Samudera menutupi lebih dari 70 persen permukaan bumi, namun hingga hari ini kurang dari sepertiga dasarnya telah dipetakan secara detail. Di kedalaman yang belum terjamah itulah, jauh dari cahaya matahari dan jangkauan manusia, makhluk-makhluk yang tampak mustahil terus menjalani hidupnya dengan tenang, sampai suatu hari salah satu dari mereka terdampar di pantai dan mengubah semuanya menjadi kehebohan global. Salah satu makhluk itu adalah oarfish, ikan bertulang paling panjang di dunia, dengan catatan spesimen mencapai lebih dari 11 meter, tubuh ramping berwarna perak, dan sirip punggung merah menyala yang membuatnya terlihat seperti naga laut dari dunia mitologi.
Namun sering ada pertanyaan yang diajukan ketika oarfish terdampar dan videonya viral: ikan sepanjang 11 meter ini sehari-harinya makan apa? Jawabannya mungkin sedikit mengejutkan. Makanan oarfish bukan ikan besar, bukan paus kecil, bukan pula predator bawah laut yang garang. Oarfish hidup dari plankton, krustasea kecil, dan cumi-cumi mini, mangsa yang ukurannya tidak jauh dari kuku jari manusia.

Dalam bahasa Indonesia ikan ini dikenal sebagai ikan sabuk, karena tubuhnya panjang dan pipih menyerupai ikat pinggang. Di berbagai belahan dunia, ia dijuluki naga laut karena bentuknya berkilau dan bergerak anggun layaknya ular raksasa yang menari di kedalaman. Di sejumlah budaya Asia, ia mendapat sebutan ikan hari kiamat, sebuah julukan yang lahir dari keyakinan bahwa kemunculannya menandai bencana besar. Oarfish adalah ikan bertulang paling panjang di dunia, dengan catatan spesimen mencapai lebih dari 11 meter, tubuhnya yang ramping berwarna perak dengan sirip punggung merah menyala membuatnya terlihat seperti makhluk dari dunia mitologi.
Tahun 2025: Gelombang Penampakan yang Tidak Biasa
Jika sebelumnya oarfish hanya sesekali muncul ke permukaan publik, tahun 2025 menjadi tahun yang luar biasa. Sepanjang tahun itu, setidaknya enam oarfish terdata terdampar atau tertangkap di berbagai penjuru dunia. Penampakan pertama terjadi pada Februari tahun lalu, saat seekor oarfish tanpa kepala terdampar di pesisir Baja California Sur, Meksiko. Beberapa bulan kemudian, seekor oarfish sepanjang sekitar sembilan meter ditemukan di perairan Tamil Nadu, India selatan, dan dibutuhkan tujuh orang untuk mengangkatnya. Berselang beberapa pekan, tiga oarfish muncul dalam rentang hanya 20 hari: satu terdampar di pantai barat Tasmania, Australia, dan dua lagi di Selandia Baru, keduanya tanpa kepala.
Yang tak kalah penting secara ilmiah adalah temuan dari Sri Lanka. Para ilmuwan mendokumentasikan catatan pertama oarfish (Regalecus russellii) di perairan negara itu, seekor spesimen sepanjang 2,6 meter yang tertangkap di lepas pantai barat, memperluas sebaran oarfish yang diketahui ke Samudra Hindia. Gelombang penampakan berlanjut ke 2026: pada Februari, dua oarfish raksasa muncul di perairan dangkal Cabo San Lucas, Meksiko, ditemukan hidup oleh dua wisatawan, namun akhirnya mati meski sudah berusaha dikembalikan ke laut.
Di Balik Legenda Ikan Hari Kiamat
Di Jepang, oarfish disebut ryūgū no tsukai, atau “utusan dari istana dewa laut,” dan dipercaya muncul menjelang gempa besar atau tsunami. Kepercayaan ini menguat setelah beberapa oarfish terdampar di pesisir Jepang menjelang gempa Tohoku 2011 yang menewaskan hampir 20.000 orang. Wajar jika mitos itu bertahan: oarfish hidup di kedalaman 200 hingga 1.000 meter, lingkungan yang hampir tidak pernah terjangkau manusia, sehingga setiap kemunculannya ke permukaan terasa seperti peristiwa supernatural. Karena hampir tidak ada yang pernah melihatnya hidup-hidup, setiap terdampar selalu menjadi berita besar, dan otak manusia secara alami mencari pola di balik kejadian yang tidak biasa.

Namun sebuah studi yang dipublikasikan dalam Bulletin of the Seismological Society of America oleh Yoshiaki Orihara dari Tokai University menganalisis 336 penampakan ikan laut dalam dan 221 gempa bumi di Jepang, dan hanya menemukan satu kejadian yang bisa dianggap berkorelasi. Para peneliti menyimpulkan bahwa folklor ini tidak lebih dari ilusi korelasi antara dua peristiwa yang tidak berkaitan. Ikan ini umumnya hanya muncul ke pantai ketika sakit, sekarat, atau tersesat arah, bukan karena sedang membawa pesan dari dasar laut.
Sains justru menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik. Pada 2013, tim ilmuwan yang dipimpin Dr. Mark Benfield dari Louisiana State University mempublikasikan rekaman video oarfish hidup di habitat aslinya dalam Journal of Fish Biology, hasil dari penggunaan ROV di Teluk Meksiko. Rekaman itu menunjukkan oarfish berenang dengan kepala tegak lurus ke atas dan ekor tergantung di bawahnya, mampu bergerak maju, mundur, dan ke segala arah dengan lincah. Sebelum dokumentasi ini, ilmuwan hanya bisa menebak-nebak perilaku oarfish dari bangkai yang terdampar. Kini penelitian melangkah jauh lebih jauh: setelah seekor oarfish ditemukan di La Jolla Cove, California pada Agustus 2024, tim dari Scripps Institution of Oceanography UC San Diego dan NOAA Fisheries melakukan nekropsi lengkap, dengan sampel yang akan digunakan untuk menghasilkan genom kromosom berkualitas tinggi pertama untuk ikan bertulang terpanjang di dunia, sekaligus memeriksa kemungkinan kontaminan seperti mikroplastik dan DDT dalam organ dan jaringannya.
Semua itu membawa kita kembali ke pertanyaan di awal: bagaimana mungkin ikan sepanjang 11 meter itu bertahan hidup hanya dari mangsa sebesar kuku jari? Jawabannya ada pada anatomi dan efisiensi. Ilmuwan kini sedang mempelajari struktur gill raker oarfish, semacam sisir insang yang digunakan untuk menyaring mangsa dari air. Tubuh yang panjang dan pipih, gerakan vertikal yang hemat energi, sirip punggung yang berdenyut lembut tanpa henti: semuanya adalah adaptasi seekor ikan yang tidak butuh berburu besar untuk bertahan. Oarfish bukan naga laut, bukan pula utusan bencana. Ia adalah salah satu makhluk paling aneh dan paling efisien di samudera, seekor raksasa yang memilih kesabaran di atas kekuatan, dan justru karena itu ia jauh lebih menarik dari semua mitos yang pernah manusia ciptakan untuknya.
**
Referensi:
Benfield, M.C., Cook, S., Sharuga, S. and Valentine, M.M. (2013), Five in situ observations of live oarfish Regalecus glesne (Regalecidae) by remotely operated vehicles in the oceanic waters of the northern Gulf of Mexico. J Fish Biol, 83: 28-38. https://doi.org/10.1111/jfb.12144
Yoshiaki Orihara et al, Is Japanese Folklore Concerning Deep‐Sea Fish Appearance a Real Precursor of Earthquakes?, Bulletin of the Seismological Society of America (2019). DOI: 10.1785/0120190014