- Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kawasan Taman Nasional (TN) Baluran terbakar sejak Mei sampai Agustus 2026. Secara akumulasi total luas yang terbakar mencapai 920,06 hektar.
- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan Karhutla di sejumlah wilayah diprediksi terjadi karena fenomena El Nino Godzilla akan terjadi sampai awal 2027. Karhutla terjadi di sejumlah kawasan di Sumatera, Kalimantan, Papua dan hampir seluruh Pulau Jawa.
- BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya hidrometeorologi kering selama musim kemarau, termasuk bahaya kekeringan.
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan fenomena El Nino diprediksi berpotensi mencapai level sangat kuat. Fenomena El Nino memicu musim kemarau lebih kering dan berdurasi lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), di Blok Bantengan, Senin (3/8/26) sekitar pukul 17.00.Balai Besar TNBTS telah menurunkan tim untuk memadamkan api.
Rudijanta Tjahja Nugraha, Kepala menyebut, demi kelancaran pemadaman, mereka menutup sementara akses wisata ke Gunung Bromo melalui pintu masuk Jemplang, Coban Trisula (Malang), dan Senduro (Lumajang). Sedangkan pengunjung melalui pintu Cemoro Lawang (Probolinggo) dan Wonokitri (Pasuruan) dilakukan pembatasan hingga area Lautan Pasir.
“Padang Sabana tidak diperkenankan dikunjungi,” katanya dalam keterangan tertulisnya.
Penutupan berlaku sejak Senin (3/8/26) pukul 22.00 sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan. Sampai saat ini, belum tahu luas lahan yang terbakar. Tim masih fokus melakukan pemadaman. Dia pun mengimbau pengunjung, dan pelaku jasa wisata agar menjaga kawasan TNBTS dari kebakaran hutan.
“Perhatikan penggunaan api demi keselamatan, keamanan, dan kenyamanan bersama,” tulisnya.
Selain TNBTS, kebakaran juga melanda ekosistem kawasan Taman Nasional (TN) Baluran, Kabupaten Situbondo merupakan tipe ekosistem kering. Terdiri atas ekosistem sabana, dan hutan jati yang terbakar.
Joko Mulyo Ichtiarso, juru bicara TN Baluran menyebut, kuat dugaan kebakaran terpicu aktivitas masyarakat di dalam hutan. Seperti para pencari jamur, kayu bakar, kroto, madu, ubi gadung dan pencari burung.
Mereka biasa membakar ranting dan dedaunan dan lupa mematikan. Sehingga, saat ada angin kencang api menyambar rerumputan dan dedaunan kering. “Modus pencari umbi gadung, mereka membakar daun untuk diambil abunya. Abu digunakan menghilangkan getah dari potongan umbi gadung,” katanya.
Selain itu, pencari madu hutan kerap membakar pohon hingga tumbang untuk memudahkan pengambilan madu. Lantas, sisa-sisa pohon yang terbakar menjalar lebih jauh. Joko juga menyebutkan banyak pencari burung yang memasang jaring, membakar dedaunan untuk memudahkan menjebak burung dalam jaring.
Selain itu, cara itu juga bisa menjadi modus pelaku pembalakan liar untuk mengecoh petugas TN Baluran. Mereka beraksi di titik lain, saat petugas fokus memadamkan api. Sejauh ini petugas belum pernah menjumpai langsung pelaku yang memicu kebakaran hutan. “Kalau tertangkap, pasti akan diproses.”
Joko bilang, dampak dari kejadian ini, satwa mengalami stres karena habitatnya yang menjadi teritori harus bergeser. Sejumlah satwa terdampak kebakaran, terdiri atas mamalia antara lain banteng (Bos javanicus javanicus), kerbau liar (Bubalus bubalis), dan rusa timor (Cervus timorensis). Wilayah jelajah satwa untuk mencari pakan berubah. Reptil seperti aneka jenis ular dan berbagai jenis burung juga terdampak.
Sejak Mei-Agustus 2026, secara akumulasi total luas kawasan TN Baluran yang terbakar mencapai 920,06 hektar. Pada Mei terjadi enam kali kebakaran, pada Juni ada 40 kejadian, Juli 141 kejadian dan Agustus 29 kali.
BTN Baluran menyiagakan 15 personel bersama masyarakat 47 orang. Selama musim kemarau, tim bersiaga setiap hari di dua posko.
Menurut Joko, proses pemadaman api tergolong sulit lantaran sebagian besar kawasan terbakar jauh dari sumber mata air. Untuk kawasan yang berada di dekat jalur menggunakan kendaraan tangki air.
Sejumlah tim menggunakan jet shooter, sebuah alat pemadam kebakaran berupa pompa punggung manual. Alat ini efektif untuk menjangkau di dalam kawasan hutan. Sedangkan di kawasan yang tak ada sumber air, menggunakan pelepah pohon dengan cara memukulkannya ke sumber api.
“Untuk medan sulit, biasa menggunakan ranting-ranting pohon yang masih ada daunnya untuk memukul api,” katanya.
Guna mencegah kebakaran terulang, petugas TN Baluran melakukan sosialisasi kepada warga di empat desa penyangga dengan melibatkan tokoh masyarakat, TNI dan juga polisi. Selain itu, sejumlah titik dipasang kamera pemantau CCTV sebagai deteksi dini. “Kami pasang kamera di seluruh kawasan. Untuk melihat potensi asap,” ujarnya.
Selain itu, juga dilakukan patroli rutin untuk pencegahan. Mereka berkeliling ke sejumlah kawasan yang kerap terjadi kebakaran. Joko juga berharap partisipasi masyarakat yang melintas jalur Pantura yang membelah TN Baluran. Pengguna jalur yang menghubungkan Surabaya-Banyuwangi segera melaporkan jika terjadi kebakaran.

Terjadi di banyak tempat
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan karhutla juga terjadi Desa Ngembul, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar. Kebakaran diduga terjadi karena pembakaran ranting-ranting kecil hingga menyambar hutan setempat.
Di Kabupaten Probolinggo, kebakaran juga terjadi pada Jumat (24/7/26) di petak 23 C HL, Blok Gunung Geni dan Petak 22 C HL Blok Gunung Bentar di Desa Bulujaran Kidul Kecamatan Tegalsiwalan dan Desa Curahsawo Kecamatan Gending. Hutan seluas sembilan hektar dilalap si jago merah.
Di hari sama, kobaran api menghabiskan sekitar 2,5 hektar hutan di di Desa /Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo. Sementara di Desa Belah, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, kobaran api juga menghabiskan hutan seluas dua hektar.
Karhutla juga melanda di Desa Balung, Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo. Lahan seluas dua hektar milik Perhutani juga dilaporkan ludes dilalap api. Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengimbau pemerintah daerah yang rawan karhutla, rutin mengedukasi dan sosialisasi masyarakat mencegah karhutla.
BNPB memperkirakan karhutla di sejumlah wilayah terjadi karena fenomena El-Nino Godzilla dengan perkiraan sampai awal 2027. Karhutla juga terjadi di sejumlah kawasan di Sumatera, Kalimantan, Papua dan hampir seluruh Pulau Jawa. BNPB juga melaporkan karhutla di Kabupaten Aceh Utara, Jumat (24/7/26).
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas 1,5 hektar terbakar di Desa Banaran, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah (Jateng), Jumat (24/7/26). Karhutla terjadi di Desa Aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak Rabu-Jum’at, 22-24 Juli 2026. Membakar hutan seluas 41.65 hektar.
Karhutla terjadi di Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Sabtu, 25 Juli 2026. Kebakaran menyebabkan lahan seluas tiga hektar hangus terbakar. Karhutla juga terjadi di Kabupaten Wonogiri, Jateng, Sabtu (25/7/26) membakar hutan seluas tiga hektar.
Karhutla di Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, membakar lahan gambut pada Sabtu (25/7/26). Kebakaran disebabkan faktor alam, membakar lahan seluas dua hektar. Kejadian serupa terjadi di
Kelurahan Manarang, Kecamatan Mattiro Bulu, Kabupaten Pinrang pada Minggu, 26 Juli 2026. Luas lahan terbakar diperkirakan seluas satu hektar.
Karhutla juga kembali terjadi di di Desa Gunung Gajah, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jateng, Minggu (26/7/26). Luas lahan terbakar diperkirakan sekitar 2,8 hektar.
BNPB minta, pemerintah daerah dan masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya hidrometeorologi kering selama musim kemarau, termasuk bahaya kekeringan. Dia berharap, pemerintah daerah terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman karhutla.
“Pencegahan merupakan bagian pengurangan risiko bencana yang efektif dalam pengendalian karhutla,” katanya.
BNPB mengimbau pemerintah daerah memastikan ketersediaan sarana prasarana pemadaman.
Hemat air
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang menerima surat dari dua pemerintah desa di Kabupaten Malang yang mengalami kekeringan. Desa Sumberagung Kecamatan Sumbermanjing Wetan dan Karangkates Kecamatan Sumberpucung kekurangan air, selama musim kemarau.
“Sumber mata air mengering. Warga Sumberagung harus berjalan kaki 1,5 kilometer menuju sumber air yang lain,” kata Sadono Irawan, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang saat Mongabay hubungi.
Karena itu, dia meminta warga berhemat. Sebulan terakhir, tak turun hujan sehingga sejumlah sumber menyusut dan mati.
Secara topografi, Sumberagung berada di kawasan bebatuan karst. Menghadapi musim kemarau panjang, 20 desa tersebar di delapan kecamatan di Kabupaten Malang berpotensi terjadi kekeringan. Keduapuluh desa itu kerap mengalami kekeringan pada 2019-2024.
Kini, BPBD Kabupaten Malang melakukan penilaian dini untuk memastikan daerah yang terdampak kekeringan. Sejauh ini, belum ada daerah yang mengalami kedaruratan untuk pasokan air untuk kebutuhan makan, dan minum.
Untuk jangka panjang, BPBD Kabupaten Malang membuat program sumur bor di sejumlah titik yang langganan kekeringan.
Seperti di Desa Klampok Kecamatan Singosari dan Desa Kemiri Kecamatan Jabung, selama setahun terakhir terbebas dari kekeringan. Setelah ada sumur bor dan jaringan pipa air minum ke perkampungan penduduk. Sedangkan, dalam jangka pendek berupa memasok air bersih sesuai dengan kebutuhan.
“Tahun ini melakukan survei di beberapa desa untuk program pengoboran,” katanya.
Tim BPBD Kabupaten Malang mengajukan program pengeboran dan pipanisasi kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Mereka sudah survei tiga desa prioritas.
Teuku Faisal Fathani, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan fenomena El-Nino berpotensi mencapai level sangat kuat hingga memicu musim kemarau lebih kering dan berdurasi lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi ini, bisa meningkatkan risiko kekeringan, dan karhutla.
“Perlu penguatan langkah mitigasi dan kesiapsiagaan secara nasional,” katanya di depan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas Penanganan Cuaca Ekstrem dan Penanganan Bencana di Istana Merdeka, Selasa (28/7/26).
BMKG memprakirakan puncak musim kemarau 2026 terjadi Agustus berlanjut hingga September.
Faisal menyampaikan dua fokus utama menghadapi musim kemarau antara lain, pengisian waduk dengan metode modifikasi cuaca dan mengantisipasi kebakaran karhutla dengan pembasahan lahan-lahan yang rentan atau sudah terbakar.
Risiko karhutla bakal meningkat sejak Juli hingga puncaknya pada September 2026. Tingkat risiko tinggi bisa meluas hingga Sumatera dan Kalimantan.
BMKG mengidentifikasi lima provinsi prioritas untuk intensifikasi pemantauan dan pengawasan, meliputi Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi.
“Upaya mitigasi tidak hanya berfokus pada kekeringan dan karhutla, tetapi persiapan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah pada akhir tahun,” kata Faisal.

Modifikasi cuaca
BMKG bersama kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah preventif menghadapi dampak El-Nino. OMC berbasis data dengan memanfaatkan informasi meteorologi, kondisi tinggi muka air tanah pada kawasan gambut, dan pemantauan titik panas (hotspot).
OMC untuk menjaga ketersediaan air pada waduk-waduk strategis. Salah satunya di Danau Toba demi menjaga tinggi muka air untuk kebutuhan irigasi, penyediaan air bersih, dan operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
BMKG mendorong penguatan pemantauan titik panas (hotspot), patroli terpadu, pembasahan lahan gambut, pembangunan sekat kanal, serta penegakan hukum terhadap pembakaran lahan.
Sedangkan untuk sektor kesehatan, BMKG merekomendasikan peningkatan pemantauan kualitas udara untuk mencegah meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Sektor pangan dan pertanian, BMKG mendorong percepatan waktu tanam sebelum periode defisit air mencapai puncaknya. Selain itu, menggunakan varietas tanaman berumur genjah, prioritas distribusi air pada fase kritis pertumbuhan tanaman. Serta pembatasan ekspansi pertanian di wilayah yang sangat rentan kekeringan.
Sektor ekonomi, BMKG merekomendasikan penguatan langkah antisipasi inflasi pangan melalui pemanfaatan informasi prediksi musim dalam perencanaan ekonomi. Sektor energi, BMKG mendorong pengelolaan waduk yang mengacu pada informasi prediksi cuaca dan iklim agar ketersediaan air. Pengisian waduk untuk mendukung kebutuhan pembangkit listrik, irigasi pertanian, dan konsumsi masyarakat.
*****