Di antara berbagai ular berbisa yang hidup di hutan tropis Asia Tenggara, ada yang bertahan hidup bukan dengan mengejar mangsa, melainkan dengan tetap diam dan menyatu dengan lingkungannya. Strategi ini mengandalkan kombinasi warna tubuh, tekstur kulit, dan cara kerja tubuh yang hemat energi, sehingga ular dapat menunggu dalam waktu lama tanpa harus banyak bergerak.
Ular tanah (Calloselasma rhodostoma) adalah salah satu ular berbisa yang mengandalkan kamuflase sebagai cara utama bertahan hidup di lantai hutan tropis Asia Tenggara. Spesies ini tersebar di sejumlah wilayah termasuk Thailand, Kamboja, Vietnam, Malaysia, dan sebagian Indonesia, terutama di kawasan hutan dataran rendah dan perkebunan yang lembap. Alih-alih aktif berburu, ular ini dapat diam di satu titik selama berminggu-minggu, melingkar di antara serasah daun kering sambil menunggu mangsa mendekat. Kombinasi warna tubuh, tekstur sisik, dan cara ular ini menghemat energi menjadikannya salah satu pemburu penunggu paling efektif di antara ular berbisa di kawasan ini.
Kamuflase dan Cara Bertahan Tanpa Banyak Bergerak
Warna tubuh C. rhodostoma membantu memecah bentuk tubuhnya sehingga sulit dikenali. Motif segitiga cokelat tua yang tersusun rapi di sepanjang punggungnya membuat siluetnya menyatu dengan tumpukan daun kering di lantai hutan. Tekstur sisiknya juga berperan. Berbeda dari ular pohon yang sisiknya licin dan memantulkan cahaya, sisik ular tanah lebih kasar dan tidak mengkilap, sehingga tidak memantulkan sinar yang bisa membocorkan posisinya.
Ular ini juga hemat energi. Selama berpuasa menunggu mangsa, sejumlah organ dalamnya seperti usus dan hati mengecil sementara dan aliran darah ke organ tersebut berkurang, sehingga kebutuhan energinya turun. Pola semacam ini pernah tercatat pada beberapa jenis ular lain yang berpuasa dalam waktu lama, dan diduga berlaku juga pada ular tanah.

Untuk mendeteksi mangsa dalam gelap, ular tanah punya organ penginderaan panas di antara mata dan hidungnya yang bisa menangkap perubahan suhu yang sangat kecil. Begitu mangsa berada dalam jangkauan, ular menyerang dalam hitungan sepersekian detik dan menyuntikkan bisa melalui taringnya. Bisa ular tanah bisa mengganggu pembekuan darah, dan pada manusia gigitannya dapat menyebabkan bengkak parah jika tidak segera ditangani. Karena itu, ular tanah dikenal sebagai salah satu penyebab kasus gigitan ular yang cukup banyak di beberapa wilayah pedesaan Asia Tenggara, terutama di perkebunan karet dan kelapa sawit tempat ular ini sering bersembunyi di antara tumpukan daun.
Setelah mangsa tertelan, sistem pencernaannya bekerja lebih keras selama satu hingga dua hari untuk mengolah makanan, sebelum kembali ke mode hemat energi. Cara ini membuat ular tanah bisa bertahan lama meski ketersediaan mangsa di habitatnya tidak selalu bisa diprediksi.
Perubahan Iklim Mengganggu Kamuflase Ular Tanah
Sebuah penelitian lapangan yang memasang alat pelacak pada 14 ekor ular tanah dewasa dan mencatat ratusan titik lokasi selama lima bulan menemukan bahwa pergerakan ular ini paling erat kaitannya dengan kelembapan udara, bukan dengan curah hujan, suhu, atau siklus bulan. Ular cenderung berpindah tempat pada malam yang lembap dan tetap diam saat udara lebih kering. Temuan ini menunjukkan bahwa kelembapan lantai hutan bukan sekadar faktor kenyamanan, melainkan penentu utama kapan ular tanah bergerak dari tempat persembunyiannya.
Perubahan iklim yang mengubah pola hujan dan menaikkan suhu lokal berpotensi menggeser kondisi kelembapan yang selama ini jadi acuan perilaku ular tanah. Daun kering di lantai hutan yang biasanya membusuk perlahan kini lebih cepat mengering, hancur, atau berubah warna, sehingga warna tubuh ular menjadi kurang cocok dengan lingkungan sekitarnya. Saat kamuflase kurang efektif, ular akan lebih sulit mendapat mangsa dan lebih mudah terlihat oleh predator seperti burung pemangsa.
Selain itu, alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan turut mengubah struktur lantai hutan tempat ular tanah biasa bersembunyi.
**
Referensi:
Daltry, J. C., Ross, T., Thorpe, R. S., & Wüster, W. (1998). Evidence that humidity influences snake activity patterns: A field study of the Malayan pit viper Calloselasma rhodostoma. Ecography, 21(1), 25-34. https://doi.org/10.1111/j.1600-0587.1998.tb00391.x