- Paus sperma betina sepanjang 9,89 meter terdampar di Pantai Afe Taduma, Ternate. Bangkai ditemukan warga sekitar pukul 06.00 WITA setelah sehari sebelumnya terlihat mengapung di laut. Penemuan itu memicu kerumunan warga, bahkan sejumlah orang mengambil gigi paus untuk dijadikan aksesori.
- Pemeriksaan KKP memastikan paus merupakan individu dewasa, tetapi penyebab kematiannya belum diketahui. Kondisi bangkai yang telah mengalami pembusukan parah membuat petugas kesulitan mengidentifikasi apakah kematian disebabkan faktor alam, penyakit, atau aktivitas manusia seperti terjerat jaring dan tertabrak kapal. Pemerintah kemudian menguburkan bangkai untuk mencegah gangguan bau bagi warga.
- Pakar menduga paus telah mati lebih dari sepekan dan kemungkinan mengalami gangguan kesehatan. Dokter hewan dan marine megafauna specialist Dwi Suprapti menilai proporsi tubuh paus tidak seimbang dan menemukan kemungkinan indikasi penyakit. Namun, faktor antropogenik seperti bycatch, jeratan, pencemaran, blooming alga, hingga luka akibat aktivitas manusia juga perlu ditelusuri. Nekropsi dan pemeriksaan laboratorium dinilai penting untuk memastikan penyebab kematian.
- Terdamparnya paus kembali menyoroti pentingnya Laut Maluku dan Halmahera sebagai koridor mamalia laut. Wilayah ini merupakan jalur distribusi dan migrasi cetacea, sehingga kejadian paus terdampar relatif kerap ditemukan. Peneliti Universitas Khairun menduga gangguan sistem navigasi berbasis gelombang suara dapat menyebabkan disorientasi paus, dengan perubahan suhu laut dan sampah di perairan berpotensi turut mengganggu kemampuan navigasi tersebut.
Satu mamalia laut yang teridentifikasi sebagai paus sperma (Physeter macrocephalus) terdampar di Pantai Afe Taduma, Kecamatan Pulau Ternate, Maluku Utara (Malut) Senin (8/9/26) . Jarak lokasi terdampar dengan permukiman sekitar 750 meter.
Ibu-ibu yang tengah turun ke pantai pertama kali temukan bangkai paus sepanjang 9,89 meter dan diameter tubuh 3,36 meter itu, sekitar pukul 06.00 WITA. Informasi itu kemudian menyebar di kalangan warga hingga memicu kerumunan.
Yeni Mas’ud, warga Ternate mengabadikan momen itu lewat kamera selulernya dan mengunggah ke media sosialnya. Sedang di lokasi, ada warga lain saling berebut untuk mengambil gigi satwa malang itu guna mereka jadikan aksesoris.
Nuncar Umagapi, Lurah Afe Taduma katakan, kabar paus terdampar itu sebenarnya sudah dia terima sehari sebelumnya. “Minggu sore itu sudah ada warga lihat bangkai paus mengapung dan tinggal menunggu terdampar,” katanya kepada Mongabay.
Begitu terdampar, warga lantas melaporkan peristiwa itu ke kelurahan guna dia teruskan ke Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate. Senin (8/9/26), sekitar pukul 09.00, Riza Marsaoly, Sekretaris Daerah (Sekda) Ternate memimpin rombongan untuk datang ke lokasi.
\Rizal lantas perintahkan jajarannya untuk menguburkan bangkai pausitu. “Tujuannya agar tidak ada bau yang bisa mengganggu masyarakat.”
Sekitar pukul 14.30, satu unit eskavator tiba di lokasi untuk membantu menguburkan bangkai paus itu. Namun, petugas dari Balai Pengelolaan Kelautan Kupang yang merupakan UPT dari Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) dengan wilayah kerja Papua, Maluku dan Malut melakukan pemeriksaan fisiologis.
Petugas juga mengumpulkan data biologis seperti panjang tubuh, jenis kelamin, hingga estimasi usia. Dari hasil pemeriksaan itu terungkap bahwa spesies purba itu merupakan paus dewasa dengan jenis kelamin betina.
Hanya saja, karena sebagian tubuh sudah mulai membusuk, petugas tidak dapat mengidentifikasi apakah kematian paus karena faktor alam atau tindakan antroposentris seperti terjerat jaring, tertabrak kapal atau sebab lain.
“Untuk penyebab kematiannya, kami belum bisa identifikasi karena kondisi tubuhnya sudah rusak,” kata Inggrid S., petugas dari KKP di lokasi.
Di bagian ekor, perut hingga rahang. Bahkan rahang bawah paus sudah hancur. Sedang daging yang hancur juga terlihat hanyut di pantai maupun di laut. Di beberapa bagian paus juga mengeluarkan darah, seperti bagian mata, hingga anus dan perut.

Panjang bisa 17 meter
Dwi Suprapti, dokter hewan juga Marine Megafauna Specialist di SeaLife Indonesia menyebut, paus terdampar itu masuk dalam keluarga paus sperma. Paus ini memiliki panjang hingga 17 meter.
“Kalau saya lihat secara kasat mata dari foto-foto yang ada, kemungkinan paus ini sakit. Ini jika dilihat dari proporsi tubuhnya yang tidak seimbang,” katanya.
Berdasarkan pengamatan melalui foto dan video yang dia terima pula, Dwi memperkirakan kematian satwa lebih dari sepekan. Bangkai sudah membusuk (advance decomposition), kulit atau bagian tubuh rusak, dan mengeluarkan bau menyengat.
Menurut Dwi, darah yang keluar dari beberapa bagian tubuh paus ini karena tekanan gas pasca kematian. Seluruh tubuh paus mengalami ketegangan, kaku dan mengembung. Ketika produksi gas itu meledak menyebabkan darah keluar dari celah lubang genital anus hingga mata.
Dia jelaskan, ada banyak faktor yang memungkinkan menjadi penyebab kematian paus ini. Bisa karena faktor usia dan penyakit juga antropogenik berupa jeratan, bycatch (salah tangkap) atau luka cacahan sebagai faktor kematian.
“Ada ciri-ciri antropogenik karena kondisi alam atau karena penyakit. Misal, karena blooming alga atau keracunan akibat aktivitas cemaran di lautan,”katanya.
Untuk memastikan penyebab kematian satwa ini, Dwi usul nekropsi. Tujuannya untuk membedah bangkai yang ada guna mengetahui penyebab kematian termasuk mengambil sampel organ guna pengujian laboratorium.

Jalur migrasi
Laut Halmahera dan Maluku merupakan bagian integral dari koridor migrasi mamalia laut (Cetacea) terbesar di dunia, termasuk berbagai jenis paus. Hal ini juga tertuang di dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 77 Tahun 2014 Tentang Rencana Tata Ruang Kepulauan Maluku.
Dalam perpres itu secara hukum dan ekologis, wilayah ini sebagai kawasan perlintasan krusial bagi megafauna laut yang berpindah dari belahan bumi utara ke selatan maupun sebaliknya.
Keberadaan koridor ini bahkan secara resmi tertuang dalam regulasi spasial nasional seperti Perpres Nomor 77/2014 dan Perpres Nomor 40/2022 yang menetapkan kawasan itu sebagai alur migrasi cetacea dan biota laut yang dilindungi.
Karena itu, hampir setiap saat ditemukan adanya terdamparnya paus baik masih hidup maupun sudah mati di berbagai pulau.
Nurhalis Wahidin, dosen dan peneliti Ilmu Kelautan Universitas Khairun, Ternate menyatakan, maraknya kematian megafauna di perairan Malut tak lepas dari status yangsebagai bagian integral dari koridor mamalia laut, termasuk paus. Dia menduga, paus tersesat dan akhirnya terdampar karena sistem navigasi yang terganggu.
Dia katakan, paus berjalan memanfaatkan gelombang suara di kepala untuk bernavigasi dan berkomunikasi dengan kerabatnya. Ketika gelombang suara terhalang, dia mengalami disorientasi navigasi sehingga tidak mengetahui posisinya. Apakah berada di laut dalam atau dangkal.
“Hal itu terjadi karena ada penghalang tertentu. Gelombang suara juga dipengaruhi juga suhu laut yang naik dan terlalu banyak sampah di perairan. Hal ini mengganggu navigasi paus.”
Ketergantungan navigasi paus pada gelombang suara itu pula, maka, keberadaan sampah di lautan menjadi persoalan serius bagi spesies ini.

*****