Hampir semua laut di dunia dapat dikenali dari garis pantainya. Laut Jawa dibatasi oleh Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatra, sementara Laut Mediterania dikelilingi oleh Eropa, Afrika, dan Asia Barat. Di Indonesia, banyak laut lain yang batasnya ditentukan oleh gugusan pulau, seperti Laut Banda dan Laut Flores. Bahkan laut yang terbuka ke samudra, seperti Laut Karibia, tetap memiliki daratan di sebagian sisinya, baik berupa benua maupun rangkaian pulau. Dalam pemetaan resmi, garis pantai dan garis khayal yang menghubungkan tanjung atau pulau terluar menjadi acuan utama untuk menandai di mana sebuah laut berakhir.
Di Samudra Atlantik Utara, ada satu laut yang tidak memenuhi ketentuan tersebut.
Laut Sargasso membentang sekitar 1.100 kilometer lebarnya dan 3.200 kilometer panjangnya di sebelah timur Amerika Utara, dengan Kepulauan Bermuda berada di dalam kawasannya. Batasnya ditentukan oleh empat arus, yaitu Arus Teluk atau Gulf Stream di barat, Arus Atlantik Utara di utara, Arus Kenari di timur, dan Arus Khatulistiwa Utara di selatan. Digerakkan oleh angin pasat, angin barat, dan rotasi Bumi, keempat arus itu berputar searah jarum jam dan membentuk pusaran subtropis Atlantik Utara. Laut Sargasso berada di bagian tengah pusaran ini, dengan air yang relatif tenang, lebih asin daripada perairan di sekitarnya, dan sangat jernih karena miskin nutrisi. Karena posisi arus bergeser dari waktu ke waktu, batas dan luas laut ini juga tidak pernah benar-benar tetap. Tanpa bersentuhan dengan daratan mana pun, laut ini disebut sebagai satu-satunya laut di dunia tanpa pantai.
Hamparan Sargassum sebagai Tempat Berlindung dan Memijah
Nama laut ini berasal dari rumput laut cokelat marga Sargassum yang mengapung di permukaannya. Dua spesies utamanya, Sargassum natans dan Sargassum fluitans, hidup sepenuhnya di laut lepas tanpa menempel di dasar. Keduanya terapung berkat kantung udara kecil berbentuk bulat dan berkembang biak dari potongan tubuhnya. Pelaut Portugis menyebut alga ini sargaço, konon karena kantung udaranya mirip buah anggur kecil. Hamparannya bisa berupa gumpalan kecil seukuran kepalan tangan hingga barisan panjang yang terlihat dari kapal maupun citra satelit.
Hamparan alga ini sudah tercatat sejak pelayaran Christopher Columbus pada September 1492. Dalam catatan pelayarannya, Columbus menyebut rumput laut yang terlihat di permukaan dan sempat menduga daratan sudah dekat. Sebagian awak kapalnya justru khawatir kapal mereka akan tersangkut di tengah rumput laut yang terlihat lebat. Kekhawatiran itu tidak terbukti karena Sargassum tidak cukup rapat untuk menahan kapal, dan daratan baru mereka temukan beberapa minggu kemudian.

Bagi satwa laut, hamparan Sargassum berfungsi layaknya hutan terapung di tengah perairan terbuka yang minim tempat berlindung. Lebih dari 100 spesies invertebrata, termasuk udang, kepiting, dan siput kecil, hidup di antara helai-helainya. Ikan kodok sargassum (Histrio histrio) bahkan memiliki warna dan bentuk tubuh yang menyerupai alga ini, sehingga sulit dikenali oleh pemangsa maupun mangsanya.
Ikan-ikan muda dari berbagai jenis, termasuk lemadang (Coryphaena hippurus), berkumpul di bawah hamparan untuk mencari makan. Tukik penyu tempayan (Caretta caretta) yang menetas di pantai-pantai Florida berenang ke laut lepas dan memanfaatkan hamparan Sargassum di Atlantik Utara untuk berlindung serta mencari makan pada tahun-tahun awal hidupnya. Karena sulit dilacak, periode tersebut dahulu dikenal para peneliti sebagai tahun-tahun yang hilang atau lost years.

Laut Sargasso juga diyakini sebagai satu-satunya lokasi pemijahan belut Eropa (Anguilla anguilla) dan belut Amerika (Anguilla rostrata). Petunjuk awalnya datang dari ahli biologi Denmark Johannes Schmidt, yang pada awal abad ke-20 menelusuri larva belut di Atlantik dan menemukan larva terkecil di kawasan ini. Hingga kini, pemijahan kedua spesies belum pernah teramati langsung di alam, tetapi pada 2022 pelacakan satelit untuk pertama kalinya merekam belut Eropa dewasa yang mencapai Laut Sargasso.
Belut dewasa bermigrasi ribuan kilometer dari sungai-sungai di Eropa dan Amerika Utara untuk memijah di sini, lalu mati. Larvanya yang pipih dan transparan kemudian terbawa arus kembali ke pesisir kedua benua dalam perjalanan berbulan-bulan hingga lebih dari setahun. Belut Eropa kini berstatus Kritis dalam Daftar Merah IUCN, dan di antara tekanan bagi populasinya adalah bendungan yang menghalangi migrasi serta penangkapan anakan belut.
Menghangat, Makin Asam, dan Menampung Sampah
Perairan di sekitar Bermuda termasuk kawasan laut terbuka yang paling lama dipantau secara rutin. Stasiun Hydrostation S beroperasi sejak 1954 dengan pengambilan sampel sekitar dua minggu sekali, disusul program Bermuda Atlantic Time-series Study (BATS) pada 1988 dengan pelayaran bulanan di bawah Bermuda Institute of Ocean Sciences. Keduanya mengukur suhu, salinitas, oksigen, karbon, dan plankton dari permukaan hingga laut dalam, sehingga menyediakan data jangka panjang yang jarang tersedia untuk laut lepas.
Analisis empat dekade pengamatan, dari 1983 hingga 2023, menunjukkan suhu permukaan laut di kawasan ini naik sekitar 1 derajat Celsius. Pada periode yang sama, karbon dioksida terlarut di air laut terus meningkat seiring kenaikan kadar gas tersebut di atmosfer, dan pH air laut menurun. Proses yang dikenal sebagai pengasaman laut ini dapat menyulitkan organisme bercangkang kapur, seperti pteropoda dan sebagian plankton, dalam membentuk cangkangnya.

Pemanasan juga memengaruhi pencampuran air. Setiap musim dingin, suhu permukaan turun hingga sekitar 18 sampai 20 derajat Celsius dan air permukaan tercampur dengan lapisan di bawahnya, membentuk massa air yang dikenal sebagai Eighteen Degree Water. Ketika permukaan makin hangat, pencampuran ini cenderung melemah sehingga pasokan oksigen ke lapisan dalam dan nutrisi ke permukaan ikut berkurang. Bagi laut yang sejak awal miskin nutrisi seperti Laut Sargasso, perubahan ini dapat memengaruhi pertumbuhan plankton yang menjadi dasar rantai makanan.
Pusaran arus yang membatasi Laut Sargasso juga mengumpulkan sampah dari berbagai penjuru Atlantik. Survei jaring permukaan di pusaran subtropis Atlantik Utara pada 1986 hingga 2008 menemukan serpihan plastik dengan kepadatan di beberapa titik melampaui 200.000 keping per kilometer persegi. Sebagian besar serpihan itu berukuran kurang dari satu sentimeter, hasil pecahan barang plastik yang lebih besar.
Peta posisi Laut Sargasso di Atlantik Utara, yang dikelilingi oleh Arus Teluk, Arus Atlantik Utara, Arus Kenari, dan Arus Khatulistiwa Utara. Keempat arus ini berputar searah jarum jam dan menjadi batas laut yang tidak bersentuhan dengan daratan mana pun. Warna jingga menandai Sabuk Sargassum Atlantik Raya, hamparan alga di Atlantik tropis yang terpisah dari Laut Sargasso. Peta: López Miranda dkk. (2021), divektorkan oleh SyntaxTerror/Wikimedia Commons/Domain Publik
Serpihan ini bercampur dengan hamparan Sargassum dan dapat tertelan oleh tukik penyu maupun ikan kecil yang mencari makan di sana. Tukik yang masih kecil tergolong rentan karena cenderung memakan benda yang mengapung di sekitarnya. Selain sampah, lalu lintas kapal yang melintasi kawasan ini menambah kebisingan bawah laut dan risiko pencemaran minyak.
Upaya perlindungan tidak mudah karena sebagian besar Laut Sargasso berada di luar yurisdiksi negara mana pun, kecuali zona ekonomi eksklusif Bermuda. Pada 2014, Bermuda bersama Azores, Monako, Inggris, dan Amerika Serikat menandatangani Deklarasi Hamilton yang melahirkan Komisi Laut Sargasso. Sejak itu, sejumlah negara lain ikut bergabung sebagai penanda tangan.
Komisi ini tidak berwenang mengatur secara langsung, sehingga bekerja dengan mendorong lembaga perikanan dan pelayaran internasional untuk memperhatikan kawasan ini. Berlakunya Perjanjian Keanekaragaman Hayati di Luar Yurisdiksi Nasional (BBNJ) pada Januari 2026 membuka jalur hukum baru untuk menetapkan kawasan lindung di perairan lepas. Perjanjian ini mengatur tata cara pengusulan kawasan lindung oleh negara pihak, yang kemudian diputuskan melalui konferensi para pihak.
**
Referensi:
Bates, N. R., & Johnson, R. J. (2023). Forty years of ocean acidification observations (1983–2023) in the Sargasso Sea at the Bermuda Atlantic Time-series Study site. Frontiers in Marine Science, 10, 1289931. https://doi.org/10.3389/fmars.2023.1289931