- Kemunculan Oarfish di Pantai Pink Lombok memicu kembali mitos ikan pertanda gempa. Penemuan ikan laut dalam itu viral di media sosial dan dikaitkan warga dengan gempa Flores yang terjadi dua pekan sebelumnya. Kepercayaan serupa memang telah lama berkembang di Lombok Timur maupun sejumlah negara di kawasan Cincin Api Pasifik.
- Oarfish merupakan penghuni laut dalam yang jarang muncul ke permukaan. Regalecus glesne dapat hidup pada kedalaman sekitar 200–1.000 meter dan memiliki karakteristik tubuh panjang, pipih, berwarna keperakan dengan sirip merah. Genus Regalecus umumnya mencakup dua spesies utama.
- Perubahan lingkungan laut lebih mungkin menjelaskan kemunculan Oarfish ketimbang aktivitas gempa. Perubahan suhu laut, arus, kadar oksigen, ketersediaan pakan, serta degradasi habitat dapat mengganggu organisme laut dalam dan mendorongnya berpindah atau muncul di perairan dangkal. Fenomena ini dapat menjadi pengingat adanya perubahan ekosistem laut, tetapi bukan indikator gempa atau tsunami.
- Penelitian ilmiah tidak menemukan bukti kuat Oarfish dapat memprediksi gempa atau tsunami. Studi terhadap ratusan laporan kemunculan ikan laut dalam dan kejadian gempa di Jepang hanya menemukan satu kemungkinan keterkaitan, sehingga hubungan tersebut dinilai sebagai ilusi korelasi. Para ahli mendorong masyarakat membangun kewaspadaan bencana berdasarkan sistem pemantauan dan mitigasi ilmiah, bukan kemunculan Oarfish.
Pagi itu, Selasa (25/8/26), suasana Pantai Pink di Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, mendadak ramai. Sejumlah anak yang bermain di bibir pantai berlarian menghampiri ikan berukuran tak biasa yang terdampar di pasir. Tubuhnya panjang menyerupai pita berwarna keperakan, dengan sirip merah menyala membentang dari kepala hingga ekor. Warga yang mengerubunginya lantas abadikan momen itu menggunakan selulernya.
Video penemuan ikan tersebut pertama kali diunggah oleh akun Facebook Baiq Kolby, sebelum akhirnya menyebar luas di berbagai media sosial. Dalam hitungan jam, rekaman itu memicu beragam spekulasi.
Sebagian warganet meyakini ikan tersebut adalah oarfish, spesies laut dalam yang selama ini lekat dengan berbagai mitos sebagai pertanda datangnya gempa bumi maupun tsunami. Dugaan itu makin menguat karena dua pekan sebelumnya gempa bumi mengguncang Flores.
Mitos itu begitu lekat di kalangan warga Lombok Timur. Hampir setiap kemunculan oarfish di pesisir, masyarakat kerap menghubungkan dengan kemungkinan datangnya bencana alam.

Ikan laut dalam
Berbagai literatur menyebut, ikan dengan nama latin Regalecus glesne merupakan salah satu ikan bertulang terpanjang di dunia. Berbeda dengan kebanyakan ikan laut, secara fisik tidak terlapisi sisik keras, melainkan lapisan berwarna perak tampak berkilau ketika terkena cahaya. Di sepanjang punggungnya membentang sirip berwarna merah terang yang menjadi ciri khas spesies ini.
Ukurannya juga jauh melampaui ikan pada umumnya. Rata-rata oarfish memiliki panjang antara tiga hingga delapan meter, bahkan sejumlah catatan ilmiah menyebutkan panjang maksimal dapat melebihi 10 meter dengan bobot ratusan kilogram. Bentuk tubuh yang pipih dan memanjang membuatnya sering tersamar dengan ular laut oleh masyarakat yang belum pernah melihatnya.
Ikan ini hidup jauh dari jangkauan manusia. Sukuryadi Ketua Program Studi Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Mataram menyebut, oarfish hidup di zona mesopelagik hingga batipelagik, sekitar 200-1.000 meter di bawah permukaan laut.
“Habitat tersebut hampir tidak tersentuh cahaya matahari, memiliki suhu rendah, serta tekanan air yang sangat tinggi,” ucapnya.
Karena hidup di laut dalam, keberadaan oarfish sangat jarang terlihat sehingga setiap kemunculannya di permukaan selalu menjadi perhatian.
Mark Benfield, Dkk., dalam hasil penelitiannya menjelaskan istilah “Oarfish” sebenarnya merujuk pada dua spesies utama dalam genus Regalecus. Spesies pertama adalah Regalecus glesne, yang memiliki sebaran di Samudra Atlantik, Pasifik, dan Hindia.
Ikan ini terkenal sebagai oarfish raksasa karena mampu tumbuh hingga lebih dari 11 meter dan menjadikannya spesies ikan bertulang terpanjang di dunia. Sementara spesies kedua, Regalecus russellii, lebih banyak menghuni perairan Jepang, Asia Timur, hingga kawasan Pasifik Barat.
Ukurannya relatif lebih pendek ketimbang Regalecus glesne. Umumnya berkisar antara tiga hingga delapan meter. Meski demikian, spesies ini tetap tergolong sebagai ikan laut berukuran besar.
Selain kedua spesies tersebut, ilmuwan juga pernah mendeskripsikan Regalecus kinoi berdasarkan spesimen yang ditemukan di Meksiko pada 2007. Namun, sebagian besar ahli taksonomi menganggap spesies ini identik dengan Regalecus. glesne, sehingga tidak diakui secara luas sebagai spesies yang berdiri sendiri.
Karena itu, hingga kini genus Regalecus secara umum hanya terkenal terdiri atas dua spesies utama, yakni Regalecus. glesne yang tersebar hampir di seluruh samudra dunia dan Regalecus russellii yang penyebarannya lebih terkonsentrasi di kawasan Pasifik Barat.

Habitat terganggu
Meski keberadaan oarfish di perairan dangkal sering memunculkan berbagai spekulasi, para ahli justru melihat fenomena itu merupakan dampak dari perubahan lingkungan laut. Sebab, sebagai penghuni laut dalam yang hidup pada kedalaman 200-1.000 meter, oarfish sangat jarang naik ke permukaan.
Kemunculannya di pesisir lebih mungkin menunjukkan ada gangguan pada kondisi habitat alaminya dibandingkan menjadi pertanda akan datangnya bencana.
Sukuryadi menilai kemunculan oarfish ke permukaan merupakan anomali karena berbagai faktor eksternal maupun internal. Menurut alumnus Ilmu Kelautan Universitas Tokyo itu, berubahnya kondisi lingkungan laut menjadi salah satu faktor yang paling mungkin menjelaskan fenomena itu.
“Ndak ada kaitannya dengan gempa bumi, mungkin anomali pemanasan global yang berdampak pada perubahan dan degradasi habitat,” ujarnya.
Pemanasan global menyebabkan suhu laut terus meningkat dan mempengaruhi dinamika ekosistem di berbagai lapisan perairan. Menurut dia, perubahan suhu, arus laut, kadar oksigen, hingga ketersediaan sumber pakan dapat mengubah kondisi habitat organisme laut dalam yang selama ini relatif stabil.
Dalam situasi tertentu, perubahan tersebut diduga membuat sebagian satwa kehilangan orientasi, berpindah dari habitat aslinya, atau muncul ke perairan yang lebih dangkal.
Selain perubahan iklim, Sukuryadi menambahkan bahwa degradasi habitat laut juga dapat dipicu oleh faktor-faktor lain seperti perubahan kualitas perairan maupun gangguan pada keseimbangan ekosistem.
“Kondisi tersebut menyebabkan biota itu akan berpindah ke habitat yg lebih nyaman dan mendukung kehidupannya,” terang Sukuryadi.
Karena itu, kemunculan spesies ini justru dapat menjadi pengingat bahwa perubahan lingkungan laut sedang berlangsung dan memerlukan perhatian lebih serius, meski tidak dapat dimaknai sebagai indikator akan terjadinya gempa bumi atau pun tsunami.

Petanda bencana?
Video penemuan oarfish di pesisir selatan Lombok dengan cepat memantik beragam spekulasi di media sosial. Sebagian warganet mengaitkannya dengan gempa bumi yang mengguncang Flores dua pekan sebelumnya. Tidak sedikit pula yang meyakini kemunculan ikan laut dalam itu sebagai isyarat akan datangnya gempa susulan atau bahkan tsunami.
Anggapan itu bukanlah cerita baru. Di berbagai negara yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), kemunculan oarfish telah lama banyak mengaitkan dengan bencana geologi. Kepercayaan itu paling dikenal di Jepang.
Dalam cerita rakyat Negeri Sakura, oarfish dijuluki Ryugu no Tsukai atau “Utusan dari Istana Naga Laut”. Masyarakat percaya ikan ini hidup jauh di dasar laut dan sesekali muncul ke permukaan untuk memberi peringatan sebelum bumi berguncang.
Kepercayaan itu makin menguat setelah beberapa kejadian gempa besar di Jepang bersamaan dengan laporan temuan sejumlah oarfish di pesisir. Salah satu peristiwa gempa dan tsunami Tohoku pada 2011.
Meski belum terbukti sebagai hubungan sebab-akibat, narasi itu terus terwariskan dari generasi ke generasi hingga menjadi bagian dari budaya populer. Setiap kali oarfish terdampar, perdebatan mengenai “ikan petanda bencana” kembali mencuat.
Di Indonesia, mitos serupa turut berkembang seiring derasnya arus informasi di media sosial. Potongan video maupun foto penemuan oarfish hampir selalu dibarengi narasi yang menghubungkannya dengan aktivitas tektonik.
Kusnadi, Wakil Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia mengatakan, kondisi Indonesia yang berada di pertemuan tiga lempeng tektonik aktif membuat masyarakat memiliki tingkat kewaspadaan tinggi terhadap gempa dan tsunami.
Dalam situasi demikian, setiap fenomena alam yang tidak biasa, termasuk kemunculan satwa laut dalam, kerap dimaknai sebagai pertanda akan datangnya bencana.
Meski demikian, kemunculan oarfish yang kerap warga kaitkan dengan bencana gempa maupun tsunami hingga kini belum memiliki dasar ilmiah yang dapat membuktikan hubungan sebab-akibat.
Sebuah penelitian yang terbit dalam Bulletin of the Seismological Society of America oleh Yoshiaki Orihara dan tim dari Tokai University menguji kebenaran kepercayaan itu dengan menganalisis 336 laporan kemunculan ikan laut dalam serta 221 kejadian gempa bumi di Jepang.
Hasilnya, hanya satu peristiwa yang menunjukkan kemungkinan keterkaitan. Temuan itu mengindikasikan bahwa anggapan oarfish sebagai pertanda gempa lebih merupakan ilusi korelasi, yakni kecenderungan menghubungkan dua peristiwa yang sebenarnya tidak memiliki hubungan sebab-akibat.
Para peneliti menjelaskan, ikan laut dalam seperti oarfish umumnya terdampar di pantai karena mengalami gangguan kondisi fisik, sedang sekarat, atau kehilangan orientasi akibat perubahan lingkungan, bukan karena membawa “pesan” dari dasar laut menjelang terjadinya bencana. Dengan kata lain, kemunculan oarfish tidak dapat dijadikan alat prediksi bencana.
Kusnadi sampaikan pandangan serupa. Menurut dia, anggapan kemunculan oarfish menjadi pertanda bencana lebih banyak bersumber dari mitos yang berkembang di masyarakat daripada fakta geologi.
“Perlu dilihat dari faktor biologi kelautan terkait fenomena munculnya hewan laut dalam ke permukaan dan terdampar di pesisir pantai, apakah murni kejadian alam biasa atau ada gangguan pada ekosistem laut dalam,” katanya melalui pesan Whatsapp.
Dia menjelaskan, gangguan itu bisa terpicu berbagai faktor, mulai dari perubahan lingkungan laut, perubahan kondisi habitat, hingga tekanan dari predator.
Karena itu, kemunculan satwa laut dalam hanya dapat menjadi indikasi awal yang masih memerlukan pembuktian melalui data ilmiah. Tanpa penelitian yang memadai, fenomena tersebut tidak bisa menjadi dasar untuk memprediksi terjadinya tsunami maupun gempa bumi.

Kusnadi juga mengingatkan, lokasi penemuan oarfish di pantai selatan Lombok tidak memiliki hubungan langsung dengan gempa yang sebelumnya terjadi di wilayah utara Flores. Selain terpisah secara geografis, jeda waktu antara kedua peristiwa itu juga sudah lebih dari sepekan sehingga tidak cukup kuat untuk dijadikan dasar menghubungkan keduanya.
Menurut dia, hal yang jauh lebih penting adalah meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap potensi bahaya gempa dan tsunami di daerah masing-masing. Dengan memahami risiko serta langkah-langkah mitigasi sejak dini, masyarakat akan lebih siap menghadapi bencana sehingga meminimalisir dampaknya.
Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, kemunculan oarfish memang mudah memantik kekhawatiran. Namun, Kusnadi mengingatkan, rasa waspada terhadap bencana sebaiknya terbangun berdasarkan sistem pemantauan ilmiah, bukan pada kemunculan satwa laut yang masih diselimuti berbagai mitos.
Oarfish tetaplah penghuni laut dalam yang menyimpan banyak misteri biologis, tetapi hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa kemunculannya merupakan penanda datangnya gempa bumi atau pun tsunami.

*****
Mengapa Paus dan Lumba-lumba Sering Terdampar di Laut Indonesia?