- Dua spesies ngengat baru ditemukan di Indonesia, awal Maret 2026. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menamai mereka Glyphodella fojaensis dan Chabulina celebesensis. Glyphodella fojaensis merupakan satu-satunya spesies dari genus ini yang ditemukan di Indonesia, sedangkan pada genus Chabulina terdapat tiga spesies: C. celebesensis, spesies baru, C. onychinalis, dan C. tenera.
- Ngengat adalah serangga kerabat dekat kupu-kupu. Karena punya kebiasaan aktif malam hari, ngengat kerap disebut kupu-kupu malam. Ngengat berfungsi sebagai penyerbuk terutama pada tanaman yang berbunga malam hari.
- Ngengat juga menjadi sumber protein bagi satwa lain seperti burung, kelelawar, ikan, reptil, dan mamalia kecil. Bahkan, sebagian masyarakat memanfaatkan kepompong ulat jati dari ngengat Hyblaea puera sebagai sumber protein.
- Keberadaan jenis ngengat pada ekosistem tertentu dapat dimanfaatkan sebagai bioindikator perubahan lingkungan. Hilangnya sebagian jenis ngengat dan sebaliknya membludaknya populasi bisa menjadi penanda adanya gangguan lingkungan.
Di dunia fiksi, ngengat memiliki reputasi yang buruk. Misalnya, dalam film The Silence of the Lamb, ngengat spesies Acherontia atropos digunakan sebagai jejak pelaku pembunuhan berantai. Ada gambar tengkorak di punggungnya, seolah-olah ngengat itu mewakili kabar gelap.
Namun di dunia nyata, ngengat bukanlah makhluk perlambang kematian. Mereka justru pahlawan malam yang diam-diam menjaga keseimbangan ekosistem. Tugasnya di alam antara lain menyerbuki bunga yang mekar malam hari, menggantikan kupu-kupu yang bertugas siang hari.
Di Indonesia, dua spesies ngengat baru ditemukan, awal Maret 2026. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menamai mereka Glyphodella fojaensis dan Chabulina celebesensis.
Tidak ada gambar tengkorak di punggungnya. Namun yang ada lebih berupa bintik dan garis geometris sederhana pada sayap. Meski begitu, tidak berarti dua ngengat baru ini tidak cukup menarik perhatian.
“Glyphodella fojaensis, spesies baru, merupakan satu-satunya spesies dari genus ini yang ditemukan di Indonesia, sedangkan pada genus Chabulina terdapat tiga spesies: C. celebesensis, spesies baru, C. onychinalis, dan C. tenera,” tulis Hari Sutrisno dan Rosichon Ubaidillah, keduanya peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, BRIN, dalam jurnal Raffles Bulletin of Zoology.

Laporan penelitian mereka terbit Februari 2026, dengan judul “Description of two new endemic species of the closely related genera, Glyphodella and Chabulina Shaffer & Munroe, 2007, from Indonesia (Lepidoptera: Crambidae: Spilomelinae).”
Hari Sutrisno adalah guru besar riset di bidang zoologi di BRIN yang memiliki pengalaman panjang terkait penelitian ngengat di Indonesia. Sementara Rosichon Ubaidillah merupakan guru besar dan peneliti senior, serta pakar taksonomi dan biosistematika BRIN.
Kejutannya, selama ini ngengat dari genus Glyphodella diketahui hanya ada di wilayah tropis Afrika. Bagaimana bisa ada di Papua? Temuan ini memunculkan sejumlah hipotesis baru. Di antaranya, nenek moyang Glyphodella mungkin memiliki distribusi lebih luas di masa lalu, dan perubahan iklim serta arus angin memungkinkan penyebaran lintas benua. Temuan ngengat itu juga bisa menjadi bukti bahwa biogeografi Australasia boleh jadi memiliki hubungan dengan Afrotropis.
Sementara kehadiran C. celebesensis menjadi bukti nyata bahwa Sulawesi merupakan hotspot biodiversitas dengan nilai evolusi dan konservasi tinggi. Bagi dunia sains, temuan spesies baru genus Chabulina telah mengisi kekosongan katalog selama lebih satu abad! Spesies terakhir dari Indonesia yang dideskripsikan dalam genus ini terjadi pada 143 tahun lalu, yaitu spesies yang diberi nama C. tenera.
“Deskripsi spesies baru dalam genus Chabulina yang terakhir diterbitkan adalah oleh Butler pada 1883, dan sejak saat itu, tidak ada spesies baru dari Sulawesi yang dideskripsikan,” tulis mereka.

Kekayaan tersembunyi
Temuan G. fojaensis dan C. celebesensis berawal dari upaya penelitian panjang untuk memperbarui pengetahuan keragaman genus Glyphodella dan Chabulina di Indonesia. Survei lapangan dikerjakan dalam rentang waktu cukup lama.
“Untuk menyelidiki keragaman genus Glyphodella dan Chabulina, studi lapangan dilakukan di Sulawesi dan Papua periode 2002–2017. Hasil penelitian diharapkan dapat memperkaya pengetahuan mengenai keragaman ngengat di Indonesia,” tulis laporan itu.
Karena ngengat kebanyakan nokturnal, mereka mengumpulkan dengan cara memasang lampu merkuri jebak 120 W di beberapa lokasi. Di Papua mereka memasang di Gunung Foja, Mamberamo Raya. Sementara di Sulawesi ada di beberapa lokasi, yaitu di Gunung Kaluppini (Sulawesi Tengah), Tinukari (Sulawesi Tenggara), serta Bogani Nani (Sulawesi Utara). Semua material penelitian disimpan di Museum Zoologi Bogor.
Hari Sutrisno memilih seekor ngengat jantan yang tertangkap di Gunung Foja pada 11 November 2008 sebagai holotipe. Ngengat dewasa itu ditemukan di hutan tropis primer yang masih perawan, di cekungan Sungai Mamberamo, Pegunungan Foja. Kawasan terpencil di Papua ini terkenal sebagai hutan tropis paling utuh dan kaya biodiversitas.
Sementara holotipe untuk C. celebesensis berupa ngengat dewasa yang diperoleh dari Gunung Kaluppini, Sulawesi Tengah, pada 23 September 2017. Ngengat dikumpulkan oleh Darmawan, Lupiyaningdyah, dan Sarino yang membantu selama penelitian dan menyiapkan manuskrip. Spesies baru ini ditemukan di hutan tropis sekunder di Sulawesi.
Kedua spesies diidentifikasi terutama berdasarkan bentuk kelamin jantan dan pola warna sayap. Dalam taksonomi ngengat, bagian tubuh tersebut sering menjadi kunci penting untuk membedakan spesies yang secara kasatmata tampak sangat mirip satu sama lain.
“Pada G. fojaensis, spesies baru, terdapat karakter diagnostik yang membedakannya dari Chabulina: tulang punggung sagital dan ketiadaan sudut tajam di tepi ventral katup,” tulis mereka.

Dengan bahasa lebih mudah dipahami, alat kelamin ngengat spesies baru memiliki punggung atau tonjolan. Sementara pada genus Chabulina tidak ada. Sementara pada bagian penjepit, bagian bawahnya lebih halus.
Untuk C. celebesensis, para peneliti juga menemukan perbedaan jelas dibandingkan kerabat dekatnya, Chabulina tenera.
“Studi kami menunjukkan bahwa C. celebesensis, spesies baru, berbeda dari C. tenera karena tidak memiliki bintik hitam di ujung sel diskal sayap depan dan memiliki sayap belakang berwarna kuning keemasan dengan garis medial, pasca-medial, dan subterminal yang melengkung,” tulis laporan itu.
Perbedaan-perbedaan kecil inilah yang akhirnya mengungkap identitas dua spesies baru tersebut. Fakta ini memberi petunjuk, di balik hutan-hutan tropis Indonesia masih tersimpan kekayaan biodiversitas yang menunggu untuk disingkap.

Kupu-kupu malam
Ngengat adalah serangga kerabat dekat kupu-kupu. Karena punya kebiasaan aktif malam hari, ngengat kerap disebut kupu-kupu malam. Hari Sutrisno menjelaskan dalam orasi pengukuhan guru besar risetnya, yang berjudul “Peran Sistematika Ngengat untuk mendukung Keefektifannya dalam Pengendalian Hama (2020).”
Dalam ordo Lepidoptera, kupu-kupu malam jumlahnya sekitar 85 persen, sementara kupu-kupu siang 13,5 persen. Namun meski jumlahnya lebih banyak, ngengat masih kalah populer karena warnanya tidak menarik, kusam, dan kotor. Masih ditambah bahwa penelitian ngengat dewasa harus dilakukan malam hari, yang membuatnya semakin kurang diminati karena tingkat kesulitan yang tinggi.
“Keanekaragaman ngengat di Indonesia diperkirakan lebih dari 12 ribu jenis atau lebih dari 5 persen dari total jenis Lepidoptera di dunia,” ungkapnya dalam naskah orasi. Semuanya menunggu untuk dideskripsikan.
Meski warnanya kurang menarik, kupu-kupu malam ini memiliki beberapa manfaat, selain sebagai hama yang menyerang dalam gelap.
Ngengat berfungsi sebagai penyerbuk terutama pada tanaman yang berbunga malam hari. Mengutip naskah orasinya, ngengat juga dikenal sebagai penghasil kain sutra berharga mahal. Misalnya, kepompong Cricula trifenestrata yang berwarna emas.
Ngengat juga menjadi sumber protein bagi satwa lain seperti burung, kelelawar, ikan, reptil, dan mamalia kecil. Bahkan, sebagian masyarakat memanfaatkan kepompong ulat jati dari ngengat Hyblaea puera sebagai sumber protein.
Keberadaan jenis ngengat pada ekosistem tertentu dapat dimanfaatkan sebagai bioindikator perubahan lingkungan. Hilangnya sebagian jenis ngengat dan sebaliknya membludaknya populasi bisa menjadi penanda adanya gangguan lingkungan.
Referensi:
Sutrisno, H., & Ubaidillah, R. (2026). Description of two new endemic species of the closely related genera, Glyphodella and Chabulina Shaffer & Munroe, 2007, from Indonesia (Lepidoptera: Crambidae: Spilomelinae). Raffles Bulletin of Zoology, 74, 87–94. https://lkcnhm.nus.edu.sg/wp-content/uploads/sites/11/2026/02/RBZ-2026-0008.pdf
Sutrisno, H. (2020). Peran sistematika ngengat untuk mendukung keefektifannya dalam pengendalian hama [Orasi pengukuhan profesor riset bidang zoologi]. LIPI Press. (Original work presented October 6, 2020). https://penerbit.brin.go.id/press/catalog/view/277/243/656
*****