Selama bertahun-tahun, ilmuwan percaya bahwa kelahiran tanpa pembuahan pada hewan hanya terjadi di tempat penangkaran seperti kebun binatang. Kasus semacam ini pernah tercatat pada ular piton dan komodo yang bertahun-tahun hidup sendirian tanpa pejantan, lalu tiba-tiba menghasilkan telur yang bisa menetas. Fenomena ini biasa disebut kelahiran perawan, atau dalam istilah ilmiah disebut partenogenesis. Karena hanya terlihat pada hewan yang terisolasi, banyak peneliti menganggapnya sebagai semacam jalan pintas darurat, bukan sesuatu yang wajar terjadi di alam. Namun penelitian pada ular kepala tembaga liar di Amerika Serikat mengubah anggapan itu.
Ular kepala tembaga sendiri adalah salah satu ular berbisa yang cukup umum dijumpai di wilayah timur dan tengah Amerika Serikat. Ular ini biasa hidup di hutan, semak belukar, dan area berbatu, serta dikenal karena pola warnanya yang menyerupai daun kering, sehingga sulit terlihat di lantai hutan. Di luar cara reproduksinya yang unik ini, ular kepala tembaga juga dikenal sebagai predator penyergap yang mengandalkan kamuflase untuk menangkap mangsa seperti tikus, katak, dan serangga.
Penemuan di Alam Liar
Penelitian ini dipimpin oleh Warren Booth, yang saat itu bekerja di North Carolina State University. Tim peneliti mengumpulkan ular kepala tembaga (Agkistrodon contortrix) betina yang sedang bunting dari alam liar di Connecticut, lalu membiarkan mereka melahirkan di laboratorium. Ular-ular ini bukan hewan koleksi yang sengaja dipisahkan dari pejantan, melainkan individu yang diambil langsung dari populasi liar tempat perkawinan biasa terjadi setiap tahun. Setelah anak-anak ular lahir, tim memeriksa susunan genetik induk dan anaknya menggunakan sejumlah penanda genetik, untuk melihat apakah ada kontribusi genetik dari pejantan.

Hasilnya cukup mengejutkan. Dari 22 kelahiran yang diperiksa, satu di antaranya ternyata tidak memiliki jejak genetik pejantan sama sekali. Anak ular itu murni hasil dari induknya sendiri. Hal serupa juga ditemukan pada ular cottonmouth (Agkistrodon piscivorus), kerabat dekat kepala tembaga, di populasi liar Georgia, dengan satu kejadian serupa dari 37 kelahiran yang diperiksa. Secara keseluruhan, sekitar 2,5 hingga 5 persen kelahiran dalam kedua populasi yang diteliti diperkirakan berasal dari partenogenesis, sebuah angka yang menurut Booth sendiri tidak terduga sebelumnya. Yang membuat temuan ini penting, induk-induk tersebut hidup di habitat yang juga dihuni banyak pejantan sehat. Artinya, kelahiran tanpa kawin ini bukan terjadi karena sang betina tidak punya pilihan lain. Ia tetap bisa melahirkan sendiri meski pasangan tersedia.
Sejak penelitian ini terbit pada 2012, sejumlah pengamatan lain memperkuat temuan tersebut. Pada 2015, misalnya, peneliti lain mencatat kasus serupa pada seekor ular kepala tembaga yang dipelihara terpisah dari pejantan selama sembilan tahun, dan tetap melahirkan anak meski sebagian besar telurnya tidak berkembang. Kumpulan bukti ini membuat partenogenesis kini dianggap sebagai kemampuan yang lebih umum dimiliki ular berbisa jenis pit viper, dibanding anggapan sebelumnya yang menganggapnya sebagai kejadian yang sangat langka.
Bagaimana Hal Ini Bisa Terjadi
Secara sederhana, sel telur ular betina kadang bisa berkembang menjadi embrio tanpa perlu dibuahi sperma jantan. Prosesnya memanfaatkan bagian dari sel telur itu sendiri yang biasanya terbuang, sehingga pembelahan sel tetap bisa dimulai. Hasilnya adalah anak ular yang seluruh materi genetiknya berasal dari sang induk, tanpa campuran dari pejantan mana pun.
Ada satu pola menarik dari kelahiran semacam ini. Berbeda dari manusia dan mamalia lain yang penentuan jenis kelaminnya bergantung pada kromosom dari ayah, pada ular hal ini bekerja dengan cara berbeda. Kombinasi genetik yang terbentuk lewat kelahiran tanpa kawin ini hanya menghasilkan dua kemungkinan, dan salah satunya tidak bisa bertahan hidup sejak dalam telur. Karena itu, anak ular yang lahir lewat cara ini hampir selalu berjenis kelamin jantan.
Terlepas dari cara kelahirannya, anak ular kepala tembaga yang baru menetas punya ciri khas yang sama, yaitu ujung ekor berwarna kuning cerah. Warna ini bukan sekadar hiasan. Anak ular memakainya sebagai umpan, menggerakkan ujung ekornya perlahan di antara serasah daun sampai terlihat seperti cacing atau larva kecil. Katak atau mangsa kecil lain yang tertarik mendekat akan langsung disambar begitu berada dalam jangkauan.
Temuan tentang kelahiran tanpa kawin ini mengubah cara ilmuwan memandang reproduksi ular. Kemampuan ini kini dilihat sebagai bagian alami dari cara ular bertahan dan berkembang biak, bukan sekadar kejadian langka yang hanya muncul saat pejantan tidak tersedia.
**
Referensi:
Booth, W., & Schuett, G. W. (2016). The emerging phylogenetic pattern of parthenogenesis in snakes. Biological Journal of the Linnean Society, 118(2), 172-186. https://doi.org/10.1111/bij.12744