- Tidak semua hutan cocok jadi lokasi pelepasliaran kucing kuwuk. Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu memilih Cagar Alam Takokak setelah melalui kajian habitat yang mempertimbangkan tutupan hutan, ketersediaan mangsa, dan minim gangguan manusia.
- Tim juga pertimbangkan kesejahteraan kucing kuwuk Chiki selama proses pemindahan, termasuk jarak transportasi agar mengurangi risiko stres sebelum dilepasliarkan.
- Sosialisasi dilakukan di desa penyangga Cagar Alam Takokak agar warga memahami peran ekologis kucing kuwuk dan mendukung keberhasilan konservasi.
- Chiki dipantau beberapa bulan ke menggunakan kamera jebak dan pemantauan lapangan untuk pastikan ia mampu beradaptasi, berburu, dan bertahan hidup mandiri di habitat alaminya.
Hutan bagi manusia mungkin terlihat sama, penuh pepohonan, rimbun, dan jauh dari permukiman. Namun, bagi tim konservasi, tidak semua hutan layak jadi tempat pelepasliaran seekor kucing hutan. Kesalahan memilih habitat, bisa membuat Prionailurus bengalensis berkompetisi dengan satwa lain, bahkan gagal bertahan hidup.
Ketika Chiki, seekor kucing kuwuk (sebutan lain kucing hutan) yang diselamatkan dari lapangan golf di Bogor dinyatakan siap kembali ke alam setelah menjalani rehabilitasi di Cikananga Wildlife Center (CWC), Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu (YCKT) tidak buru-buru melepaskannya.
Pilihan jatuh pada Cagar Alam Takokak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Keputusan diambil bukan karena kawasan itu paling dekat pusat rehabilitasi. Ada serangkaian survei lapangan, kajian habitat, hingga pertimbangan sosial, sebelum Chiki menginjakkan kaki di habitat barunya.
Meidi Yanto, Manajer Konservasi In-Situ YCKT, mengatakan Takokak yang luasnya sekitar 60 hektar masih memiliki tutupan hutan yang baik. Vegetasinya mendukung aktivitas alami Chiki, begitu juga ketersediaan sumber pakan.
“Tingkat gangguan manusia juga relatif rendah. Kawasan ini juga di bawah pengelolaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat, sehingga memiliki sitem perlindungan keamanan,” jelasnya, Kamis (30/7/26).

Kesejahteraan satwa
Menurut Meidi, pemilihan lokasi pelepasliaran juga mempertimbangkan kesejahteraan satwa. Letak Takokak yang dekat Cikananga membuat waktu transportasi lebih singkat.
“Chiki masuk ke kantong habituasi sebelum dilepasliarkan. Semakin singkat perjalanan, semakin kecil risikonya.”
Sebelum memutuskan lokasi pelepasliaran, tim YCKT melakukan survei habitat menyeluruh. Kajian meliputi kondisi vegetasi, keberadaan sumber air, potensi mangsa, keberadaan satwa liar lain, tingkat gangguan manusia, hingga ancaman perburuan maupun pemasangan jerat.
Informasi dikumpulkan melalui survei lapangan, pemasangan kamera jebak, observasi langsung, serta diskusi dengan pengelola kawasan.
“Populasi kucing kuwuk liar di Takokak juga jadi aspek penting untuk pelepasliaran.”\

Sekilas, kehadiran satwa sejenis bisa dianggap ancaman karena berpotensi memicu persaingan wilayah. Namun, bagi tim konservasi, keberadaan populasi liar jadi pertanda bahwa habitat tersebut masih mampu menopang kehidupan spesies itu.
Tim juga tak mengabaikan kemungkinan terjadinya kompetisi antarsatwa. Untuk itu, lokasi pelepasliaran dipilih dengan mempertimbangkan luas habitat serta ketersediaan sumber pakan alami. Meski, predator kecil mirip macan tutul jawa (Panthera pardus melas) ini dikenal memiliki kemampuan adaptasi tinggi.
“Monitoring pascapelepasliaran juga dilakukan untuk memahami Chiki beradaptasi di habitat barunya.”

Masyarakat ikut menentukan
Keberhasilan pelepasliaran satwa liar tak hanya bergantung pada kualitas habitat, tetapi juga dukungan masyarakat di sekitar kawasan konservasi.
Sebelum Chiki dilepasliarkan, Tim Edukasi YCKT melakukan sosialisasi kepada masyarakat di wilayah penyangga Takokak. Kegitannya, dilkukan melalui forum pengajian ibu-ibu di Kampung Padaki, Desa Pasawahan.
Selain mengenalkan karakteristik kucing kuwuk, tim juga menjelaskan peran ekologis, serta langkah yang perlu dilakukan apabila masyarakat menjumpainya di sekitar kawasan.
“Respons masyarkat sangat positif. Mereka antusias berbagi pengalaman mengenai satwa liar yang pernah dijumpai. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting menjaga keamanan satwa liar dan habitatnya,” jelas Meidi.

Alberto Feliciano Ferarri, Field Biologist YCKT, mengatakan Chiki akan terus dipantau beberapa bulan ke depan setelah pelepasliaran, menggunakan kamera jebak dan survei lapangan. Monitoring bertujuan mengetahui keberadaan, aktivitas, serta kemampuan adaptasi Chiki di habitat barunya.
Beberapa indikator keberhasilan pelepasliaran adalah kemampuan Chiki bertahan hidup, tetap di habitat sesuai, mempertahankan kondisi tubuh yang baik, serta memperoleh makanan tanpa bergantung pada manusia.
Apabila ditemukan indikasi Chiki berulang kali masuk kawasan permukiman atau mengalami kesulitan bertahan hidup, YCKT telah menyiapkan mekanisme evaluasi bersama BBKSDA Jawa Barat untuk menentukan langkah penanganan.
“Kami berharap Chiki beradaptasi dengan baik, bertahan hidup mandiri, dan menjalankan perannya sebagai predator alami di hutan.”
Anatasha Reza Widyantoro, dokter hewan muda Cikananga Wildlife Center, menjelaskan paparan penyakit maupun infeksi parasit merupakan bagian dinamika kehidupan di alam.
Sebab itu, kondisi Chiki akan terus dievaluasi selama masa monitoring pascalepasliaran. Bagi tim konservasi, keberhasilan pelepasliaran bukan hanya saat satwa kembali ke hutan, namun saat mampu bertahan hidup dan menjalankan kembali fungsi ekologisnya sebagai bagian ekosistem.
*****