- Masyarakat Kerinci, Jambi, yang menggantungkan hidup dari Sungai Batang Merangin merasakan perubahan ketika pembangkit Listrik tenaga air (PLTA) mulai hadir. Lahan-lahan sawah mulai kekurangan pengairan. Tak pelak, masyarakat yang hidup dari petani pun jadi kesusahan.
- Sebagian Masyarakat Kerinci, gantungkan sumber pencarian dari tangkap ikan di Sungai Batang Merangin. Nelayan sungai pun terdampak. Ikan mulai sulit, salah satu ikan semah, yang jadi andalan nelayan karena bernilai ekonomi tinggi. Ikan ini juga biasa untuk ritual adat.
- Bagi Walhi Jambi, persoalan di Batang Merangin tidak berhenti pada berkurangnya debit air atau penurunan hasil tangkapan ikan. Juga jadi persoalan apakah seluruh dampak itu telah pelaksana proyek perhitungkan sejak perencanaan. Oscar Anugrah, Direktur Eksekutif Walhi Jambi, menilai, proses analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) proyek PLTA Kerinci Merangin Hydro lebih sebagai pemenuhan prosedur administratif daripada instrumen melindungi masyarakat dan lingkungan.
- Warsi menyatakan, solusi tidak cukup berhenti pada pengaturan operasional bendungan. Pemulihan kawasan hulu, rehabilitasi lahan yang terdegradasi, perlindungan sempadan sungai, dan pelibatan masyarakat dalam tata kelola DAS menjadi prasyarat agar fungsi ekologis Danau Kerinci tetap terjaga.
Asap tipis mulai mengepul dari pondok kecil di tepi sawah Desa Tarutung, Kecamatan Batang Merangin, Kerinci, Jambi. Di bawah atap seng yang mulai berkarat, Nur Ainun mengaduk air rebusan ubi dengan sepotong kayu. Di hadapan perempuan 54 tahun ini terbentang hamparan sawah dengan Semak belukar belum lama mereka bersihkan.
Suaminya masih berada di tengah petak sawah. Ayunan parang terdengar berulang-ulang memotong ilalang yang tumbuh hampir setinggi pinggang.
Sesekali dia berhenti, mengusap peluh, lalu kembali menebas perdu yang selama dua tahun menguasai lahan. Ini kali ketiga mereka membersihkan lahan tani yang sama.
Bukan karena tanah tak lagi subur, bukan pula karena mereka berhenti menjadi petani.
Mereka meninggalkan lahan itu karena air tak lagi datang.
“Semoga kali ini airnya lancar, supaya kami bisa mulai menyemai padi,” kata Nur Ainun lirih, April lalu.
Sawah Nur tidak jauh dari tepian sungai. Selama puluhan tahun, keluarganya tak pernah ada masalah air. Sungai mengalir mengikuti musim, kincir-kincir kayu yang warga pasang mengangkat air menuju saluran irigasi tanpa pernah banyak mereka pikirkan.
Sungai bekerja seperti napas. Tenang, teratur dan mereka bisa pahami.
Petani tahu kapan mulai membajak, menyemai, memupuk, bahkan panen. Mereka membaca musim dari tinggi permukaan sungai, sebagaimana nelayan membaca arus dari warna air.
Kini, semua pengetahuan itu perlahan kehilangan makna. Air bisa surut pada pagi hari. Beberapa jam kemudian tiba-tiba meluap, lalu menghilang lagi.
Tak ada lagi pola yang bisa mereka baca. Tak ada lagi kepastian.
“Bulan kedua setelah tanam biasanya kami memberi pupuk,” kata Nur.

Waktu itu, air tiba-tiba berhenti mengalir. “Kincir tidak bisa berputar.”
Tanaman yang perlu air pun mengering. Sebagian mati sebelum sempat berbulir.
Perubahan itu, kata Nur , mulai terasa setelah pembangkit listrik tenaga air mulai beroperasi di hulu Batang Merangin.
Dalam empat tahun terakhir, Nur menghitung musim tanam lebih banyak gagal daripada berhasil.
Dulu, mereka bisa memanen padi dua kali setahun. Kini, sekali panen saja menjadi perjuangan panjang.
Produksi gabah yang biasa mencapai sekitar tiga ton setiap musim merosot menjadi hanya sedikit di atas satu ton. Pendapatan keluarga ikut menyusut.
Anak-anak tetap harus sekolah. Biaya hidup tetap berjalan.
Sawah yang selama ini menjadi penyangga kehidupan tak lagi memberi hasil seperti dulu.
Di beberapa petak sawah lain, semak belukar tumbuh jauh lebih lebat.
Ada lahan yang benar-benar mereka tinggalkan. Batang-batang kayu liar tumbuh di pematang.
Rumput menutup saluran air. Beberapa petani memilih membiarkan sawah kosong daripada menanggung biaya tanam yang berakhir gagal.
Pulau Pandan pun alami hal serupa. Sawah mulai alami perubahan.

Halim, Depati Langit mengatakan, sebagian besar sawah di Pulau Pandan merupakan tanah pusaka warisan turun-temurun.
“Sawah ini bukan milik satu orang. Dari nenek moyang diwariskan turun-temurun. Kadang satu petak sawah dipakai bergiliran oleh puluhan anggota keluarga.”
Sawah-sawah itu bukan sekadar lahan produksi. Di sanalah, masyarakat masih menyelenggarakan Kenduri Sudah Tuo, tradisi syukur menjelang panen.
Di sanalah mereka menjalankan tradisi menjemput padi, mengambil segenggam bulir pertama sebagai tanda mulai musim panen.
Tradisi yang bertahan jauh lebih lama dari umur bendungan.
Sebagai depati, Halim memandang tugas adat bukan hanya menjaga upacara.
Dia merasa berkewajiban menjaga keberlangsungan hidup masyarakatnya.
“Tugas orang adat itu mengarah dan mengajuk masyarakat. Kalau ada persoalan, kami yang menenangkan, kami yang mencari jalan terbaik.”

Bertahan dengan kincir air di tengah air menipis
Di sepanjang Batang Merangin, warga seperti Nur, masih berupaya bertahan menggunakan kincir air tradisional.
Konstruksi sederhana. Rangka kayu. Bilah-bilah bambu memutar arus sungai. Mereka tak perlu bahan bakar maupun listrik.
Hanya bermodal aliran air yang terus bergerak.
Nur bilang, air sebagai syarat paling dasar itu justru sering tak terpenuhi.
Ketika permukaan sungai turun beberapa puluh sentimeter saja, roda kincir berhenti berputar.
Kayu-kayu yang terus terendam tanpa bergerak cepat lapuk. Untuk membuat satu kincir baru, petani harus mengeluarkan jutaan rupiah.
Persoalan itu ternyata bukan hanya di Desa Tarutung dan Pulau Pandan. Keluhan serupa terdengar di Pengasih Lama, Pengasih Baru, Pulau Sangkar, hingga desa-desa lain yang menggantungkan sawah mereka pada Sungai Batang Merangin.
Mereka mulai rasakan perubahan itu sejak kahadiran PT Kerinci Merangin Hidro (KMH), perusahaan pengelola PLTA Kerinci di Kerinci, yang terafiliasi dengan Kalla Group dan keluarga Jusuf Kalla ini.
Proyek ini sudah lama menjadi bagian dari rencana besar pengembangan energi terbarukan di Sumatera, dengan kapasitas berkisar 350 MW-480 MW.
Dari laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) menyebutkan, proyek ini terhubung dengan PLN melalui perjanjian jual beli perusahaan listrik negara itu lewat nota kesepahaman dan kontrak penyerapan listrik dari PLTA Kerinci/Merangin. Nantinya, produksi energi masuk ke sistem kelistrikan Sumatera.

Heriawan, Kabid Tanaman Pangan, membuka sejumlah data produksi pertanian yang selama ini menjadi kebanggaan Kerinci. Di atas kertas, daerah ini masih menjadi lumbung padi terbesar di provinsi ini.
Pada 2025, luas panen sawah 17.137 hektar dengan produksi gabah 94.217 ton. Surplus beras mencapai 34.852 ton, meningkat sekitar 8,6% dari tahun sebelumnya.
Potensi sawah Kerinci mencapai 12.205 hektar tersebar di 18 kecamatan. Bahkan berdasarkan laporan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), luas tanam sebenarnya 24.334 hektar dengan panen sekitar 21.888 hektar.
Bila menggunakan produktivitas rata-rata yang sama, perkiraan produksi padi Kerinci dapat mencapai 120.166 ton.
Angka-angka itu menggambarkan optimisme. Namun Heriawan mengakui, di balik statistik itu terdapat persoalan yang makin terasa di tingkat petani, salah satunya sistem irigasi.
Menurut dia, tidak semua wilayah pertanian Kerinci memiliki jaringan irigasi memadai. Sejumlah kecamatan, terutama Danau Kerinci, Danau Kerinci Barat, dan Keliling Danau, masih bergantung pada pasokan air yang sangat bergantung kondisi alam.
Ketika sumber air tidak stabil, seluruh siklus produksi ikut terganggu.

Sungai tak bisa lagi jadi gantungan hidup nelayan
Beberapa puluh kilometer dari sawah Nur, Sungai Batang Merangin mengalir melewati Desa Muara Hemat. Di desa ini, selain sawah, sebagian besar keluarga menggantungkan hidup pada tangkapan ikan di sungai.
Kasih, nelayan sudah di tepian sungai sejak dini hari. Di tangannya tergenggam jaring yang mulai kusam. Istrinya, Linda, menunggu di rumah.
Bila tangkapan cukup, dia akan menjual ikan-ikan itu ke pasar di desa itu. Bila hasil sedikit, hanya untuk makan sendiri.
Dulu, pekerjaan itu cukup untuk menghidupi keluarga. Sekarang tidak lagi.
Sejak tahap pembangunan hingga PLTA mulai beroperasi, tangkapan Kasih terus menurun. Yang paling dia rasakan hilangnya ikan semah.
Bagi masyarakat Kerinci, semah bukan sekadar ikan. Ia kebanggaan sungai. Daging tebal, dan harga jauh lebih tinggi dari ikan air tawar lain.
Kasih masih ingat ketika satu semah berbobot tujuh sampai 10 kilogram bukan sesuatu yang luar biasa. Kini, semah satu kilogram saja sudah jadi kabar baik.
“Lalu lintas ikan terhambat dari hulu dan hilir Sungai Batang Merangin. Dam membuat mereka terkepung. Ini yang membuat ikan sulit kawin dan jumlahnya semakn dikit,” katanya.
Bagi orang Kerinci, semah bukan sekadar ikan mahal.
Ia hadir dalam berbagai perayaan adat. Menjadi hidangan ketika keluarga menerima tamu penting.
Menjadi simbol kemakmuran dan penghormatan.
“Ikan semah dari dulu memang ikan paling istimewa. Rasanya berbeda, sisiknya pun ikut dimasak. Dulu masih mudah didapat. Sekarang kalau dapat, paling anak-anaknya,” kata Halim.
Sebenarnya, tak hanya semah yang menghilang.
Kasih mengatakan, hampir sulit temukan berbagai jenis ikan di sungai. Air sungai masih mengalir, tetapi kehidupan di dalamnya berubah perlahan.
Keluhan serupa terdengar dari dua nelayan yang lebih lama mengenal Batang Merangin.

Zainul Abidin, nelayan 53 tahun dan Basri, usia 61, tumbuh bersama sungai itu. Mereka belajar membaca cuaca dari warna air. Mereka tahu kapan ikan naik ke hulu.
Mereka tahu kapan arus mulai berubah karena musim. Sekarang semua pengetahuan itu seperti kehilangan pegangan.
Dalam satu hari, sungai bisa berubah beberapa kali. Pagi hari surut, jelang siang tetap dangkal.
Malamnya tiba-tiba meluap deras, seperti banjir datang tanpa hujan. Nelayan tak lagi mampu menebak perilaku sungai yang selama puluhan tahun mereka kenal.
Perubahan itu bukan hanya menyulitkan menangkap ikan. Ia juga mengubah dasar sungai.
Di lubuk-lubuk yang dahulu menjadi tempat ikan berkumpul, keduanya menemukan sesuatu yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.
Potongan besi. Material konstruksi. Sisa pekerjaan proyek.
Benda-benda itu berada di dasar sungai, tepat di lokasi tempat mereka biasa menyelam atau memasang jaring.
Lubuk yang dahulu menjadi rumah ikan kini berubah menjadi tempat yang mereka hindari.
Beberapa hari kemudian saya kembali menyusuri Muara Hemat.
Kali ini, Donal dan Nazarudin, nelayan 60 tahunan itu mengajak melihat bagian sungai yang menurut mereka paling berubah.
Mereka berhenti di tepi arus yang tampak tenang. Ketenangan itu, kata mereka, sering menipu.
“Kami takut kalau air tiba-tiba pasang.”
Mereka menunjuk bekas batang kayu yang tersangkut di tepi sungai.
Ketika pintu air dibuka, arus datang begitu cepat. Menurut mereka, gelombang itu menyerupai banjir bandang.
Tidak ada tanda. Tidak ada sirene. Tidak ada pemberitahuan.
Mereka khawatir suatu hari arus itu akan menghanyutkan nelayan yang sedang memasang jaring atau menyelam di lubuk.
Selain kehilangan ikan, mereka juga kehilangan hutan kecil dan lubuk larangan yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Tradisi turun temurun pun hilang
Di pinggir Danau Kerinci, saat acara adat sedang berlangsung, Halim berbicara pelan, sesekali berhenti, seolah sedang memilih kata yang tepat untuk menjelaskan sesuatu.
Baginya, persoalan yang kini masyarakat Kerinci hadapi jauh melampaui soal hasil tangkapan ikan turun atau gagal panen.Yang sedang berubah adalah hubungan manusia dengan air.
“Nelayan di sini bukan pekerjaan baru. Dari nenek moyang kami memang hidup sebagai nelayan.”
Jauh sebelum istilah konservasi ada, masyarakat adat sudah memiliki cara sendiri menjaga keseimbangan danau.
Mereka mengenal sakan, perangkap yang sekaligus menjadi tempat ikan berkembang biak.
Mereka membuat ahan, tumpukan ranting dan batang kayu yang sengaja nelayan susun sebagai habitat ikan.
Ada pula lukah, jaring, hingga tradisi menyelam yang mengikuti musim dan perilaku ikan.
Semua tanpa merusak danau. Semua warisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Ini bukan tradisi yang baru. Dari zaman nenek moyang memang seperti itu. Semua orang di sekitar danau tahu.”
Bagi masyarakat adat, pengetahuan itu bukan sekadar teknik mencari nafkah. Ia bagian dari identitas.
Anak-anak belajar mengenal musim dari orang tuanya. Mereka belajar membaca arah angin, warna air, hingga kapan ikan mulai bertelur.
Pengetahuan itu tidak pernah tertulis. Ia hidup di dalam ingatan kolektif masyarakat.
Kini, kata Halim, pengetahuan itu mulai kehilangan pijakan.
Perubahan pola aliran air membuat hampir semua perhitungan lama tidak lagi berlaku.
“Dulu, kalau padi sudah besar, kincir atau pintu air dihentikan sampai panen selesai. Setelah panen baru dialirkan lagi.”
Sekarang, katanya, buka-tutup tidak menentu. “Hari ini mengalir, besok berhenti. Masyarakat yang menerima akibatnya.”
Perubahan itu bukan hanya memengaruhi petani, nelayan juga kehilangan perangkap ikan yang mereka bangun bertahun-tahun.
“Kasihan masyarakat. Tidak ada peringatan. Tiba-tiba air datang besar. Ada keramba hanyut, perangkap ikan hilang. Kadang diganti, kadang tidak. Kalaupun diganti, tidak sebanding dengan kerugian.”
Halim menggeleng pelan.
Menurut dia, uang tidak pernah mampu mengganti hilangnya sumber penghidupan.
“Kalau mata pencarian hilang, apa cukup diganti Rp5 juta? Setelah itu bagaimana masyarakat hidup bertahun-tahun?”
Perubahan itu juga terlihat dari makanan yang dahulu menjadi kebanggaan masyarakat Kerinci.
Kerang air tawar makin sulit.
“Kalau dulu setengah hari sudah dapat satu canting kerang. Sekarang seharian belum tentu dapat.”

Bagaimana menyelamatkan ikan semah?
Pada Juli 2020, tim peneliti Universitas Jambi dengan pimpinan Tedjo Sukmono menyusuri Sungai Batang Merangin mulai dari Danau Kerinci hingga Desa Air Batu, Merangin.
Penelitian itu sebagai bagian dari kajian akademik untuk mengidentifikasi kondisi habitat ikan semah sebelum pembangunan PLTA Kerinci Merangin Hydro beroperasi.
Selama survei, tim menelusuri enam stasiun pengamatan yang mewakili kawasan hulu, tengah, dan hilir sungai.
Mereka mengukur kualitas air, menangkap ikan menggunakan jaring, jala, dan pancing, mewawancarai masyarakat serta pemancing, lalu menganalisis distribusi populasi, tingkat kematangan gonad, hingga pola migrasi ikan semah.
Hasilnya, memperlihatkan Batang Merangin merupakan habitat yang sangat spesifik.
Di bagian hulu, air mengalir deras di atas hamparan batu granit dengan tingkat kejernihan yang tinggi. Memasuki wilayah tengah dan hilir, arus mulai melambat dan air menjadi lebih keruh, salah satunya akibat aktivitas pertambangan emas tanpa izin.
Tim peneliti menemukan dua spesies semah yang hidup di sungai itu.
Semah daun (Tor tambroides) lebih banyak di bagian hulu hingga tengah, sedang semah pendek (Tor douronensis), bisa sampai sekitar 40 kilogram, lebih dominan di wilayah tengah hingga hilir.
Yang lebih penting, penelitian itu mengungkap bahwa semah bukan ikan yang hidup menetap.
Spesies ini melakukan migrasi lokal (potamodromous migration), berpindah mengikuti aliran sungai untuk berkembang biak.
Menjelang musim hujan, induk semah bergerak menuju bagian sungai yang berbatu dan berarus deras. Di lokasi itulah ikan betina melepaskan telur dengan cara membenturkan tubuhnya ke permukaan batu, kemudian memijah secara bertahap dua hingga tiga kali dalam setahun.

Bagi Tedjo, karakter biologis tersebut menjadikan keberlanjutan aliran sungai sebagai syarat utama kelangsungan hidup semah.
“Sumber energi memang penting. Tetapi menjaga spesies juga tidak kalah penting. Mengingat, apa pun bentuk pembangunan yang mengubah ruang hidup spesies, harus dipikirkan bagaimana protokol biodiversity safeguard-nya.”
Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa populasi semah sebenarnya sudah berada pada kondisi mengkhawatirkan bahkan sebelum PLTA beroperasi.
Kepadatan populasi hanya sekitar 0,033 ekor per meter persegi, masuk kategori sangat jarang. Salah satu penyebabnya, tekanan penangkapan tinggi karena nilai ekonomi terus meningkat.
Tedjo menilai, kondisi itu bukan alasan untuk mengabaikan perlindungan habitat.
Justru karena populasi menurun, setiap perubahan bentang sungai harus terancang dengan pendekatan konservasi yang lebih hati-hati.
Penelitian itu merekomendasikan pembangunan torway atau jalur migrasi khusus ikan semah.
Berbeda dengan salmon yang melompati jeram, semah memiliki cara bermigrasi yang unik.
Melalui pengamatan di jeram granit Desa Air Batu dan wawancara dengan tenaga teknis pembibitan semah di Instalasi Pendung Semurup, tim peneliti menemukan bahwa semah memanfaatkan organ sucker, perpanjangan cuping bibir bagian bawah, untuk menempel pada batu ketika bergerak melawan arus.
Ikan itu tidak melompat.Ia merayap. Sucker menempel pada batu. Sirip dada mengangkat tubuh. Sirip perut menjaga keseimbangan. Ekor memberikan dorongan. Lalu tubuh bergerak perlahan menuju batu berikutnya.
Perilaku alami itu kemudian diterjemahkan menjadi rancangan teknis torway.
Mereka rekomendasikan jalur migrasi memiliki kemiringan sekitar 20–45 derajat, dengan dasar berbatu yang kasar agar sucker dapat mencengkeram permukaan.
Setiap anak tangga dibuat kurang dari satu meter, dilengkapi cekungan pembentuk pusaran air dan bordes sebagai tempat ikan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke tingkat berikutnya.
Selain torway, tim peneliti juga mengusulkan rekayasa habitat di sekitar mulut intake bendungan.
Juga perdalam dasar sungai hingga sekitar delapan meter dan lengkapi dengan border beton melengkung hingga ikan secara alami memilih jalur aman, bukan terseret masuk ke terowongan pembangkit.
Menurut Tedjo, rekomendasi itu bukan sekadar solusi teknis. Ia merupakan bagian dari upaya memastikan bahwa pembangunan infrastruktur energi tidak menghapus ruang hidup spesies yang telah lama menghuni Batang Merangin.
“Memang belum ada bendungan PLTA di Indonesia yang mengadopsi fishway seperti ini. Tetapi justru karena PLTA Kerinci Merangin Hydro merupakan PSN, pembangunannya harus benar-benar berkelanjutan.”

Ke mana air sungai yang dulu?
Ketika kami menerbangkan drone menyusuri Batang Merangin dari bendungan menuju powerhouse.
Dari kawasan bendungan di Bedeng 5, kamera mulai mengikuti alur sungai ke arah hilir, melewati lereng-lereng hijau yang selama ini menjadi penyangga daerah aliran Sungai Batang Merangin.
Di antara bendungan kedua di Dusun Bedeng 5, Desa Batang Merangin, hingga powerhouse di Bedeng 12, Sungai Batang Merangin nyaris lenyap. Tidak ada arus. Tak ada riak.
Yang membentang hanyalah hamparan batu-batu besar, pasir, dan dasar sungai yang terbuka di bawah cahaya matahari.
Sungai itu tidak benar-benar hilang. Ia hanya tidak lagi mengalir di tempat semestinya.
Beberapa kilometer kemudian, tepat setelah melewati bangunan powerhouse, air muncul kembali.
Dari udara terlihat jelas bagaimana aliran yang sempat menghilang itu kembali memenuhi badan sungai. Debit cukup besar, tetapi berubah-ubah. Persis seperti yang para nelayan ceritakan di Muara Hemat.
Temuan visual itu memperkuat dugaan yang sejak awal berkembang di tengah masyarakat, sebagian besar debit Sungai Batang Merangin mengalir melalui terowongan menuju turbin pembangkit, bukan melalui alur alami sungai.
Seorang karyawan PLTA menjelaskan, ada empat terowongan bawah tanah yang PLTA bangun. Terowongan pertama di Bedeng 5, terowongan kedua Bedeng 7, terowongan ketiga di Bedeng 12, dan terowongan keempat di Desa Muara Hemat.
Terowongan-terowongan itu juga menembus beberapa bukit. Panjangnya sekitar enam kilometer menuju powerhouse, dengan diameter terowongan beserta pipa kurang lebih lima meter.
Dari pantauan Mongabay, sepanjang enam kilometer dari Bedeng 5 hingga ke powerhouse, sungai tak berair, kering kerontang, hanya menyisakan bebatuan besar. Kami turun untuk memeriksa kondisi bendungan kedua di Bedeng 5.
Ketika kami berada di powerhouse, satu turbin terlihat tetap beroperasi, berarti air tetap mengalir dengan jalur berubah. Bukan lagi mengikuti lekuk Sungai Batang Merangin, melainkan memasuki sistem pembangkit sebelum akhirnya kembali ke sungai beberapa kilometer di hilir.

Bagi Walhi Jambi, persoalan di Batang Merangin tidak berhenti pada berkurangnya debit air atau penurunan hasil tangkapan ikan. Juga jadi persoalan apakah seluruh dampak itu telah pelaksana proyek perhitungkan sejak perencanaan.
Oscar Anugrah, Direktur Eksekutif Walhi Jambi, menilai, proses analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) proyek PLTA Kerinci Merangin Hydro lebih sebagai pemenuhan prosedur administratif daripada instrumen melindungi masyarakat dan lingkungan.
“Dengan beberapa informasi dan temuan di lapangan, proses amdal bersifat formalitas, belum substantif. Secara dokumen memang ada, tetapi partisipasi masyarakat terdampak, terutama nelayan atau pengguna air, tidak berlangsung secara bermakna.”
Menurut dia, berbagai persoalan yang kini muncul justru memperlihatkan bahwa risiko-risiko itu tidak terantisipasi sejak awal. Dia bilang, indikasi pelaksanaan proyek tidak berjalan sesuai komitmen yang tercantum dalam dokumen lingkungan.
“Dampak nyata berupa surutnya muka air danau, rusaknya sumber penghidupan masyarakat, serta terganggunya ekosistem perairan menunjukkan ada kegagalan dalam menjalankan kewajiban pengelolaan dan pemantauan lingkungan.”
Jika kondisi ini terus berlangsung, katanya, patut ada dugaan terjadi pelanggaran terhadap komitmen izin lingkungan yang Perusahaan miliki.
Selain itu, Walhi juga menyoroti minimnya keterbukaan informasi selama proses pembangunan.
“Informasi yang disampaikan kepada masyarakat lebih bersifat sosialisasi formal, belum membuka ruang dialog setara dan terbuka, terutama bagi kelompok terdampak seperti nelayan.”
Persoalan Batang Merangin tidak boleh dipahami sebagai penolakan terhadap energi terbarukan. Sebaliknya, yang jadi persoalan bagaimana transisi energi berjalan secara berkeadilan.
“Pada prinsipnya, walhi Jambi mendukung transisi energi, tetapi kami tegas menolak praktik yang mengabaikan keadilan ekologis dan sosial.”
Seharusnya, kata Oscar, transisi energi tidak memindahkan beban dari krisis iklim menjadi krisis baru bagi masyarakat yang hidup di sekitar sumber energi.
Mongabay mendatangi kantor operasional PLTA Kerinci Merangin Hydro di Desa Muara Hemat, Kabupaten Kerinci, 4 April lalu. Namun, petugas keamanan yang berjaga menyampaikan tidak ada pimpinan perusahaan di lokasi.
Kami juga menghubungi Asrori, Manajer Humas PT Kerinci Merangin Hydro, melalui telepon selulernya pada 6 April dan 13 Juli 2026.
Pesan yang kami kirim melalui aplikasi WhatsApp centang dua, namun hingga berita ini terbit tidak ada tanggapan maupun jawaban atas permintaan wawancara itu.

Penyusutan Danau Kerinci
Adi Junaidi, Direktur KKI Warsi, mengatakan, analisis citra satelit mereka merekam penyusutan luas permukaan Danau Kerinci sekitar 70 hektar periode April 2025-Februari 2026.
Meski pada Mei 2026, permukaan danau kembali mendekati kondisi sebelumnya,.
“Temuan ini menunjukkan, penyusutan pada Februari 2026 tidak dapat dipandang sebagai fenomena tunggal, melainkan sebagai indikasi ada gangguan pada sistem hidrologi Daerah Aliran Sungai Danau Kerinci.”
Penyusutan itu, katanya, terjadi bersamaan dengan uji coba pengisian bendungan PLTA dan periode curah hujan rendah.
Kombinasi keduanya memperlihatkan betapa rentan sistem hidrologi Danau Kerinci terhadap tekanan pemanfaatan air.
“Yang paling mengkhawatirkan bukan hanya berkurangnya luasan permukaan air danau, tetapi menurunnya kapasitas Danau Kerinci dalam menjalankan fungsi ekologis dan sosialnya.”
Danau Kerinci, kata Adi, bukan hanya memasok air bagi pembangkit listrik. Ia sumber irigasi pertanian, menopang perikanan, memenuhi kebutuhan rumah tangga, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan Kerinci.
Bila tekanan terhadap danau terus meningkat tanpa pemulihan memadai, kemampuan menyimpan air pada musim hujan dan menyediakan pada musim kemarau akan terus menurun.
Analisis Warsi juga menunjukkan, hilangnya tutupan hutan di hulu memperburuk keadaan. Hutan itu selama ini berfungsi menyerap air hujan, menjaga aliran dasar sungai, dan mengurangi erosi serta sedimentasi.

Ketika tutupan hutan menyusut, katanya, pola aliran air menjadi makin ekstrem, melimpah dalam waktu singkat saat musim hujan, lalu turun tajam ketika kemarau datang.
“Keberlanjutan pasokan air untuk berbagai kebutuhan, termasuk pembangkit listrik, sangat bergantung pada keberhasilan menjaga dan memulihkan kawasan hulu serta daerah tangkapan air di sekitar Danau Kerinci.”
Jadi, katanya, persoalan Batang Merangin tidak dapat terpisahkan dari kesehatan seluruh DAS Danau Kerinci.
Sungai, danau, hutan, sawah, dan permukiman merupakan satu kesatuan bentang alam yang saling bergantung. Ketika satu bagian terganggu, kata Adi, bisa merambat ke bagian lain.
Warsi menyatakan, solusi tidak cukup berhenti pada pengaturan operasional bendungan. Pemulihan kawasan hulu, rehabilitasi lahan yang terdegradasi, perlindungan sempadan sungai, dan pelibatan masyarakat dalam tata kelola DAS menjadi prasyarat agar fungsi ekologis Danau Kerinci tetap terjaga.
“Solusi yang dibangun harus menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari upaya pemulihan dan perlindungan ekosistem.”
Nur Ainun, Kasih, Halim maupun masyarakat Kerinci yang lain tak menolak pembangunan. Mereka hanya tak ingin pembangunan menghilangkan ruang hidup mereka.
Seharusnya, kata Halim, pembangunan tak memutus hubungan masyarakat dengan sumber kehidupannya.
“Pembangunan harus memikirkan kehidupan masyarakat. Kalau ekonomi nelayan hilang, sawah rusak, ikan makin sedikit, lalu apa yang akan diwariskan kepada anak cucu nanti?”

- Liputan ini atas program fellowship “Transisi Energi Berkeadilan” oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN)
*****
Ketika Risiko Lingkungan, Sosial dan Bencana Bayangi Proyek PLTA Mentarang