- Orang Dayak Meratus miliki cara sendiri untuk memaknai dan menafsirkan mimpi. Bagi mereka, momen itu bukan sekadar bunga tidur.
- Pinan, sesepuh adat Dayak Meratus yang tinggal di desa tertinggi Juhu, bilang, saat seseorang bermimpi melihat matahari dan bulan terbenam bisa jadi memiliki tafsir berbeda. Matahari terbenam biasanya mereka kaitkan dengan kematian laki-laki, sedangkan bulan terbenam dengan kematian perempuan.
- David Breckenridge, antropolog University of Toronto, secara khusus membahas pemaknaan mimpi dalam catatannya “Apakah Budaya Tafsir Mimpi Itu Masih Modern?” yang dia tulis untuk Mongabay.
- Ketertarikan terhadap pemaknaan mimpi dalam kehidupan masyarakat Dayak Meratus sebelumnya juga pernah Anna Lowenhaupt Tsing, antropolog Amerika Serikat, bahas. Dia mengulas kehidupan spiritual masyarakat Meratus melalui bukunya “Di Bawah Bayang-Bayang Ratu Intan” pada 1998.
Masyarakat Adat Dayak Meratus, Kalimantan Selatan (Kalsel), miliki cara memaknai mimpi. Bukan hanya bunga tidur, mimpi memiliki beragam tafsiran sebagai pertanda yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Juga, pengingat untuk berhati-hati memperlakukan alam.
Pinan, sesepuh adat Dayak Meratus yang tinggal di desa tertinggi Juhu, bilang, saat seseorang bermimpi melihat matahari dan bulan terbenam bisa jadi memiliki tafsir berbeda. Matahari terbenam biasa mereka kaitkan dengan kematian laki-laki, sedangkan bulan terbenam dengan kematian perempuan.
Pria 64 tahun ini bilang, penafsiran juga berkaitan dengan kekerabatan. Matahari dapat diibaratkan ayah, sedangkan bulan sebagai ibu.
Mimpi melihat matahari atau bulan terbit juga memiliki tafsir tersendiri. Matahari terbit mereka kaitkan dengan kelahiran anak laki-laki, sementara bulan terbit dengan kelahiran anak perempuan.
Masyarakat, katanya, tidak memandang semua mimpi pertanda baik. Mimpi membunuh binatang tertentu, seperti beruang, musang, atau ular, seringkali dianggap membawa peringatan.
Mimpi membunuh beruang mereka tafsirkan kemungkinan datangnya bahaya. Sementara itu, membunuh musang dengan perasaan gelisah atau sakit hati. Adapun mimpi membunuh ular mereka hubungkan dengan kemungkinan terjadinya kematian akibat tindakan manusia terhadap manusia lain.
Mimpi tergigit ular juga masyarakat pandang sebagai pertanda. Dalam penuturannya, ada pula kemungkinan mimpi tentang ular berkaitan dengan kedatangan anak atau anggota keluarga.
Di balik penafsiran mimpi, dia mengingatkan agar manusia tidak sembarangan mengambil atau merusak hewan dan tumbuhan. Menurut dia, manusia tidak seharusnya bertindak sembarangan terhadap makhluk hidup, terutama jika tidak memiliki keperluan untuk mengambil atau merusaknya.

Kaitan dengan berladang
Penafsiran mimpi juga bersinggungan dengan aktivitas sehari-hari, termasuk ketika seseorang hendak bepergian atau ke ladang.
Mimpi kehujanan, misal, dapat dihubungkan dengan kesedihan atau tangisan. Tangisan itu kemudian ditafsirkan memiliki kaitan dengan turunnya hujan atau kemungkinan seseorang mengalami kesedihan.
“Kalau kita bermimpi sedang menangis, nah besok itu bisa jadi hujan,” katanya.
Sebaliknya, mimpi melihat buah atau air bah ketika hendak pergi ke ladang bisa jadi pertanda baik. Mimpi semacam itu mereka pandang membawa harapan hasil yang baik dalam perjalanan maupun kegiatan menanam.
Meski demikian, masyarakat tidak selalu menjadikan mimpi sebagai satu-satunya penentu keputusan. Dalam kegiatan menugal atau menanam padi, misal, waktu pelaksanaan juga mengikuti perhitungan bulan yang terwariskan secara turun-temurun.
Menurut Pinan, pada Oktober, November, dan Desember warga pandang sebagai waktu yang baik memulai penanaman. Dalam hitungan tradisional, Oktober sebagai bulan keempat, November bulan kelima, dan Desember bulan keenam.
Ketika waktu menugal telah ditentukan dan persiapan lengkap, kegiatan itu tetap berlangsung tanpa harus menunggu mimpi tertentu. Dengan demikian, mimpi menjadi salah satu bagian dari pengetahuan yang menyertai kehidupan, bukan satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan.
“Tetapi kalau mimpinya pas saat musim menanam bisa jadi berpengaruh.”

Bukan budaya primitif
David Breckenridge, antropolog University of Toronto, secara khusus membahas pemaknaan mimpi dalam catatannya “Apakah Budaya Tafsir Mimpi Itu Masih Modern?” yang dia tulis untuk Mongabay.
Menurut dia, teori modernisasi yang berkembang pada awal abad ke-20 sudah tidak relevan untuk melihat keragaman budaya saat ini. Istilah seperti “modern” dan “primitif”, “berkembang” dan “maju”, serta “Dunia Ketiga” seharusnya tidak lagi terpakai dalam percakapan sehari-hari, kecuali untuk kepentingan kritik.
Semakin jauh manusia mempelajari kebudayaan, makin jelas tidak ada budaya yang terbelakang atau tertinggal. Tidak ada pula budaya yang lebih maju dari budaya lainnya.
Setiap kebudayaan hidup dan berkembang pada masa yang sama. Perbedaan tradisi bukan berarti perbedaan zaman. Karena itu, kata David, budaya tafsir mimpi tidak dapat begitu saja masyarakat pandang sebagai praktik yang ketinggalan zaman.
Selama ini, pemahaman tentang mimpi kerap merujuk pada psikoanalisis Sigmund Freud dan Carl Jung, yang pemikirannya berkembang abad ke-20.
Namun, ketergantungan pada dua tokoh Eropa itu memperlihatkan cara pandang modernisasi masih memengaruhi sumber pengetahuan yang penting. Baginya, pemahaman tentang mimpi seharusnya juga tergali dari masyarakat yang masih menjalankan tradisi penafsirannya, seperti masyarakat adat Dayak Meratus.
“Praktik tersebut bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari cara masyarakat memahami kehidupan dan lingkungan sekitarnya.”
Dalam kehidupan masyarakat adat, mimpi dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan lokasi ladang. Mereka tempatkan sebagian ladang di perbukitan untuk menghindari banjir, sementara lokasi lain di dataran rendah untuk menghadapi kemungkinan kekeringan.
David merujuk kajian Michael Dove mengenai pertanian Masyarakat Suku Iban Kantu pada 1970-an. Dalam penelitian itu, pengaturan lokasi ladang melalui penafsiran mimpi dan ramalan dipahami sebagai bentuk adaptasi terhadap cuaca dan iklim Kalimantan yang sulit terprediksi.
Namun, penjelasan yang hanya melihat fungsi praktis tradisi itu belum penuh menjangkau maknanya. Karena ada pertanyaan lebih mendasar, misal, kapan manusia sebaiknya menerima ketidaktahuan (unknowability), baik tentang alam maupun alam bawah sadar, daripada terus mengumpulkan informasi yang belum tentu menghasilkan pemahaman lebih baik.
Tradisi penafsiran mimpi dan ramalan, terangnya, menyimpan pelajaran penting bagi manusia yang hidup dalam era informasi. Penafsiran mimpi (oneiromancy) termasuk ramalan burung (ornithomancy) memperlihatkan kesadaran masyarakat adat terhadap keterbatasan manusia dalam memahami alam, makhluk lain, diri sendiri, masa depan, dan pergantian musim tropis.
Akibatnya, kesadaran akan keterbatasan itu melahirkan sikap rendah hati.Sebab manusia tidak selalu mampu mengetahui, mengatasi, atau mengendalikan segala sesuatu.
“Membaca pertanda melalui mimpi dan perilaku burung, dengan demikian, bukan hanya bagian dari tradisi spiritual. Praktik itu juga dapat dipahami sebagai bentuk kerendahan hati (humility) sekaligus adaptasi ekologis dalam menghadapi dinamika alam yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi.”

Pengalaman spiritual
Ketertarikan terhadap pemaknaan mimpi dalam kehidupan masyarakat Dayak Meratus sebelumnya juga pernah Anna Lowenhaupt Tsing, antropolog Amerika Serikat, bahas. Dia mengulas kehidupan spiritual masyarakat Meratus melalui bukunya “Di Bawah Bayang-Bayang Ratu Intan” pada 1998.
Dalam kajiannya, Anna mendokumentasikan mimpi dan ekspresi spiritual seorang perempuan Meratus bernama Induan Hiling. Pembahasan ini juga secara khusus tertuang dalam esainya Riding the Horse of Gaps: A Meratus Woman’s Spiritual Expression.
Dalam pengalamannya, mimpi bukan sekadar bunga tidur. Induan Hiling percaya ayahnya yang telah meninggal menyampaikan ajaran kepadanya melalui momen itu.
Pengalaman itu kemudian berkembang setelah dia memperoleh bimbingan dari sosok-sosok spiritual lainnya. Awalnya, Induan Hiling mengalami keadaan ketika dirinya bernyanyi dan menari tanpa dapat mengendalikan diri. Keluarga suaminya bahkan menganggapnya tidak waras.
Dia kemudian berkonsultasi dengan Uma Adang, perempuan yang memiliki pengetahuan spiritual. Hingga mulai memahami pengalaman itu sebagai bagian dari perjalanan spiritualnya.
Dari pengalaman, dia mulai mengembangkan kemampuan sebagai calon balian atau pemimpin ritual penyembuhan. Dia tidak hanya menyampaikan pengalaman spiritual melalui nyanyian, tetapi menuangkannya dalam bentuk gambar dan tulisan yang muncul dari pengalaman mimpi.
Anna mendokumentasikan sejumlah gambar yang Induan Hiling buat. Salah satunya menggambarkan perjalanan spiritual melintasi gunung, batu, rerumputan, dan pepohonan.

Dalam gambar lainnya, ida membuat semacam tulisan yang berasal dari pengetahuan spiritual yang dia terima melalui mimpi. Salah satu gambar itu, bukan sekadar benda yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pemaknaan masyarakat Meratus yang dia dokumentasikan, kapal gerbang dapat menjadi kendaraan perjalanan spiritual.
Induan Hiling bahkan menggambarkan dirinya sebagai pesawat yang mengalami dan menggerakkan perjalanan di alam mimpi. Gambar tersebut juga memiliki fungsi yang lebih jauh daripada sekadar dokumentasi pengalaman tidur.
Anna mencatat, saudara perempuan Induan Hiling yang menderita kusta sebagai bagian dari proses penyembuhan yang menyimpan gambar itu.
Jadi, gambar yang bersumber dari mimpi juga hadir dalam praktik ritual penyembuhan. Bagi Anna, pengalaman Induan Hiling memperlihatkan hubungan antara mimpi, pengetahuan spiritual, dan tradisi perdukunan masyarakat Meratus.
Mimpi menjadi sumber inspirasi yang kemudian terwujud melalui bentuk ekspresi budaya, seperti gambar, nyanyian, dan ritual. Kisah ini juga memperlihatkan pengalaman mimpi memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan spiritual perempuan Meratus.
Induan mengembangkan cara pengungkapan yang berbeda dari tradisi ritual yang selama itu lebih banyak didominasi laki-laki. Melalui gambar dan nyanyian, dia membangun ruang baginya untuk menyampaikan pengetahuan dan pengalaman spiritual.

*****
Jelajah Meratus: Energi Surya Terangi Desa Tertinggi di Kalimantan Selatan [3]