- Punch adalah nama anakan monyet jepang jantan yang kisahnya viral karena memeluk boneka orangutan yang dianggap sebagai induknya. Ia menyeret boneka itu ke mana-mana. Memeluknya saat tidur, atau berguling-guling di atasnya seperti hendak bermanja.
- Macaca fuscata merupakan monyet endemik Jepang. Sebagai primata nonmanusia yang menghuni daerah paling utara, monyet ini secara unik beradaptasi dengan lingkungan dingin, memiliki ukuran tubuh besar, bulu panjang, dan ekor sangat pendek.
- Monyet jepang dikenal cerdas, kooperatif, dan mudah dilatih untuk tugas kompleks. Jenis ini memiliki ukuran otak besar sehingga membantu dalam penelitian-penelitian otak dan saraf.
- Monyet jepang juga dikenal dengan perilaku uniknya, yaitu berendam di onsen atau pemandian panas alami. Pada musim dingin mereka secara rutin berendam di sumber air panas vulkanik. Kebiasaan ini mulai diamati pada 1960-an dan diturunkan antargenerasi dalam kelompok tertentu.
Akhir Juli 2025, menjadi hari-hari terpanas di Chiba Prefecture, dekat Tokyo, Jepang. Suhu pagi hari bisa mencapai 31 derajat Celsius dan siangnya 35 derajat Celsius. Seekor induk nihonzaru atau monyet jepang (Macaca fuscata) dari Ichikawa City Zoo, susah payah melahirkan bayi yang kelak diberi nama Punch. Dia lahir sehat. Tanggal kelahirannya tercatat 26 Juli 2025, dengan berat 500 gram, berjenis kelamin jantan.
Tapi musim panas yang menyengat telah membuat induk Punch frustrasi. Apalagi ini adalah kelahiran pertamanya. Punch akhirnya ditinggal induknya tak lama setelah lahir. Penjaga kebun binatang segera mengambil alih. Punch diletakkan di sebuah tempat khusus. Mereka juga memberinya susu.
Namun, tanpa pelukan induk, Punch kehilangan sesuatu yang lebih dari sekadar nutrisi. Kehangatan sentuhan dan rasa aman. Para petugas kebun binatang pun mencoba berbagai cara. Misalnya, memberinya handuk gulung yang lembut sebagai pengganti sesuatu yang bisa dipegang. Juga berbagai boneka. Hingga akhirnya, mereka memilih boneka orangutan.
“Boneka ini memiliki bulu relatif panjang dan beberapa bagian yang mudah dipegang,” kata Kosuke Shikano, petugas kebun binatang kepada Reuters, Jumat (20/2/2026). “Kami berpikir bahwa kemiripannya dengan monyet mungkin dapat membantu Punch bergabung kembali ke kelompok di kemudian hari, dan itulah mengapa kami memilihnya.”
Mendapat boneka orangutan, Punch segera tak bisa lepas darinya. Ia menyeret boneka itu ke mana-mana. Memeluknya saat tidur, atau berguling-guling di atasnya seperti hendak bermanja. Pengunjung kebun binatang lantas merekamnya. Satu video yang viral telah ditonton 40 juta kali pada Februari saja. Tagar seperti #HangInTherePunch menjadi tempat berkumpulnya warganet dari seluruh dunia untuk saling berbagi komentar dan kabar tentang Punch.
Pada 19 Januari 2026, Punch akhirnya dikembalikan sepenuhnya ke kawanan. Awalnya sulit. Monyet dewasa mengintimidasi, mendorong, bahkan mengejar. Punch lari sambil memeluk bonekanya erat-erat. Namun, dia bukan monyet yang mudah menyerah.
Video lainnya memperlihatkan kelucuan Punch bergelayutan di kaki penjaga kebun binatang saat memberi makanan kepada kawanan monyet jepang. Kali lain Punch belajar berjalan memakai dua kaki, sementara tangannya memegang ranting. Cukup lama ia berjalan tanpa menggunakan bantuan tangannya.

Rebutan
Boneka orangutan berbulu cokelat keemasan ini tiba-tiba dicari banyak orang. Boneka seri Djungleskog itu memang lucu dan menggemaskan. Dalam seri ini, selain orangutan sebenarnya ada pula boneka beruang, singa, gajah, harimau, hingga panda. Namun, hanya boneka orangutan yang mengalami lonjakan penjualan.
“Rawatlah baik-baik orangutan menggemaskan ini, hewan liar langka terancam punah,” bunyi pesan di situs penjualan tersebut.
Video Punch yang dirundung monyet dewasa, lalu pergi meninggalkan mereka sambil menyeret boneka orangutan telah menyulut gelombang empati global. Medsos dibanjiri meme Punch yang memeluk boneka orangutan. Punch makin populer, demikian pula boneka orangutan Djungleskog.
Boneka orangutannya pun jadi rebutan, menyisakan rak-rak penjualan yang kosong. Fenomena ini terjadi sejak Februari 2026, ketika kisah Punch menjadi viral. Laporan menyebutkan hanya dalam hitungan hari, penjualan Djungelskog melonjak drastis. Di Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan, boneka ini habis terjual. Di Australia, penjualan naik lebih dari 200 persen dalam seminggu, dari rata-rata 400 unit per minggu menjadi hampir seribu unit.
Bukan hanya versi besar yang laris manis. Boneka versi mini, yang lebih kecil dan murah, juga ikut terjual habis di beberapa gerai, seolah menjadi alternatif bagi mereka yang tak kebagian yang asli.
Ironisnya, di Sumatera dan Kalimantan, orangutan liar sedang kehilangan sahabat sebenarnya yaitu hutan. Luasnya terus menyusut, memaksa mereka hidup terfragmentasi dan kehilangan pohon-pohon tinggi.

Keistimewaan
M. fuscata merupakan monyet endemik Jepang. Sebagai primata nonmanusia yang menghuni daerah paling utara, monyet ini secara unik beradaptasi dengan lingkungan dingin, memiliki ukuran tubuh besar, bulu panjang, dan ekor sangat pendek.
Mengutip artikel di jurnal Genome Biology and Evolution 2025 dengan judul “Population Genomics of Japanese Macaques (Macaca fuscata): Insights Into Deep Population Divergence and Multiple Merging Histories” spesies ini telah mendiami kepulauan Jepang sekitar 430 ribu tahun lalu, meski sejarah evolusi mereka kurang dipahami.
“Di bidang ilmu saraf, monyet jepang sangat dihargai dan dipekerjakan karena kecerdasan, kepatuhan, dan keahlian mereka dengan tangan mereka,” tulis Higashino mewakili tim peneliti dalam artikel itu.
Monyet jepang dikenal cerdas, kooperatif, dan mudah dilatih untuk tugas kompleks. Jenis ini memiliki ukuran otak besar sehingga membantu dalam penelitian-penelitian otak dan saraf.
Sejarah evolusi monyet jepang ternyata jauh lebih rumit dan dinamis daripada yang selama ini diduga. Sebelum adanya kajian genomik tersebut, banyak orang menganggap populasinya relatif statis dan terisolasi di sejumlah pulau. Namun terjadinya dinamika perubahan iklim di masa lalu telah membuatnya terpisah dan terhubung beberapa kali.

Monyet jepang juga dikenal sebagai monyet berbudaya. Seekor monyet muda betina bernama Imo di Pulau Koshima tercatat mencuci ubi manis pada 1953. Perilaku ini kemudian diikuti seluruh kelompoknya, yang kemudian menjadi bukti pertama yang kuat tentang konsep penularan budaya pada primata nonmanusia. Misalnya seperti yang ditulis oleh Hirata dan kawan-kawan dalam ‘Sweet-Potato Washing’ Revisited.
Monyet jepang juga dikenal dengan perilaku uniknya, yaitu berendam di onsen atau pemandian panas alami. Pada musim dingin mereka secara rutin berendam di sumber air panas vulkanik. Kebiasaan ini mulai diamati pada 1960-an dan diturunkan antargenerasi dalam kelompok tertentu.
Hal-hal itu menunjukkan bahwa mereka belajar, memodifikasi, dan menularkan tradisi mirip seperti yang dilakukan manusia. Sebelumnya, hanya manusia yang dianggap punya kemampuan menularkan budaya. Namun, leluhur Punch telah meruntuhkan anggapan itu.
Kini selain jadi bintang di internet, siapa tahu kelak Punch memberikan kejutan-kejutan baru bagi ilmu pengetahuan.
Referensi:
Higashino, A., Nakamura, K., & Osada, N. (2025). Population genomics of Japanese macaques (Macaca fuscata): insights into deep population divergence and multiple merging histories. Genome biology and evolution, 17(1), evaf001. https://doi.org/10.1093/gbe/evaf001
Hirata, S., Watanabe, K., & Masao, K. (2001). “Sweet-potato washing” revisited. In Primate origins of human cognition and behavior (pp. 487-508). Tokyo: Springer Japan. https://www.researchgate.net/publication/233821412_’Sweet-Potato_Washing’_Revisited
*****
Kisah Berani, Orangutan Sumatera yang Mati karena Gagal Ginjal di Denver Zoo