- Kemarau panjang tahun 2015, menyebabkan kekeringan dan kebakaran hutan dan kebun di Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Kondisi itu mendorong sebuah keluarga mengubah kebun sawitnya menjadi sebuah kelekak.
- Kelekak yang kini dikelola Komunitas Kelekak Bangka, selain memiliki tanaman durian, rambutan, duku, yang berusia belasan hingga puluhan tahun, juga ditanam beragam jenis tanaman baru, seperti nyatoh, pelawan, aren, puren, durian, mentaon, binjai puspa, dan langsat.
- Keberhasilan Komunitas Kelekak Bangka mengelola kelekak tersebut, membuat beberapa pemuda desa di Kecamatan Mendo Barat, turut menyelamatkan kelekak yang bertahan atau masih ada.
- Upaya melestarikan kelekak di Kepulauan Bangka Belitung harus didukung berbagai pihak. Bukan hanya masyarakat, juga perguruan tinggi, organisasi nonpemerintah, dan pemerintah.
Kemarau panjang tahun 2015, membuat sebagian besar hutan dan kebun sawit di Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, mengalami kekeringan, dan sebagian terbakar. Masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Sumur, sungai, serta paya atau rawa kecil, sebagian besar mengering.
Setelah musim kemarau berakhir, Asmadi (60) dan Andre, anaknya, secara bertahap menebangi puluhan pohon sawit yang sudah berusia lima tahun di kebun mereka. Alasannya, mereka tidak ingin pohon sawit sawit yang membutuhkan banyak air akan membuat kebun mereka kembali kering. Hanya pohon durian, rambutan, dan duku dibiarkan tumbuh.
Sebelum ditanami sawit, kebun Asmadi adalah kelekak berusia ratusan tahun, yang luasnya satu hektar. Kelekak itu dibuat buyutnya. Beragam buah ditanam, seperti durian, rambutan, manggis, puren, ketapi, pelen, tampui, duku, windu, nyatoh, cempedak, ketep, dan lainnya. Saat dijadikan kebun sawit, sebagian besar pohon buah tersebut ditebang.
“Bapak saya menginginkan kebun kembali menjadi kelekak,” kata Andre (30), akhir Agustus 2026.
Mereka kemudian menanam bibit pohon nyatoh, pelawan, aren, puren, durian, mentaon, binjai puspa, dan langsat.
Kelekak adalah agroforestry, hutan adat masyarakat melayu di Kepulauan Bangka Belitung. Hutan adat ini dimiliki setiap klan atau keluarga, yang diwariskan turun menurun. Kelekak berada di sekitar kebun lada dan karet. Selama ratusan tahun tidak ada kelekak yang berubah menjadi kebun karet atau lada. Tapi, sejak berkembangnya perkebunan sawit dan penambangan timah liar di Kepulauan Bangka Belitung, banyak kelekak yang hilang atau berubah fungsi.

Perubahaan bentang alam di Desa Zed lebih dikarenakan perkebunan sawit. Di wilayah desa ini tidak ditemukan penambangan timah. “Timah di sini sudah diampak para leluhur kami. Pasir timahnya ada, tapi kosong atau tidak berisi.”
Dijelaskan Andre, rendahnya harga getah karet dan selalu gagalnya berkebun lada selama 15 tahun terakhir, membuat banyak warga di desanya mengubah kebun karet dan lada menjadi kebun sawit. Bahkan, beberapa kelekak diubah menjadi kebun sawit.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, terhitung tahun 2024, luas perkebunan sawit di kepulauan tersebut sekitar 355.056 hektar. Perkebunan ini bukan hanya dikelola perusahaan juga masyarakat. Di Desa Zed tidak ada perkebunan sawit milik perusahaan, semuanya milik masyarakat. Luasnya sekitar 2.000-an hektar.

Selama membangun kembali kelekak, Andre mendapat bantuan sejumlah pemuda di Desa Zed. Mereka memiliki kesadaran yang sama, mengembalikan keberadaan kelekak. Sebab, kelekak bukan hanya menjadi penjaga air tanah, sumber pangan, juga menjadi ruang bagi satwa.
“Dulunya belasan anak muda yang aktif di sini. Tapi, yang bertahan hingga saat ini sekitar 14 orang. Latar belakangnya beragam, ada petani, buruh, mahasiswa, hingga pecinta alam,” jelas Andre.
Tahun 2025 lalu, mereka membentuk komunitas, namanya “Kelekak Bangka”. Saat terbentuk bertambah lima anggota yang berasal dari Mentok dan Pangkalpinang. “Mereka ini para pecinta alam dan mahasiswa,” katanya.
Saat musim kemarau 2026 ini, kelekak yang dikelola Komunitas Kelekak Bangka tetap mengalami kekeringan. Tapi kekeringannya tidak seperti tahun 2015 lalu. Air masih didapatkan dari Sungai Lon, yang berada di belakang kelekak. Meskipun airnya menyusut, tapi air itu cukup untuk kebutuhan mandi dan mencuci, serta menyiram tanaman di kelekak.
“Yang membahagiakan tidak satu pun tanaman di kelekak mati, apalagi terbakar. Berbeda saat kemarau ekstrem 2015 itu.”

***
King tiba-tiba saja melompat ke seorang pengunjung. Dia memeluk dan menyodorkan kepalanya ke arah wajah pengunjung tersebut. Saat badannya mau disentuh, King tiba-tiba melompat. Pergi. Dia berlari ke sana kemari, dan berakhir di atas pohon rambutan. Menyantap beberapa lembar daun muda rambutan.
King adalah lutung kelabu (Trachypithecus cristatus) berusia delapan bulan. “King ini juga anggota komunitas kami,” kata Ucup (18), anggota Komunitas Kelekak Bangka. “Dia ramah dengan setiap pengunjung,” lanjutnya.
King yatim piatu. Dia tidak lagi memiliki bapak dan ibu. “Bapak dan ibunya mati ditembak seorang warga. Dianggap hama di kebunnya,” kata Andre.
Warga itu kemudian memberikan King yang masih bayi kepada anak-anak yang bermain sepakbola. King diikat di tiang gawang.
“Tetangga kami melihat King, merasa kasihan. King dibawanya pulang, dan diserahkan kepada orang tua saya. Ibu saya buru-buru memberinya susu, dan merawatnya hingga saat ini,” jelas Andre.
Sebulan kemudian King sering dibawa ke kelekak. Dia dikenalkan beragam makanan dari alam, seperti dedaunan dan buah-buahan. “Tapi dia tetap diberi susu hingga saat ini.”

Kelekak dan kebun karet milik keluarga Andre, menjadi rumah sejumlah satwa liar. Misalnya, mentilin (Cephalopachus bancanus bancanus) yang tercatat sekitar enam individu, mengkubung (Galeopterus variegatus) sebanyak 12 individu, kukang bangka (Nycticebus bancanus) sebanyak dua individu, enam individu lutung kelabu, serta sejumlah burung, seperti tikusan ceruling (Rallina fasciata) dan cekakak (kingfisher).
Biaya perawatan kelekak didapatkan dari donasi para pengunjung kelekak secara sukarela yang dikirim ke nomor rekening Komunitas Kelekak Bangka. “Kami juga mendapat masukan dari sejumlah kegiatan, seperti memfasilitasi pendakian ke Gunung Maras atau mengunjungi sejumlah pulau kecil di sekitar Pulau Bangka,” kata Popo alias Riki, anggota Komunitas Kelekak Bangka, yang sering bertugas menjadi guide pendakian Gunung Maras di Pulau Bangka.
Keberadaan Komunitas Kelekak Bangka menjadi inspirasi sejumlah pemuda desa di Kecamatan Mendok Barat. Mereka meminta dukungan Andre dan kawan-kawan untuk menyelamatkan sejumlah kelekak. Misalnya, di Desa Labuh Air Pandan, Desa Tiang Tara, Desa Kemuja, dan Desa Sempan.
“Selain mengidentifikasi kekayaan flora dan fauna di kelekak yang akan diselamatkan, kami juga membantu pembentukan komunitas bersama pemerintah desa,” kata Andre.
“Target kami menyelamatkan sebanyaknya kelekak di Pulau Bangka.”

Fitri Ramdhani, sosiolog dari Univeritas Bangka Belitung yang pernah menulis artikel “Kelekak dan Masa Depan Pangan Bangka Belitung” menilai keinginan Komunitas Kelekak Bangka untuk menyelamatkan kelekak di Kepulauan Bangka Belitung tersisa, harus didukung.
“Bukan hanya oleh masyarakat, perguruan tinggi, organisasi nonpemerintah, juga pemerintah,” kata Fitri, pertengahan September 2026.
Kekeringan di Pulau Bangka dan Belitung pada saat musim kemarau yang disertai El Nino saat ini, telah menyebabkan krisis air di sejumlah wilayah, merupakan pengalaman berharga yang dapat menjadi pendorong untuk menyelamatkan kelekak tersisa. Termasuk, melahirkan kelekak-kelekak baru.
“Sebab, faktanya wilayah di sekitar kelekak kekeringan tidak terlalu ekstrem, atau masih didapatkan air bersih,” jelasnya
*****