- Kekeringan parah landa Kalimantan Selatan. Air pun jadi barang rebutan untuk kebutuhan warga dan pemadaman karhutla.
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Kalsel mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis dasarian III Agustus 2026 periode 21–31 Agustus. Dalam peta peringatan itu, Kota Banjarbaru masuk kategori Siaga, bersama Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Kotabaru, Tapin, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, Tanah Bumbu, dan Tabalong. Ada juga Kabupaten Tanah Laut yang berada pada status Awas, sedangkan Kabupaten Balangan masuk kategori Waspada.
- Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah waduk Riam Kanan. Selain berfungsi sebagai sumber air, waduk tersebut memiliki sejumlah fungsi strategis, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), irigasi, perikanan, dan sumber air untuk kebutuhan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
- Rebutan air untuk pemadaman karhutla dan kebutuhan warga sudah terjadi. PT Air Minum (PTAM) Intan Banjar bilang, tengah terjadi perubahan signifikan perilaku konsumen mereka.
Jerubu tebal menyelimuti pondok Bambang saat api mengepung kebunnya di Kota Banjarbaru, Kalimantan selatan (Kalsel), 24 Agustus. Sekitar 50 pohon rambutan hangus, sementara mesin pompa yang baru dia beli pagi tadi terus meraung. Ketersedian air di kanal di dekat kebunnya yang penuh eceng gondok dan ilalang, nyaris mengering.
“Hari ini saya tekor banyak. Tadi pagi beli mesin, selang, habis sekitar tiga jutaan,” ujarnya.
Di jalan masuk menuju area itu, sekitar 100 meter ke arah jalan raya, dua unit mobil pemadam dengan satu tangki bertengger. Belasan petugas pemadam dan relawan lainnya juga sibuk memadamkan api di lahan gambut orang lain.
Ada juga dua buah helikopter water bombing yang lalu-lalang sejak siang di atas atap pondok Bambang, tetapi tidak pernah menarget area perkebunan seluas 1.2 hektar miliknya.
“Padahal tanaman ini untuk bekal masa pensiun, tetapi sudah habis terbakar.”

Kekeringan, keterbatasan sumber air
Sepanjang Agustus, seiring meningkatnya kebakaran hutan dan lahan, Kalsel kekeringan parah. Terlihat dari berkurangnya ketersediaan air di sejumlah wilayah,
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Kalsel pun mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis dasarian III Agustus 2026 periode 21–31 Agustus.
Dalam peta peringatan itu, Kota Banjarbaru masuk kategori Siaga, bersama Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Kotabaru, Tapin, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, Tanah Bumbu, dan Tabalong. Ada juga Kabupaten Tanah Laut yang berada pada status “Awas”, sedangkan Kabupaten Balangan masuk kategori “Waspada”.
“Kekurangan curah hujan, beberapa daerah tersebut diatas, sudah lebih dari 60 hari tidak ada hujan sama sekali, hingga kita mengeluarkan peringatan dini,” kata Klaus Johannes Apoh Damanik, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Kalsel, pada Mongabay, 26 Agustus.
BMKG pun mengimbau masyarakat di wilayah yang masuk dalam kategori peringatan itu untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kekeringan, terutama berkurangnya ketersediaan air dan meningkatnya potensi kebakaran lahan. Sebab kondisi El Nino sudah menyebabkan situasi hidrologis di wilayah Kalsel semakin memburuk.
Hanif Faisol Nurofiq, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, juga mengingatkan, penanganan karhutla di Kalsel saat ini tidak hanya menghadapi persoalan tentang luasnya area terbakar, tetapi juga keterbatasan ketersediaan sumber air.
Dia sampaikan itu usai memimpin apel penanganan karhutla di Pos Pantau Pengayuan, Kota Banjarbaru, 24 Agustus.
“Kalau logistik, uangnya ada, tapi kalau logistik airnya enggak ada, ini susah sekali kita menanggulangi,” katanya.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah waduk Riam Kanan. Selain berfungsi sebagai sumber air, waduk itu memiliki sejumlah fungsi strategis, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), irigasi, perikanan, dan sumber air untuk kebutuhan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
Hanif menyebut, PLTA Riam Kanan memiliki kontribusi sekitar 30 megawatt, karena itu, kondisi debit air di kawasan tersebut perlu mendapatkan perhatian khusus agar tidak mengganggu fungsi-fungsi strategis lainnya.
Mantan Kepala Dinas Kehutanan Kalsel itu mengatakan, bersama pemerintah provinsi akan pengecekan langsung ke Riam Kanan untuk melihat kondisi terkini sekaligus membahas langkah lanjutan.
Perhatian juga terhadap kebutuhan air untuk intake PDAM. Penurunan volume air di sejumlah sumber air perlu antisipasi agar penanganan karhutla tidak justru memberikan tekanan lebih besar terhadap kebutuhan air masyarakat.
“Ini harus selesai secepatnya sebelum logistik air semakin berkurang.”

Ancam distribusi air bersih
Rebutan air untuk pemadaman karhutla dan kebutuhan warga sudah terjadi. PT Air Minum (PTAM) Intan Banjar bilang, tengah terjadi perubahan signifikan perilaku konsumen mereka.
Keringnya sumur alternatif yang biasa warga gunakan memicu sebagian besar pelanggan beralih sepenuhnya ke jaringan PDAM. Kondisi ini berdampak pada lonjakan konsumsi dan penurunan tekanan air di beberapa titik.
Mahyuni, Kepala Sub Bagian (Kasubag) Hukum dan Humas di PTAM Intan Banjar bilang, lonjakan ini tidak hanya terjadi dari pelanggan lama yang tadinya mengandalkan sumur, juga terlihat dari meningkatnya jumlah pendaftar baru di kantor-kantor pelayanan.
Sejak Juli, jumlah pelanggan terus bertambah. Awalnya hanya sekitar 117.000 pelanggan, kini jumlahnya mencapai sekitar 122.000 pelanggan hingga pertengahan Agustus. Meningkat sekitar 5.000 pelanggan dalam sebulan.
“Rata-rata konsumsi harian pelanggan yang biasanya 12 meter kubik per bulan kini naik berkisar 13 hingga 14 meter kubik. Lonjakan ini memicu penurunan tekanan air, terutama pada jam-jam puncak pemakaian seperti pagi hari dan sore menjelang Magrib.”
Akibatnya, beberapa daerah di ujung jaringan perpipaan menjadi wilayah yang paling rentan mengalami gangguan distribusi saat jam puncak itu.
“Kami menghimbau agar pelanggan mulai menampung air dan menggunakannya secara bijak.”


Kekeringan 45 desa
Tekanan kemarau juga terasa di Kabupaten Banjar, 30 kilometer dari Banjarbaru. Hingga 24 Agustus 2026, sebanyak 45 desa yang tersebar di 13 kecamatan mengalami kekeringan, bahkan sejumlah wilayah telah masuk kategori ekstrem.
Kondisi ini membuat kebutuhan air bersih masyarakat meningkat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar telah menyalurkan 1.521.950 liter air bersih ke desa-desa terdampak.
Distribusi sejak 17 Juni hingga 23 Agustus 2026, dengan jumlah bantuan berdasarkan kebutuhan di lapangan.
Kecamatan Astambul menjadi wilayah dengan distribusi terbesar, mencapai 483.600 liter. Berikutnya Cintapuri Darussalam sebanyak 144.000 liter, Karang Intan 140.700 liter, Sambung Makmur 136.000 liter, dan Beruntung Baru 134.000 liter.
Selain distribusi air bersih, BPBD Kabupaten Banjar juga menyediakan tandon untuk membantu masyarakat menampung pasokan air. Hingga akhir periode pencatatan, 248 tandon telah pinjam-pakai oleh warga di sejumlah wilayah terdampak.
Wasis Nugraha, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar, mengatakan, distribusi air bersih berlangsung lebih dari sebulan dan terus mengarah ke titik-titik krisis air.
“Kita ada 13 kecamatan dan 45 desa yang mengalami kekeringan dan krisis air bersih. Itu yang disuplai air bersihnya ke titik desa yang sedang krisis air bersih. Itu sudah berjalan satu bulan lebih,” ujarnya, 27 Agustus.
Menyusutnya debit sungai turut memperburuk kondisi tersebut. Penurunan aliran air juga terjadi pada sistem irigasi Riam Kanan.
BPBD mengimbau masyarakat menggunakan air seefisien mungkin dan mengutamakan kebutuhan pokok selama kemarau masih berlangsung.

*****