- Anhar Lubis merupakan dokter hewan kaya pengalaman menangani kehidupan gajah sumatera.
- Bagi Anhar, menemukan gajah terjerat berarti berpacu dengan waktu. Makin lama satwa bertahan dalam kondisi tersebut, makin besar risiko lukanya.
- Menolong satwa liar berarti siap menerima risiko terluka. Anhar pernah terluka serius ketika menyelamatkan seekor harimau sumatera terjerat jerat babi di Desa Batu Godang, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Dia digigit di punggung serta dicakar pada lengan dan paha. Anhar tidak pernah menyalahkan harimau.
- Anhar bukan hanya menyelamatkan satwa, tetapi juga menyiapkan orang-orang yang akan meneruskan perjuangan menyelamatkan satwa liar Indonesia.
Anhar Lubis akhirnya menemukan Salma di dalam goa, pada 18 Juni 2019, pukul 15.00 WIB. Enam jam sebelumnya, dia bersama Tim Perlindungan Satwa Liar Forum Konservasi Leuser (FKL) berjalan menyusuri hutan Gampong Batu Sumbang, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur. Anhar ditemani Ardiansyah, Ali Prestiono, dan Endang Suherman.
Saat ditemukan, kaki kiri depan anak gajah sumatera betina itu hampir putus akibat jerat kawat baja pemburu. Tubuhnya dehidrasi berat dan sulit bergerak. Anhar dan tim kesulitan mengeluarkan Salma, lebih dari dua jam mereka berjibaku menarik Salma keluar.
“Saya bangga melihat kegigihan tiga anak muda itu,” tuturnya, Selasa (11/8/26).
Pertolongan pertama diberikan, tetapi, Salma belum benar-benar selamat. Anhar dan tim masih menggiringnya keluar hutan menuju Conservation Response Unit Serbajadi, Aceh Timur. Mereka baru bisa menggiring Salma pukul 03.00 WIB dini hari.
Bagi Anhar, pengalaman ini bukan hal asing. Sekitar 30 tahun, hidupnya dihabiskan untuk merawat satwa liar terluka. Namun, gajah sumatera memiliki tempat khusus dalam perjalanan panjangnya sebagai dokter hewan.
Sejak 2006, Anhar menjadi dokter hewan utama dalam Program Perawatan Kesehatan Gajah (Elephant Health Care Program) yang dijalankan Vesswic. Sebelumnya, dia menangani gajah di Yayasan Gajah Sumatera.
“Saya keliling Sumatera, memastikan kesehatan gajah jinak yang ditempatkan di pusat pelatihan gajah (PLG).”

Anhar lahir di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, pada September 1968. Sejak kecil, dia terbiasa melihat satwa liar di sekitar hutan Ulu Masen. Dia memperoleh gelar profesi dokter hewan di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala pada 1996.
Karirnya dimulai di Medan Zoo pada 1996, dari asisten dokter hewan, kemudian dokter senior, hingga manajer 2003. Kebun binatang menjadi ruang belajar penting baginya.
“Saya mempelajari anatomi, perilaku, dan psikologi berbagai satwa.”
Pada 2001, Anhar sempat bergabung dengan Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP). Dia menangani orangutan yang diselamatkan dari perburuan dan perdagangan, termasuk bayi yang terpisah dari induknya.
Pengalaman itu mengajarkannya bahwa merawat satwa liar tidak hanya soal menyembuhkan tubuh. Ada trauma yang harus dipulihkan. Ada kepercayaan yang harus dibangun kembali. Dan ada kemungkinan satwa tersebut harus dikembalikan ke alam.
“Tetapi gajah menghadirkan tantangan berbeda. Ukuran tubuhnya besar. Kebutuhan ruang hidupnya luas. Mereka hidup dalam kelompok dan memiliki ikatan sosial kuat.”

Dokter di tengah konflik
Pada 2019, Anhar bergabung dengan Forum Konservasi Leuser (FKL) sebagai Koordinator Leuser Rescue Team. Di sini, pekerjaannya hanya sebagai dokter hewan, tapi juga menjadi penengah konflik warga dengan gajah dan satwa liar lain.
“Kadang, yang dibutuhkan bukan cuma tindakan medis, tapi komunikasi. Kita harus bisa bicara dengan warga, dengan bahasa yang mereka pahami dan logika yang bisa diterima.”
Hutan yang menyempit, membuat gajah kehilangan ruang jelajah dan sumber makanan. Ketika memasuki kebun masyarakat, mereka dianggap mengancam tanaman dan mata pencaharian warga.
“Setiap kali gajah masuk kebun, selalu ada risiko dibunuh, diracun, atau dipasang jerat.”

Kisah Salma memperlihatkan persoalan paling nyata, yaitu jerat.
Jerat yang dipasang manusia tidak mengenal satwa apa yang akan menjadi korban. Ketika mengenai gajah, menimbulkan luka parah pada kaki, menghambat pergerakan, menyebabkan infeksi, bahkan berujung kematian.
Bagi Anhar, menemukan gajah terjerat berarti berpacu dengan waktu. Makin lama satwa bertahan dalam kondisi tersebut, makin besar risiko lukanya. Ketika satu individu terluka atau terpisah dari kelompok, persoalannya tidak selalu berhenti pada luka fisik.
“Tapi juga psikologis.”

Risiko terluka
Menolong satwa liar berarti siap menerima risiko terluka. Pada 24 April 2022, Anhar terluka serius ketika menyelamatkan seekor harimau sumatera terjerat jerat babi di Desa Batu Godang, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Anhar menembakkan obat bius ke paha harimau, namun obat belum bekerja ketika satwa itu menyerangnya.
Dia digigit di punggung serta dicakar pada lengan dan paha. Anhar harus dirawat intensif di rumah sakit.
“Saya yang salah, kakinya lagi sakit karena jerat, tapi saya coba mendekat. Dia sedang trauma manusia, tapi kita ganggu. Satwa liar bukan musuh, melainkan makhluk yang bertahan hidup dengan naluri,” kenangnya.
Pengabdian Anhar mendapat penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2022. ahun yang sama, ASEAN Centre for Biodiversity memberikan penghargaan ASEAN Biodiversity Heroes kepadanya. Namun, Anhar tidak melihat dirinya sebagai pahlawan.
“Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma dokter hewan yang cinta hutan dan isinya.”
Bagi Anhar, menyelamatkan satu individu gajah berarti menyelamatkan lebih dari satu individu. Ada kelompok yang dipertahankan, ada ekosistem yang memiliki penghuni, dan ada masa depan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Saya tidak mau nanti gajah hanya dilihat di film. Kita punya ilmu, tenaga, dan kemampuan menjaganya.”

Dedikasi penuh
Rudi Putra, Conservation Advisor Forum Konservasi Leuser (FKL), mengatakan Anhar telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk satwa liar Indonesia, terutama gajah sumatera.
“Dia milik Indonesia. Ketika ada satwa yang membutuhkan pertolongan, dimanapun lokasinya, Anhar selalu siap membantu,” jelasnya, Selasa (11/8/26).
Menurut Rudi, jika ada satwa liar terluka, Anhar seperti lupa umurnya. Tidak peduli siang atau malam, selama ada satwa yang harus diselamatkan, dia akan berangkat ke lokasi.
“Sebagai koordinator, dia sebenarnya bisa bekerja di balik meja. Tetapi, Anhar memilih turun langsung dan hampir selalu ikut penyelamatan satwa.”

Dalam perjalanan panjang itu, dia beberapa kali berhadapan dengan situasi yang membahayakan nyawanya. Dia pernah diserang satwa yang sedang diselamatkan, baik gajah maupun harimau.
“Namun, pengalaman tersebut tidak pernah membuatnya jera atau menjauh dari dunia satwa liar.”
Kini, Anhar mulai melatih sejumlah dokter hewan muda di FKL serta membagikan pengalaman dan pengetahuannya.
“Bagi kami, Anhar istimewa. Dia bukan hanya menyelamatkan satwa, tetapi juga menyiapkan orang-orang yang akan meneruskan perjuangan menyelamatkan satwa liar Indonesia.”
*****