Kasus malaria pada manusia sudah jauh berkurang dalam beberapa dekade terakhir, meski kemajuannya mulai melambat di sejumlah kawasan. Di Asia Tenggara, perhatian kini juga tertuju pada jenis malaria yang berasal dari monyet. Parasit penyebabnya, Plasmodium knowlesi, secara alami hidup di tubuh monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan beruk, lalu dapat berpindah ke manusia lewat gigitan nyamuk Anopheles. Di Indonesia, kasus pertama pada manusia tercatat di Kalimantan Selatan pada 2010, lalu menyusul laporan dari sejumlah provinsi lain di Kalimantan dan Sumatera, termasuk Aceh dan Sumatera Utara.
Sumatera Utara mencatat 377 kasus malaria knowlesi pada manusia pada 2017, tetapi nyamuk yang menularkannya belum pernah diketahui. Studi yang terbit di jurnal Scientific Reports tahun ini memberi petunjuk pertama dari sebuah desa di Kabupaten Langkat yang dikelilingi kebun sawit. Para peneliti memastikan lewat tes DNA bahwa dua spesies nyamuk, Anopheles dirus dan Anopheles scanloni, ada di Indonesia, sesuatu yang belum pernah dikonfirmasi sebelumnya. Pada sebagian An. dirus, mereka juga menemukan DNA parasit malaria monyet sekaligus malaria manusia.
Dua Spesies yang Nyaris Kembar
Penelitian dilakukan di dua dusun di Desa Ujung Bandar, Kecamatan Salapian. Desa ini berada di daerah perbukitan pada ketinggian 300 hingga 600 meter di atas permukaan laut, dikelilingi perkebunan sawit, kebun campuran milik warga, dan petak-petak hutan yang sudah terganggu. Lokasinya dipilih berdasarkan peta risiko yang memperhitungkan sebaran nyamuk, keberadaan monyet, kepadatan penduduk, dan jenis lahan, serta karena kasus malaria knowlesi pada warga pernah ditemukan di sana pada 2022 hingga 2023.

Cara pengumpulan nyamuknya cukup sederhana. Petugas berjaga di lokasi pengamatan sepanjang malam, dari pukul 18.30 sampai 06.00, lalu menangkap setiap nyamuk yang hinggap di kulit mereka. Metode yang dalam bahasa Inggris disebut human landing catch ini direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai cara paling andal untuk menangkap nyamuk yang sedang mencari darah, dan dilakukan empat malam setiap bulan dari Juli 2022 hingga Juni 2023.
Dari tangkapan itu, 597 nyamuk termasuk dalam satu kelompok yang beberapa anggotanya dikenal sebagai penular malaria monyet di Asia Tenggara. Persoalannya, spesies-spesies dalam kelompok ini nyaris kembar dan hampir mustahil dibedakan hanya dengan melihat bentuk tubuhnya. Padahal, spesies yang berkerabat dekat bisa berbeda dalam kebiasaan menggigit, tempat beristirahat, dan kepekaan terhadap insektisida, sehingga salah identifikasi bisa membuat upaya pengendalian meleset.

Karena itu, tim memeriksa DNA setiap nyamuk. Hasilnya, 584 ekor atau 97,8 persen adalah An. dirus, sedangkan 13 ekor sisanya adalah An. scanloni. Sebelumnya, An. dirus dikenal dari Thailand, Myanmar, Kamboja, Laos, Vietnam, dan Pulau Hainan di China selatan, sementara An. scanloni hanya tercatat di sepanjang perbatasan Myanmar dan Thailand.
Temuan ini sekaligus memperluas peta sebaran kedua spesies tersebut hingga ke Sumatera. Para peneliti juga mencatat bahwa metode lama untuk membedakan nyamuk-nyamuk kembar ini kerap memberi hasil yang kurang tepat. Artinya, sebagian catatan tentang An. dirus di tempat lain mungkin sebenarnya mencampur lebih dari satu spesies.
Jejak Parasit Monyet dan Manusia
Setelah spesiesnya diketahui, tim mencari jejak parasit malaria di bagian kepala dan dada nyamuk. Dari 584 ekor An. dirus, enam ekor terbukti membawa DNA parasit yang bisa dikenali jenisnya, dan semuanya membawa lebih dari satu jenis parasit sekaligus. Tiga di antaranya membawa DNA Plasmodium knowlesi, atau sekitar 0,5 persen dari seluruh An. dirus yang diperiksa.
Selain knowlesi, nyamuk-nyamuk itu juga membawa DNA parasit malaria monyet jenis lain. Empat ekor bahkan membawa DNA Plasmodium vivax, salah satu parasit penyebab malaria pada manusia. Jejak malaria monyet dan malaria manusia dengan demikian sama-sama ditemukan pada nyamuk dari spesies yang sama. Untuk sebagian sampel, jenis parasitnya belum bisa dipastikan karena beberapa di antaranya berkerabat sangat dekat. Adapun 13 ekor An. scanloni tidak membawa DNA parasit sama sekali.
Penting dicatat bahwa temuan DNA belum berarti nyamuk tersebut pasti menularkan malaria. Tes DNA hanya menunjukkan bahwa materi genetik parasit ada di tubuh nyamuk, belum memastikan bahwa parasit sudah berkembang menjadi bentuk yang siap berpindah lewat gigitan. Karena itu, para penulis menyebut An. dirus sebagai vektor potensial, yaitu kemungkinan penular, meski di daratan Asia Tenggara spesies ini sudah lama dikenal sebagai penular malaria monyet maupun malaria manusia.
Sebagai pembanding, di Sabah, Malaysia, angka serupa tercatat 0,9 persen pada 2015 pada nyamuk Anopheles balabacensis, yang dikenal sebagai penular utama malaria knowlesi di sana. Angka di Langkat memang lebih rendah. Meski begitu, para peneliti menyebut temuan ini sebagai bukti pertama dari sisi nyamuk tentang kemungkinan penular malaria knowlesi di wilayah tersebut. Selama ini, kasus pada manusia sudah dilaporkan, tetapi nyamuk pembawanya belum pernah teridentifikasi.
Temuan ini relevan bagi Sumatera Utara, yang berpenduduk sekitar 15,3 juta jiwa pada 2023 dengan lebih dari separuhnya tinggal di perdesaan. Para peneliti menilai masih banyak yang belum diketahui tentang An. dirus di Sumatera, mulai dari jam menggigit, hewan yang lebih disukainya, hingga faktor lingkungan yang memengaruhi sebarannya. Mereka merekomendasikan pemantauan yang lebih intensif serta penelitian dengan jumlah sampel lebih besar untuk memastikan peran kedua nyamuk ini dalam penularan malaria di wilayah tersebut.
**
Referensi:
Sebayang, B. F., van de Straat, B., Kurniawan, A., Haq, A. M., Garjito, T. A., Saeung, M., Manguin, S., Lubis, I. N. D., Grigg, M. J., Russell, T. L., & Burkot, T. R. (2026). First molecular confirmations of Anopheles dirus and Anopheles scanloni in Indonesia, with DNA of zoonotic, enzootic and human malarias detected in An. dirus. Scientific Reports, 16, 11572. https://doi.org/10.1038/s41598-026-42478-z