- Konservasi monyet ekor panjang tidak bisa dilepaskan dengan keterlibatan petani. Kawanan monyet biasanya memasuki kebun petani yang ditanami pisang, nangka, pepaya, dan singkong. Pada musim kemarau, macaca dilaporkan makin sering mendekati permukiman saat sumber makanan, karena di habitatnya sulit ditemukan.
- Penanaman kembali pohon pakan di habitat asli monyet, sebagai upaya jangka panjang untuk mengurangi konflik perlu dilakukan. Namun, penanaman pohon tidak memberikan hasil instan. Pohon memerlukan waktu untuk tumbuh, sementara konflik dengan petani bisa berlangsung setiap saat.
- Hingga kini, belum ada metode yang sepenuhnya efektif untuk mencegah monyet memasuki lahan pertanian dan perkebunan. Sejumlah cara konvensional, terutama bersifat pasif, seperti memasang pagar, orang-orangan sawah, maupun seng di sekitar pohon, dinilai belum mampu berikan perlindungan berkelanjutan.
- Penjagaan kebun secara aktif, merupakan pendekatan lebih efektif. Tetapi, keberhasilannya bergantung pada intensitas penjagaan. Petani perlu patroli berkala setiap dua jam, terutama pagi dan sore saat monyet aktif mencari makan.
Mengusir monyet dari kebun mungkin bisa menyelamatkan tanaman untuk sementara. Namun, bagaimana bila primata Macaca fascicularis itu kembali beberapa hari kemudian, merusak tanaman lain, atau bikin petani gagal panen?
Bagi warga yang hidup berdampingan dengan primata cerdas nan adaptif, persoalan ini tak sekadar gangguan, melainkan juga menyangkut ekonomi dan tata kelola lingkungan.
Mihra Fauzia Mafaz, peneliti yang mengkaji konflik masyarakat dan monyet ekor panjang di Desa Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menemukan bahwa berbagai upaya pengusiran yang dilakukan warga belum memberikan hasil berkelanjutan.
“Ada yang mengusir dengan melempar batu, menyalakan petasan, hingga memasang orang-orangan sawah, tapi kawanan monyet tetap kembali ke kebun petani,” terangnya, Selasa (27/10/26).
Dalam penelitiannya, Mihra melibatkan 30 responden melalui wawancara juga observasi lapangan. Hasilnya menunjukkan 76,6 persen responden menganggap primata cerdas itu sebagai gangguan, sedangkan 56,6 persen mengaku khawatir terhadap keberadaan satwa yang disebut juga monyet kra ini.
Mihra bilang, gangguan monyet tersebut berlangsung bertahun. Dari keterangan warga, konflik terjadi sekitar satu dekade atau lebih.
Gangguan, terutama menyasar lahan pertanian yang ditanami pisang, nangka, pepaya, dan singkong. Intensitasnya dilaporkan meningkat pada musim panen. Pada musim kemarau, macaca dilaporkan makin sering mendekati permukiman saat sumber makanan, karena di habitatnya sulit ditemukan.
“Misalnya, hari ini mereka rombongan ke kebun pisang, kemudian diusir petani. Namun, monyet mempunyai sifat yang gampang beradaptasi. Kalau caranya itu-itu saja, monyet tidak takut dan kembali lagi.”

Habitat terganggu
Dari 30 responden yang diwawancarai, Mihra mendapati sebanyak 26 orang atau 86,6 persen menyebut primata yang berdasarkan penilaian IUCN masuk dalam kategori Terancam Punah ini memasuki permukiman untuk cari makanan.
Sedangkan, empat responden atau 13,3 persen mengaitkan kedatangannya dengan kerusakan habitat.
Temuan itu menunjukkan bahwa dalam pandangan mayoritas warga, ketersediaan makanan jadi alasan utama monyet mendatangi wilayah yang dihuni manusia.
Meski demikian, dugaan tersebut perlu dibedakan dari hasil pengukuran ekologi. Sebab, penelitiannya belum mengukur perubahan tutupan hutan, jumlah pohon yang hilang, maupun hubungan statistik antara perubahan habitat dan frekuensi gangguan primata sosial ini.
Dengan begitu, perlu ada penelitian lebih lanjut. Untuk mengujinya, diperlukan pemetaan perubahan tutupan lahan dan inventarisasi sumber pakan alami.
“Juga pengamatan pola pergerakan monyet.”
Mihra merekomendasikan penanaman kembali pohon pakan di habitat asli monyet, sebagai upaya jangka panjang untuk mengurangi konflik. Namun, penanaman pohon tidak memberikan hasil instan. Pohon memerlukan waktu untuk tumbuh, sementara konflik dengan petani bisa berlangsung setiap saat.
Dia menyarankan kerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat dan instansi pemerintah yang berkaitan dengan konservasi satwa untuk menangani persoalan tersebut.
“Kolaborasi bisa jadi langkah awal untuk identifikasi kondisi habitat, menentukan jenis tumbuhan yang sesuai, dan menyusun rencana pemulihan yang melibatkan masyarakat.”
Pemilihan jenis pakan perlu didasarkan pada pengetahuan ekologis mengenai keperluan monyet ekor panjang. Penanaman harus mempertimbangkan kesesuaian habitat dan tidak menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat.
Langkah jangka panjang tersebut perlu disertai upaya perlindungan tanaman yang bisa diterapkan petani.
“Misalnya, pemetaan lokasi rawan gangguan, pengamanan tanaman paling rentan, dan pengujian metode penghalau yang aman bagi satwa.”

Penjagaan aktif
Ilham Kurnia, Manager Program The Long-Tailed Macaque Project, mengatakan konflik antara manusia dan primata yang statusnya belum juga dilindungi negara ini, bukan hanya terjadi di Brebes.
Persoalan serupa ditemukan di berbagai wilayah Indonesia yang masyarakatnya hidup berdampingan dengan macaca.
Hingga kini, belum ada metode yang sepenuhnya efektif untuk mencegah monyet memasuki lahan pertanian dan perkebunan. Sejumlah cara konvensional, terutama bersifat pasif, seperti memasang pagar, orang-orangan sawah, maupun seng di sekitar pohon, dinilai belum mampu berikan perlindungan berkelanjutan.
“Penjagaan kebun secara aktif, merupakan pendekatan lebih efektif,” terang primatolog dan konservasionis asal Padang ini, Jumat (30/10/26).
Berdasarkan penelitian timnya di Simeulue dan sejumlah riset sebelumnya, metode ini mampu menurunkan kerusakan tanaman hingga 80 persen.
Tetapi, keberhasilannya bergantung pada intensitas penjagaan. Petani perlu patroli berkala setiap dua jam, terutama pagi dan sore saat monyet aktif mencari makan.
“Persoalannya, penjagaan aktif membutuhkan waktu dan tenaga tidak sedikit.”

Namun, bagi petani yang mengelola lahan mandiri, menerapkan metode itu setiap hari bukan perkara mudah. Dengan demikian, metode yang terbukti secara teknis, belum tentu mudah diterapkan dalam jangka panjang.
Sisi lain, ilham menilai Indonesia masih menghadapi kesenjangan data mengenai dampak konflik ini. Sejumlah penelitian mencatat kerusakan tanaman dan kerugian berdasarkan laporan petani.
Namun, pengukuran sistematis mengenai kehilangan hasil panen, penurunan pendapatan bersih, hingga pengaruhnya terhadap kesejahteraan rumah tangga petani masih terbatas.
“Kondisi ini, menunjukkan konflik manusia-monyet ekor panjang memerlukan perhatian lebih serius,” katanya.
Keterbatasan data juga terlihat pada penelitian Farid Rifaie dan kolega (2024) di Pulau Jawa. Riset yang membandingkan catatan BKSDA dan pemberitaan media daring periode 2017-2019 itu menghimpun 251 laporan konflik dari BKSDA dan 61 laporan dari media.
Berdasarkan catatan, BKSDA Jawa Timur menerima sebanyak 109 laporan, Yogyakarta (63 laporan), Jawa Tengah (39 laporan), dan Jawa Barat (33 laporan). Sedangkan data media, menunjukkan konsentrasi laporan berada di Wonogiri, Gunung Kidul, Sukoharjo, dan Sukabumi.
Temuan memperlihatkan pentingnya pendataan konflik yang tersandar untuk memahami persebaran gangguan sekaligus merumuskan strategi konservasi berbasis bukti.
Referensi:
Mafaz, M. F., Supartono, T., & Adhya, I. (2026). Upaya Mitigasi Konflik Masyarakat dengan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Wana Raksa, 20(1), 41–55. https://wanaraksa.uniku.ac.id/pub/article/view/53
Rifaie, F., Sulistyadi, E., Fitriana, Y. S., Inayah, N., Maharadatunkamsi, Prameswari, W., & Rusmadipradja, I. A. (2024). Spatial Patterns of Human–Long-Tailed Macaque (Macaca fascicularis) Conflicts in Java Island: A Comparison of Two Secondary Data Sources. Journal of Asia-Pacific Biodiversity, 17(4), 653–662. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2287884X24000839?via%3Dihub
*****
Bagaimana Menutup Celah Pengambilan Monyet Ekor Panjang dari Alam?