- Apakah ikan kakatua dan burung kakatua ada hubungannya?
- Banyak yang mengira kalau ikan kakatua adalah pemakan terumbu karang, karena kebiasaannya menggigit dan menghancurkan permukaan terumbu karang. Padahal, yang dicari dari cara makan tersebut adalah alga dan mikroorganisme yang biasanya berada di permukaan terumbu karang.
- Cara makan ikan kakatua tersebut, ternyata juga tidak merusak, justru karena sebaliknya sebagai bentuk perlindungan ekosistem terumbu karang. Berkat mereka, alga yang menempel pada permukaan bisa dicegah terus menumpuk dan mendominasi terumbu karang.
- Perlu ada pengelolaan berbasis masyarakat, penguatan hukum adat, penerapan aturan penangkapan sederhana, atau edukasi pentingnya ikan kakatua sebagai penjaga kesehatan ekosistem terumbu karang.
Kakatua bukan hanya nama jenis burung, tapi juga ada pada spesies ikan. Jenis ini dinamakan kakatua karena mulutnya mirip dengan paruh burung kakatua.
Ikan kakatua merupakan spesies penting yang ikut mengendalikan kesehatan terumbu karang dunia. Kehadirannya membantu terumbu karang tetap sehat untuk mendukung keberlanjutan ekosistem lautan.
Parrotfish, nama populer ikan tersebut, juga menjadi bagian penting laut Indonesia yang diapit dua samudera dan sekaligus pusat segitiga terumbu karang dunia. Diperkirakan, sedikitnya ada 30 jenis ikan kakatua yang hidup di perairan Indonesia hingga kini.
Ikan tersebut memiliki kebiasaan unik saat mencari makan, yaitu dengan menggigit dan menghancurkan sebagian matriks kapur. Namun, cara itu bukan untuk memakan terumbu karang, melainkan mencari alga dan mikroorganisme yang menempel pada karang.
Adriani Sunuddin, Pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University, bahkan menyebut ikan yang masuk famili Scaridae itu, sebagai insinyur pada ekosistem terumbu karang. Sebutan yang benar adanya.
Selain sebagai pengendali pertumbuhan alga di permukaan karang, ia membantu pembentukan pasir laut melalui proses pencernaan fragmen karang mati, dan menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang, sehingga pemulihan menjadi lebih cepat saat ada gangguan.
“Aktivitas mengikis maupun mengunyah karang memberikan manfaat ekologis jauh lebih besar dibandingkan kerusakan fisik yang ditimbulkan,” ucapnya dilansir portal resmi IPB University, Minggu (31/7/26).
Kakatua yang berperan menjadi pengikis, melakukan pencegahan alga agar tidak mendominasi permukaan terumbu karang. Jika itu terjadi, maka larva atau anakan karang akan mendapatkan ruang lebih luas untuk bisa menempel dan tumbuh menjadi koloni baru.
Sementara untuk pengeruk, itu adalah tugas yang bertujuan untuk meluaskan sebaran fragmen karang atau alga endosimbion yang masih hidup untuk mendukung proses regenerasi alami terumbu karang.

Pemakan rumput
Sebuah karya ilmiah yang ditulis enam ilmuwan, menjelaskan kalau kakatua yang merupakan ikan karang herbivora, ternyata memiliki beberapa fungsi lain. Termasuk, memakan rumput dan dedaunan.
Biasanya, ikan tersebut ditemukan di perairan dangkal dan bisa mengalami perubahan jenis kelamin saat dewasa, ditandai dengan fase remaja, fase awal, dan fase akhir. Proses itu disertai perubahan warna dan bentuk tubuh.
Perilaku unik saat mencari makan, sangat dipengaruhi substrat bentik dan tutupan karang. Karenanya, jika ada ikan tersebut, berarti ia sedang memainkan peran vital menjaga keseimbangan alga dan ikut memulihkan karang bermasalah.
“Selain nilai ekologisnya, ikan kakatua juga menjadi sasaran penangkapan dan ekspor, dengan spesies seperti Scarus niger yang sangat diminati.”
Tekanan yang terus dialami kakatua dinilai berpotensi mengganggu ekosistem terumbu karang dan menyebabkan ledakan alga. Dengan kata lain, diperlukan pengelolaan yang tepat untuk mencegah terjadinya ketidakseimbangan dalam ekosistem terumbu karang.
Terlebih, saat ini ada fenomena krisis iklim yang bisa ikut memperparah ketidakseimbangan tersebut. Pengelolaan yang efektif, mencakup penetapan kawasan konservasi dan identifikasi habitat.
Faktor perubahan iklim bisa menyebabkan kematian terumbu karang dan perubahan struktur terumbu karang akibat pemutihan. Hal itu berdampak pada biota di sekitarnya, mengurangi kelimpahan ikan terumbu karang, dan meningkatkan pertumbuhan alga yang bersaing dengan terumbu karang untuk ruang hidup.

Penangkapan berlebihan
Dalam karya ilmiah lain yang ditulis 11 ilmuwan dengan mengambil objek di Laut Karimunjawa, disebutkan bila kegiatan penangkapan ikan bisa berkontribusi signifikan pada tekanan ekologis.
Termasuk, kakatua daisy (Chlorurus sordidus) yang bisa ditemukan di perairan Karimunjawa. Spesies kunci itu sudah memainkan peran penting, karena ikut berkontribusi pada produksi sedimen melaui bioerosi yang membentuk pantai dan stabilitas erosi.
Sayangnya, nelayan lokal biasa memburu jenis tersebut dengan cara menggunakan tombak. Walau terkesan efisien, namun teknik memancing seperti itu sangat berisiko merusak terumbu karang, jika dilakukan terus menerus.
“Penurunan populasi spesies ini juga dapat menggeser dominasi terumbu karang ke arah makroalga, yang berakibat pada berkurangnya keanekaragaman hayati dan menurunnya daya tarik terumbu karang bagi pariwisata,” jelas Dian Wijayanto dan kolega dalam laporan di jurnal Biodiversitas, edisi 31 Juli 2025.
Adriani mengakui kalau kakatua terancam karena hal tersebut. Dia menilai, perlu ada pengelolaan berbasis masyarakat, penguatan hukum adat, penerapan aturan penangkapan sederhana, atau edukasi pentingnya ikan kakatua sebagai penjaga kesehatan ekosistem terumbu karang.
Indonesia menjadi rumah besar ikan kakatua, karena sebarannya hampir ada di semua perairan dari Aceh hingga Papua. Terutama, perairan yang masuk Segitiga Karang dunia.
Saat ini, spesies yang paling mendapat perhatian konservasi di Indonesia, adalah kakatua bongkol (Bolbometopon muricatum) yang berstatus Rentan (VU) pada Daftar Merah IUCN dan Appendix I yang perdagangannya harus dikontrol pada daftar CITES.
Alasan penetapan, karena spesies ini tubuhnya lebih dari satu meter, relatif lambat pertumbuhannya, terlambat matang seksual, sangat diminati dalam perdagangan ikan karang, dan berperan penting dalam ekosistem terumbu karang.
Sebarannya bisa ditemukan di perairan Raja Ampat, Papua, Maluku, Sulawesi, dan kawasan terumbu karang tropis lain.
*****
Penting bagi Ekosistem Laut tetapi Banyak yang Konsumsi Ikan Kakatua di Karimunjawa