Bukit kapur di Asia Tenggara sering diibaratkan pulau di tengah daratan. Setiap bukit dipisahkan dari bukit lain oleh dataran rendah, sungai, hutan, atau perkebunan, sehingga hewan kecil yang hidup di dalamnya hampir tidak pernah berpindah. Dalam rentang waktu yang sangat panjang, keterasingan itu melahirkan banyak spesies endemik yang hanya ditemukan di satu bukit. Jaap Vermeulen, naturalis Belanda yang mendalami keanekaragaman hayati kawasan kapur, memperkirakan satu bukit dapat dihuni 50 hingga 100 spesies siput. Di saat yang sama, batu kapur adalah bahan baku utama semen, sehingga bukit-bukit ini terus diincar industri tambang.
Salah satu korban dari benturan kepentingan itu adalah Plectostoma sciaphilum, siput darat berukuran beberapa milimeter dari Semenanjung Malaysia. Siput ini hanya diketahui hidup di Bukit Panching, sebuah bukit kapur di dekat Kuantan, Negara Bagian Pahang. Sepanjang catatan ilmiah, ia tidak pernah ditemukan di tempat lain. Bukit Panching ditambang pada pertengahan 2000-an, dan habitat satu-satunya itu hilang. International Union for Conservation of Nature (IUCN) kemudian memasukkan spesies ini ke kategori Punah (Extinct) dalam pembaruan Daftar Merah pada akhir 2014.
Siput serasah dari Bukit Panching
Spesies ini pertama kali dideskripsikan pada 1952 oleh ahli moluska Belanda, Willemina van Benthem Jutting, dengan nama Opisthostoma sciaphilum. Spesimen acuannya disimpan di Museum Zoologi Amsterdam, yang koleksinya kini berada di Naturalis Biodiversity Center, Leiden. Nama sciaphilum berasal dari bahasa Yunani dan berarti “penyuka tempat teduh”. Nama ini sesuai dengan kebiasaannya hidup di antara serasah daun di lantai hutan.

Ukurannya sangat kecil. Tinggi cangkangnya hanya 2,6 sampai 2,9 milimeter, dengan lebar sekitar 1,5 milimeter. Bentuknya cembung menyerupai terompet tuba. Seperti kerabatnya dalam genus Plectostoma, cangkangnya melilit secara tidak beraturan dan dihiasi rusuk-rusuk halus. Karena bentuknya yang rumit, para peneliti menjuluki kelompok siput ini “permata mikro”.
Pada 2014, Liew Thor-Seng bersama Jaap Vermeulen, Mohd Erwan bin Marzuki, dan Menno Schilthuizen menerbitkan revisi lengkap genus Plectostoma di jurnal ZooKeys. Mereka mencatat 31 spesies dari Semenanjung Malaysia, Sumatra, dan Indocina, sepuluh di antaranya baru bagi ilmu pengetahuan. Untuk membedakan bentuk cangkang yang hanya beberapa milimeter, Liew menggunakan pemindaian micro-CT yang menghasilkan citra sinar-X tiga dimensi. Dalam kajian yang sama, P. sciaphilum sudah tercatat sebagai spesies yang punah.
Bukit kapur lain juga ditambang
Status punah itu tidak ditetapkan begitu saja. Liew dan rekan-rekannya menyurvei habitat yang sesuai di sekitar lokasi terakhir siput ini diketahui dan tidak menemukan satu individu pun. Survei lanjutan juga memberi hasil yang sama. Karena siput ini hanya pernah tercatat di Bukit Panching, hilangnya bukit itu berarti hilangnya seluruh habitat yang diketahui bagi spesiesnya.

Kasus ini tidak berdiri sendiri. Dalam revisi yang sama, para peneliti memperingatkan bahwa sedikitnya enam spesies Plectostoma lain menghadapi ancaman serupa. Salah satunya Plectostoma tenggekensis, yang hanya hidup di Gunung Tenggek, Pahang, bukit yang juga sedang ditambang. Pada 2016, Tony Whitten dari kelompok spesialis invertebrata gua IUCN menyatakan cukup yakin bahwa siput itu, bersama dua spesies siput lain di kawasan yang sama, kemungkinan besar sudah punah.
Ancaman yang sama terjadi di Perak. Pada 2014, peneliti memberi nama Charopa lafargei kepada siput yang baru ditemukan di Gunung Kanthan. Nama itu diambil dari Lafarge, perusahaan yang menambang bukit tersebut. Pemberian nama itu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa nasib spesies ini ditentukan oleh keputusan perusahaan.
Menno Schilthuizen, peneliti Naturalis yang ikut dalam revisi genus ini, menyebut penghancuran bukit kapur untuk semen sebagai penyebab utama. Menurutnya, beberapa spesies tengah punah di depan mata para peneliti. Ia dan rekan-rekannya mengusulkan agar perusahaan semen tidak diperbolehkan menguasai satu bukit secara utuh. Menurut Schilthuizen, spesies endemik masih bisa bertahan di separuh bukit, selama bagian itu dibiarkan pulih setelah penambangan berhenti.
Persoalan ini relevan bagi Indonesia. Genus Plectostoma juga ditemukan di Sumatra, dan banyak kawasan karst di Indonesia menjadi sumber bahan baku semen. Sebagian besar siput kecil di bukit-bukit kapur itu belum pernah diteliti secara mendalam. Kasus Bukit Panching menunjukkan bahwa izin tambang untuk satu bukit bisa menentukan keberadaan sebuah spesies, termasuk spesies yang belum sempat dikenali ilmuwan.
Referensi:
Liew, T.-S., Vermeulen, J. J., Marzuki, M. E. bin, & Schilthuizen, M. (2014). A cybertaxonomic revision of the micro-landsnail genus Plectostoma Adam (Mollusca, Caenogastropoda, Diplommatinidae), from Peninsular Malaysia, Sumatra and Indochina. ZooKeys, 393, 1–107. https://doi.org/10.3897/zookeys.393.6717