- Rawa gambut merupakan wilayah yang mendapat perhatian serius saat terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Pada gambut, kebakaran bukan hanya terjadi pada area permukaan, tetapi juga mencapai bawah tanah hingga berhari, bahkan berbulan.
- Sebagai wilayah tropis, Indonesia memiliki kadar garam laut lebih tinggi dibandingkan negara lain seperti Amerika Serikat atau Australia.
- Jika terpaksa harus menggunakan air laut sebagai sumber pemadaman api, maka dampak yang muncul akan signifikan pada tanah dan ekosistem daratan sekitarnya. Paling buruk, terjadi kerusakan pada ekosistem gambut atau hutan dan lahan lain.
- Gambut memiliki sifat unik, karena mengandung bahan organik yang belum terdekomposisi sempurna. Gambut bisa menyimpan karbon secara signifikan dan memiliki sifat menyimpan air seperti spons, selama belum mengalami kerusakan. Pada gambut, kebakaran akan melibatkan bahan bakar bawah tanah dengan kandungan organik, hingga menciptakan kebakaran bawah atau subsurface fire.
Rawa gambut merupakan wilayah yang mendapat perhatian serius saat terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, mengapa? Gambut memiliki karakteristik fisik, kimia, dan ekologi berbeda dari vegetasi biasa. Hal itu membuat kebakaran di gambut menjadi lebih sulit dikendalikan.
Pada gambut, kebakaran bukan hanya terjadi pada area permukaan, tetapi juga mencapai bawah tanah hingga berhari, bahkan berbulan.
Penanganan paling tepat adalah memadamkan api menggunakan air tawar, baik langsung atau melibatkan teknologi. Namun, mengingat kondisi sekarang kemarau panjang, penggunaan air tawar juga terkendala. Wacana pemanfaatan air laut untuk memadamkan api karhutla di rawa gambut mengemuka.
Augy Syahailatua, pakar ekologi dan biodiversitas laut dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), memahami permasalahan tersebut. Menurut dia, menggunakan air laut bukan alternatif yang salah. Pada kondisi mendesak, air laut bisa digunakan ketika air tawar sulit didapat di sekitar lokasi kebakaran.
Namun, dia tetap tidak menganjurkan penggunaan air laut. Alasannya, saat air laut masuk berlebihan ke daratan tertentu seperti gambut, bisa menyebabkan masalah lingkungan.
“Dalam kondisi darurat ekstrem, penggunaan air laut dikompromikan asal dilakukan terukur,” ucapnya kepada Mongabay, Sabtu (12/9/26).
Sebagai wilayah tropis, Indonesia memiliki kadar garam laut lebih tinggi dibandingkan negara lain yang memiliki masalah serupa. Sebut saja, Amerika Serikat atau Australia.
Jika terpaksa harus menggunakan air laut sebagai sumber pemadaman api, maka dampak yang muncul akan signifikan pada tanah dan ekosistem daratan sekitarnya. Paling buruk, terjadi kerusakan pada ekosistem gambut atau hutan dan lahan lain.
“Atau, tanah mengalami kemunduran kesuburan akibat residu garam.”

Dampak negatif air laut
Menurut Augy, kerusakan ekosistem akibat air laut bisa terjadi karena residu garam tertinggal, meski api sudah padam. Saat itu terjadi, maka flora, mikroorganisme, serta fauna lokal akan diintai kematian karena terdampak langsung.
Artinya, jika air laut terpaksa harus digunakan untuk memadamkan api, maka degradasi ekosistem hampir pasti akan terjadi. Terlebih, jika dilakukan tanpa perencanaan, akan mengancam keseimbangan ekosistem, termasuk struktur komunitas organisme dan rantai makanan.
Contoh paling nyata, adalah kerusakan alam akibat peristiwa tsunami di Aceh pada 2004 silam. Saat itu, dampaknya terlihat signifikan pada kawasan hutan mangrove atau flora fauna lokal hingga mengalami kematian.
Saat kerusakan ekosistem terjadi, dampak berikutnya adalah risiko jangka panjang. Perlu waktu dan biaya pemulihan tanah untuk membersihkan garam tertinggal.
“Dalam skenario skala besar, residu garam mengakibatkan lahan tidak bisa diolah kembali,” ucapnya.
Augy ingatkan semua pihak untuk pertimbangkan hal teknis dan mitigasi lebih jauh. Pertama, lakukan penghitungan cermat berapa jumlah air laut yang bisa digunakan pada sebuah kawasan hutan atau lahan. Kedua, hitung dampak residualnya pada kawasan tersebut. Ketiga, air laut sebagai sumber alternatif saat kondisi terdesak. Keempat, penggunaan air laut memerlukan teknologi pendukung agar pemadaman karhutla bermanfaat.
“Air laut yang ditampung lama, garamnya akan mengendap. Cocok dibangun di kawasan rawan seperti pesisir Kalimantan atau Sumatera.”

Solusi alternatif pemadaman kebakaran
Wahyu Catur Adinugroho, peneliti pada Pusat Riset Ekologi BRIN, memiliki pandangan sama bahwa air laut sebaiknya sebagai solusi alternatif, terutama saat kondisi darurat.
Gambut memiliki sifat unik, karena mengandung bahan organik yang belum terdekomposisi sempurna. Gambut bisa menyimpan karbon secara signifikan dan memiliki sifat menyimpan air seperti spons, selama belum mengalami kerusakan.
Keunikan tersebut membuat gambut berbeda dari lahan mineral biasa saat mengalami kebakaran. Pada gambut, kebakaran akan melibatkan bahan bakar bawah tanah dengan kandungan organik, hingga menciptakan kebakaran bawah atau subsurface fire.
“Kebakaran pada gambut lebih sulit dipadamkan, karena api merambah ke bawah dan menghasilkan asap,” ungkapnya, Minggu (13/9/26).
Dengan karakter itu, gambut akan menghadapi tantangan kompleks saat terjadi kebakaran ketika musim kemarau panjang, seperti saat ini sebagai dampak el nino.
Curah air tawar berkurang drastis selama el nino, berdampak jangka panjang pada gambut, hingga mengakibatkan degradasi. Hal itu membuat fungsinya menjadi hilang sebagai penyimpan air dan karbon.
Solusi alternatif ada dan bisa digunakan, yaitu air laut. Namun, pemanfaatannya untuk sumber pemadaman api karhutla, tidak bisa sembarangan dilakukan, karena harus dilakukan kajian mendalam.
“Memang ada efektivitas mengurangi oksigen api dan mendinginkan area terbakar.”

Wahyu menekankan pentingnya kajian mendalam, karena air laut memiliki kandungan salinitas tidak sedikit. Ada kandungan garam yang berdampak pada karakteristik kimiawi gambut.
“Potensi dampak terhadap ekosistem, proses dekomposisi, dan sifat penyimpanan karbon di gambut.”
Hal yang tak boleh dilupakan, jika air laut sebagai solusi saat kondisi terdesak, pertimbangan pula risiko korosi pada alat pemadam yang digunakan. Perlu bantuan teknologi dan ilmu pengetahuan, agar air laut benar-benar bermanfaat. Evaluasi teknologi dan monitoring jangka panjang juga perlu dilakukan agar air laut aman digunakan.
“Bagaimana salinitas memengaruhi gambut alami, terdegdarasi, atau yang pernah terbakar. Itu semua harus dikaji lebih jauh,” sebutnya.
Wahyu mendorong adanya strategi implementasi dengan menerapkan mitigasi dan prinsip kehati-hatian. Tujuannya, agar penggunaan air laut hanya menjadi opsi terakhir, tidak diaplikasikan secara umum dan hanya berdasarkan karakteristik lokal, serta ada kerja sama lintas lembaga untuk memonitor dampak lingkungan jangka panjang.
Menurut dia, air laut bisa digunakan jika kondisi darurat sedang berlangsung, sementara air tawar tidak tersedia. Namun, penyusunan mitigasi menjadi harga mati, karena efek negatif seperti kerusakan ekosistem atau infrastruktur akan selalu mengintai.
*****