Tak terasa, kita sudah mau memasuki pertengahan tahun 2026, bagaimana kabar kamu? Sampai hari ini, berbagai cerita soal lingkungan terus membanjiri lini media sosial. Cerita tentang satwa yang kehilangan habitat, perampasan lahan masyarakat adat, hingga cerita inisiatif baik masyarakat untuk lingkungan.
Salah satu cerita datang dari Bali. Danau Batur, danau kebanggaan Provinsi Bali ini kini terancam oleh ikan asing invasif. Di Teluk Weda, laporan terbaru menyebutkan kasus bunuh diri hingga mati mendadak terjadi di kalangan buruh nikel. Sementara itu, cerita dari tambang emas ilegal, ada kasus penyelundupan yang terungkap membawa 190 kg emas di Bandara Halim.
Meski ketiganya menjadi berita kurang baik, cerita dari Papua dan Lombok menjadi pilihan pembaca karena memberikan inspirasi. Dari Papua, cerita datang tentang John Wompere yang masih setia jaga pohon gaharu di hutan adatnya. Sedangkan di Lombok, ibu-ibu pesisir memproduksi kerupuk dari cangkang kepiting, yang biasanya itu berakhir menjadi sampah.
Penasaran sama cerita lengkapnya? Simak lima artikel pilihan Mongabay Snaps bulan ini.
1. Ada ikan pendatang yang mengusir ikan lokal di Danau Batur
Danau Batur di Bali sedang menghadapi persoalan serius. Populasi ikan red devil terus meningkat dan membuat nelayan setempat kesulitan mendapatkan hasil tangkapan seperti dulu.
Red devil sendiri dikenal cepat berkembang biak dan mudah beradaptasi. Akibatnya, ikan lokal seperti nyalian kini makin jarang ditemukan. Nelayan di Danau Batur bilang hasil tangkapan mereka sekarang jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu karena tangkapan didominasi ikan red devil yang nilai jualnya rendah.
Sejumlah pihak mendorong penangkapan massal red devil sebagai langkah cepat untuk mengurangi populasinya. Namun dalam jangka panjang, pengawasan spesies asing tetap perlu dilakukan supaya ekosistem danau tidak semakin terganggu.

2. John Wompere, penjaga pohon gaharu dari Kampung Imbari
Dari tanah Papua, ada kisah John Wompere yang berupaya menjaga pohon gaharu di Kampung Imbari. Gaharu merupakan komoditas bernilai tinggi yang sering dieksploitasi secara berlebihan karena menghasilkan gubal atau resin berwarna gelap dari bagian kayunya, yang mengeluarkan aroma khas saat dibakar.
Namun bagi John, gaharu bukan cuma soal gubal, mulai dari daun hingga batangnya yang dapat diolah menjadi minyak herbal, sabun, hingga teh gaharu. Bersama warga, dia juga aktif menanam dan membagikan bibit gaharu di kampung mereka.
John memilih menjaga pohon gaharu agar tetap tumbuh di hutan adat mereka. Baginya, gaharu adalah warisan yang dapat menghidupi warga tanpa harus merusak hutan.

3. Dugaan emas selundupan 190 kilogram dari tambang ilegal
Kasus dugaan penyelundupan 190 kilogram emas di Bandara Halim Perdanakusuma kembali membuka persoalan terkait tambang ilegal di Indonesia. Emas itu diduga berasal dari aktivitas tambang tanpa izin yang selama ini sulit dikendalikan.
Aktivitas tambang emas ilegal dinilai sangat merusak lingkungan. Namun, kerugian negara dari dampak penggunaan bahan kimia berbahaya seperti merkuri dan sianida dalam proses ekstraksi emas disebut masih sering luput dari perhatian penegak hukum.
Penelusuran kasus seharusnya dilakukan hingga ke sumber tambang, jalur distribusi, pihak pemurnian, hingga pemilik izin tambang. Selain itu, kejaksaan diminta transparan dalam mengelola emas sitaan agar tidak kembali jatuh ke tangan jaringan yang sama melalui proses lelang.

4. Cangkang kepiting bisa dimakan? Perempuan pesisir Lombok ubah jadi kerupuk!
Cangkang kepiting biasanya hanya dianggap sebagai limbah yang tak berguna. Namun, ini berbeda yang terjadi di pesisir Desa Paremas, Lombok Timur, para perempuan mengolah limbah itu menjadi produk makanan yang memiliki nilai jual.
Cangkang kepiting yang dulu terbuang kini diolah menjadi kerupuk dengan berbagai rasa, seperti balado, jagung bakar, hingga pedas manis. Dari usaha sederhana ini, mereka tak hanya mengurangi limbah, tapi juga mendapatkan tambahan penghasilan untuk keluarga mereka.
Tak hanya itu, di Desa Sugian, para perempuan juga mengolah tuna menjadi abon, kerupuk ikan, bakso ikan, hingga makanan beku siap masak. Olahan ini jadi tambahan pemasukan, terutama saat cuaca buruk membuat nelayan tidak bisa melaut.
Di tengah perubahan iklim dan hasil tangkapan yang tak menentu, kreativitas para perempuan pesisir menjadi cara bertahan untuk menjaga ekonomi keluarga tetap berjalan.

5. Tekanan kerja di balik industri nikel Teluk Weda
Sementara itu ada laporan terbaru dari Teluk Weda, Maluku Utara tentang kondisi buruh di kawasan industri nikel yang memprihatinkan. Laporan tersebut menyebut adanya kematian mendadak (karoshi), bunuh diri, dan kecelakaan kerja yang berakibat fatal.
Ironisnya, persoalan ini masih terjadi di tengah peringatan Hari Buruh Sedunia pada 1 Mei 2026, ketika hak atas kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan pekerja seharusnya menjadi perhatian utama. IWIP sendiri merupakan salah satu kawasan industri nikel terbesar di Indonesia yang beroperasi sejak 2018 dengan investasi perusahaan dari Tiongkok.

*****
*Kadek Dian Dwiyanti Hapsari adalah mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Dian memiliki ketertarikan pada isu-isu lingkungan dan seringkali terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan bidang tersebut.


