- Indonesia memiliki 37 jenis mamalia laut yang 17 jenis adalah lumba-lumba. Keberadaan mereka sangat penting, sebagai indikator alami bahwa ekosistem laut sehat.
- Perairan Indonesia juga menjadi lokasi favorit lumba-lumba sebagai habitat atau jalur migrasi, seperti Laut Banda, Selat Bali, Selat Lombok, dan Laut Sawu.
- Data populasi lumba-lumba belum ada, baik di dunia atau di Indonesia. Bahkan, studi tentang populasi sampai sekarang masih sangat sedikit, kecuali untuk pesut mahakam, yaitu lumba-lumba jenis air tawar.
- Di Indonesia, lumba-lumba yang sering ditemukan adalah jenis hidung botol (Bottlenose dolphin), pemintal (Spinner dolphin), tutul (Spotted dolphin), dan Risso.
Indonesia memiliki 37 jenis mamalia laut yang 17 jenis adalah lumba-lumba. Keberadaan mereka sangat penting, sebagai indikator alami bahwa ekosistem laut sehat.
Perairan Indonesia menghubungkan Samudera Pasifik dan Hindia, jika lumba-lumba bermigrasi, mereka akan melewati Indonesia. Perairan Indonesia yang menjadi lokasi favorit lumba-lumba sebagai jalur migrasi atau habitatnya adalah Laut Banda, Selat Bali, Selat Lombok, dan Laut Sawu.
Dondy Arafat, pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University, mengatakan perairan sehat akan mengundang lumba-lumba menetap atau melintas. Namun di sisi lain, kehadiran mereka akan meningkatkan risiko dan ancaman di sekitar perairan.
“Lumba-lumba adalah mamalia laut yang berenang dengan jarak tempuh jauh. Mereka bisa mencari habitat baru di lokasi lain, beda samudera,” ungkapnya, Rabu (9/9/26).
Ancaman dan risiko yang dihadapi lumba-lumba tak mengenal batas perairan. Bisa di mana dan kapan saja. Ancaman yang dihadapi seperti terjebak jaring ikan karena tangkapan tidak disengaja (bycatch) dan berakibat pada kematian, sampah plastik dan pencemaran laut, kebisingan kapal yang mengganggu komunikasi dan ekolokasi, kerusakan habitat pesisir, dan eksploitasi untuk wisata.
Bisa jadi, lumba-lumba terdampar karena mengalami masalah seperti itu. Dampaknya, risiko kematian semakin tinggi.

Jalur migrasi
Perlindungan bisa dilakukan pada habitat dan jalur migrasi lumba-lumba.
Menurutnya, semua pihak wajib memberikan perhatian, terutama dari pemegang kebijakan seperti Pemerintah Indonesia. Mengingat, lumba-lumba bagian megafauna kelompok cetacea yang jumlahnya masih misteri sampai sekarang.
“Padahal, satwa lain sudah dibentuk kelembagaan secara khusus. Megafauna sangat perlu itu.”
Upaya konservasi dan perlindungan lumba-lumba di Indonesia juga menghadapi tantangan karena minimnya fasilitas monitoring dan intervensi. Hingga sekarang, belum ada mekanisme rehabilitasi lumba lumba.
“Kita juga belum punya master plan khusus. Ini pekerjaan besar masa depan. Tanpa kebijakan kuat, tindakan nyata sulit diwujudkan.”
Cetacea dilindungi UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, serta Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Convention International in Trade Endangered Species (CITES), melindungi cetacea sejak 2017 dengan masuk Appendix I dan Appendix II. Sebagian besar cetace bisa ditemukan di perairan Indonesia.
Lokasi penting lumba-lumba dan cetacea adalah Laut Sawu di Nusa Tenggara Timur yang menjadi jalur migrasi utama mereka. Namun, di sana terdapat juga pariwisata yang berkaitan dengan selam dan menonton langsung.
Di Indonesia, lumba-lumba yang sering ditemukan adalah jenis hidung botol (Bottlenose dolphin), pemintal (Spinner dolphin), tutul (Spotted dolphin), dan Risso.

Studi lumba-lumba minim
Mira Sekar, pakar mamalia laut dari Pusat Riset Sistem Biota BRIN, mengakui data populasi lumba-lumba belum ada, baik di dunia atau di Indonesia. Bahkan, studi tentang populasi sampai sekarang masih sangat sedikit, kecuali untuk pesut mahakam, yaitu lumba-lumba jenis air tawar.
“Penelitian sangat mahal, butuh anggaran besar dan keberpihakan lebih besar terhadap spesies ini,” katanya.
Dia mendorong para pihak melakukan penelitian lumba-lumba yang diyakini akan membantu perlindungan dari populasi ataupun jalur migrasi.
“Semua itu untuk memecahkan kesulitan data migrasi dan populasi lumba-lumba yang masih sangat sedikit.”
Lumba-lumba berperan sangat penting bagi perairan Indonesia, karena termasuk biota laut yang bisa mengendalikan ekosistem. Jalur migrasi utamanya harus baik dan sehat.
“Ibaratnya jalan tol yang menjadi jalur utama, cepat dan lancar. Begitu pun dengan jalur migrasi utama, selalu pilihan lumba-lumba saat ingin pindah lokasi.”
Saat memasuki perairan Indonesia, lumba-lumba ada yang memutuskan menetap atau hanya singgah. Biasanya, terjadi pada lumba-lumba kecil yang memilih Indonesia sebagai habitat tetap atau sementara.
Namun, ada ancaman yang mengintai mereka. Selain bycatch, pencemaran, kebisingan bawah air, dan wisata, lumba-lumba di Indonesia terancam perburuan, karena faktanya masih ada aktivitas itu di Indonesia, meski hanya dijadikan umpan menangkap paus.
Ancaman juga mengintai lumba-lumba karena krisis iklim yang memicu peningkatan suhu laut dan perubahan ekosistem yang mengancam ketersediaan makanan. Perlu penanganan lebih tepat dan signifikan, baik dari regulasi ataupun keberpihakan pemerintah.

Perlindungan jalur migrasi menjadi mutlak dilakukan Indonesia, karena membantu perikanan tangkap tetap stabil. Namun, menjaga berarti menegakkan hukum secara tegas.
“Harus melibatkan semua pihak, termasuk pelaku wisata dan nelayan. Penegak hukum juga, protokol industri. Lumba-lumba adalah benteng lautan, jika terancam maka ekosistem laut terancam juga.”
Setiap 12 September merupakan peringatan hari lumba-lumba sedunia, Sekar Mira berpesan agar semua bisa memahami mamalia laut tersebut. Mengingat, mereka adalah cerminan laut sesungguhnya.
“Jika lumba-lumba bermasalah, jumlahnya berkurang, atau jarang muncul, berarti laut tidak sehat. Itu ancaman buat manusia juga.”
Apalagi, secara umum lumba-lumba di dunia mengalami penurunan populasi. Jika kondisi itu terus menurun, maka ancamannya akan terasa sampai ke manusia. Sebaliknya, kalau dilindungi, maka kita sedang melindungi diri sendiri sebagai manusia.
*****
Mengapa Paus dan Lumba-lumba Sering Terdampar di Laut Indonesia?