- Mario Andramartik, bukan seorang arkeolog, tapi pengetahuan yang dimilikinya menjadikannya sebagai juru bicara megalitikum Pasemah yang cukup terkenal di Lahat, Sumatera Selatan.
- Megalitik Pasemah adalah megalitik yang paling sempurna di dunia. Sebab, mempunyai 15 ragam bentuk. Lebih sempurna dari megalitik di Easter Island, Stonehenge, Carnac, Poso, Gunung Padang, Cipari, Bondowoso, dan lainya.
- Ke-15 ragam bentuk megalitik Pasemah itu antara lain arca, arca menhir, menhir, monolith, trilith, tetralith, batu datar, dolmen, lesung batu, lumpang batu, batu bergores, batu temu gelang, bilik batu, lukisan di bilik batu, dan tempayan kubur.
- Salah satu pelajaran penting dari manusia yang hidup di masa megalitik Pasemah adalah mereka hidup harmonis dengan alam.
Wilayah Pasemah, Sumatera Selatan, memiliki jejak peradaban megalitikum, yang tersebar di lanskap seluas 8.000 hektar. Membentang dari Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam hingga Kabupaten Empat Lawang. Peradaban megalitikum ini berkembang sejak periode 2.500 hingga 1.500 tahun Sebelum Masehi.
Mario Andramartik, lelaki kelahiran Lahat pada 31 Juli 1970, terpesona dengan peninggalan mahakarya tersebut. Lelaki yang memiliki nama kelahiran Maryoto, yang lama bekerja di kapal pesiar Holland America Line, sejak tahun 2009 memutuskan untuk mempelajari dan menggali peradaban megalitikum Pasemah.
Dia mengunjungi berbagai situs dan belajar banyak dengan para arkeolog yang melakukan penelitian megalitikum Pasemah. Di antaranya (alm) Nurhadi Rangkuti, Budi Wiyana, Siswanto, Wilston Douglas Mambo, Ramli, Iskandar, (alm) Kristantina Indriastuti, Sigit Eko Prasetyo, Muhammad Ruly Fauzi, Mubarak Andi Pampang, Wahyu Rizky Andhifani, dan lainnya.
Berbagai buku dia baca, seperti “Megalithic Remains in South Sumatra” karya van der Hoop yang dicetak tahun 1932, “Arca-Arca Megalitik Pasemah Sumatra Selatan” karya Rr. Triwurjani, “Megalitik Pasemah Warisan Budaya Penanda Zaman” yang ditulis Rr. Triwurjani, Nurhadi Rangkuti, Nasruddin, Annissa M Gultom, Rumaejani Setyorini dan Riri Fahlen, “The History of Sumatra” karya Willian Marsden, serta Jurnal Arkeologi Siddhayatra dan hasil penelitian arkeologi Balai Arkeologi Sumatera Selatan – Balai Arkeologi Sumatera Selatan yang diintegrasikan ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“Selain mengunjungi setiap situs megalitik Pasemah, saya juga mengunjungi situs megalitik di Lampung (Batu Berak, Batu Bedil, Pugung Raharjo), Gunung Padang (Cianjur), Lebak (Banten), Cipari (Kuningan, Jabar), Batu Kenong (Bondowoso) hingga Easter Island Chile,” terangnya, saat mendampingi tim Mongabay Indonesia mengunjungi beberapa situs megalitikum Pasemah di Kabupaten Lahat dan Pagaralam, pertengahan Juni 2026 lalu.

Bagi Mario, yang saat ini anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Lahat, menilai megalitik Pasemah adalah megalitik yang paling sempurna di dunia. Sebab, mempunyai ragam bentuk yang paling banyak dari semua megalitik di dunia.
“Megalitik Pasemah mempunyai 15 ragam bentuk, coba bandingkan dengan megalitik di Easter Island, Stonehenge, Carnac, Poso, Gunung Padang, Cipari, Bondowoso, dan lainya. Mereka tidak sebanyak ragam bentuk megalitik Pasemah.”
Ke-15 ragam bentuk megalitik Pasemah itu antara lain arca, arca menhir, menhir, monolith, trilith, tetralith, batu datar, dolmen, lesung batu, lumpang batu, batu bergores, batu temu gelang, bilik batu, lukisan di bilik batu, dan tempayan kubur.
Tercatat, sekitar 1.165 benda megalitik. Di antaranya 85 arca, 25 bilik batu, serta ratusan lesung batu, lumpang batu, dan lainnya.
Kemudian, megalitik Pasemah terluas di Indonesia dengan wilayah sebaran sekitar 8.000 hektar, yang membentang dari Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam, hingga Kabupaten Empat Lawang. Sejak tahun 1849 sudah menjadi perhatian ilmuwan dunia, yang datang silih berganti, mulai dari Ullman, Tombrik, Westenenk, van der Hoop, hingga RP Sujono.
“Dengan wilayah sebaran yang luas, di perbukitan Gunung Patah, Gunung Dempo, dan perbukitan Gumay, dengan beragam bentuk produk megalitik, saya percaya peradaban besar megalitikum pernah tumbuh dan berkembang di sini,” kata Mario.

Sebagai peradaban besar, terlihat dari ratusan arca yang dikerjakan dengan sebuah perencanaan, pembagian kerja, kepemimpinan, dan tenaga kerja besar. Intinya, megalitik Pasemah meninggalkan nilai ilmiah dan arkeologi yang sangat tinggi, menyimpan berbagai informasi mengenai kehidupan masyarakat prasejarah.
Manusia di masa itu telah mengenal pakaian, tutup kepala, serta beragam hiasan di tubuh, seperti kalung, anting, gelang kaki, gelang tangan, jubah, dan ikat pinggang, dengan beragam motif hiasan seperti ingkaran, pakis, dan lainnya.
Lukisan pada sejumlah bilik batu di Desa Kota Raya Lembak, Kecamatan Pajar Bulan, Kabupaten Lahat, rupanya berupa lingkaran pakis dan membentuk mata, dengan warna merah, putih, hitam, dan kuning, mengingatkan lukisan aborigin Australia.
Dilihat dari rupa wajah pada arca manusia, lebih menjelaskan wajah Austro-Melanesia dibandingkan Austronesia. Misalnya bentuk wajah bulat panjang, rambut ikal atau keriting, mata besar, hidung pesek, dan bibir tebal.
“Bisa jadi mereka yang menetap di sini adalah ras Austro-Melanesia. Tapi, megalitik Pasemah merupakan laboratorium alam bagi penelitian dan simbol identitas budaya masyarakat Pasemah saat ini, meskipun keturunan dari ras Austronesia,” katanya.

Sebagai identitas, masyarakat Pasemah terus menjaga peninggalan megalitik tersebut. Mereka menganggap peninggalan megalitik tersebut bagian dari sejarah leluhurnya. Masyarakat Pasemah meyakini arca-arca yang ada merupakan kutukan atau sumpah dari Si Pahit Lidah atau Serunting Sakit, leluhur orang Pasemah. Pandangan ini yang membuat benda-benda megalitik yang berada di sekitar rumah, kebun, ladang, sawah di Pasemah tetap terjaga baik.
Dengan pengetahuan tersebut, meskipun tidak pernah mendapatkan pendidikan formal arkeologi dan sejarah, Mario dipercaya para peneliti, jurnalis, atau wisatawan untuk mendampingi saat mengunjungi situs megalitik.
Selama perjalanan dengan Mongabay Indonesia, belasan juru pelihara situs megalitik Pasemah tampak akrab dengan Mario. Misalnya, juru pelihara di Situs Tinggihari (1,2, dan 3) dan Desa Kota Raya Lembak. “Saya senang mendampingi siapa pun, selain dapat saling belajar, juga membangun silahturahmi. Dan, tentunya, dapat memberikan dampak baik bagi pelestarian kekayaan megalitik Pasemah,” kata bapak dua putra ini.

Harmonis dengan alam
Dijelaskan Mario, salah satu pelajaran penting dari manusia yang hidup di masa megalitik Pasemah, yakni hidup harmonis dengan alam. “Mereka menetap di dekat sumber air, seperti sungai, tapi posisinya terhindar dari banjir.”
Selain itu, berdasarkan arca-arca yang ditemukan menunjukan bahwa manusia pada masa itu hidup harmonis dengan satwa, seperti dengan harimau, gajah, buaya, ular, dan lainnya. Tubuh manusia dan satwa digambarkan menyatu. Seperti menjelaskan manusia dengan satwa-satwa tersebut saling membutuhkan. Bukan saling menaklukkan.
“Hubungan harmonis manusia dengan alam pada masyarakat Pasemah terlihat dari simbol Mendale Kencane Mandulike, yang menyatakan keharmonisan manusia dengan alam semesta merupakan satu kekuatan dan ketenangan,” kata Mario, yang pernah menerima penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Lahat sebagai tokoh pegiat lingkungan 2024.

Selain fokus dengan kekayaan megalitik Pasemah, Mario juga melakukan pendokumentasian air terjun di Kabupaten Lahat. Dia mencatat, terdapat sekitar 179 air terjun atau dalam bahasa Pasemah disebut “cughup”.
Beberapa air terjun yang selalu disarankannya untuk dikunjungi, antara lain Curup Mangkok. Air terjun dengan ketinggian 70 meter ini, bertingkat tiga. Kemudian, Curup Maung yang berada di Desa Atung Bungsu. Air terjun ini tidak terkumpul dalam satu titik, tapi menyebar selebar 80 meter seperti tirai air.
Curup Perigi di Kecamatan Pulau Pinang, yang tingginya 10-15 meter, membentuk kolam alami di bawahnya. Serta, Curup Buluh di kawasan Pulau Pinang, yang terdiri tujuh tingkat.

Cagar budaya
Situs megalitik Pasemah terdiri sebanyak 101 titik; 71 titik di Kabupaten Lahat, 21 titik di Kota Pagaralam, dan 9 titik di Kabupaten Empat Lawang. Tapi, baru enam yang ditetapkan sebagai cagar budaya. Yakni tiga situs di Kabupaten Lahat, dua situs di Kota Pagaralam, dan satu situs di Kabupaten Empat Lawang.
“Jadi, guna melindungi keberadaan tinggalan megalitik Pasemah, segera lakukan kajian penetapan cagar budaya di tingkat kabupaten, sebelum ke tingkat nasional. Sebab, saat ini ancaman paling nyata di lingkungan sekitar situs megalitik adalah perkebunan monokultur dan pertambangan batubara. Jangan sampai keburu dijadikan tambang dan kebun,” kata Sondang M Siregar, arkeolog dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), Kamis (16/7/26).

Yang paling penting, segera lakukan pemetaan sebaran tinggalan megalitik Pasemah, khususnya yang berada di area perkebunan dan pertambangan. “Jika wilayah tersebut memang mengandung atau memiliki cagar budaya maka kegiatan ekonomi itu harus dihentikan, karena akan menganggu dan merusak cagar budaya.”
Agung Saputro, Pelaksana Harian (Plh) Kepala Bidang Kebudayaan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan, mengatakan sejak 2004 sudah banyak situs yang ditetapkan sebagai cagar budaya. Tapi, itu menggunakan UU Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Adanya UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, maka surat keputusan dibuat yang baru.
“Saat ini banyak yang dalam proses, termasuk yang diusulkan menjadi Cagar Budaya Nasional,” jelas Agung.
*****
Wawancara Rr. Triwurjani: Manusia di Zaman Megalitikum Sangat Menghormati Gajah