Perang Amerika-Israel dengan Iran memblokade Selat Hormuz, jalur utama kapal pengangkut minyak terganggu berdampak pada pasokan minyak dunia termasuk Indonesia.
Situasi ini menyebabkan harga minyak mentah di pasar internasional naik hingga 45%. Selama perang, harganya bisa menyentuh US$120 per barel. Dampaknya, pasokan BBM Indonesia terancam hingga hari ini. Produksi domestik hanya 600 ribu barel per hari, sementara kebutuhan nasional mencapai 1,5-1,6 juta barel. Artinya, Indonesia harus mengimpor 1 juta barel per hari untuk memenuhi selisih kebutuhan dan produksi.
Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, mengatakan, impor minyak di tengah konflik Amerika-Israel dengan Iran membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurutnya, jika harga minyak dunia mencapai USD90-100 per barel, maka subsidi akan membengkak hingga Rp120-130 Triliun.
Tentu ini juga berdampak pada LPG karena Indonesia masih bergantung pada impor dari pasar global. Indonesia mengimpor sekitar 6-7 juta ton per tahun, 20%-nya berasal dari Timur Tengah.
Bhima mengatakan, krisis energi dapat berdampak pada perekonomian nasional melalui kenaikan inflasi. Dia juga mengingatkan, krisis energi dapat memicu tekanan ekonomi berantai.
Di tengah situasi ini, Bhima mendesak pemerintah mempercepat transisi energi terbarukan yang berkeadilan untuk mengurangi ketergantungan pada minyak impor. Ia berharap, Danantara turut membiayai proyek energi bersih tersebut.
Novita Indri, juru kampanye Energi Trend Asia, menyebut pengalaman Pakistan melewati krisis energi pada 2022-2023 dapat menjadi contoh bagi Indonesia. Pakistan mengurangi ketergantungan oada gas alam dengan meningkatkan pemanfaatan energi surya sebagai energi utama.
“Tidak ada cara lain, mengurangi ketergantungan energi fosil dan mendorong energi terbarukan secara masif, berbasis komunal menjadi kunci Indonesia berdaulat energi.”
Foto utama: Greenpeace Indonesia memproyeksikan pesan ke bukit, sebelum KTT G20 di pantai Melasti di Bali, pada 14 November 2022. Foto : Greenpeace Indonesia