Kemunculan seekor oarfish di Pantai Pink, Desa Sekaroh, Lombok Timur, pada 25 Agustus 2026, kembali menghidupkan mitos lama mengenai ikan pertanda gempa. Tubuhnya yang panjang, pipih, dan berwarna keperakan ditemukan sejumlah anak di bibir pantai. Video penemuan tersebut kemudian menyebar luas di media sosial.
Sebagian warga menghubungkannya dengan gempa yang mengguncang Flores sekitar dua pekan sebelumnya. Spekulasi itu muncul karena oarfish dikenal sebagai penghuni laut dalam yang jarang terlihat manusia. Ketika ikan ini muncul di permukaan atau terdampar, kehadirannya kerap dianggap sebagai peringatan bencana.
Oarfish dari genus Regalecus umumnya terdiri dari dua spesies utama. Regalecus glesne tersebar di Samudra Atlantik, Pasifik, dan Hindia serta dapat tumbuh hingga lebih dari 11 meter. Sementara Regalecus russellii lebih banyak ditemukan di Jepang, Asia Timur, dan Pasifik Barat.
Ikan ini hidup di zona mesopelagik hingga batipelagik, sekitar 200–1.000 meter di bawah permukaan laut. Habitat tersebut hampir tidak tersentuh cahaya matahari, bersuhu rendah, dan memiliki tekanan air sangat tinggi. Kondisi inilah yang membuat perjumpaan dengan oarfish tergolong langka.
Menurut Sukuryadi, Ketua Program Studi Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Mataram, kemunculan oarfish di perairan dangkal lebih mungkin dipengaruhi perubahan lingkungan laut.
“Tidak ada kaitannya dengan gempa bumi, mungkin anomali pemanasan global yang berdampak pada perubahan dan degradasi habitat,” ujarnya.
Perubahan suhu, arus, kadar oksigen, kualitas perairan, serta ketersediaan pakan dapat mengganggu organisme laut dalam. Dalam kondisi tertentu, gangguan tersebut diduga membuat satwa kehilangan orientasi atau berpindah menuju perairan yang lebih dangkal.
Mitos oarfish sebagai pertanda gempa juga berkembang di Jepang. Dalam cerita rakyat setempat, ikan ini disebut Ryugu no Tsukai atau “Utusan dari Istana Naga Laut”. Namun, penelitian ilmiah belum menemukan bukti kuat yang mendukung kepercayaan tersebut.
Yoshiaki Orihara dan tim dari Tokai University menganalisis 336 laporan kemunculan ikan laut dalam dan 221 kejadian gempa di Jepang. Hasilnya, hanya satu peristiwa yang menunjukkan kemungkinan keterkaitan. Hubungan oarfish dan gempa pun dinilai sebagai ilusi korelasi, yakni kecenderungan mengaitkan dua kejadian yang sebenarnya tidak memiliki hubungan sebab-akibat.
Kusnadi, Wakil Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia, juga menilai lokasi penemuan oarfish di selatan Lombok tidak berhubungan langsung dengan gempa di utara Flores. Letaknya terpisah secara geografis dan jeda waktunya lebih dari sepekan.
Kemunculan oarfish memang dapat menjadi pengingat adanya perubahan di ekosistem laut. Namun, ikan ini bukan alat prediksi gempa atau tsunami. Kewaspadaan bencana tetap harus dibangun berdasarkan pemantauan ilmiah, pemahaman risiko, dan kesiapan mitigasi.
Foto utama: Ikan Oarfish yang warga temukan terdampar di pesisir Lombok Timur. Foto: Fecebook Baiq Kolby.