Tanggal 3 April kini memiliki makna yang berbeda. Selama ini dikenal sebagai hari ulang tahun Jane Goodall. Kini, tanggal ini juga menjadi momen untuk mengajak orang tidak hanya mengenangnya, tetapi melakukan sesuatu dari apa yang telah ia mulai.
Gagasan di balik Hari Jane Goodall sederhana: lakukan satu tindakan. Bisa kecil, tetapi harus nyata. Tujuannya adalah melihat kehidupan dan warisan Goodall sebagai sesuatu yang masih berjalan, serta menguji apakah kebiasaan yang ia dorong dapat terus hidup melalui orang lain.
Pendekatan ini terasa tepat. Goodall menolak anggapan bahwa karyanya hanya miliknya sendiri. Bahkan di puncak pengakuan, ia mengarahkan perhatian ke luar—ke hutan yang ia teliti, simpanse yang ia bantu perlihatkan kehidupannya, dan orang-orang yang akan menentukan langkah selanjutnya. Di kemudian hari, ketika ditanya bagaimana ia ingin dikenang, ia kembali pada dua hal: mengubah cara kita memandang hewan dan mendirikan Roots & Shoots.
Hal kedua ini lebih penting daripada yang terlihat. Roots & Shoots dirancang sebagai cara untuk membagi tanggung jawab. Program ini mendorong anak muda—dan kemudian orang dewasa—untuk melihat lingkungan sekitar dan bertindak berdasarkan apa yang mereka temukan. Tidak memerlukan izin dan dapat dimulai dari skala apa pun. Premisnya sederhana: kemampuan untuk bertindak dimulai dari tingkat lokal dan berkembang melalui pengulangan.

Anna Rathmann, Direktur Jane Goodall Institute di Amerika Serikat, menggambarkan Hari Jane Goodall dengan cara serupa. Tujuannya, katanya, adalah “mewujudkan” keyakinan bahwa setiap orang dapat membuat perbedaan, dengan mengajak orang melakukan satu tindakan yang bermanfaat bagi manusia, satwa, dan lingkungan. Ini berfungsi sebagai pembuktian bahwa gerakan yang ia mulai masih berjalan.
Keberlanjutan ini terlihat pada individu-individu yang memulai perjalanan mereka dengan pengaruh Goodall, lalu mengembangkannya dengan cara mereka sendiri.
Emmanuel Mtiti, misalnya, bekerja bersama Goodall pada 1990-an untuk mengembangkan pendekatan yang kemudian dikenal sebagai Tacare. Model ini berangkat dari satu prinsip dasar: konservasi tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan masyarakat yang hidup berdampingan dengan satwa liar. Alih-alih memaksakan perlindungan, Tacare dimulai dengan mendengarkan—memahami prioritas lokal—lalu membangun solusi yang mencakup kebutuhan penghidupan dan tekanan ekologis. Seiring waktu, pendekatan ini membantu memulihkan hutan di sekitar Gombe dan meluas ke puluhan desa.
Di sini, metode sama pentingnya dengan hasil. Goodall tidak datang dengan rencana baku. Ia beradaptasi. Ia melihat pengetahuan lokal sebagai sumber pemahaman, bukan hambatan. Prosesnya lebih lambat dibanding pendekatan dari atas ke bawah, tetapi hasilnya lebih bertahan lama.

Lilian Pintea, yang memimpin sains konservasi di Institute, mengingat satu momen yang menggambarkan perubahan ini. Duduk bersama Goodall di Gombe, melihat citra satelit dengan penerangan lilin, ia mengingat bagaimana Goodall menyebut teknologi itu sebagai “ajaib”. Yang menarik baginya adalah kemungkinan yang dibukanya: melihat perubahan tutupan hutan dalam jangka panjang, memahami bagaimana penggunaan lahan oleh manusia memengaruhi habitat simpanse, dan menerjemahkan pemahaman itu menjadi keputusan praktis.
Kini, alat-alat tersebut telah berkembang. Citra satelit, sistem informasi geografis, dan data waktu nyata memungkinkan pelacakan kehilangan habitat saat itu terjadi, mengidentifikasi penyebabnya, dan merespons lebih cepat. Namun, menurut Pintea, semua ini adalah kelanjutan dari pendekatan Goodall, bukan penggantinya. Intinya tetap sama: pengamatan, rasa ingin tahu, dan kerja bersama masyarakat.
Keberlanjutan ini terlihat di berbagai bagian kerja Institute. Terlihat pada perjalanan Michael Jurua, yang pertama kali mengenal gagasan Goodall melalui Roots & Shoots saat masih anak-anak dan kini memimpin upaya sains konservasi di Uganda. Terlihat pula pada pekerjaan Rebeca Atencia, yang mengelola suaka Tchimpounga dengan standar kesejahteraan satwa yang tinggi. Dan juga pada banyak upaya lain yang kurang terlihat—koordinator lokal, peneliti lapangan, pemimpin komunitas—yang masing-masing meneruskan bagian dari apa yang Goodall mulai.
Skala jaringan ini membuat keputusan-keputusan kecil yang menopangnya sering luput dari perhatian. Goodall sendiri memperhatikan hal-hal kecil tersebut. Ia menganggapnya penting karena menciptakan momentum, meski tampak sederhana.
Pandangan ini memengaruhi cara ia berbicara tentang harapan. Baginya, harapan adalah sesuatu yang dibangun, sering kali dari langkah-langkah kecil. Lereng yang dipulihkan, lahan basah yang dilindungi, sekelompok pelajar yang mengorganisir kegiatan bersih-bersih—ini bukan sekadar simbol. Ini adalah bukti bahwa perubahan mungkin terjadi, dan karena itu layak diupayakan kembali.

Dr. Deus Mjungu, Direktur Pusat Penelitian Gombe, menyampaikannya dengan lebih langsung. Hari Jane Goodall, katanya, mewakili harapan dan semangat di saat keduanya sulit dipertahankan. Tantangannya jelas—kehilangan habitat, perubahan iklim, konflik. Responsnya, menurutnya, adalah tetap bertindak, dengan keyakinan bahwa upaya kecil akan terakumulasi.
Penekanan pada tindakan tanpa kepastian ini merupakan salah satu kontribusi praktis Goodall. Ia menghindari dua anggapan umum: bahwa tindakan individu tidak berarti, dan bahwa perubahan harus terjadi cepat agar dianggap berhasil. Dengan fokus pada apa yang bisa dilakukan sekarang, di tempat tertentu, ia menawarkan jalan ke depan yang tidak bergantung pada kesepakatan besar atau koordinasi luas.
Priscilla Shao, manajer laboratorium veteriner di Gombe, menggambarkan hal ini sebagai pilihan sehari-hari: melindungi alam, mendorong orang lain, dan percaya bahwa tindakan kecil dapat berdampak lebih luas.
Pendekatan ini menuntut disiplin. Ia memerlukan perhatian pada tren global sekaligus kondisi lokal. Ia juga menuntut penerimaan bahwa kemajuan tidak selalu konsisten. Dan yang tak kalah penting, ia menolak kecenderungan untuk menyerahkan tanggung jawab kepada pihak lain.
Perjalanan Goodall sendiri mencerminkan hal ini. Ketika tiba di Gombe pada 1960, ia memiliki sedikit pelatihan formal dan sumber daya terbatas. Yang ia miliki adalah kesabaran, rasa ingin tahu, dan kemauan untuk bertahan. Seiring waktu, itu cukup untuk mengubah cara ilmuwan memahami simpanse, dan pada akhirnya, bagaimana manusia memahami dirinya sendiri.
Pekerjaan selanjutnya mengikuti pola yang sama. Menghadapi deforestasi di sekitar Gombe, ia memulai dengan percakapan. Kebijakan dan penegakan datang kemudian. Ia bertanya apa yang dibutuhkan masyarakat dan apa yang bersedia mereka lakukan. Program yang dihasilkan bukan solusi cepat, tetapi memberikan hasil yang bertahan. Hutan mulai pulih. Masyarakat memiliki peran dalam menjaganya.
Bagian dari warisan ini sering kurang mendapat perhatian. Penemuan tentang simpanse sudah dikenal luas. Pendekatan konservasi berbasis masyarakat kurang terlihat, tetapi telah memengaruhi cara banyak organisasi bekerja saat ini.
Hari Jane Goodall berangkat dari warisan tersebut. Ia mengajak partisipasi—sesuatu yang langsung dan praktis. Tindakan bisa sesederhana memungut sampah, menjadi relawan, menanam sesuatu, atau berbagi pengalaman yang mendorong orang lain bertindak. Yang penting bukan skala, melainkan kebiasaan untuk bertindak.

Rathmann menyebutnya sebagai sebuah undangan. Goodall, katanya, jarang memberi instruksi langsung. Ia mendorong orang untuk melihat sekitar, mengidentifikasi masalah yang bisa ditangani, dan mulai dari sana. “Berpikir lokal, bertindak lokal.” Akumulasi tindakan tersebut, di berbagai tempat dan waktu, menghasilkan perubahan yang lebih besar.
Hasilnya sudah terlihat: pada lanskap yang dipulihkan, habitat yang dilindungi, dan komunitas yang menemukan cara menyeimbangkan pembangunan dan konservasi. Juga dalam hal yang lebih tidak terlihat, seperti perubahan cara pandang terhadap satwa, penggunaan lahan, dan tanggung jawab bersama.
Keberhasilan tidak dijamin. Goodall memahami besarnya tantangan. Ia tidak menutup mata terhadap kerusakan yang telah terjadi maupun kesulitan untuk memperbaikinya. Yang ia tawarkan adalah cara untuk terus bergerak tanpa harus menunggu kepastian.
Dalam salah satu gambaran yang sering ia gunakan, ia menyebut manusia berdiri di mulut sebuah terowongan panjang, dengan satu titik cahaya di ujungnya. Cahaya itu, katanya, adalah harapan. Cahaya itu tidak akan mendekat. Kitalah yang harus bergerak ke arahnya.
Hari Jane Goodall adalah satu langkah kecil ke arah itu. Ia tidak berupaya menggantikan kehadirannya atau menjawab semua tantangan yang ia hadapi. Ia mengajak sesuatu yang lebih sederhana: melanjutkan pekerjaan itu, dengan cara yang bisa dilakukan, di mana pun kita berada.
Mungkin itulah cara paling bertahan untuk memahami warisannya: sebagai praktik yang diulang, lagi dan lagi.