- Kerusakan lingkungan di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa terus terjadi.
- Kawasan seperti Muara Gembong di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat menjadi contoh nyata bahwa perubahan alam sedang terjadi di kawasan pesisir Pantai Utara Jawa. Proses itu terjadi karena kombinasi kuat dari alam dan manusia.
- Ancaman yang mengintai Pantura Jawa, bukan saja berasal dari laut melalui erosi dan kenaikan muka air laut yang dipicu oleh krisis iklim. Namun juga, karena ada penurunan muka tanah yang terjadi di daratan.
- Ekosistem mangrove yang seharusnya menjadi benteng utama pertahanan pesisir, tidak bisa menjalankan perannya dengan baik. Sebaliknya, mangrove menjadi korban karena kerusakan lingkungan yang parah.
Kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa terus mengalami degradasi lingkungan.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat, erosi mendominasi hingga 65,8 persen garis pantai dari Kabupaten Serang di Banten hingga Kabupaten Situbondo di Jawa Timur.
Tubagus Solihuddin, Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, menjelaskan meluasnya erosi karena sebagian besar pesisir Pantura Jawa tersusun dari endapan pluvial dan delta. Secara geologi, kedua endapan tersebut belum bersatu baik (unconsolidated).
Kondisi itu diperparah morfologi pantai yang didominasi relief rendah dan dataran rendah, dengan elevasi kurang dari sepuluh meter. Di saat yang sama, akresi juga terjadi di angka 34,2 persen yang memicu kemunculan daratan baru.
Berdasarkan riset, laju erosi terjadi juga di delta pantai yang alamiahnya menjadi pusat sedimentasi. Sementara, proses terkumpulnya sedimentasi, berkaitan erat dengan aktivitas di hulu.
“Ada kanalisasi, pembelokan arah sungai, atau pembangunan bendungan. Itu semua akan menghentikan pasokan sedimen ke muara sungai,” ucapnya kepada Mongabay, Selasa (13/7/26).
Akibat erosi, air masuk hingga empat kilometer ke daratan di kawasan Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi.
“Selain menenggelamkan infrastruktur publik dan warga hingga permanen, erosi juga membuat air laut masuk dan merendam lebih dari 1.000 hektar tambak warga.”
Situasi serupa terjadi di Tanjung Pontang, Serang; Legonkulon, Subang; dan Demak, Jawa Tengah yang saat ini, air laut sudah merengsek ke daratan hingga 5-6 km, serta menenggelamkan sawah dan permukiman.
Pantura Jawa menghadapi ancaman karena kenaikan muka air laut (sea level rise/SLR) dan penurunan muka tanah (land subsidence) bersamaan. Tren kenaikan SLR mencapai rerata 0,41-0,42 sentimeter per tahun.
“Jika dihitung selama 1993-2025, kenaikan total mencapai 15,5 sentimeter.”
Penurunan muka tanah juga tak bisa dihindari yang mengakibatkan laju penurunan hingga 16 cm di Demak. Itu tercatat paling dalam dan bersaing dengan Jakarta (15 cm) dan Sidoarjo, Jawa Timur (14 cm).
Kompleksitas permasalahan Pantura Jawa sistemik dan memerlukan penanganan komprehensif. Pemicu utamanya alih fungsi lahan sangat cepat, hilangnya ekosistem mangrove, dan pembangunan struktur penahan ombak tanpa perencanaan matang.
Permasalahan Pantura Jawa harus diselesaikan melalui riset saintifik, data kredibel, serta menjaga keseimbangan ekologi dan ekonomi dalam setiap kebijakan.
“Tak ada solusi tunggal, karena setiap pantai punya karakter dan morfologi berbeda,” tegasnya.

Penurunan muka tanah
Agung Syetiawan, Peneliti Pusat Riset Geoinformatika BRIN, mengatakan penurunan muka tanah di Pantura Jawa terjadi dengan tingkat bervariasi. Penyebab utamanya, eksploitasi air tanah yang sangat masif.
Eksploitasi bisa terjadi karena kebutuhan air bersih masyarakat sangat tinggi, ditambah budi daya perikanan tambak. Itu membuat tekanan cadangan air tanah meningkat tajam.
“Penurunan muka tanah akan menyebabkan genangan permanen yang merusak kawasan sekitar. Kondisi itu sudah terjadi di Muara Gembong dan sejumlah wilayah pesisir di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi,” jelasnya dalam kegiatan BRIGHTS Seri #2, Selasa, (26/5/26).
Pemerintah bisa membuat kebijakan berbasis data geospasial agar pembangunan pesisir berkelanjutan bisa dilaksanakan. Dengan demikian, pengendalian sumur bor, rehabilitasi mangrove, dan evaluasi pembangunan tanggul laut bisa berjalan baik.
M Rokhis Khomarudin, Kepala Pusat Riset Geoinformatika BRIN, mengatakan penurunan muka tanah mengakibatkan terancamnya ekosistem mangrove di pesisir.
Akibat penurunan muka tanah dan mangrove hilang, banjir rob di Pantura Jawa makin sulit dibendung dengan wilayah terdampak semakin luas. Bencana alam perlu dihentikan, dengan mengadopsi teknologi terkini.

Pelindung pesisir
Frida Sidik, Ahli Ekologi Mangrove dari Pusat Riset Ekologi BRIN, mengakui kondisi Pantura Jawa sedang dalam masalah, karena karakteristik pesisir yang dinamis. Selain erosi yang menyebabkan garis pantasi bergeser, penurunan muka tanah dan kenaikan muka air laut ikut berkontribusi pula.
“Saat erosi terjadi dan garis pantai eksisting terganggu, mangrove juga terganggu. Ancamannya adalah rusak, hingga mati,” jelasnya, Selasa (13/7/26).
Jika mangrove rusak dan mati, satu-satunya cara untuk mengembalikan dengan menanam kembali. Namun, itu juga tidak bisa dilakukan sembarangan, karena setiap pesisir berbeda karakteristiknya.
Dengan kata lain, walau mangrove jenis tertentu bisa ditanam dan tumbuh baik di pesisir tertentu, tidak berarti jenis yang sama bisa ditanam dan tumbuh di lokasi pesisir lain. Jika tetap dipaksakan, mangrove akan tersapu air laut.
Mangrove juga bisa rusak dan mati jika suplai sedimen berhenti, jika terjadi modifikasi alur sungai untuk kepentingan tertentu seperti bendungan, atau pembelokan.
“Jika itu terjadi, maka mangrove juga terancam mati, karena mereka hidup mereka bergantung pada lumpur sedimen,” tegasnya.
Hal lain adalah pemahaman orang tentang mangrove baru yang dinilai bisa menggantikan mangrove mati. Padahal, mangrove memerlukan waktu dan kondisi optimal untuk bisa mencapai pertumbuhan ideal.
“Paling penting, setiap kawasan pesisir tidak bisa disamaratakan. Ada yang bisa memulihkan diri dengan cepat saat dilanda erosi, namun ada juga yang tidak. Masing-masing berbeda.”

Secara geologis, mengutip tulisan di jurnal Marine Science (2026) berjudul “Coastal dynamics along the Northern Coast of Java, Indonesia: Scales, impacts, and governance strategies”, Pantura Jawa terdiri sedimen sungai dan pesisir holosen, yang meliputi kerikil, pasir, dan lumpur. Bentangannya sekitar 1.668,7 km, mencakup sekitar 84,1 persen dari garis pantai sebelah barat Banten hingga sebelah timur Jawa Timur.
Unit batuannya mencakup batuan vulkanik baru sepanjang 152 km (7,6 persen), batuan sedimen sepanjang sekitar 91,5 km (4,6 persen), serta batuan kristalin atau beku sepanjang sekitar 71,7 km (3,6 persen). Karakteristik geologi tersebut berkaitan langsung dengan ketahanan atau kerentanan pantai terhadap proses erosi.
Pesisir Utara Jawa memiliki karakteristik berbeda, seperti pesisir berlumpur/mangrove yang membentang sepanjang 949,2 km yang mencakup 47,8 persen dari total luas wilayah; pesisir berpasir, dengan luas 501,6 km yang mencakup 25,3 persen dari total luas; serta pantai berbatu, sepanjang 19,8 km yang mewakili 1 persen total luas wilayah.
Pesisir yang dimodifikasi, mencakup berbagai struktur pesisir seperti tembok laut, pelabuhan laut, tanggul laut, penahan ombak berbatu, dermaga, dan groin, dengan total panjang 513,4 km atau 25,9 persen dari luas wilayah.
Secara umum, struktur pesisir Pantura Jawa terdiri pelabuhan, reklamasi pesisir, pemecah gelombang, tembok laut, groin, dan dermaga. Semua itu tersebar di Serang, Jakarta Utara di DKI Jakarta, Cirebon di Jawa Barat, Semarang di Jawa Tengah, dan Surabaya di Jawa Timur.
*****