- Ikan Pelangi Boeseman, ikan endemik dari Danau Ayamaru, Sorong, Papua Barat Daya, terkenal unik karena memiliki pola warna "separuh-separuh" atau Half-and-half colouration.
- Warna ikan jantan matang sangat berbeda dibandingkan sebagian besar spesies ikan pelangi (rainbowfish) lainnya. Lalu setengah tubuh bagian depan dan kepala berwarna abu-abu kebiruan terang hingga hampir kehitaman, sedangkan setengah tubuh bagian belakang serta sirip-siripnya berwarna oranye-merah terang.
- Habitat ikan ini berada di Danau Ayamaru. Bagi masyarakat adat Maybrat, Danau Ayamaru tidak hanya sebagai sumber penghidupan bagi sekitar 25.000 jiwa Suku Ayamaru, melainkan juga sebagai pilar identitas budaya dan kehidupan sosial yang tak terpisahkan.
- Ikan pelangi boeseman statusnya terancam punah akibat eksploitasi berlebihan serta adanya spesies asing atau predator yang dimasukkan ke danau (seperti ikan mas dan ikan gastor/gabus) yang memangsa telur dan benih ikan pelangi Boeseman muda.
Kepala dan bagian depan tubuhnya abu-abu kebiruan. Kadang hampir kehitaman, dengan sirip dan bagian belakang tubuh sebagian besar berwarna merah jingga. Di belakang sirip dada, terdapat garis vertikal terang dan gelap selang-seling. Ukuran tubuhnya dapat mencapai maksimum 12 cm, tetapi biasanya kurang dari 10 cm.
Itulah penampakan ikan pelangi boeseman (Melanotaenia boesemani). Di dunia, ikan ini hanya tercatat di sebuah tempat kecil Pulau Papua, tepatnya di Danau Ayamaru, Kabupaten Maybrat, serta beberapa danau di sekitarnya seperti Aitinjo (Aitinyo) dan Uter, Papua Barat Daya.
Ikan ini baru dideskripsikan tahun 1980 oleh ilmuwan Gerald Allen dari spesimen yang dikumpulkan ahli ikan Belanda, Marinus Boeseman, pada Maret 1955 di sekitar Ayamaru. Nama boesemani kemudian disematkan sebagai penghormatan untuk sang kurator ikan tersebut, Marinus Boeseman. Meski demikian, pada label spesimen 1955 itu tercatat nama lokal bagi orang-orang Maybrat untuk ikan ini: sekiak.
Secara umum, namanya sering disebut ikan pelangi boeseman dan memiliki ciri fisik unik serta punya perbedaan seksual (dimorfisme seksual) yang sangat jelas antara jantan dan betina.
Sang jantan sangat mencolok dengan warna abu-abu kebiruan terang (kadang hampir kehitaman) pada kepala hingga setengah tubuh bagian depan, serta warna oranye-merah terang pada setengah tubuh bagian belakang dan sirip-siripnya.
Sementara betina, memiliki garis membujur gelap yang lebar di tengah tubuh, diiringi deretan garis-garis longitudinal sempit berwarna kuning atau oranye-kemerahan. Betina tua kadang menunjukkan warna mirip jantan subordinat.
Keunikan paling menonjol yang membuat ikan pelangi boeseman populer di kalangan pencinta ikan hias global karena disebut memiliki pola warna “separuh-separuh” (Half-and-half colouration), yakni warna ikan jantan matang sangat berbeda jika dibandingkan sebagian besar spesies ikan pelangi (rainbowfish) lainnya. Lalu, setengah tubuh bagian depan dan kepala berwarna abu-abu kebiruan terang hingga hampir kehitaman, sedangkan setengah tubuh bagian belakang serta sirip-siripnya oranye-merah terang.
Di batas antara kedua area warna tersebut (tepat di belakang sirip dada), terdapat garis-garis vertikal terang dan gelap selang-seling. Karena keindahan dan keunikannya, ikan ini dijuluki sebagai “The Pearl of Irian Jaya” atau Mutiara dari Irian Jaya (nama Papua saat itu), dalam publikasi hobi akuarium internasional oleh Gerald Allen pada 1984.
Spesimen hidup, pertama kali dikumpulkan dari kawasan Danau Ayamaru pada November 1982 oleh Gerald Allen dan penjelajah Heiko Bleher. Bleher membawa spesimen hidup tersebut ke Eropa untuk dibudidayakan dan didistribusikan ke seluruh dunia, serta dikirim ke Australia.

Hidup di danau yang unik
Habitat ikan ini berada di wilayah Danau Ayamaru, terletak sekitar 120 km Timur-Tenggara Sorong. Di hulu Sungai Ayamaru adalah daerah pegunungan Semenanjung Vogelkop, Papua Barat. Wilayah ini berisi sejumlah danau air tawar kecil dan rawa-rawa terkait. Danau Ayamaru mengalir ke timur melalui Danau Hain (yang terdiri dua danau lebih kecil) ke Sungai Ayamaru, anak sungai hulu Sungai Kais yang mengalir ke laut di bagian selatan.
Dalam publikasi ilmiah berjudul “Fish Diversity and Water Quality of Ayamaru Lake, West Papua, (2021), dijelaskan bahwa Danau Ayamaru adalah danau jenis karst yang terletak di Distrik Ayamaru, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat. Danau ini berada pada ketinggian 280–435 meter di atas permukaan laut dengan luas permukaan sekitar 980 hektar (luas ekosistem perairan mencapai 2.500 hektar) dan kedalaman rata-rata 30 meter.
Struktur perairan danau ini terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu Yahu (bagian atas), Yate (bagian bawah), dan Ikri (area penampungan air sungai). Terdapat enam sungai utama yang mengalir ke danau ini, yaitu Sungai Ela, Ismayi, Framu, Mosway, Tetsayoh, dan Bawi.
“Danau Ayamaru memiliki tingkat keanekaragaman ikan yang tinggi, baik ikan konsumsi maupun ikan hias bernilai ekonomi tinggi. Danau ini merupakan habitat asli bagi spesies endemik langka seperti ikan pelangi boeseman (Melanotaenia boesemani),” tulis Hidayah dan kolega di Sriwijaya Journal of Environment.
Berdasarkan data penelitian itu juga, status konservasi dan populasi alami ikan pelangi boeseman berada berstatus Genting (Endangered). Padahal, ikan ini spesies endemik Danau Ayamaru, tetapi tingkat kelimpahannya di perairan danau saat ini dikategorikan sangat jarang atau sulit ditemukan.
Ancaman utamanya adalah eksploitasi berlebihan, yakni penangkapan secara masif untuk komoditas perdagangan ikan hias, karena memiliki nilai ekonomi dan harga jual tinggi. Selain itu, adanya spesies asing atau predator yang dimasukkan ke danau (seperti ikan mas dan ikan gastor/gabus) yang memangsa telur dan benih ikan pelangi boeseman muda.
“Ancaman lainnya adalah pembukaan hutan di sekitar catchment area menyebabkan sedimentasi tinggi dan penurunan volume air danau secara signifikan (sebagian area danau mengering sejak tahun 2005), sehingga mengganggu habitat terbatas spesifik tempat hidupnya,” tulis para peneliti lagi.

Danau bagi masyarakat Maybrat
Studi terbaru berjudul, “Collaborative Governance Model in the Preservation of Lake Ayamaru Based on Local Wisdom in Maybrat Regency” (2026), mengatakan bahwa masyarakat adat Maybrat memandang Danau Ayamaru tidak hanya sebagai sumber penghidupan bagi sekitar 25.000 jiwa Suku Ayamaru, melainkan juga sebagai pilar identitas budaya dan kehidupan sosial.
Satu praktik yang paling menonjol adalah sasi, larangan adat untuk memanen ikan dan sumber daya alam lain dalam jangka waktu tertentu agar alam pulih. Selain itu, terdapat kawasan keramat di sekitar danau yang tidak boleh dirusak, dibuka, atau dicemari. Pelanggar dapat dikenai sanksi atau denda adat oleh marga atau lembaga adat.
Area sakral yang dilarang keras untuk dirusak dan dibuka (ditebang untuk lahan baru) ini bertindak sebagai zona konservasi alamiah. Siapa saja yang melanggar aturan adat atau merusak lingkungan danau, akan dijatuhi sanksi atau denda adat oleh pihak marga atau lembaga adat setempat.
“Praktik ini memberikan waktu jeda bagi ekosistem perairan dan populasi ikan, seperti ikan endemik Melanotaenia boesemani, untuk beregenerasi dan pulih secara alami,” tulis Kambu dan kolega.

Menurut laporan Department of Climate Change, Energy, the Environment and Water, Australia, (2023), pada pertengahan 1980-an, penangkapan liar secara masif terjadi di Danau Ayamaru untuk memenuhi permintaan pasar ikan hias internasional (diperkirakan hingga 60.000 ekor jantan ditangkap per bulan atau mencapai 1 juta ekor per tahun). Eksploitasi berlebihan ini sempat mendorong populasi liar ke ambang kepunahan. Walaupun pasokan pasar saat ini utamanya berasal dari hasil budidaya penangkaran (captive breeding), namun penangkapan liar di masa lalu berdampak sangat signifikan terhadap populasi alaminya.
Dokumen pemerintah Australia tersebut menyajikan laporan pengkajian lingkungan mengenai potensi impor ikan pelangi boeseman ke Australia untuk keperluan hias, serta membahas aspek legalitas, risiko ekologis, dan mengevaluasi apakah spesies ini berpotensi menjadi hama invasif jika dilepas ke perairan di Australia.
Melalui data dari berbagai penelitian, disimpulkan bahwa ikan endemik dari Danau Ayamaru ini relatif aman bagi manusia, aman dengan spesies lain, dan kini banyak dibudidayakan di fasilitas akuakultur untuk memasok pasar akuarium global. Dijelaskan lagi bahwa usaha pembiakan komersial di Indonesia telah berlangsung sejak 1983–1986 (sebagian besar berpusat di sekitar Jakarta). Selain Indonesia, pembiakan komersial juga berkembang di Eropa dan Amerika Serikat.
“Saat ini, sebagian besar pasokan ikan pelangi boeseman dalam perdagangan hias internasional berasal dari hasil pembiakan penangkaran komersial. Hal ini meminimalkan kebutuhan untuk menangkap individu langsung dari habitat aslinya,” tulis laporan tersebut.
Referensi:
ANGFA Queensland. (n.d.). Melanotaenia boesemani. Australia New Guinea Fishes Association. https://rainbowfish.angfa.org.au/Boesemani.htm
Department of Climate Change, Energy, the Environment and Water. (2023). A draft report to address the potential environmental impacts associated with the importation of a Melanotaenia boesemani, Boeseman’s Rainbowfish for use as an ornamental fish species. Australian Government. https://www.dcceew.gov.au/sites/default/files/documents/melanotaenia-boesemani-report-2023.pdf
Hidayah, T., Marson, Ali, M., Suryati, N. K., & Muthmainnah, D. (2021). Fish diversity and water quality of Ayamaru Lake, West Papua. Sriwijaya Journal of Environment, 6(1), 1–7. https://doi.org/10.22135/sje.2021.6.1.1-7
Kambu, G. L. P. A., Augustinah, F., & Haryati, E. (2026). Collaborative governance model in the preservation of Lake Ayamaru based on local wisdom in Maybrat Regency. International Journal of Technology and Education Research, 4(2), 534–550. https://e-journal.citakonsultindo.or.id/index.php/IJETER/article/view/5438
*****