengambil sampel dari Kota Raya Lembak, dan hasilnya menunjukkan abad 10 Masehi. Dengan kata lain, ketika megalitik berlangsung di dataran tinggi Pasemah, Kedatuan Sriwijaya masih berkembang di Sungai Musi, atau di Palembang.
“Megalitik masih berkembang, pada masa prasejarah, berlanjut masa klasik, hingga Hindu-Buddha,” katanya.
Mario menegaskan, adanya situs-situs megalit di Pasemah, yang tersebar di sejumlah kabupaten, di banyak desa dan kecamatan, dapat memberikan keuntungan banyak orang. Terutama, dari sisi pelestarian lingkungan.
“Seandainya tidak ada megalit ini, mungkin lahan-lahan tersebut, sudah jadi perumahan, perkebunan, atau pertambangan.

Situs Megalitik Pasemah terdiri 101 titik; 71 titik di Kabupaten Lahat, 21 titik di Kota Pagaralam, dan 9 titik di Kabupaten Empat Lawang. Tapi, baru enam yang ditetapkan sebagai cagar budaya, yaitu tiga situs di Kabupaten Lahat, dua situs di Kota Pagaralam, dan satu situs di Kabupaten Empat Lawang.
Sejauh ini, sejumlah situs dalam proses pengusulan untuk menjadi Cagar Budaya Nasional.
“Pasemah merupakan situs megalit terbanyak dan terbaik se-Indonesia, sehingga harus kita kembangkan agar memberi manfaat lebih bagi masyarakat,” tegas Mario.
*****
Wawancara Rr. Triwurjani: Manusia di Zaman Megalitikum Sangat Menghormati Gajah