Lima bayi orangutan ditemukan di kawasan hutan Distrik Balasore, Odisha, India, Selasa (8/9/26). Temuan ini mengejutkan karena India tidak memiliki populasi orangutan liar. Warga awalnya mengira kelima satwa tersebut merupakan jenis monyet langka, sebelum petugas kehutanan memastikan bahwa mereka adalah orangutan.
Prateek Indalkar, pejabat kehutanan Distrik Balasore, mengatakan kelimanya terdiri dari dua betina dan tiga jantan yang diperkirakan berusia kurang dari satu tahun. Setelah menjalani pemeriksaan, bayi-bayi orangutan tersebut dipindahkan ke Nandankanan Zoological Park di Bhubaneswar untuk mendapatkan perawatan.
Pemerintah Odisha kemudian meminta Wildlife Crime Control Bureau menyelidiki asal-usul mereka. Penyelidikan juga akan memastikan apakah orangutan tersebut akan dijual kepada pembeli di India atau hanya transit sebelum dikirim ke negara lain.
M. Indra Kurnia, Direktur Konservasi Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information Centre, menilai kemunculan orangutan di negara yang tidak memiliki populasi alami harus dilihat sebagai persoalan perdagangan satwa liar lintas negara. “Kita tidak boleh hanya melihatnya sebagai kasus lokal di negara tempat satwa tersebut ditemukan,” ujarnya.
Jika dugaan perdagangan ilegal terbukti, kasus Odisha memperlihatkan panjangnya rantai kejahatan yang dilalui kelima bayi orangutan tersebut. “Ini dimulai dari perburuan di alam, pemisahan bayi dari induk, pengangkutan melalui sejumlah wilayah, hingga dijual atau dipelihara sebagai satwa eksotik,” kata Indra.
Pemisahan dari induk bukan sekadar membuat bayi orangutan kehilangan pengasuhan. Tindakan tersebut juga dapat mengganggu kesehatan, perilaku, perkembangan sosial, dan kemampuan mereka bertahan hidup. Karena itu, Indra menegaskan, “Lima orangutan tersebut harus dipandang sebagai korban perdagangan satwa liar, bukan satwa eksotik yang ditemukan jauh dari habitatnya.”
Meski spesies kelimanya belum dipastikan, indikasi awal mengarah pada orangutan sumatera. Kasus ini menjadi semakin serius karena populasinya terus menurun. Survei periode 2021–2023 memperkirakan populasi orangutan sumatera tersisa 11.694 individu, sedangkan orangutan tapanuli hanya sekitar 716 individu. Adapun populasi orangutan kalimantan diperkirakan sekitar 104.700 individu di Indonesia dan Malaysia.
Dugaan perdagangan orangutan dari Indonesia ke India bukan kasus baru. Pada September 2022, otoritas India menyita tiga anak orangutan sumatera di Mizoram. Satwa-satwa tersebut diduga berasal dari Aceh Tamiang dan diperdagangkan melalui jalur Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, hingga India.
Menurut Indra, Aceh masih menjadi wilayah rawan penyelundupan satwa dilindungi. “Dari Aceh melalui jalur laut satwa-satwa tersebut dibawa ke Thailand, kemudian ke negara lain termasuk India,” jelasnya.
Proses pemulangan orangutan ke Indonesia pun sering menghadapi kendala. “Namun, saat pihak Indonesia berupaya melakukan repatriasi atau pemulangan kembali, proses tersebut kerap menemui jalan buntu. Mereka menolak dengan berbagai alasan,” tegas Indra.
Foto utama: Bayi orangutan sumatera ini dipisahkan dari induknya ketika diambil paksa oleh pemburu di hutan. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.