- Verifikasi asal-usul Macaca fascicularis beserta audit fasilitas penangkaran penting dilakukan untuk menutup celah pengambilan monyet ekor panjang dari alam.
- Penelusuran silsilah, identifikasi individu, rekaman reproduksi, pemeriksaan genetik, hingga rekonsiliasi jumlah populasi perlu dilakukan untuk menguji asal-usul monyet ekor panjang.
- Efektivitas pengawasan perdagangan macaca perlu dinilai dari kemampuan sistem memastikan legalitas perdagangan dan menindaklanjuti kesesuian data. Jadi, bukan sekadar keberadaan regulasi dan prosedur.
- Kuota, realisasi perdagangan, produksi penangkaran, dan hasil pengawasan perlu tersedia bagi publik agar bisa dievaluasi peneliti, organisasi masyarakat sipil, maupun pihak lain yang berkepentingan.
Bagaimana pemerintah bisa menutup celah pengambilan monyet ekor panjang dari alam di tengah pemanfaatannya untuk berbagai kepentingan?
Fahma Wijayanti, pengajar Primatologi UIN Jakarta, menekankan pentingnya verifikasi asal-usul Macaca fascicularis tersebut beserta dan audit fasilitas penangkarannya. Ini bertujuan agar klaim hasil penangkaran tak hanya bertumpu pada dokumen.
Menurutnya, memastikan primata pintar ini benar-benar berasal dari penangkaran memerlukan serangkaian pemeriksaan ilmiah.
Penelusuran silsilah, identifikasi individu, rekaman reproduksi, pemeriksaan genetik, hingga rekonsiliasi jumlah populasi perlu dilakukan untuk menguji asal-usul satwa.
“Yang pertama adalah tidak hanya mempercayai ‘klaim hasil penangkaran’ pada dokumen CITES,” jelas Fahma, Senin (12/10/26).
Penelusuran silsilah dan identifikasi individu bisa membantu memastikan riwayat setiap monyet, termasuk asal-usul dan hubungan kekerabatannya.
Catatan reproduksi juga diperlukan, untuk mencocokkan jumlah kelahiran dengan jumlah satwa disebut kethek ini, yang dimiliki fasilitas penangkaran. Sementara itu, audit fasilitas bisa digunakan untuk memeriksa kesesuaian data populasi dengan kapasitas penangkaran.
Pemeriksaan jadi penting untuk memastikan bahwa klaim hasil penangkaran didukung data yang bisa diuji, bukan sekadar keterangan administrasi.
Pemerintah, kata Fahma, juga perlu memastikan bahwa pengambilan monyet ekor panjang dari alam tak ancam populasinya.
“Penentuan jumlah yang bisa dimanfaatkan tidak semestinya hanya didasarkan pada presentase dari perkiraan populasi.”
Penentuan kuota, menurutnya, harus didukung analisis populasi dan Non-Detriment Finding (NDF), yakni penilaian untuk memastikan pemanfaatan tidak merugikan kelangsungan hidup populasinya di alam.

Perlu berhitung sejumlah parameter
Sejumlah parameter yang perlu diperhitungkan, antara lain tren populasi, struktur umur, rasio kelamin, populasi reproduksi efektif, tingkat kematian, serta keberadaan predator dan kompetitor.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, penentuan kuota diharapkan tidak hanya mengacu pada perkiraan jumlah monyet yang tersedia, namun juga kemampuan populasi liar untuk bertahan dan berkembang biak.
Dilain sisi, Fahma menilai penggunaan monyet ekor panjang untuk penelitian perlu dikurangi.
Perkembangan metode alternatif, seperti organoid, organ-on-chip, dan permodelan komputer, membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan penelitian pada satwa hidup.
“Jelas perlu,” ujarnya, ketika ditanya apakah penggunaan Macaca dalam penelitian perlu dikurangi.
Fahma berpendapat, pengembangan dan penerapan metode alternatif penting dari sisi etika penelitian, sekaligus mengurangi tekanan terhadap populasi satwa liar.
Upaya menutup celah pengambilan monet ekor panjang, perlu pengawasan asal-usul satwa, audit penangkaran, penentuan kuota berbasis kajian ilmiah, serta pengembangan metode penelitian alternatif.
“Tetapi, efektivitas langkah-langkah tersebut juga bergantung pada konsistensi pelaksanaan dan transparansi data yang digunakan sebagai dasar kebijakan.”
Mardiastuti dan kolega (2026), dalam artikel “Long-Tailed Macaques in Indonesia: A Comprehensive Meta-Analysis of Decades of Study” terbitan Journal of Tropical Biodiversity and Biotechnology, memetakan 369 publikasi soal Macaca di Indonesia, periode 1992-2024.
Kajian ini menemukan bahwa penelitian mengenai spesies ini telah berkembang dalam berbagai bidang, termasuk ekologi, kedokteran, dan perilaku. Namun, penulis juga mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan, terutama terkait data populasi nasional dan pemantauan populasi jangka panjang.
Satu persoalan yang disoroti adalah ketidakseragaman metode penelitian populasi. Perbedaan teknik pengamatan dan cakupan survei bisa menghasilkan estimasi yang sulit, dibandingkan antarlokasi maupun antarperiode.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya pengembangan metode pemantauan terstandar, dilakukan berkala, dan mencakup wilayah persebaran lebih luas.
Tanpa data yang memadai, perubahan populasi di suatu wilayah berisiko tidak teridentifikasi secara tepat.

Pastikan legalitas perdagangan
Amanda Faradifa, perwakilan AfA Macaque Coalition, mengatakan efektivitas pengawasan perdagangan macaca perlu dinilai dari kemampuan sistem memastikan legalitas perdagangan dan menindaklanjuti kesesuian data. Jadi, bukan sekadar keberadaan regulasi dan prosedur.
Dalam pandangannya, satu persoalan yang perlu diperiksa adalah konsistensi laporan perdagangan yang disampaikan negara pengekspor dan negara pengimpor.
“Perbedaan angka dalam laporan, bisa jadi petunjuk untuk menelusuri lebih jauh alur perdagangan monyet ekor panjang lintas negara,” jelasnya, Selasa (14/10/26).
Merujuk penelitian Hansen dan kolega tiga tahun lalu, “Is biomedical research demand driving a monkey business?” yang menganalisis data perdagangan macaca dalam basis data CITES periode 2000-2020, penelitian ini tidak menemukan kesesuaian dalam laporan perdagangan antarnegara.
Temuan itu menunjukkan perlunya pencatatan yang lebih konsisten serta rekonsiliasi data ekspor maupun impor. Meski demikian, perbedaan angka dalam laporan tidak otomatis membuktikan adanya perdagangan ilegal ataupun penyamaran primata cerdas ini hasil tangkapan alam, sebagai satwa hasil penangkaran.
“Evektivitas pengawasan perlu dinilai berdasarkan kemampuannya memastikan legalitas dan asal-usul satwa, bukan hanya keberadaan regulasi dan prosedur administrasi.”
Saat ditemukan ketidaksesuaian, otoritas perlu menelusuri penyebabnya dan memastikan ada tindak lanjut yang sesuai dengan temuan.
Pemeriksaan bisa mencakup pencocokan data perdagangan, dokumen perizinan, jumlah satwa yang dilaporkan, serta informasi dari fasilitas yang terlibat.

Amanda juga menyoroti pentingnya keterbukaan informasi untuk memungkinkan pengawasan independen. Kuota, realisasi perdagangan, produksi penangkaran, dan hasil pengawasan perlu tersedia bagi publik agar bisa dievaluasi peneliti, organisasi masyarakat sipil, maupun pihak lain yang berkepentingan.
“Keterbukaan itu perlu memperhatikan informasi yang memang harus dilindungi.”
Namun, informasi mengenai pelaksanaan kebijakan dan hasil pengawasan perlu cukup memadai, untuk menunjukkan bagaimana perdagangan dikendalikan dan bagaimana dugaan penyimpangan ditangani.
Pencantuman kategori captive-bred atau captive-born dalam basis data perdagangan, katanya, tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa asal-usul setiap individu telah diverifikasi secara independen.
“Informasi dalam dokumen perdagangan, perlu dibaca bersama bukti pendukung dan hasil pemeriksaan yang relevan,” jelas Amanda.
Referensi:
Mardiastuti, A., Kusrini, M. D., Mutiaradita, N. A., Iskandar, E., & Rianti, P. (2026). Long-Tailed Macaques in Indonesia: A Comprehensive Meta-Analysis of Decades of Study. Journal of Tropical Biodiversity and Biotechnology, 11(3). https://journal.ugm.ac.id/v3/jtbb/article/view/21142/7521
Friis Hansen, M., Gill, M., Briefer, E. F., Nielsen, D. R. K., & Nijman, V. (2022). Monetary value of live trade in a commonly traded primate, the long-tailed macaque, based on global trade statistics. Frontiers in Conservation Science, 3, 839131. https://www.frontiersin.org/journals/conservation-science/articles/10.3389/fcosc.2022.839131/full
*****
Ekspor Monyet Ekor Panjang Tidak Sejalan dengan Prinsip Kesejahteraan Satwa Liar