- Sejak 2019, sebuah tim melakukan survei gua di seluruh Sulawesi Tenggara untuk merekam 44 situs. Termasuk di dalamnya, 14 lokasi yang sebelumnya tidak diketahui.
- Hasilnya, satu bagian lukisan itu menunjukkan usia setidaknya 67.800 tahun. Angka ini melampaui seni tertua yang diketahui sebelumnya sekitar 1.100 tahun dari Spanyol yang dikaitkan dengan Neanderthal.
- Para ilmuwan mengaitkan seni ini dengan Homo sapiens, karena pilihan teknis seperti jari yang meruncing dan penggunaan situs dalam waktu yang lama adalah khas H. sapiens.
- Temuan ini juga mengingatkan kita bahwa sejarah kreativitas manusia terjadi lebih awal dan tersebar lebih luas dari yang pernah dibayangkan.
Gambar cap tangan di dinding gua era prasejarah di Sulawesi itu, seperti hendak mengatakan sesuatu kepada manusia di zaman ini. Saat menyapa, manusia modern akan mengangkat tangan sambil memperlihatkan telapaknya menghadap ke muka. Manusia prasejarah meletakkan tangannya di dinding gua dan mengabadikannya dalam bentuk lukisan. Pesan apa sesungguhnya yang ingin disampaikan manusia prasejarah dari Sulawesi?
Riset yang dikerjakan peneliti Indonesia dan Australia atas gambar itu, justru menemukan fakta baru. Terlihat kusam, mirip goresan yang menempel di tembok lembap, dan cat yang mengelupas, gambar cap tangan itu ditengarai sebagai yang tertua di dunia.
“Motif ini sebagian tertutup speleothem coralloid kuno. Cap ini dalam kondisi pengawetan yang buruk, hanya terdiri bercak pigmen pudar sepanjang 14 × 10 cm yang memuat sebagian jari dan area telapak tangan berdekatan,” tulis Adhi Agus Oktaviana, penulis pertama laporan penelitian yang dimuat di jurnal Nature, edisi 21 Januari 2026, berjudul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi.” Adhi adalah peneliti BRIN yang memiliki kepakaran dalam seni gua.
Uniknya, gambar ini hanya ditemukan di Sulawesi. Gambar jari-jari yang ujungnya dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai cakar hewan. Manusia prasejarah membuat lukisan dengan teknik sederhana, namun kreatif. Setelah telapak tangan ditempelkan ke dinding gua, langkah selanjutnya adalah menyemprotkan warna di sekeliling tangan. Warna ini bisa berasal dari tanah, arang, atau mineral lain. Caranya, disemprotkan menggunakan mulut atau pipa terbuat dari bambu atau tulang.
“Mengubah gambar tangan manusia dengan cara ini mungkin memiliki makna simbolis, barangkali terkait dengan pemahaman masyarakat kuno tentang hubungan manusia dan hewan,” tulis Maxime Aubert, mewakili penulis lainnya di The Conversation, edisi 21 Januari 2026. Dia merupakan profesor arkeologi dari Universitas Griffith, Australia.

Sejak 2019, sebuah tim melakukan survei gua di seluruh Sulawesi Tenggara untuk merekam 44 situs. Termasuk di dalamnya, 14 lokasi yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka mengambil sampel kecil kalsium karbonat yang terbentuk di atas dan di bawah lukisan, lalu menerapkan penanggalan seri uranium ablasi laser beresolusi tinggi.
Hasilnya, satu bagian lukisan itu menunjukkan usia setidaknya 67.800 tahun. Angka ini melampaui seni tertua yang diketahui sebelumnya sekitar 1.100 tahun dari Spanyol yang dikaitkan dengan Neanderthal. Sementara Adam Brumm dari Pusat Riset Evolusi Manusia Australia (ARCHE) Universitas Griffith, peneliti lainnya, mengatakan makna di balik perubahan ini masih belum pasti.
“Gambar ini bisa melambangkan gagasan bahwa manusia dan hewan sangat terkait erat, sesuatu yang tampaknya sudah kita lihat dalam seni lukisan awal Sulawesi, dengan setidaknya satu adegan yang menggambarkan sosok yang kita tafsirkan sebagai representasi makhluk setengah manusia, setengah hewan,” kata Brumm, dikutip ScienceDaily, edisi 22 Maret 2026.
Desain yang tidak biasa dan seperti cakar ini mengisyaratkan pemikiran simbolik awal dan mungkin kepercayaan spiritual, ungkap Sciencedaily.
Menariknya, gambar cap tangan itu dikelilingi lukisan jauh lebih muda. Itu berarti, gua ditinggali manusia dalam kurun waktu sangat lama. Mengutip laporan, mereka terus menciptakan karya seni pada dinding gua sekitar 35 ribu hingga 20 ribu tahun lalu. Menggoreskannya di samping dan mungkin di atas lukisan yang pernah dibuat oleh leluhur.
Di Liang Metanduno, cap tangan bukan satu-satunya gambar yang tertera di dinding gua. Terdapat pula goresan figuratif hewan menyerupai babi, burung atau ayam, perahu, juga sejumlah garis.
Siapakah mereka yang melukisi gua karst dan meninggalkan karya yang bisa disaksikan hingga kini? Para ilmuwan mengaitkan seni ini dengan Homo sapiens, karena pilihan teknis seperti jari yang meruncing dan penggunaan situs dalam waktu yang lama adalah khas H. sapiens. Ini adalah praktik budaya komplek yang diduga sudah mapan di wilayah tersebut, bahkan puluhan ribu lebih awal dari perkiraan sebelumnya.
“Sulawesi adalah rumah budaya seni terkaya dan paling tua di dunia, yang berasal dari sejarah awal datangnya manusia di sekitar 67.800 tahun lalu,” kata Aubert, dikutip ScienceDaily.

Rute migrasi
Menurut Adhi Agus Oktaviana, temuan di Liang Metanduno membawa implikasi besar lain dalam memahami sejarah budaya Aborigin Australia.
Para ilmuwan telah bertahun memperdebatkan kapan manusia pertama kali tiba di daratan kuno yang dikenal sebagai Sahul, yang dulu menghubungkan Papua, Australia, dan Tasmania. Beberapa peneliti berpendapat, manusia datang ke Sahul sekitar 50 ribu tahun lalu. Sementara, yang lain berpendapat kedatangan mereka berlangsung lebih awal, setidaknya 65 ribu tahun lalu.
“Sangat mungkin orang-orang yang membuat lukisan-lukisan di Sulawesi adalah bagian dari populasi lebih luas yang kemudian menyebar ke seluruh wilayah dan akhirnya mencapai Australia,” ungkapnya, dikutip dari Sciencedaily.
Selama ini ada dua jalur yang diduga menjadi rute migrasi manusia menuju Sahul. Jalur pertama adalah melalui rute utara. Diawali dari Kalimantan, lalu Sulawesi, Maluku, menuju ujung barat Papua, selanjutnya ke Australia. Jalur kedua, melalui rute selatan, melalui Jawa, Timor atau pulau-pulau terdekat, menuju Australia barat laut.
“Penemuan ini sangat mendukung gagasan bahwa leluhur orang Australia pertama sudah berada di Sahul sekitar 65 ribu tahun lalu,” tambahnya.
Temuan terbaru terkait usia lukisan gua tertua ini memperkuat pendapat yang menyatakan migrasi dilakukan lewat jalur utara.
“Penemuan ini menegaskan pentingnya arkeologi dari banyak pulau Indonesia lainnya di antara Sulawesi dan Papua paling barat,” kali ini kata Aubert.

Peran Sulawesi
Karst Maros-Pangkep di semenanjung barat daya Pulau Sulawesi telah dikenal sebagai lokasi ditemukannya seni gua tertua dari era Pleistosen. Penelitian terbaru dari Liang Metanduno membuktikan bahwa seni gua menyebar hingga bagian tenggara Sulawesi, bahkan berusia jauh lebih tua.
Sebelumnya, dalam kurun waktu 2022 hingga 2023 satu tim peneliti pernah melakukan survei lapangan di sejumlah gua karst Sulawesi Selatan. Dengan memakai metode laser ablasi uranium, tim ini memperbaiki penanggalan sejumlah lukisan gua. Ternyata, usia sejumlah lukisan itu lebih tua dari perkiraan sebelumnya.
Laporan penelitian yang kemudian diterbitkan dalam jurnal Nature menyebutkan, lukisan tiga figur mirip manusia yang berinteraksi dengan babi diperkirakan berumur 51.200 tahun. Lukisan ini ternyata menjadi seni naratif tertua di dunia. Temuan ini telah menggugurkan asumsi lama yang menyatakan bahwa seni naratif muncul di Eropa sekitar 30-40 ribu tahun lalu. Dengan demikian, Sulawesi adalah pusat penting dalam sejarah seni manusia, sejajar dengan situs-situs paleolitik di Eropa.
“Berdasarkan penelitian penanggalan, tampaknya penggambaran sosok antropomorfik (termasuk therianthrope) yang berinteraksi dengan hewan muncul dalam seni gua Pleistosen Akhir Sulawesi pada frekuensi yang tidak pernah ditemukan di tempat lain hingga puluhan milenium kemudian di Eropa,” tulis laporan itu.
Temuan ini menegaskan arti penting Sulawesi dalam sejarah seni manusia. Selama ini, pusat perhatian sering tertuju pada gua-gua Eropa seperti Lascaux atau Chauvet. Namun, Sulawesi membuktikan bahwa tradisi seni figuratif dan naratif sudah berkembang di Asia Tenggara jauh lebih awal. Lukisan-lukisan ini menunjukkan bahwa H. sapiens di wilayah ini sudah mampu berpikir abstrak, menceritakan kisah, dan merepresentasikan hubungan antara manusia dan hewan dalam komposisi kompleks.
Temuan ini juga mengingatkan kita bahwa sejarah kreativitas manusia terjadi lebih awal dan tersebar lebih luas dari yang pernah dibayangkan. Di dinding gua Sulawesi, lebih dari 67 ribu tahun silam, nenek moyang kita sudah mulai berbicara melalui gambar, dan kisah mereka masih berbicara hingga hari ini.
Referensi:
Oktaviana, A. A., Joannes-Boyau, R., Hakim, B., Burhan, B., Sardi, R., Adhityatama, S., … & Aubert, M. (2026). Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi. Nature, 650(8102), 652-656. https://www.nature.com/articles/s41586-025-09968-y#Sec1
Oktaviana, A. A., Joannes-Boyau, R., Hakim, B., Burhan, B., Sardi, R., Adhityatama, S., … & Aubert, M. (2024). Narrative cave art in Indonesia by 51,200 years ago. Nature, 631(8022), 814-818. https://www.nature.com/articles/s41586-024-07541-7
*****