- Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali erupsi. Warga pun berharap kondisi ini tidak berlarut.
- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, warga Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpang Empat, saat ini telah mengungsi ke Posko Penanganan Darurat di Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran. Pendataan sementara per 1 September, sekitar 211 keluarga atau 615 warga Desa Kuta Tengah berada di lokasi pengungsian. Sementara itu, warga Desa Payung, masih bertahan di rumah masing-masing dengan tetap bersiaga. Pemerintah daerah bersama unsur terkait terus memantau kondisi masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak.
- Armen Putra,Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Sinabung, mengatakan, tim vulkanologi Badan Geologi mendeteksi erupsi sejak pukul 10.17 WIB. Letusan Sinabung menghasilkan kolom abu vulkanik berwarna hitam pekat setinggi 3.500 meter di atas puncak atau sekitar 5.960 meter di atas permukaan laut, teramati condong ke arah timur dan tenggara.
- Antonius Ginting, Bupati Karo, mengimbau warga di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Sinabung waspada potensi lahar dingin. Desa-desa dalam radius 3–4,5 kilometer dari puncak masuk zona larangan permanen, yaitu Desa Sukanalu, Sigarang-garang, Kuta Gugung, Gamber, Berastepu, Bekerah, Simacem, dan Kuta Tonggal.
Badan Geologi Sumatera Utara (Sumut) menaikan status aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, menjadi Level III (Siaga) pasca gunung api aktif itu kembali erupsi, Senin (31/8/26) pagi, pukul 10.17 WIB. Warga pun berharap fenomena geologis itu tidak berlangsung lama dan kembali stabil seperti tahun 2023.
Kembaren Ketaren, warga Desa Sukanalu, mengaku melihat erupsi sekitar pukul 10.00 WIB. Dia mengajak istrinya berlindung di pondok sambil memantau arah sebaran abu. Sebelumnya, dua bulan terakhir, dia mengamati asap tipis keluar dari puncak, namun tidak menganggapnya mengkhawatirkan.
Saat erupsi, dia sedang memanen wortel lebih dari 75 kilogram dan markisa sekitar 42 kilogram. Hasil kebun dia hendak kirim ke Berastagi dan menjualnya ke penampung maupun Pasar Buah Berastagi.
“Mudah-mudahan Sinabung reda dan tidak erupsi lagi seperti tahun 2023,” katanya.
Dia sadar risiko tinggal di Sinabung. Satu sisi, aktivitas vulkanisme memang membuat subur, tetapi sisi lain, aktivitas vulkanisme itu mengancam keberadaan warga.
Kajian ilmiah Sutawidjaja, Iguchi, dan Pusat Penelitian Pertanian, Kementerian Pertanian menyebut, Sinabung gunung api strato atau kerucut berlapis yang terbentuk pada zaman Pleistosen hingga Holosen. Batuan penyusun utamanya berjenis basaltik-andesit hingga andesit, kaya mineral plagioklas, piroksen, dan hornblenda. Material vulkanik yang dilapuk mengandung unsur hara kalsium, magnesium, kalium, dan fosfor yang tinggi sehingga menjadi tanah sangat subur bagi pertanian.

Mengungsi
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, warga Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpang Empat, saat ini telah mengungsi ke Posko Penanganan Darurat di Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran. Pendataan sementara per 1 September, sekitar 211 keluarga atau 615 warga Desa Kuta Tengah berada di lokasi pengungsian.
Sementara itu, warga Desa Payung, masih bertahan di rumah masing-masing dengan tetap bersiaga. Pemerintah daerah bersama unsur terkait terus memantau kondisi masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak.
Armen Putra,Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Sinabung, mengatakan, tim vulkanologi Badan Geologi mendeteksi erupsi sejak pukul 10.17 WIB. Letusan Sinabung menghasilkan kolom abu vulkanik berwarna hitam pekat setinggi 3.500 meter di atas puncak atau sekitar 5.960 meter di atas permukaan laut, teramati condong ke arah timur dan tenggara.
Fenomena itu terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 120 millimeter dan durasi sekitar 61 menit 48 detik, aktivitas vulkanik masih terpantau hingga pukul 11.14 WIB.
Dia bilang, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menerbitkan Laporan Khusus Nomor 1441.Lap/GL.03/BGL/2026 yang resmi menaikkan status Sinabung ke Level III (Siaga). Gunung ini sebelumnya berada di Level II (Waspada) sejak 17 Mei 2023.
Selama 1–30 Agustus 2026, Sinabung tercatat mengeluarkan asap kawah berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal, ketinggian 50–1.000 meter dari puncak. Vegetasi di lereng timur juga teramati menguning dan mengering.
Mereka menetapkan radius aman 3 kilometer dari puncak dengan radius sektoral 6 kilometer ke arah selatan–tenggara. Warga yang telah direlokasi sejak lama tidak mereka izinkan kembali ke zona terdampak.

Abu pekat
Sejauh ini, dari 22 desa di tiga kecamatan yang terdampak sebaran abu, Kecamatan Berastagi mencatat abu pekat di 10 desa, delapan desa di Kecamatan Naman Teran abu tipis hingga sedang, dan wilayah perkotaan Kabanjahe terkena sebaran abu lanjutan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karo memastikan belum ada pengungsi tercatat hingga Senin sore.
Antonius Ginting, Bupati Karo, mengimbau warga di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Sinabung waspada potensi lahar dingin. Desa-desa dalam radius 3–4,5 kilometer dari puncak masuk zona larangan permanen, yaitu Desa Sukanalu, Sigarang-garang, Kuta Gugung, Gamber, Berastepu, Bekerah, Simacem, dan Kuta Tonggal.
PVMBG sudah menyarankan warga tidak beraktivitas di dalam zona tersebut. Namun saran itu belum disertai perintah evakuasi wajib.
Dia bilang, lokasi ekowisata Desa Kuta Gugung hanya melakukan antisipasi parsial, mengosongkan kawasan Danau Lau Kawar dan membagikan masker kepada warga. Tidak ada evakuasi massal. Sebagian besar warga tetap tinggal di rumah-rumah mereka, melanjutkan pekerjaan kebun meski debu vulkanik berlapis di atap dan halaman.
“Pemerintah Kabupaten langsung bergerak memberikan masker kepada warga agar tidak terhirup debu vulkanik, pembagian masker diperluas ke Kecamatan Dolat Rayat dan Merdeka,” katanya.
Kawasan wisata Berastagi sempat tertutup kabut abu vulkanik setelah erupsi. Jarak pandang pun menurun, meskipun demikian, jalan utama penghubung Berastagi menuju Kabanjahe masih dapat kendaraan lalui.
Kasat Lantas Polres Tanah Karo, AKP Andita Sitepu, menyatakan jarak pandang masih dalam batas aman dan pengalihan arus baru dilakukan apabila kondisi memburuk.
“Jarak pandang masih aman, lalu lintas Berastagi normal, petugas bersiaga antisipasi dampak abu vulkanik.”

*****
Ribuan Hektar Tanaman Pertanian Rusak Terdampak Letusan Sinabung