- Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi telah menjelma menjadi krisis kesehatan. Yayasan Suara Sains Terbuka Indonesia (YSSTI) menyebut paparan asap kebakaran mengancam jutaan warga, terutama kelompok rentan. Data Kementerian Kesehatan per 21 Oktober 2026 mencatat 333.470 kasus ISPA di 68 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak. Sebanyak 75.172 kasus atau 22,5% menyerang balita.
- Paparan asap berisiko merusak organ tubuh dalam jangka panjang. Pakar kesehatan menjelaskan asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan PM10, gas beracun seperti karbon monoksida dan nitrogen oksida, serta senyawa karsinogenik. Partikel PM2.5 dapat menembus alveoli hingga pembuluh darah, memicu peradangan, meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, serangan jantung, stroke, serta mengganggu tumbuh kembang anak.
- Walhi Kalimantan Tengah (Kalteng) menyebut kombinasi El Niño dan kerusakan gambut akibat pembukaan lahan skala besar memperparah kebakaran. Luas area terbakar di provinsi itu mencapai lebih dari 81.000 hektare sepanjang Januari–September 2026, sementara Dinas Kesehatan mencatat lebih dari 91.000 kasus ISPA. Walhi juga menyebut 74% titik panas berada di wilayah konsesi perusahaan dan mendesak audit lingkungan serta penindakan terhadap korporasi.
- Karhutla mendominasi kejadian bencana sepanjang 2026. BNPB mencatat lebih dari 1.039 kejadian karhutla dari total 2.231 bencana selama Januari–28 Oktober 2026. Secara keseluruhan, bencana tersebut menyebabkan 427 orang meninggal, 21 hilang, 3.258 luka-luka, dan lebih dari lima juta orang mengungsi. BNPB mengerahkan lebih dari 51.000 personel darat dan 61 armada udara untuk penanganan karhutla di sejumlah wilayah.
Sejumlah aktivis dan pakar kesehatan menyatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda berbagai wilayah di Indonesia tahun ini bukan lagi sekadar bencana ekologi. Lebih dari itu, mereka menyebut peristiwa ini menjelma sebagai krisis kesehatan krusial.
Dalam siaran persnya, Yayasan Suara Sains Terbuka Indonesia (YSSTI) menyebut, kepungan asap tebal beracun yang terus berulang mengancam keselamatan jutaan jiwa masyarakat Indonesia. Terutama, kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, hingga pekerja luar ruangan.
Herawati Supolo Sudoyo, Pembina YSSTI, menyoroti penanganan karhutla yang terlalu fokus pada upaya pemadaman titik api di lapangan. Padahal, dampak kesehatan pada warga yang menghirup asap saban hari membutuhkan perhatian yang tidak kalah mendesak.
Mengutip data Kementerian Kesehatan per 21 Oktober 2026, tercatat akumulasi 333.470 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) melanda 68 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak karhutla, di mana 75.172 kasus (22,5%) antara lain, menyerang balita usia 0–5 tahun dan 258.298 kasus (77,5%) dialami warga usia lebih lima tahun.
Tingkat pencemaran udara pun berada pada level ekstrem. Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) per 27 Oktober 2026 menunjukkan angka berbahaya seperti di Banjarmasin (ISPU 1021-PM10) dan Kabupaten Kapuas (ISPU 660-PM2.5).

Ganggu fungsi organ
Herawati mengatakan, paparan partikel halus PM2.5 secara berulang tidak hanya memicu dampak akut seketika seperti batuk dan serangan asma, juga membawa risiko jangka panjang terhadap penurunan fungsi organ, penyakit kardiovaskular, hingga gangguan tumbuh kembang anak di masa depan.
Karena itu, skema perlindungan kesehatan harus masuk dalam sistem kesiapsiagaan sejak sebelum asap datang, saat kebakaran terjadi, hingga pemantauan medis secara berlanjut setelah langit kembali cerah.
“Setiap kali karhutla terjadi, perhatian kita terlalu sering tertuju pada titik api, sementara ratusan ribu warga yang menghirup asapnya luput dari perlindungan yang memadai,” kata Herawati juga Ketua Komisi Ilmu Kedokteran, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (KIK-API) itu.
“Lebih dari 333.000kasus ISPA dalam dua bulan, dengan puluhan ribu korbannya anak-anak, adalah peringatan keras bahwa terbiasa dengan asap tidak membuat tubuh kita kebal. Perlindungan kesehatan masyarakat harus berjalan terus sejak sebelum asap datang hingga setelah langit kembali cerah,” katanya.
Janang Firman Palanungkai, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalimantan Tengah (Kalteng), menceritakan bagaimana kondisi masyarakat di tapak terdampak bencana karhutla ini.
Kombinasi destruktif antara fenomena iklim El-Niño dan perusakan benteng ekologis lahan gambut akibat pembukaan lahan skala besar telah mengubah kawasan gambut laiknya hamparan bahan bakar.
Data pemantauan satelit mencatat ledakan 7.217 titik panas (hotspot) hanya dalam durasi 24 jam pada pertengahan Oktober 2026, dengan luas area terbakar di Kalteng lebih 81.000 hektar sepanjang Januari-September.
Dampaknya langsung pada kehidupan warga, dari kualitas udara di Palangkaraya sempat menyentuh status berbahaya dengan Indeks Kualitas Udara (AQI) mencapai 2.233 dan konsentrasi polutan PM2.5 sebesar 1.195,5 µg/m³. Dinas Kesehatan Kalteng pun mencatat lebih dari 91.000 kasus ISPA dan melumpuhkan kehidupan lebih dari 2,8 juta penduduk.
Walhi Kalteng menggarisbawahi ada fakta bahwa 74% titik panas justru menumpuk di konsesi perusahaan. Walhi pun mendesak pemerintah audit lingkungan total, mencabut izin korporasi yang lahan konsisten terbakar.
Selain itu, melakukan restorasi gambut secara nyata melalui pembasahan ulang (rewetting), serta memberikan kompensasi kesehatan dan ekonomi penuh bagi warga korban kabut asap. Janang juga meminta para korporat pemilik lahan ditindak secara hukum akibat dampak masif pembakaran lahan ini.
Feni Fitriani Taufik, Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Subspesialis Paru Kerja dan Lingkungan dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), menguraikan bahaya medis akibat takaran racun dalam asap karhutla.
Menurut dia, asap kebakaran bukanlah sekadar kabut biasa, melainkan campuran kompleks partikel mikroskopis (PM2.5 dan PM10), gas beracun seperti Karbon Monoksida (CO) dan Nitrogen Oksida (NOx), serta senyawa karsinogenik seperti benzena dan formaldehida.
Partikel PM2.5 dengan ukuran hanya sepertiga puluh dari diameter rambut manusia mampu menembus jauh hingga ke kantung udara terdalam (alveoli) dan masuk ke pembuluh darah. Dampaknya bisa memicu stres oksidatif, peradangan sistemik, hingga meningkatkan risiko serangan jantung akut, stroke, dan kerusakan sel paru permanen.
“Selain itu, gas Karbon Monoksida memiliki daya ikat terhadap hemoglobin 200 kali lebih kuat dibanding oksigen, merampas suplai oksigen tubuh yang memicu pusing, mual, hingga penurunan kesadaran,” kata Feni.

427 orang meninggal dampak bencana
Berton Panjaitan, Plt. Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, selama Januari-28 Oktober 2026, bencana tercatat 2.231 kali. Dari jumlah itu, bencana hidrometeorologi mendominasi dengan cakupan 91%.
Menurut dia, dari ribuan kejadian bencana itu, 427 orang meninggal dunia, 21 orang hilang, 3.258 luka-luka, dan lebih dari 5 juta orang mengungsi. Berdasar data BNPB, bencana karhutla terbanyak dengan lebih dari 1.039 kejadian, menyusul banjir 587 kejadian dan cuaca ekstrem 340 kejadian. Sisanya, bencana geologi seperti gunung meletus, gempa dan sebagainya.
Penanganan karhutla oleh satgas darat dengan lebih 51.000 personel. Terbanyak, ada di Kalimantan Tengah (Kalteng) dengan 16.000 personel. Satgas udara melibatkan 61 armada, 24 untuk patroli, modifikasi cuaca, dan water bombing dengan helikopter.
Berton katakan, operasi modifikasi cuaca di Kalteng, Kalsel, dan Sumsel berlangsung dengan menyebarkan lebih 22.000 kilogram NaCl atau garam dan dry ice. “Hujan mulai muncul, semoga bisa memadamkan api sampai bagian terdalam,” harapnya dalam perkembangan bencana di Indonesia, secara daring.
Di luar Sumatera dan Kalimantan, ada juga pemantauan karhutla di Papua dan Toraja Utara. Di Papua lebih dari 2.300 hektar terbakar. Dalam 12 jam terakhir, BNPB identifikasi 73 titik api, termasuk di Sorong dan Merauke. Sedangkan di Papua Tengah lebih dari 100 hektar dan Papua Selatan lebih dari 160 hektar terbakar.
“Upaya pemadaman relatif sulit karena beberapa lokasi berada di area yang sulit dijangkau,” katanya.
Di Toraja Utara, area terdampak kebakaran mencapai tujuh hektar, termasuk komplek pemakaman adat di perbukitan. Upaya pemadaman yang berlangsung lebih dari 16 jam berhasil menjinakkan api.

Kekeringan meluas
BNPB juga mencatat bencana kekeringan di Kabupaten Sragen, Boyolali, Jawa Tengah (Jateng), Nganjuk (Jawa Timur) serta Bone dan Bulukumba (Sulawesi) dengan area terdampak lebih dari 100.000 hektar. Pemerintah daerah mengirim lebih dari 400.000 liter air.
Ada juga banjir di Kota Subulussalam, Aceh membuat 177 rumah terendam. Kabupaten labuhanbatu, Sumut dengan terdampak 520 rumah. Di Kalsel selain karhutla juga ada banjir.
Di NTT, dampak gempa bumi juga belum reda. Dari pendampingan pendataan kerusakan rumah gempa NTT, terdata lebih dari 118.000 rumah rusak, terdiri dari rumah rusak berat lebih dari 6.000 di tujuh kabupaten seperti Nagakeo, Ende, Manggarai, Ngada, dan Sikka. Kerusakan rumah disebut akan mendapat bantuan dana.
Saat ini, Indonesia memasuki peralihan dari kemarau ke musim hujan. BMKG memperkirakan musim hujan mulai terjadi pada November-Desember.
Merujuk prakiraan BMKG, puncak musim hujan terjadi pada Desember-Februari. Wilayah kategori tinggi di Aceh (Nagan Raya, Aceh Barat Daya), Sumatera Utara (Pakpak Barat, Tapanuli Tengah, Humbang Hasundutan), Sumatera Barat (Agam, Padang Pariaman, Kota Pariaman, Kota Padang).
Dia meminta pemerintah daerah sebarkan peringatan dini, jalur evakuasi, membersihkan sungai, darinase, dan saluran air lainnya. Selain itu waspadai tanah longsor dan retakan, dan pantau air keruh di hilir sebagai penanda kemungkinan longsor di hulu.

*****
Masyarakat Sipil Asia Pasifik Sebut Kebakaran Hutan sebagai Ekosida