Katak kihansi (Nectophrynoides asperginis) merupakan salah satu contoh ekstrem satwa dengan spesialisasi habitat mikro. Spesies ini hanya ditemukan secara alami di zona percikan air terjun Kihansi, Tanzania, pada area seluas beberapa hektare. Ketergantungan penuh pada satu ekosistem sempit membuat populasinya rentan musnah begitu terjadi intervensi fisik pada sumber air.
Populasi liar katak ini hilang setelah proyek pembangkit listrik tenaga air mengalihkan sebagian besar aliran air sungai pada akhir 1990-an. Penurunan kelembapan yang drastis memicu kekeringan mikro dan kemunculan wabah penyakit jamur. Pada 2009, International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan spesies ini berstatus punah di alam liar (Extinct in the Wild). Spesies ini hanya bertahan hidup melalui program penangkaran di luar negeri.
Upaya reintroduksi telah mengembalikan katak ini ke ngarai asalnya. Namun, ekosistem tersebut tidak lagi berfungsi secara alami. Kelangsungan hidup katak di habitat aslinya kini bergantung sepenuhnya pada jaringan pipa dan penyemprot mekanis yang dipasang untuk meniru percikan air terjun.
Spesialisasi Ekologis dan Gangguan PLTA
Katak kihansi pertama kali diidentifikasi oleh peneliti pada 1996. Amfibi berwarna kuning ini memiliki panjang tubuh sekitar dua sentimeter. Reproduksinya unik karena betina melahirkan anak katak secara langsung, tanpa melalui fase berudu. Spesies ini tidak bisa bertahan di tepi sungai biasa. Mereka membutuhkan vegetasi yang terus-menerus basah oleh kabut air dari air terjun. Percikan air tersebut menjaga mikroklimat tetap sejuk dan lembap secara konstan di tengah kawasan tebing yang kering.
Kondisi hidrologis tersebut berubah drastis ketika Pembangkit Listrik Tenaga Air Lower Kihansi beroperasi. Pembangunan bendungan memotong volume aliran air menuju air terjun hingga 90 persen. Zona percikan air menyusut tajam dan vegetasi di sekitarnya mengering.

Sistem penyemprot buatan sempat dipasang oleh pengelola proyek untuk menyuplai kelembapan. Akan tetapi, terjadi jeda beberapa bulan sebelum sistem kabut buatan tersebut dapat dioperasikan. Pada masa jeda tersebut, kekeringan telah merusak habitat utama katak.
Populasi katak kihansi merosot tajam pada 2003. Berkurangnya pasokan air bukan satu-satunya penyebab kematian massal. Kondisi habitat yang rusak memicu kerentanan terhadap patogen Batrachochytrium dendrobatidis (Bd), jamur parasit penyebab penyakit chytridiomycosis yang menyerang kulit amfibi. Analisis laboratorium terhadap spesimen sebelum proyek PLTA tidak menemukan jejak jamur tersebut. Peneliti menyimpulkan kombinasi kekeringan dan wabah chytridiomycosis menjadi penyebab langsung hilangnya populasi di alam liar.
Tantangan Reintroduksi dan Pemantauan Jangka Panjang
Sebelum populasi alami habis, tim konservasi mengevakuasi hampir 500 individu katak ke Amerika Serikat untuk program pembiakan darurat di Kebun Binatang Bronx dan Toledo. Program penangkaran berhasil menambah jumlah individu hingga memungkinkan sebagian populasi dikirim kembali ke fasilitas lokal di Tanzania pada 2010.
Pada Oktober 2012, otoritas konservasi mulai melepaskan sekitar 2.000 katak hasil penangkaran ke Ngarai Kihansi. Kelembapan tebing dijaga secara konstan oleh sistem sprinkler buatan.

Kendati demikian, pelepasan individu ke habitat asal belum menjamin pemulihan populasi liar. Laporan penelitian Devolent T. Mtui dan tim gabungan yang terbit pada awal 2026 mencatat bahwa spora jamur Bd masih tersebar di zona percikan Ngarai Kihansi. Tingkat kelangsungan hidup katak yang dilepaskan serta penambahan individu generasi baru di alam masih rendah.
Studi Mtui juga mencatat kendala perilaku makan. Percobaan lapangan pada 2022 terhadap 1.000 katak di kandang uji habitat menunjukkan individu hasil penangkaran mengalami kesulitan memburu serangga liar. Kebiasaan menerima pakan di lingkungan terkontrol melemahkan efisiensi berburu di alam bebas. Peneliti di lapangan harus memberikan pakan tambahan secara berkala sebelum populasi dilepas tanpa bantuan.
Data pemantauan tersebut menegaskan bahwa reintroduksi amfibi tidak selesai dengan rekayasa kelembapan buatan. Kriteria keberhasilan program ini bertumpu pada kemampuan populasi untuk menahan infeksi penyakit, mencari makan secara mandiri, dan bereproduksi tanpa bantuan pasokan individu dari fasilitas penangkaran.
**
Referensi
Mtui, D. T., Haule, L. J., Ogutu, J. O., Preston, A., Braun, J., Newmark, W. D., Kohi, E. M., Kimera, J., Mtalika, M., Adam, H., Mtoka, S., Shayo, F., Keyyu, J. D., Makange, M. R., Hakizimana, J. N., Misinzo, G., & Mjingo, E. E. (2026). Monitoring the prevalence and distribution of chytrid fungus (Batrachochytrium dendrobatidis) in the Kihansi spray toad (Nectophrynoides asperginis) population in the Kihansi Gorge spray wetlands, Tanzania. Ecology and Evolution, 16(1), e72873. https://doi.org/10.1002/ece3.72873