- Lutung jawa memerlukan ruang hidup di habitatnya Pulau Jawa.
- Di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Jawa Timur, primata endemik Jawa ini masih bertahan, menyatu dengan tajuk hutan, dan menggantung hidupnya pada kanopi yang relatif utuh.
- Data terbaru UPT Tahura Raden Soerjo menunjukkan, Trachypithecus auratus masih bisa dijumpai di hampir seluruh bentang hutan kawasan pegunungan Arjuno, Welirang, dan Anjasmoro.
- Hasil analisis tutupan lahan menggunakan Citra LANDSAT 8 tahun 2020, menunjukkan Tahura Raden Soerjo didominasi hutan lahan kering primer seluas 4.514,66 hektar atau sekitar 16,20 persen dari total luas kawasan. Sementara, hutan lahan kering sekunder mencapai 16.670,82 hektar atau sekitar 59,82 persen.
Masih adakah ruang hidup aman untuk lutung jawa di tengah tekanan ekologis Pulau Jawa yang kian padat?
Pertanyaan ini relevan diajukan saat sebagian besar lanskap hutan Jawa menyusut, terfragmentasi, dan berubah fungsi. Di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Jawa Timur, primata endemik Jawa ini masih bertahan, menyatu dengan tajuk hutan, dan menggantung hidupnya pada kanopi yang relatif utuh.
Data terbaru UPT Tahura Raden Soerjo menunjukkan, Trachypithecus auratus masih bisa dijumpai di hampir seluruh bentang hutan kawasan pegunungan Arjuno, Welirang, dan Anjasmoro.
Agustiningtyas Marini, Kepala UPT Tahura Raden Soerjo, menuturkan hasil pantauan lapangan menunjukkan satwa yang disebut lutung budeng ini memanfaatkan hampir seluruh blok hutan yang tutupan vegetasinya relatif terjaga.
“Mereka hidup berkelompok antara 5-12 individu,” terangnya melalui keterangan tertulis kepada Mongabay, Senin (2/2/2026).
Lutung jawa beraktivitas pada strata tajuk tengah hingga atas, menandai ketergantungan tinggi terhadap tutupan hutan yang rapat dan berkesesinambungan.
Menariknya, menurut Agustiningtyas, lutung jawa di kawasan yang pengelolaannya di bawah Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur ini, memiliki dua variasi warna rambut, yakni hitam dan kemerahan.
Dalam setiap kelompok, hampir selalu dijumpai satu individu dengan warna kemerahan. Fenomena ini merupakan ciri yang relatif konsisten dan kerap menarik perhatian peneliti satwa liar.
“Mereka sangat sensitif terhadap perubahan tutupan hutan.”

Ruang jelajah
Di tahura yang ditata ulang 1997 ini, lutung jawa menempati rentang ketinggian mulai dari 300-3.000 mdpl. Rentang ini menunjukkan kemampuan adaptasinya yang cukup baik, selama struktur tajuk utuh hutan tersedia.
Dominasi hutan kering primer dan sekunder membuat kawasan ini mampu menyediakan ruang jelajah, pakan, dan perlindungan bagi lutung jawa, juga satwa liar lainnya.
“Lutung jawa memerlukan tajuk hutan rapat dan saling terhubung,” ujar Agustiningtyas.
Hasil analisis tutupan lahan menggunakan Citra LANDSAT 8 tahun 2020, menunjukkan kawasan ini didominasi hutan lahan kering primer seluas 4.514,66 hektar atau sekitar 16,20 persen dari total luas kawasan. Sementara, hutan lahan kering sekunder mencapai 16.670,82 hektar atau sekitar 59,82 persen.
Data terbaru, melalui analisis Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) 2024, memperlihatkan bahwa kawasan dengan tingkat tutupan vegetasi rapat mencapai 12.211,59 hektar (43,46 persen), sedangkan tutupan vegetasi sedang sekitar 12.613,22 hektar (45,26 persen).
“Angka ini menandakan sebagian besar bentang tahura memiliki kualitas habitat relatif baik.”

Sebagai primata arboreal, lutung jawa memerlukan konektivitas tajuk untuk bergerak, mencari pakan, beristirahat, dan menghindari predator. Fragmentasi hutan, walau kecil, bisa berdampak signifikan terhadap dinamika kelompok dan kelangsungan populasinya.
Tahura Raden Soerjo juga melakukan pemetaan habitat lutung jawa sebagai dasar perencanaan pengelolaan kawasan. Tujuannya, mendukung upaya perlindungan, pengendalian, pemanfaatan ruang, juga pengelolaan habitat berkelanjutan guna menjamin kelestarian populasinya di waktu mendatang. Namun, kondisi ini sangat bergantung pada bagaimana kawasan dikelola dan dilindungi dari ancaman jangka panjang.
Agustiningtyas menuturkan, pengamanan tahura melibatkan puluhan personel Polisi Kehutanan dan tenaga fungsional lain, yang secara rutin patroli untuk mencegah perburuan, kebakaran hutan, dan gangguan kawasan lainnya. Pengelola juga melakukan pembinaan habitat melalui penanaman dan regenerasi pohon satwa.
Langkah ini penting untuk memastikan ketersediaan sumber makanan alami lutung jawa dan satwa liar lain, yang bergantung pada ekosistem hutan.
“Sampai saat ini tak ada kasus perburuan lutung jawa di kawasan kami.”

Pemantauan
Iwan Kurniawan, Manajer Program Javan Langur Center (JLC) the Aspinall Foundation, menjelaskan, kawasan Tahura Raden Soerjo masih memiliki tutupan hutan pegunungan yang baik dan berpotensi mendukung populasi lutung jawa dalam jumlah lebih besar.
“Pembaruan data melalui asesmen menyeluruh dengan cakupan kawasan lebih luas jadi penting,” jelasnya, pertengahan Januari 2026.
Rosek Nur Sahid, pendiri Profauna, menjelaskan pihaknya secara rutin melakukan patroli dan monitoring hutan, khususnya di wilayah hutan lindung dan hutan produksi Arjuno, yang berada di luar kawasan konservasi tahura.
Dari pemantauan itu, Profauna mencatat keberadaan lutung jawa dalam beberapa kelompok.
“Dalam setahun, satu lokasi bisa kami kunjungi lebih empat kali. Dari situ kami melihat frekuensi perjumpaan dan kondisi kelompok lutung jawa,” ujarnya, Jumat (16/1/2026).

Menurut Rosek, kehidupan lutung jawa berkaitan erat dengan perubahan tutupan hutan lindung yang banyak dialihfungsikan menjadi lahan pertanian sayur. Kondisi ini dapat menyebabkan habitat lutung terpecah dan koridor kanopinya terputus.
“Primata ini spesies kunci sekaligus bioindikator. Hilangnya lutung menandakan rusaknya hutan.”
Di tengah tekanan alih fungsi hutan lindung, Profauna mendorong pendekatan konservasi berbasis masyarakat, sebagai upaya penyelamatan habitat lutung jawa.
Rosek bilang, pihaknya aktif melakukan pendampingan kepada petani hutan di kawasan Arjuno, terutama pada wilayah yang masuk skema perhutanan sosial.
“Salah satu yang kami dorong adalah mengalihkan komoditas dari tanaman sayur ke tanaman berkayu seperti alpukat dan mangga.”
*****