- Esau Sidemo, nelayan asal Ternate, selamat setelah 26 hari terombang-ambing di Samudra Pasifik akibat mesin perahunya mati. Ia bertahan hidup dengan memakan burung laut, ikan mentah, kelapa busuk, bahkan meminum urine sebelum akhirnya diselamatkan kapal kargo berbendera Prancis.
- Kasus Esau bukan kejadian tunggal. Sejumlah nelayan Maluku Utara mengalami kecelakaan, hilang, hingga meninggal akibat mesin rusak, kehabisan BBM, gelombang tinggi dan cuaca buruk. Data Basarnas Ternate mencatat 49 operasi SAR terhadap nelayan sepanjang 2025, dengan 122 orang selamat, tujuh meninggal dan 20 masih hilang.
- Nelayan mengaku perubahan pola cuaca membuat musim ikan dan kondisi laut semakin sulit diprediksi. Berkurangnya ikan di wilayah tangkap dekat pantai juga memaksa nelayan mengejar tuna hingga lebih dari 15 mil, sehingga kebutuhan BBM dan durasi melaut meningkat tajam.
- Selain perubahan iklim, aktivitas pertambangan dan pembangunan di pulau-pulau kecil disebut semakin menekan ruang hidup nelayan. WALHI mencatat sekitar 248 izin pertambangan berada di 43 pulau kecil. Di sejumlah wilayah seperti Kabaena dan Wawonii, nelayan harus bergeser dari fishing ground akibat pencemaran dan reklamasi. Kondisi ini diperparah terbatasnya perlindungan keselamatan dan jaminan sosial bagi nelayan kecil.
Esau Sidemo tak henti berucap syukur. Bak mendapat mukjizat, lelaki 57 tahun itu tak pernah mengira bakal selamat setelah 26 hari terkatung-katung di tengah Samudera Pasifik saat mencari ikan.
Kepada Mongabay yang menemui di kediamannya di Desa Bido, Kecamatan Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara (Malut), dia ceritakan pengalaman paling tragis dalam hidupnya itu. “Ini seperti mukjizat,” kata pria yang sudah jadi nelayan sejak masih remaja itu.
Seperti biasa, hari itu, berbekal perahu ketinting bermesin tempel, Esau berangkat melaut untuk mencari ikan. Baru setengah jam melaju, mesin perahu tiba-tiba mati. Tak dinyana, arus laut kemudian membawanya ke tengah Samudra Pasifik yang berjarak ratusan kilometer dari rumahnya.
Total 26 hari lama Esau berada di tengah lautan. Selama itu, dia bertahan hidup dengan cara yang tak lazim: memakan burung laut, ikan yang kebetulan melompat di perahunya, hingga buah kelapa busuk yang hanyut di dekatnya. Dia bahkan harus meminum urine deni bertahan hidup.
Syahdan, keajaiban itu akhirnya tiba. Satu kapal kargo berbendera Prancis yang tengah melintas kemudian menolongnya. Oleh awak kapal, Esau pun dibawa ke China sebelum akhirnya kembali ke Indonesia.
“Saya selalu berdoa setiap saat agar Tuhan membantu menyelamatkan diri saya. Begitu juga setiap saya bangun pagi tidak merasa sakit walaupun hanya minum air laut dan makan ikan mentah,” katanya, akhir Agustus lalu.

Ancaman meningkat
Cerita tentang nelayan terbawa arus, hilang arah hingga nyawa di tengah laut bukan kali pertama. Gangguan teknis hingga cuaca laut yang kian tak bersahabat menjadikan kecelakaan di laut kerap terjadi.
Pengalaman Sukri Suleman dan Yusuf Abdul Rahman, dua nelayan tuna asal Desa Loleo, Kecamatan Morotai Jaya, Kabupaten Morotai, Malut adalah gambaran betapa aktivitas melaut makin rentan. Seperti halnya Esau alami, BBM perahu motor Sukr dan Yusuf habis sampai mereka tersapu badai ke perairan Filipina.
Peristiwa itu terjadi pada 3 September 2023 sekitar pukul 04.00. Ketika itu, Sukri dan Yusuf tengah memancing di sekitar rumpon yang berjarak sekira 8 mil dari garis pantai Desa Loleo. Sore sekitar pukul 15.00, BBM mereka habis karena hanya membawa 15 liter.
Enam hari setelah terombang-ambing gelombang, mereka bertemu nelayan Filipina di sekitar Pulau Palau yang lantas memberinya 100 liter BBM agar bisa kembali pulang. Pada 13 September 2023, mereka sampai di Miangas, sebelum akhirnya berhasil pulang melalui Bitung, Sulawesi Utara (Sulut).
Pada akhirnya, Esau, Sukri dan Suleman berhasil kembali berkumpul keluarganya, meski harus melewati perjuangan keras. Tetapi, tidak demikian dengan Rustam Abas, nelayan asal Tidore yang meninggal dunia usai terjatuh saat gelombang tinggi menerjang perahunya, 5 Agustus 2025.

Lima bulan sebelumnya, Sudarwin Hasrat dan Udin Rope, dua nelayan asal Mangga Dua, Ternate juga harus Basarnas evakuasi setelah perahu mereka hancur akibat terjangan ombak. Begitu juga dengan Wahab Samad dan Bobi, yang perahunya terbalik akibat cuaca buruk.
Tahun ini, berdasar data Mongabay himpun, tercatat dua kejadian nelayan hilang saat melaut. Yakni, Abu Bakar Wahid, nelayan asal Galala Oba Utara, Tidore pada Februari dan Maneng Manola, nelayan asal Desa Sofifi, Halmahera Barat, Agustus.
Data Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Ternate hingga Desember 2025, tercatat 49 operasi SAR terhadap nelayan. Angka itu lebih tinggi ketimbang periode sebelumnya yang tercatat 41 operasi.
“Geografis Maluku Utara sebagai wilayah kepulauan dengan aktivitas laut tinggi menjadi faktor utama,” jelas Iwan Ramdani, Kepala Basarnas Ternate. Dari 31 kasus kecelakaan, tercatat 122 orang selamat dan 7 orang meninggal. Sementara 20 lainnya hilang.
Menurut Iwan, semua kejadian kecelakaan di laut terpicu gelombang ekstrem hingga capai 2,5 meter.

Beban nelayan bertambah
Gafur Kaboli, nelayan tuna asal Ternate akui, gelombang tinggi serta cuaca yang kian tak tentu menambah beban para nelayan. Terutama nelayan kecil. “Korban akibat dampak perubahan iklim terus naik seiring cuaca yang tidak lagi menentu. Keselamatan nelayan jadi terancam,” ujarnya, Sabtu (11/9/26).
Meski begitu, tak ada pilihan. Bagi Gafur, di tengah beban operasional yang kian membengkak akibat zona tangkapan yang makin jauh, para nelayan tetap berangkat. “Bagaimanapun juga, kami menganggapnya sebagai risiko pekerjaan, meski cuaca makin sulit diprediksi,” terang Sekretaris Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Malut itu.
Dulu, katanya, nelayan bisa memperkirakan kapan waktunya musim ikan, hingga kemungkinan datangnya badai tengah laut. Akan tetapi, iklim yang berubah membuyarkan kemampuan itu. Alih-alih, saat nelayan memperkirakan cuaca sedang baik, begitu di tengah laut, yang terjadi sebaliknya.
Situasi makin pelik karena area tangkap nelayan juga banyak berubah. Gafur katakan, dulu, nelayan mudah mendapatkan tuna di bawah radius 12 mil. Tetapi, kini makin sulit. Nelayan harus menjangkau di atas 15 mil yang itu berarti biaya operasional juga membengkak.
“Bahkan sampai 15 mil pun saya jamin sudah setengah mati dapatkan tangkapan yang banyak,” ungkapnya.
Gafur bilang, sebelumnya, nelayan cukup 20-30 liter BBM untuk sehari melaut. Tetapi, sekarang tidak lagi. Mereka butuh 100-150 liter BBM dengan durasi melaut lebih lama, 2-3 hari.
Dana Tarigan, Kepala Departemen Komunikasi Strategis Walhi Nasional katakan, perubahan iklim menghadirkan krisis multidimensi bagi masyarakat pesisir dan kelautan. Beban nelayan bertambah, sementara tantangan menangkap ikan juga semakin besar.
“Ujungnya, kehidupan nelayan menjadi semakin sulit,” jelas Dana dalam siaran pers yang dia susun bersama KNTI.
Di tengah situasi itu, aktivitas di darat turut menambah beban persoalan sektor ini, salah satunya aktivitas pertambangan yang kian massif. Data Walhi, kata Dana, sekitar 248 izin pertambangan berada di 43 pulau kecil di Indonesia.

Zona tangkap makin jauh
Menurut Dana, maraknya aktivitas pertambangan telah sebabkan ruang tangkap nelayan makin jauh karena laut yang makin tercemar. Seperti yang terjadi di Kabaena, Sulawesi Tenggara (Sultra). Banyak nelayan tangkap gurita yang harus pindah area tangkap karena fishing ground sebelumnya terpapar limbah nikel.
Begitu juga di Wawonii. Para nelayan harus bergeser karena area tangkap sebelumnya terdampak perluasan reklamasi untuk pembangunan terminal khusus perusahaan nikel. Pun demikian pula nelayan di Malut.
“Kehadiran PSN justru memperburuk keseimbangan ekologis di bentangan alam Sulawesi dan Kepulauan Maluku Utara. Untuk itu negara harus serius mendorong moratorium izin tambang terutama yang terintegrasi dengan PSN dan menghentikan perizinan tambang di pulau kecil di Indonesia,” kata Faizal Ratuela, Pengkampanye Tambang dan Energi Walhi Nasional.
Dampak dari situasi itu tidak hanya aktivitas penangkapan yang terganggu. Tetapi, meluas ke mata pencaharian, pemenuhan pangan. “Negara perlu hadir bagi nelayan kecil dan masyarakat pesisir, dengan kebijakan dan aksi nyata yang sensitif pada kebutuhan masyarakat nelayan,” kata Mida Saragih, Pengkampanye Perlindungan Pesisir dan Laut Walhi Nasional.
Dani Setiawan, Ketua Umum KNTI mengatakan, secara ekonomi, perubahan iklim berdampak besar terhadap para nelayan. Survei yang lembaganya lakukan mengungkap, cuaca ekstrem yang terjadi pada Januari lalu mempengaruhi 95% nelayan di 350 desa pesisir.
“Dengan 63% menghentikan melaut akibat angin kencang dan gelombang tinggi. Selain itu, penghasilan nelayan turun hingga 50%, dari Rp400.000– 650.000 menjadi Rp200.000–400.000 per hari, terutama di Jawa Barat, Maluku, dan Sulawesi ” katanya.
Celakanya, di tengah situasi itu, perlindungan bagi nelayan kecil, masih sangat terbatas. Penyediaan asuransi iklim hingga alat keselamatan kerja bahkan terhenti sejak 2021.
”Pemerintah perlu melanjutkan adanya program perlindungan sosial dalam bentuk jaminan keselamatan kerja di laut karena menjadi amanat dari UU Nomor 7/2016 tentang Perlindungan Nelayan, pembudidaya ikan dan petambak garam.”
*****