Air yang biasanya mengalir deras di sejumlah sungai kawasan Bogor kini menyusut, bahkan menghilang. Kondisi tersebut bukan hanya mengubah wajah sungai, tetapi juga mengancam pasokan air bersih bagi warga Jabodetabek.
Di Kampung Katulampa, Rosmiati terpaksa memandikan kedua anaknya di Kali Baru, saluran irigasi yang mengambil air dari Sungai Ciliwung. Pasokan air sumur di rumahnya berkurang. Ia juga membawa pulang air menggunakan galon bekas untuk mencuci pakaian, membersihkan peralatan rumah tangga, dan kebutuhan sanitasi.
Sungai Ciliwung telah mengering selama lebih dari satu bulan. Tinggi muka air di Bendungan Katulampa bahkan mencapai titik terendah, yakni nol sentimeter. Penurunan debit juga terlihat di Kampung Pulo Geulis, Kota Bogor.
Kondisi ini berpengaruh terhadap ketersediaan air baku Perumda Tirta Pakuan. Instalasi Pengolahan Air Katulampa biasanya mampu memproduksi 307,14 liter air per detik dan melayani 35.492 pelanggan di Bogor Utara, Bogor Timur, serta sebagian Kabupaten Bogor.
Kekeringan juga melanda Sungai Cipamingkis yang berhulu di kawasan Puncak 2, Sukamakmur. Aliran Curug Cipamingkis diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan warga sehingga pintu air menuju sungai ditutup. Air dialirkan ke saluran irigasi dan bak penampungan yang terhubung dengan rumah-rumah penduduk.
Sungai Ciherang mengalami kondisi serupa. Dasar sungai dipenuhi bebatuan tanpa aliran air, sedangkan tanah persawahan di sekitarnya retak dan tanaman padi menguning. Curah hujan rendah serta El Niño memang memperpanjang periode tanpa hujan, tetapi faktor iklim bukan satu-satunya penyebab.
Wahyu Eka Styawan, Pengkampanye Urban Berkeadilan Walhi Nasional, menilai kemarau hanya menyingkap krisis ekologis yang telah lama terjadi di kawasan hulu.
“Kita terlalu lama memperlakukan sungai seolah-olah ia berdiri sendiri, padahal kesehatan alirannya sangat bergantung pada sejauh mana kawasan tangkapan air di bagian hulu dijaga dan dilindungi,” katanya.
Alih fungsi lahan untuk kawasan komersial, properti, dan permukiman telah mengurangi kemampuan tanah menyerap serta menyimpan air. Ketika debit sungai menurun, pencemaran limbah domestik dan industri juga menjadi semakin pekat.
Kondisi tersebut mendorong warga dan pelaku usaha beralih menggunakan air tanah. Namun, pengambilan berlebihan dapat mempercepat penurunan muka tanah dan merusak akuifer yang menjadi cadangan air masa depan.
Distribusi air menggunakan mobil tangki tetap dibutuhkan dalam keadaan darurat. Akan tetapi, langkah itu tidak menyelesaikan akar persoalan. Pemerintah perlu melindungi kawasan resapan, menertibkan bangunan yang melanggar zonasi, memulihkan vegetasi alami, mengawasi pembuangan limbah, serta membatasi penggunaan air tanah.
“Krisis air tidak cukup diatasi ketika air sudah habis. Yang harus dilakukan adalah menjaga sumbernya sebelum krisis terjadi,” tegas Wahyu.
Foto utama: Sungai Cipamingkis mengering akibat kemarau panjang. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia.