- Bambu dari petani di desa-desa dibawa menggunakan truk ke pabrik pengolahan bambu Rumah Produksi Bersama (RPB) Mosedia di Labuan Bajo untuk diolah menjadi aneka produk dan papan.
- Bambu dibeli dari petani dengan ukuran panjang 2,6 meter sehingga satu batang bambu bisa menghasilkan 4 potong bambu yang dijual seharga Rp8.000-Rp10.000per batangnya.
- Permintaan produk dari bambu pun meningkat sehingga Mosedia melakukan penambahan kapasitas mesin dan sedang bersiap menggunakan pembangkit listrik biomassa berbahan baku limbah bambu.
- Untuk menjaga keberlanjutan pasokan, para petani dampingan di berbagai desa pun dibekali ilmu pembibitan bambu dan dilakukan penanaman berbagai jenis bambu. Saat ini, sekitar 5.000 bibit bambu telah ditanam dengan luas sekitar 7 hektar.
Valentinus Hendrik begitu bersemangat saat berbincang bambu. Maklum, di desanya di Watu Galang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, bambu menjadi komoditas paling menghasilkan saat ini.
Seorang sepertinya dia bahkan bisa meraup hingga Rp40 juta dari menjual bambu. Tak mengherankan, banyak warga yang kemudian menjual rumpun bambu di kebun atau lahan miliknya.
Menurut Valentinus, sudah sejak lama kampung tempatnya lahir terkenal sebagai penghasil bambu. Bambu-bambu itu merupakan hasil penanaman keluarganya terdahulu.
Dulu, bambu-bambu itu ditanam untuk menyimpan air, menahan erosi, terasiring, atau bahkan pembatas lahan. Sembari itu, sesekali, warga dapat memanfaatkannya untuk membangun tempat tinggal.
Di antara jenis bambu yang ditanam, bambu jenis petung (Dendrocalamus asper) dan peri (Gigantochloa apus) merupakan yang paling banyak.
“Paling banyak bambu petung dan bambu peri. Selain di sekitar mata air, juga dipakai untuk batas hutan dan kebun,” ujar Valentinus saat ditemui Mongabay Indonesia, Jumat (8/5/26).
Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) paling banyak membeli bambu-bambu dari desa ini untuk dikirim ke pabrik pengolahan di Labuan Bajo. Dengan panjang 2,6 meter dan diameter 8 sentimeter, YBLL mengharga Rp8.000,. Sedangkan diameter 12 sentimeter, Rp10.000.
Bersama YBLL, Valentinus yang juga Ketua Kelompok Panen Bambu Wela Nara menentukan lokasi pemanenan bambu. Sekali angkut satu truk bisa memuat 260 batang bambu sesuai ukuran. Biaya transportasi ditanggung YBLL sedang operasional ditanggung pemilik bambu.
“Sejak Oktober hingga awal Maret 2026 kami sudah jual 140 truk. Saya dapat uang Rp40 juta, teman yang lainnya pun hampir sama,” katanya.
Satu rumpun bambu bisa dapat 40 batang bambu siap panen. Satu batang bambu petung bisa dipotong jadi enam batang.

Jadi produk olahan
Pagi itu, Jumat (8/5/26) beberapa pekerja lokal terlihat memilah dan memotong bambu hasil pembelian di bagian luar pabrik pengolahan bambu di Rumah Produksi Bersama (RPB) Mosedia di Labuan Bajo.
Achmad Hufron, Factory Manager RPB Mosedia menjelaskan, terdapat 44 pekerja di pabrik bambu ini, sebagian besar merupakan warga lokal. Dari pesanan yang dia terima, Achmad lantas menyusun rencana kerja yang akan diteruskan ke tim panen di desa guna membeli bambu sesuai spesifikasi.
Bambu yang masuk ke pabrik kemudian disortir sebelum diolah menjadi produk papan laminasi.
Usai penyortiran, bambu dipotong sepanjang 2,5 meter dan masuk ke mesin splitter untuk membuat bilah-bilah bambu. Setelahnya ruas bambu dibersihkan di mesin serut awal, lalu diawetkan.
Butuh 5-7 hari untuk prsoes pengawetan dengan metode manual (sun drying). Setelah itu, bambu masuk ke oven kiln dry selama 5-7 hari. “Waktu ini yang mau saya pangkas. Kita mau mendatangkan mesin boiler untuk mempercepat pengeringan,” ucap Achmad.
Usai pengeringan, bambu masuk ke mesin serut akhir untuk mendapatkan bilah bambu yang sudah halus. Setelah, berlanjut ke pengeleman hingga menjadi produk papan.
Papan dari bambu ini memiliki tebal tiga mm. Kini, Achmad tengah berupaya membuat produk serupa dengan ketebalan capai 25 mm dengan lebar 280 mm dan panjang 2.440 mm.
“Untuk saat ini kemampuan mesin produksi per hari hanya 0,3 meter kubik, 1.400 slot atau 200 lonjor bambu.Produk yang dihasilkan pun berupa furniture seperti kursi dan meja.”

Permintaan meningkat
Permintaan produk bambu ke Mosadia pun beragam. Pertamina, misal, pesan untuk membuat asrama hingga Bupati Manggarai Barat lengkap dengan furniturenya. Ada juga permintaan dari Polandia.
“Order mulai banyak sehingga kita mulai kewalahan dan ada upaya meningkatkan kapasitas. Kita akan bangun ruang boiler untuk supply uap panas guna mempercepat proses pengeringan,” kata Achmad.
Peningkatan permintaan perlu pasokan listrik yang lebih besar untuk menggerakan mesin pabrik. Begitu juga dengan stok bahan baku, ikut naik.
Monika Tanuhandaru, Chairperson YBLL mengatakan, akan membangun pembangkit listrik biomasa menggunakan limbah dari bambu. Listrik dari fasilitas ini nbisa dipakai untuk operasional pabrik.
Valentinus menyebut, sejauh stok bambu di desanya masih mencukupi. Untuk menjaga keberlanjutan sumber bahan baku, bambu-bambu yang dipanen hanya berumur 4 tahun ke atas dan lurus.
“Kami sedang negosiasi agar harga jualnya dinaikan Rp2.000 per batang karena kami harus bayar tenaga kerja untuk angkut dari kebun ke lokasi parkir truk di jalan raya.”
Ferdinandus Mboli Kepala Desa Watu Galang bersyukur bambu di desanya dibeli YBLL hingga ada peremajaan. Dia mengingatkan agar bambu yang panen tidak berada di kawasan hutan atau sekitar mata air.
Achmad mengatakan, produk bambu cukup diminati pasar karena keunikan pada coraknya. Selain itu, bambu pun lebih kuat bila dibandingkan dengan produk olahan kayu (plywood).
“Bambu memiliki karakter yang lebih kuat. Pada cuaca ekstrem pun mampu bertahan 10 tahun dan fleksibel untuk aplikasinya. Harapannya nanti kita akan coba riset dengan tim untuk bisa menambah kekuatannya.”

Penanaman kembali
Data Grand View Research memprediksi pasar furnitur ramah lingkungan akan naik dari US$43,26 miliar pada tahun 2022 menjadi US$83,76 miliar pada 2030 dengan tingkat pertumbuhan 8,6%.
Data Market.us memproyeksikan pasar global produk berbasis bambu akan meningkat dari US$74 miliar pada 2024 menjadi US$ 118,3 miliar pada 2034 dengan pertumbuhan tahunan CAGR 4,8%.
Program aktif YBLL ada di 65 desa dan membina 1.600 mama bambu.
Selama lima tahun pendampingan, program ini menyentuh 720 desa yang tersebar di NTT,Jawa Timur, Bali dan Kalimantan Barat. YBLL berencana akan merambah ke Sumatera Barat, Sumatera Utara, Maluku Utara hingga ke Aceh.
Untuk menjaga kelestarian bambu, sekitar 5.000 bibit bambu sudah ditanam di desa. Dari sekitar target 2,5 hektar lahan, penanaman bambu mencapai tujuh hektar.
*****