- Kucing merah kalimantan (Catopuma badia), kembali terekam kamera pengintai di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Rekaman terbaru ini diperoleh di wilayah Resor Mentarang Tubu, Desa Rian Tubu, setelah kamera intai dipasang selama berbulan di kawasan hutan primer.
- Pada 2023 lalu, kucing merah kalimantan sempat terekam di Resor Sungai Bahau, yang berbatasan dengan Resor Mentarang Tubu. Rekaman ini sempat menjadi sorotan karena muncul setelah lebih dari 20 tahun tidak ada dokumentasi baru.
- Kucing merah kalimantan mudah dikenali lewat warna bulunya yang berwarna merah karat. Namun, sebenarnya ada pula yang berwarna abu-abu. Telinganya bulat, dengan punggung ramping, dan ekor panjang. Postur semacam ini mengingatkan pada jaguar yang memiliki kemampuan lari mengagumkan.
- Para ilmuwan memperkirakan spesies ini memiliki panjang generasi sekitar enam tahun. Namun, detil masa kehamilan, umur panjang individu di alam liar belum diketahui. Belum ada studi khusus tentang kucing merah, meski hewan ini telah dikenali lebih dari satu abad.
Kucing merah kalimantan (Catopuma badia), kembali terekam kamera pengintai di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Kucing yang diberi nama berdasarkan warna bulunya ini, merupakan karnivora paling misterius dan sulit dijumpai di Pulau Kalimantan. Rekaman terbaru ini diperoleh di wilayah Resor Mentarang Tubu, Desa Rian Tubu, setelah kamera intai dipasang selama berbulan di kawasan hutan primer.
Kemunculan satwa endemik Kalimantan tersebut menjadi catatan penting bagi upaya pemantauan keanekaragaman hayati di kawasan konservasi. Spesies yang berstatus Endangered atau Genting ini, dikenal memiliki perilaku soliter, sulit diamati, dan cenderung menghindari keberadaan manusia.
“Spesies ini sangat sulit dijumpai langsung, sehingga dokumentasi melalui camera trap membantu kami memperoleh data mengenai keberadaannya di dalam kawasan,” kata Seno Pramudito, Kepala Balai TNKM, dalam rilisnya, Senin (7/9/26).
Menurut dia, kemunculan kucing merah menunjukkan pentingnya kawasan hutan TNKM sebagai habitat berbagai jenis satwa liar. Karena itu, perlindungan kawasan dan pemantauan keanekaragaman hayati perlu dilakukan secara konsisten.

Kucing merah bawa mangsa
Sedikit yang diketahui tentang kucing ini, sampai-sampai sebagian peneliti dan pegiat konservasi menyebutnya “hantu”. Alasannya, pengetahuan kita tentang kucing ini berburu makanan, mencari pasangan, menjelajah hutan, sangat minim.
Pada 2023 lalu, kucing merah kalimantan sempat terekam di Resor Sungai Bahau, yang berbatasan dengan Resor Mentarang Tubu. Rekaman ini sempat menjadi sorotan karena muncul setelah lebih dari 20 tahun tidak ada dokumentasi baru.
Pada foto terbaru ini, tampak seekor kucing merah kalimantan berjalan ke arah kanan. Istimewanya, mulutnya menggigit sesuatu. Foto lainnya dalam versi hitam putih, jenis ini tampak berjalan ke kiri.
“Kemungkinan besar satwa mangsa yang dibawa adalah jenis Tupaia dorsalis. Sampai saat ini diketahui satwa mangsanya adalah hewan pengerat dan tupai,” kata Jefrey Frihardian Gumilar, kepada Mongabay, yang menjawab pertanyaan tertulis, Rabu (9/9/26). Jefrey adalah Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Ahli Muda TNKM.
Belum diperoleh informasi jenis kelamin kucing tersebut karena posisi dalam foto tidak berada pada sudut yang memperlihatkan area genital. Umur individu diperkirakan remaja hingga dewasa.
Rekaman di Resor Mentarang Tubu diperoleh dari kamera pengintai yang dipasang dalam kegiatan Patroli Perlindungan dan Pengamanan Kawasan TNKM pada 2025. Kegiatan tersebut dilakukan petugas Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Long Alango di wilayah Resor Mentarang Tubu, Desa Rian Tubu.
Kamera dibiarkan bekerja di bawah kanopi hutan selama berbulan. Data hasil pemantauan baru diunduh pada 2026 melalui kegiatan SMART Patrol yang dilakukan petugas Balai TNKM, antara lain Jefry Frihardian Gumilar, Mahfu’at, Septian Adi Nugroho, Jatanai, dan Singga Pilipus.
Rekaman terbaru di Resor Mentarang Tubu menambah daftar catatan keberadaan kucing merah di TNKM. Kucing merah mendadak menjadi perhatian ketika keberadaannya terekam di Resor Sungai Bahau pada 2023. Kini, tiga tahun setelah catatan tersebut, satwa dari spesies yang sama kembali terdokumentasi di lokasi berbeda, yakni Resor Mentarang Tubu.
Rentang waktu tersebut menunjukkan betapa sulitnya mendeteksi kucing merah di alam. Satwa ini tidak mudah dijumpai seperti beberapa jenis mamalia lain yang lebih sering beraktivitas dekat manusia atau berada di ruang terbuka.

Mahfuat, Kepala Resor Mentarang Tubu, mengatakan pemasangan kamera pengintai merupakan bagian dari upaya petugas mendapatkan informasi mengenai satwa liar yang sulit diamati di lapangan.
“Hasil ini jadi penyemangat kami untuk terus patroli dan menjaga kawasan,” jelasnya.
Kamera pengintai juga melengkapi kegiatan patroli perlindungan dan pengamanan. Selain mendeteksi satwa, kegiatan tersebut memungkinkan petugas memperoleh gambaran kawasan dan berbagai aktivitasnya.
“Kucing merah sangat bergantung pada hutan primer atau sekunder yang masih rapat dan terhubung. Kucing merah tidak mampu hidup pada kawasan monokultur atau hutan yang mengalami deforestasi parah,” tambah Jefrey.
Bagi dia, keberadaan kucing merah menandakan rantai makanan di lokasi tersebut masih seimbang. Populasi hewan kecil yang menjadi sumber makanannya masih cukup untuk menyokong hidup mereka.
“Karakteristik kepadatan populasinya yang rendah menunjukkan spesies ini membutuhkan area hutan luas untuk berburu dan berkembang biak. Keebradaannya mengindikasikan kawasan hutan masih memiliki bentang alam hijau yang luas dan terjaga.”
Taman Nasional Kayan Mentarang merupakan kawasan hutan penting di Kalimantan Utara. Lanskapnya menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna, termasuk satwa yang memiliki nilai konservasi tinggi seperti kucing merah ini.

Endemik Kalimantan
Kucing merah kalimantan mudah dikenali lewat warna bulunya yang berwarna merah karat. Namun, sebenarnya ada pula yang berwarna abu-abu. Telinganya bulat, dengan punggung ramping, dan ekor panjang. Postur semacam ini mengingatkan pada jaguar yang memiliki kemampuan lari mengagumkan. Bentuk demikian menimbulkan spekulasi, jika kucing merah kalimantan mengandalkan kecepatan berburu mangsa di hutan.
Kucing merah dilaporkan muncul di Sabah dan Sarawak, Malaysia, dan juga di Kalimantan, Indonesia. Meski mungkin berhabitat sama, belum ada laporan kucing ini ada di Brunei, dan di luar Pulau Kalimantan. Kucing merah diketahui sangat bergantung pada hutan primer atau sekunder, dan tidak memanfaatkan perkebunan sawit atau hutan rawa.
Para ilmuwan memperkirakan spesies ini memiliki panjang generasi sekitar enam tahun. Namun, detil masa kehamilan, umur panjang individu di alam liar belum diketahui. Belum ada studi khusus tentang kucing merah, meski hewan ini telah dikenali lebih dari satu abad.

Jumlah individu diperkirakan sekitar 2.200 ekor di alam liar. Tidak ada laporan individu yang berada di penangkaran. Meski jumlah deteksi meningkat seiring naiknya minat studi lewat kamera intai, namun jumlah fotonya masih kalah dengan macan tutul.
Sempat diduga nokturnal, namun hasil foto akhir-akhir ini memperlihatkan adanya pola aktivitas diurnal. Semua foto memperlihatkan kucing merah sendirian, menunjukkan kucing ini spesies soliter.
Ancaman terhadap spesies ini terutama berasal dari hilangnya habitat akibat deforestasi dan penangkapan ilegal. Selain itu, kucing merah rentan menjadi korban jerat tanpa target.
Sejauh ini, kucing merah dikonfirmasi muncul di kawasan lindung Sabah, yaitu Kawasan Konservasi Lembah Danum, Taman Nasional Tawau Hills, dan Cagar Alam Tabin. Di Sarawak ada di Taman Nasional Gunung Mulu, Suaka Margasatwa Lanjak-Entimau, dan Taman Nasional Pulong Tau. Sementara di Kalimantan Indonesia ada di Taman Nasional Gunung Palung, Taman Nasional Betung Kerihun, Hutan Perlindungan Sungai Wain, Taman Nasional Kutai, dan Taman Nasional Kayan Mentarang.
*****
Setelah 20 Tahun, Kucing Misterius ini Terpantau di Kayan Mentarang