Penemuan ikan pada kedalaman lebih dari delapan kilometer terus memperlihatkan bahwa laut dalam bukan ruang kosong tanpa kehidupan. Salah satu penghuninya adalah Mariana snailfish (Pseudoliparis swirei), ikan bertubuh transparan yang hidup di Palung Mariana, Samudra Pasifik bagian barat.
Spesies ini diperkenalkan kepada dunia ilmiah pada 2017 setelah peneliti menganalisis bentuk tubuh, kerangka, jaringan, telur, dan DNA sejumlah spesimen. Ikan tersebut ditemukan pada kedalaman sekitar 6.900 hingga lebih dari 8.000 meter, di wilayah yang tekanannya ratusan kali lebih besar dibandingkan permukaan laut.
Tubuh Mariana snailfish tampak pucat, lembut, dan menyerupai kecebong. Kulitnya nyaris transparan sehingga beberapa organ dan jaringan tubuhnya dapat terlihat. Penampilannya jauh dari gambaran ikan laut dalam yang bertaring besar dan menyeramkan. Namun, di habitatnya, ikan ini justru menjadi salah satu predator utama yang memangsa krustasea kecil.
Tubuh yang lunak bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari adaptasinya. Mariana snailfish memiliki tulang yang tidak mengeras sepenuhnya, otot tipis, serta tidak mempunyai kantung renang berisi gas yang dapat rusak akibat tekanan ekstrem. Penelitian genomik juga menunjukkan adanya perubahan pada sistem penglihatan, pigmentasi, pembentukan tulang, dan membran sel yang membantunya hidup dalam kegelapan dan tekanan tinggi.
Meski dahulu diberitakan sebagai ikan terdalam yang pernah ditemukan, status tersebut kini perlu diberi konteks baru. Pada 2023, ilmuwan merekam ikan dari genus Pseudoliparis pada kedalaman 8.336 meter di Palung Izu-Ogasawara, Jepang. Rekaman itu menjadi catatan ikan hidup terdalam yang pernah didokumentasikan. Namun, identitas spesiesnya belum dipastikan, sehingga Mariana snailfish tetap penting sebagai salah satu spesies ikan penghuni laut terdalam yang telah dideskripsikan secara ilmiah.
Para peneliti memperkirakan kedalaman sekitar 8.200 hingga 8.400 meter mendekati batas fisiologis kehidupan ikan. Pada tekanan yang lebih besar, senyawa yang menjaga kestabilan protein tubuh tidak lagi dapat bekerja tanpa mengganggu keseimbangan cairan sel. Karena itu, bagian terdalam palung yang mencapai hampir 11 kilometer kemungkinan tidak dapat dihuni ikan.
Untuk mempelajari Mariana snailfish, para ilmuwan menurunkan kamera dan perangkap khusus yang membutuhkan waktu sekitar empat jam untuk mencapai dasar laut. Di sana, ikan tersebut justru terlihat aktif mencari makan karena krustasea melimpah dan jumlah predator relatif sedikit.
Penemuan ini mengubah anggapan bahwa laut dalam selalu menjadi lingkungan yang tandus dan tidak bersahabat. Di balik tubuhnya yang rapuh dan transparan, Mariana snailfish menunjukkan kemampuan evolusi luar biasa untuk hidup di salah satu tempat paling ekstrem di Bumi.