Dua Kali Dinyatakan Punah, Populasi Ular Paling Langka di Dunia Kini Hanya 20 Ekor, Semuanya di Satu Pulau

Di lepas pantai selatan Saint Lucia, sebuah pulau kecil bernama Maria Major menjadi rumah terakhir bagi satu-satunya populasi ular Erythrolamprus ornatusyang tersisa di dunia. Spesies yang juga dikenal sebagai Saint Lucia Racer ini sempat dinyatakan punah, ditemukan kembali, lalu diragukan keberadaannya untuk kedua kalinya sebelum akhirnya dipastikan masih bertahan hidup. Kini populasinya diperkirakan hanya sekitar 20 ekor, seluruhnya hidup di satu pulau seluas 12 hektare, menjadikan spesies ini kandidat kuat sebagai ular paling langka di Bumi. Kisah ular ini menarik bukan hanya karena jumlahnya yang sedikit, tapi karena perjalanannya yang naik turun selama hampir dua abad. Ia sempat dianggap hilang dari muka bumi, muncul kembali secara mengejutkan, lalu nyaris terlupakan lagi sebelum akhirnya dipastikan masih ada.

Dinyatakan Punah, Ditemukan Kembali, Lalu Diragukan Lagi

Erythrolamprus ornatus pertama kali dideskripsikan secara ilmiah pada 1851 oleh zoolog Inggris Albert Günther, kurator reptil di British Museum. Günther mencatat ular ini sebagai penghuni hutan kering dataran rendah Saint Lucia, salah satu pulau utama di Lesser Antilles, Karibia. Pada masa itu, ular ini bukan makhluk asing bagi penduduk setempat. Ia dikenal jinak dan tidak berbahaya, sering terlihat berjemur di siang hari di antara semak dan bebatuan dataran rendah, dengan warna coklat keabu-abuan dan garis samar di sepanjang tubuhnya yang membuatnya mudah menyatu dengan lingkungan sekitar.

Memasuki akhir abad ke-19, lanskap ekologis Saint Lucia berubah cepat. Perluasan perkebunan tebu mendorong introduksi musang kecil India (Herpestes javanicus) untuk mengendalikan tikus ladang. Niat awal ini sebenarnya baik, tapi musang ternyata lebih suka berburu di siang hari, saat ular justru sedang aktif, sehingga telur dan anak ular menjadi mangsa yang mudah didapat. Tikus hitam (Rattus rattus) turut menekan populasi reptil endemik ini. Dalam beberapa dekade saja, populasi ular yang dulu tersebar di berbagai penjuru Saint Lucia menyusut drastis hingga sulit ditemukan lagi. Tidak ada lagi laporan penampakan di daratan utama sejak akhir 1800-an, dan pada 1936 komunitas ilmiah menyatakan spesies ini punah.

St Lucia Racer. Setelah terakhir terlihat pada tahun 1936, ular ini dinyatakan punah. Namun hampir empat dekade kemudian, ia muncul kembali | Foto oleh Josh Noseworthy – (CC BY-SA)
St Lucia Racer. Setelah terakhir terlihat pada tahun 1936, ular ini dinyatakan punah. Namun hampir empat dekade kemudian, ia muncul kembali | Foto oleh Josh Noseworthy – (CC BY-SA)

Hampir empat dekade kemudian, pada 1973, seekor individu ditemukan di Maria Major, pulau kecil tanpa musang di lepas pantai selatan Saint Lucia. Penemuan itu sempat menjadi kabar gembira, namun setelahnya konfirmasi lapangan kembali jarang terjadi, sehingga muncul keraguan baru: apakah populasi ini benar-benar masih bertahan, atau hanya tersisa satu individu yang kebetulan ditemukan. Keraguan itu baru terjawab lewat survei intensif yang dilakukan tim peneliti pada Oktober 2011 hingga Maret 2012, yang akhirnya memastikan ular ini masih hidup dan berkembang biak di Maria Major.

Populasi Terkecil di Dunia, Bertahan di Satu Pulau

Survei yang dilakukan antara tahun 2011-2012 menemukan 11 individu di Maria Major dan memperkirakan populasi total sekitar 18 ekor. Angka ini konsisten dengan estimasi lain yang menyebut sekitar 20 ekor tersisa di alam liar. Dengan jumlah sekecil itu, Saint Lucia Racer masuk kategori Kritis dalam daftar spesies terancam punah, satu tingkat di bawah benar-benar punah di alam liar. Status ini berarti ular tersebut berada di ambang kepunahan. Jika terjadi satu bencana besar saja, misalnya badai kuat yang menyapu Maria Major, seluruh populasi yang tersisa bisa lenyap dalam waktu singkat.

Letak St Lucia | Britannica.com

Ular tak berbisa ini dapat tumbuh hingga sekitar 1,2 meter dan memangsa kadal-kadal kecil serta reptil dan serangga lain di lantai hutan. Karena seluruh populasinya hidup di satu pulau seluas 12 hektare, kira-kira seukuran 17 lapangan sepak bola, spesies ini sangat rentan terhadap satu peristiwa tunggal, mulai dari badai tropis dan kebakaran hingga masuknya kembali predator asing seperti tikus atau musang.

Untuk mengurangi risiko itu, tim konservasi telah menuntaskan program pembasmian tikus di Maria Major, sehingga pulau tersebut kini bebas dari predator asing utama. Populasi ular dipantau secara berkala oleh para peneliti, sementara sejumlah lembaga internasional tengah menyiapkan fasilitas penangkaran untuk membangun populasi cadangan di luar Maria Major. Jika berhasil, langkah ini akan menjadi kali pertama Erythrolamprus ornatus hidup di lebih dari satu lokasi dalam lebih dari satu abad terakhir.

**

Referensi

Williams, R. J., Ross, T., Morton, M., Daltry, J., & Isidore, L. (2016). Update on the natural history and conservation status of the Saint Lucia racer, Erythrolamprus ornatus Garman, 1887 (Squamata: Dipsadidae). Herpetology Notes, 9, 157-162.

Kredit

Topik

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil

Sisi lain kehidupan semut menyimpan rahasia luar biasa yang sering terlewatkan. Dari fosil purba yang merekam jejak ribuan tahun lalu hingga kebiasaan ekstrem modern seperti menyengat, menyerang jaringan listrik, dan menghadapi ancaman predator, serangga kecil ini terus berevolusi dengan strategi yang cerdas. Keragaman jenis, keunikan perilaku, serta daya tahan tubuhnya membuktikan bahwa ukuran bukanlah penghalang […]

Artikel terbaru

Semua artikel